Mengisahkan seorang gadis bernama Nara yang awalnya mendapatkan sebuah kalung berlambang bunga kamelia dari ibunya. Setelah menggunakan kalung tersebut, Nara tiba-tiba berpindah tempat ke dalam sebuah komik yang selesai dibacanya.
Menurut Nara, dia harus mengubah ending pada komik tersebut menjadi happy ending dikarenakan salah satu karakter yang mati terbunuh secara tidak adil dan sempat difitnah sebagai pembunuh yang menjadikan siswa tempat mereka sekolah korbannya.
Apakah Nara mampu mengubah ending komik tersebut dan kembali ke dunia aslinya tanpa harus melibatkan perasaannya yang tanpa dia sadari telah jatuh cinta dengan salah satu karakter komik tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25| Jongsoo
Selama ini ternyata Ha Joon juga diam-diam mencaritahu tentang kejadian yang menimpa SMA Hanwol. Dia pernah memergoki seseorang yang tengah bertelponan dan menyebutkan nama beberapa kali, itulah kenapa Ha Joon benar-benar khawatir ketika Nara membicarakan hal itu.
Dia takut jika nantinya perempuan itu harus menjadi korban walaupun Ha Joon tak tahu motif apa sampai pelaku membuat korbannya bunuh diri.
"Apa kau juga mencari tahu tentang kasus ini?" tanya Nara dan mendapatkan anggukan dari Ha Joon.
"Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku? Padahal kita bisa bekerja sama untuk mengungkapkan pelakunya," seru Nara heboh.
Untung saja hanya ada mereka berdua di sana, jika tidak pasti Taehan sudah menanyakan banyak hal nantinya.
"Aku hanya tidak tahu kalau kau tertarik dengan hal-hal seperti ini. Lalu, apa kau menemukan sesuatu atau mencurigai seseorang?" tanya Ha Joon membalik.
Nara perlahan mendekati Ha Joon.
"Aku mencurigai Beom Seok. Ini hanya pendapatku saja, tetapi pria itu sangat aneh. Dia selalu tersenyum pada siapapun dan sebelum Jeongyeon menghilang, aku melihatnya di mall bersama Beom Seok dua hari sebelumnya. Ah, sayangnya waktu itu Seong Jin tidak melihat mereka!" ujarnya dengan menunduk.
"Tunggu ... Kau dan Seong Jin ke mall? Berdua?" tanya Ha Joon membuat Nara mengangguk dengan polosnya.
"Iya. Aku tidak sengaja bertemu dengannya dan dia memintaku untuk membantunya mencarikan kado!" jawab Nara sembari menatap wajah Ha Joon yang kelihatan sudah cemberut.
"Kenapa kau?" tanya Nara dengan mengernyitkan dahinya.
"Tidak apa-apa. Aku akan pulang sekarang."
Mendengar itu membuat Nara merasa aneh. Dia lantas segera mencekal tangan Ha Joon, agar pria itu tidak pergi.
"Kau mau ke mana? Pembicaraan kita belum selesai."
Nara tidak peka pada reaksi yang diberikan Ha Joon setelah dia menceritakan pertemuan dirinya dengan Seong Jin di mall.
"Pembicaraan kita sudah selesai semenjak kau membicarakan Seong Jin. Aku pulang," ujarnya dengan melepas cengkraman tangan Nara.
Tiba-tiba Nara beranjak dari kasur dan segera memeluk Ha Joon dari belakang.
"Kau marah karena aku membicarakan Seong Jin atau karena kita berdua pergi membeli kado?" tanya Nara memastikan.
Ha Joon hanya diam dan berusaha melepas pelukan Nara, tetapi gadis itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau tidak bicara maka aku sudah tahu jawabannya. Jika kau berhenti marah sekarang, aku janji tidak akan membicarakan orang lain kecuali menyangkut kasus yang kita selidiki, oke?"
Nara mencoba bernegosiasi dengan Ha Joon. Keesokan harinya mereka mendapatkan kabar penemuan mayat di dalam bilik toilet kelas satu.
Sekolah menjadi gempar dan terus bergosip mengenai kejadian aneh yang terus terjadi.
"Aku tidak habis pikir dengan sekolah kita. Sebenarnya ada apa?" tanya salah satu teman kelas Nara.
"Bahkan ketika sudah banyak korban, pihak sekolah masih saja bungkam dan tak mau menjelaskan pada media. Anehnya lagi polisi tak ada satupun yang datang ke sekolah," seru yang lain.
Nara jadi ikutan berpikir. Mayatnya tadi benar-benar membuat beberapa siswa memuntahkan makanan yang mereka makan tadi pagi.
"Kalian lihat sendiri bagaimana kondisi mayatnya. Kedua bola matanya benar-benar tidak ada, ih. Aku tadi sampai muntah melihatnya!"
Seorang siswi berlari menghampiri kelas Nara dan mulai memberitahukan sesuatu.
"Ji Hye dan Hayoon berkelahi di koridor kelas dua!" teriaknya membuat Nara spontan langsung berlari untuk menghampiri temannya itu.
Begitu tiba di sana, keadaan benar-benar tidak terkendali. Nara berusaha menerobos kerumunan dan melihat kondisi Ji Hye yang sudah mimisan dengan rambut acak-acakan.
"Astaga, Ji Hye. Kenapa kau berkelahi?" lerai Nara dengan menarik temannya itu, sementara Hayoon ditarik oleh siswa laki-laki.
