Indonesia
NovelToon NovelToon
Tahta Senja Untuk Aira

Tahta Senja Untuk Aira

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: SERIGALA DI BALIK TOPENG SUTRA

Deru mesin mobil-mobil mewah klan Gunawan yang beriringan memasuki pelataran kediaman utama terasa begitu mencekam. Malam semakin larut, namun udara di dalam kediaman besar itu mendadak membeku. Rasa malu, amarah yang tertahan, dan kekalahan politik di ballroom Hotel Grand Hyatt masih membakar dada Azka dan ayahnya, Hendra Gunawan.

Begitu daun pintu kayu jati berukir itu tertutup rapat di belakang mereka, keheningan pecah secara brutal.

PLAK!

Sebuah tamparan keras dan berangin mendarat telak di pipi kiri Aira. Benturan itu begitu kuat hingga kepala Aira terlempar ke samping, dan tubuh anggunnya sedikit terhuyung menabrak pinggiran meja konsol di foyer. Rasa panas membakar kulit wajahnya seketika, disusul asin darah yang merembes halus di sudut bibirnya.

"Wanita tidak tahu diri!" geram Azka dengan napas memburu, matanya memerah bagaikan hewan buas yang terluka. Urat-urat di lehernya menonjol tegang. "Kamu pikir kamu siapa, hah?! Berani-beraninya kamu bermain drama di depan seluruh dewan komisaris dan mempermalukan aku serta Ayah di panggung kita sendiri!"

"Cukup, Azka!" bentak Hendra Gunawan, melangkah lebar menghampiri Aira dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam. Wajah pria tua itu memerah padam. "Aira... kamu benar-benar ular berbisa! Kamu sengaja mengundang Rizky dan membawa dokumen itu untuk merusak reputasi keluarga ini! Kamu menghancurkan wibawa calon penerus klan di depan publik!"

Anggota keluarga Gunawan lainnya yang ikut masuk—para sepupu dan kerabat dekat—turut melemparkan tatapan jijik dan makian teredam. Bagi mereka, tindakan Aira malam ini adalah bentuk pembangkangan paling lancang yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah klan.

Namun, di tengah gelombang amarah dan kekerasan fisik tersebut, Aira tidak menangis. Tidak ada rintihan ketakutan, tidak ada tremor di tubuhnya.

Aira menyapu darah tipis di sudut bibirnya menggunakan punggung jemari lentiknya. Ia mengusap pipinya yang memerah panas, lalu perlahan menatap lurus ke mata Azka. Sorot mata Aira tetap tenang, dingin, dan berkilat begitu tajam—sebuah ketenangan yang justru terkesan sangat mengerikan.

Azka yang makin terbakar oleh ketenangan istrinya kembali mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di udara. Tangannya mengepal, siap mendaratkan pukulan kedua untuk menghancurkan keangkuhan di wajah Aira.

"Aku akan buat kamu berlutut dan minta maaf malam ini juga—"

"Mas Azka, jangan! Tolong, hentikan!"

Sebuah jeritan lembut dan penuh kepanikan memotong pergerakan Azka. Rani secara dramatis memburu maju, menerobos di antara Azka dan Aira. Wanita itu melemparkan tubuhnya ke dada Azka, memeluk pinggang pria itu erat-erat untuk menahan gerakannya.

"Jangan pakai kekerasan, Mas! Aku mohon... kasihan Mbak Aira!" tangis Rani pecah seketika, suaranya bergetar sarat akan simpati buatan yang begitu meyakinkan. Rani mendongak menatap Azka dengan mata sembap berair, memperlihatkan wajah paling polos dan tak berdosa yang dimilikinya.

Azka menahan tangannya di udara, matanya menatap Rani dengan riak emosi yang tertahan. "Rani... lepas. Wanita ini sudah menginjak-injak harga diri kita!"

"Aku tahu, Mas... aku tahu Mbak Aira sempat mempermalukan keluarga Gunawan di awal acara," bisik Rani lembut, jemarinya mengelus dada Azka dengan gerakan menenangkan, berusaha meredakan detak jantung pria itu yang berpacu liar. Rani lalu menoleh menatap Aira dengan tatapan penuh keibuan dan pengampunan.

"Tapi pada akhirnya... Mbak Aira juga yang menyelamatkan namamu di depan para tetua, kan?" lanjut Rani dengan nada penuh pengertian yang dipaksakan. "Mbak Aira memilih untuk berdiri di sisimu dan mencairkan suasana yang sempat tegang. Biar bagaimanapun, Mbak Aira adalah kakakku dan istri sahmu, Mas. Tolong jangan emosi... kalau Mbak Aira terluka, nanti Paman Rizky punya alasan lagi untuk menyerang keluarga ini."

Pertunjukan kepolosan dan kebaikan Rani yang seolah menjadi 'malaikat penengah' membuat beberapa kerabat Gunawan yang menyaksikan berbisik iba. Di mata mereka, Rani terlihat begitu berjiwa besar meskipun tadi sempat disudutkan oleh Aira di hadapan umum.

Azka menghembuskan napas berat, amarahnya perlahan luluh saat merasakan kehangatan pelukan Rani di dadanya. Ia mengusap rambut Rani dengan lembut, menatap wanita simpanannya itu dengan binar rasa kagum dan cinta yang teramat dalam.

"Kamu selalu terlalu baik, Rani... bahkan pada wanita yang jelas-jelas ingin menghancurkanmu," gumam Azka lirih, menyindir Aira yang masih berdiri tegak di depan mereka.

Aira menatap pemandangan di depannya—suaminya yang masih mendekap selingkuhan sekaligus adik tirinya dengan mesra di dalam rumah mereka sendiri. Alih-alih terluka, dada Aira justru dipenuhi rasa jijik yang luar biasa.

Sebuah tawa kecil dan halus meletup dari bibir Aira. Tawa renyah yang sarat akan cemoohan dingin, memotong suasana dramatis yang sedang dibangun oleh Rani dan Azka.

Aira memiringkan kepalanya sedikit, menatap Rani lurus di matanya dengan senyuman paling mematikan.

"Munafik," ucap Aira pelan, suaranya begitu lugas, tenang, namun merayap bagaikan racun yang membekukan darah.

Rani membeku di dalam pelukan Azka. Senyum kepalsuannya seketika tertahan.

"Aira! Tutup mulutmu!" bentak Hendra Gunawan murka. "Rani sudah membela dirimu di depan suamimu, dan kamu masih berani melontarkan kata-kata kasar?!"

Aira melangkah satu tapak maju. Meskipun jejak tamparan Azka masih memerah di pipinya dan sudut bibirnya bernoda darah, keanggunan serta dominasi yang terpancar dari tubuhnya membuat Azka dan Hendra secara tak sadar menahan napas.

Aira merapikan kerah gaun malamnya yang sedikit bergeser, lalu menatap Azka dan Hendra secara bergantian dengan dagu terangkat tinggi.

"Kalian lupa... atau sengaja berpura-pura amnesia?" bisik Aira dengan intonasi nada yang begitu menekan.

Aira mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kediaman utama klan Gunawan, lalu menatap mereka semua dengan tatapan seorang penguasa yang baru saja menancapkan bendera kepemilikan.

"Mulai malam ini... berdiri di depan kalian bukan lagi Aira yang bisa kalian caci, kalian tampar, atau kalian sudutkan di kamar belakang," tegas Aira, suaranya bergema dingin menembus setiap sudut ruangan. "Di depan kalian saat ini adalah pemilik dua puluh lima persen saham veto—pemegang saham terbesar tunggal di klan Gunawan."

Ruangan besar itu seketika dibungkam oleh keheningan yang mencekik. Hendra Gunawan mengepalkan tangannya hingga gemetar, sementara Azka mematung kaku dengan rahang terkunci.

Aira menatap Azka dengan senyuman tipis yang sangat mengerikan.

"Satu kali lagi tanganmu melayang ke wajahku, Azka... aku pastikan besok pagi, seluruh suntikan dana dan hak veto atas proyek kawasan industrimu akan kubekukan secara permanen lewat dewan direksi," ancam Aira halus, namun dampaknya bagaikan vonis hukuman mati.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Rani yang masih menempel di dada Azka, memberikan kerlingan penuh hinaan. "Dan untukmu, Rani... simpan air mata murahanmu itu untuk sidang pleno bulan depan. Karena aku tidak membutuhkan akting dramatis dari seorang staf administrasi di rumahku sendiri."

Tanpa menunggu sahutan atau amarah susulan dari siapa pun, Aira berbalik arah. Dengan langkah anggun, stabil, dan penuh wibawa, ia menaiki tangga utama menuju kamar utama—meninggalkan Azka, Hendra, dan Rani yang berdiri mematung di foyer dalam jeratan kekalahan yang tak terbantahkan.

1
Airin
akhirnya yang ditunggu tunggu, update juga
Airin
semangat Thor updatenya
Airin
kokop terus uncle
Airin
wadaw dikokop juga🤭
Yasa
suka banget sama fl yang Badas gini.
Senja_Puan: makasih kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!