"Sialan. Aku tadi dengar kau mengumpati temanku, kau pikir aku tuli? Kau cemburu melihat Ha Joon yang selalu bersama Nara. Jika aku melihatmu mengatai temanku yang tidak-tidak, maka akan kubuat kau menderita seumur hidup!" ancam Ji Hye membuat Nara mencubit pipi temannya itu.
"Berhenti mengucapkan kata-kata yang menyeramkan begitu. Ayo kita ke ruang kesehatan sebelum guru datang dan menghukum kalian!"
Nara menarik Ji Hye untuk menjauh dari Hayoon. Di ruang kesehatan, gadis itu dengan telaten membersihkan luka bekas cakar Hayoon di lengan temannya.
"Lihat luka-luka ini. Kulitmu jadi rusak karena berkelahi," omel Nara membuat Ji Hye meringis ketika gadis itu menekan sedikit lukanya.
"Ah, pelan-pelan saja. Kau kenapa malah mengomeliku?" tanya Ji Hye dengan berpura-pura kesal.
Nara pun selesai mengobati semua luka Ji Hye dan meletakan kotak p3k di tempatnya, lantas menatap temannya itu.
"Dengar! Aku sangat berterima kasih padamu karena telah membelaku, tetapi jangan bertengkar seperti tadi. Aku sangat takut jika kau kenapa-napa dan aku akan merasa sedih nantinya. Mulai sekarang kau hanya harus fokus bersekolah dan jangan pedulikan mereka yang tak menyukaiku, oke?" tanya Nara yang kemudian mendapatkan anggukan dari Ji Hye.
"Nara, kau tidak apa-apa?"
Seseorang berlari dari luar ruang kesehatan dan menghampiri keduanya. Pria itu menyentuh lengan, bahu serta pipi Nara.
"Aku yang terluka, tetapi Nara yang kau tanya!" keluh Ji Hye dengan menatap malas ke arah Ha Joon.
"Aku tidak apa-apa, lagipula yang terluka itu Ji Hye."
"Syukurlah. Hei Ji Hye, lain kali kalau mau bertengkar jangan sampai Nara tahu!" marah Ha Jooh, lantas Nara memukul bahu pria itu.
"Jangan marahi temanku."
Di sisi lain, sebuah ruang yang minim cahaya. Duduklah seorang pria yang menatap ke arah foto-foto di atas meja. Dia lantas mengambil salah satu foto di mana terlihat Nara yang tengah asik menyantap ayam goreng.
"Hebat juga kau sampai bisa membuka pintu rooftop. Aku tidak bisa duduk tenang sekarang dan menikmati pertunjukannya. Dia jelas tidak becus mengurus semua ini!"
Dia lantas berdiri dan mengambil ponselnya, lalu mulai menelepon seseorang.
"Siapkan mobilnya, aku harus mampir ke suatu tempat!"
Sore harinya, Nara mendatangi perusahaan tempat kakaknya bekerja. Di tatapnya bangunan yang begitu kokoh hingga menimbulkan sebuah kekaguman.
"Wah, tidak kusangka akan menjadi anak dari orang yang sangat kaya. Lihat saja bangunan perusahaan milik papa ini!"
Nara lantas berjalan masuk menuju meja resepsionis.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dari mereka.
"Saya mau bertemu dengan kak Taehan!" jawab Nara dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
"Maaf, apa sebelumnya telah membuat janji? Karena pak CEO sedang menunggu klien jadi tidak bisa menerima tamu!"
Nara menggeleng dengan cepat.
"Tidak. Kata kak Taehan aku bisa langsung masuk," jawabnya lagi.
Seorang wanita dengan pakaian yang rapi menghampiri Nara.
"Apa kau adiknya pak Taehan?" tanyanya membuat Nara menoleh dan mengangguk.
"Kalau begitu, mari ikut saya. Pak Taehan sudah menunggu!"
Nara lantas mengikuti wanita itu hingga mereka tiba di ruangan Taehan.
"Ini ruangannya, silahkan masuk!"
Nara berterima kasih, lantas mulai membuka pintu. Begitu saja, dia terkejut ketika melihat adanya orang lain di dalam ruangan kakaknya.
"Ah, halo!" sapanya malu-malu dengan menutup pintu.
Taehan tersenyum, lantas memanggil sang adik untuk duduk di sebelahnya.
"Ini adik yang pernah kuceritakan. Hanya dia keluarga yang aku punya saat ini. Nara, ayo sapa teman kakak!" ucap Taehan membuat Nara semakin canggung saja.
Nara menatap pria dengan jas hitamnya.
"Halo, saya Nara!" ujarnya malu-malu.
"Jangan terlalu kaku denganku. Panggil saja kak Jongsoo!"
Nara hanya mengangguk sembari tersenyum. Dia benar-benar tidak tertarik pada pria itu dan berharap kakaknya menyuruhnya pulang. Tiba-tiba saja perut Nara berbunyi membuat kedua pria dewasa itu tertawa.
"Sepertinya adikmu lapar, bagaimana kalau kita pergi ke restoran saja sembari membicarakan kerjasama kita?" tawar Jongsoo.
"Baiklah. Nara, ayo ikut kakak. Beberapa hari ini kita tidak pernah makan bersama!"
Tak enak hati untuk menolak, Akhirnya Nara hanya mengangguk saja dan mengikuti langkah keduanya dari belakang.
"Tch! Kupikir kak Taehan memanggilku ke sini karena ada hal penting, ternyata cuma mau mengenalkan temannya saja."
Bersambung...