Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Zephyr berjalan perlahan ke pinggir arena latihan untuk meletakkan jubahnya. Setelah itu ia berjalan kembali ke tempatnya secara perlahan-lahan. Xavier sedikit mengernyit melihat pemuda itu terlihat sangat berhati-hati saat berjalan tidak seperti biasanya. Tidak hanya Xavier, Dante dan Ragnar juga menyadari hal tersebut.
“Lari keliling arena ini sepuluh kali!” seru Ragnar saat melihat Zephyr sudah kembali bergabung dengan barisan.
Xavier dan Dante langsung berlari seperti biasanya. Ragnar selalu menjadikan lari keliling lapangan sebagai pemanasan sebelum memulai latihan. Namun Zephyr masih berdiri di tempatnya. Tatapan matanya kosong ke depan dan wajahnya tetap terlihat tenang seperti biasanya.
“Ayo Lari! kamu di sini sebagai murid, bukan penyihir!” Seru Ragnar kepada Zephyr.
Zephyr terlihat menoleh perlahan mengikuti suara langkah kaki Xavier dan Dante. Kemudian ia mulai melangkahkan kakinya dan berlari kecil.
“Zephyr AWAS!” Baru beberapa langkah pemuda pirang itu melangkah, seruan dari guru dan dua rekannya langsung memenuhi arena. Namun sudah terlambat…
BRAK!
Zephyr menabrak sebuah rak tempat meletakkan tombak. Ragnar dan dua murid lainnya langsung menghampiri Zephyr untuk membantunya berdiri dan membereskan kekacauan itu.
“Kenapa kamu menabraknya, memangnya nggak kelihatan apa?” Seru Ragnar.
“Maaf.”
Tidak berhenti di situ, Zephyr lagi-lagi terjatuh karena tersandung batu bahkan ia sempat keluar arena hingga menabrak pohon.
“Sudah cukup!”
Ragnar memijat keningnya pelan setelah melihat kerusuhan yang dibuat oleh penyihir muda itu.
“Lanjut! ambil ember berisi air itu dan berdiri dengan posisi kuda-kuda sambil mengangkat embernya.”
Xavier dan Dante mengambil sebuah ember di tepi arena berlatih lalu kembali tengah dan melakukan pose sesuai instruksi sang pelatih. Sementara Zephyr berjalan perlahan dengan tangan meraba ke depan seperti orang buta.
“Apa yang kamu lakukan? Jangan berlagak seperti orang buta!” Seru Ragnar.
Zephyr tidak menghiraukan seruan itu. Ia tetap berjalan perlahan dengan tangan meraba udara.
Melihat rangkaian kejadian hari ini dan juga gerak geriknya yang tidak seperti sedang berpura-pura, akhirnya Ragnar mengambilkan embernya dan memberikan kepada Zephyr.
“Apa dia sebenarnya tidak sehebat itu?” Gumamnya. Waktu perang kemarin, ia sedang tidak berada di benteng karena ada urusan di kota. Karena itu, Ragnar belum melihat dengan mata kepalanya sendiri tingkat kekuatan Zephyr.
Setelah itu, sesi latihan berlanjut ke pelatihan gerakan dasar bela diri, Zephyr mengarahkan tinjunya lurus ke depan. Tanpa ia tahu kalau tinjunya mengarah tepat ke arah Xavier hingga ia terpental.
“Lihat-lihat dong kalau mukul!” seru Xavier sambil mengusap pantatnya yang terasa sangat sakit. Bahkan bajunya sedikit sobek dan sikunya lecet hingga sedikit berdarah akibat terjatuh dengan sangat keras.
“Maaf.”
Latihan tetap dilanjutkan namun, Xavier dan Dante berdiri agak menjauh darinya. Zephyr pun mencoba mengulangi gerakannya. Ia kembali mengarahkan tinjunya lurus ke depan dan…
HUP!
Kepalan tangan Zephyr ditahan oleh Ragnar. Bahkan Ragnar harus mengeluarkan tenaganya untuk menahan pukulan tersebut. Gelombang energi mengalir keluar dari pukulan tersebut hingga pakaian keduanya berkibar. Baru saat itu ia sadar, kekuatan anak muda itu luar biasa. Mengkombinasikan energi sihir dengan serangan fisik, bahkan gelombang energi yang dihasilkan saja sudah bisa menekan orang di sekitarnya.
“Zephyr, latihan kali ini cukup sampai di sini, beristirahatlah.”
Ragnar mengatakan itu sambil menatap mata silvernya yang sejak awal terus menatap kosong ke depan. Kemudian ia berjalan ke tepi untuk mengambilkan jubah milik Zephyr.
Zephyr menerima jubahnya yang diulurkan oleh Ragnar lalu langsung memakainya, menutupi kembali kepalanya dengan tudung hingga menutupi hampir seluruh wajahnya. Ia berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya melangkah keluar dari arena berlatih. Xavier dengan polosnya mengikuti Zephyr dari belakang dan saat melewati Ragnar, kerah bajunya ditarik oleh sang Guru.
“Mau kemana?”
Xavier meronta namun tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman Sang Guru. Akhirnya tangannya terkulai ke sisi tubuhnya dan kepalanya menunduk pasrah.
“Kembali ke tenda, kan sudah selesai,” Jawabnya.
“KAMU! ULANGI GERAKAN TADI SERATUS KALI!”
Setelah kejadian di tempat latihan tadi, Xavier terus memperhatikan Zephyr. Saat makan bersama dengan para prajurit hingga saat berada di dalam tenda sekalipun.
Malam sudah larut, karena tidak bisa tidur, Xavier akhirnya memutuskan untuk keluar berjalan-jalan di sekitar tenda.
“Mau ke mana?” Tanya Evren yang juga belum tidur.
“Keluar sebentar cari angin.”
“Jangan kembali terlalu larut.”
“Aku tahu.”
Xavier berjalan sambil mengingat ingat buku tentang penyihir yang dulu pernah dibacanya. Tapi tidak ada satupun petunjuk tentang keanehan Zephyr hari ini.
“Wajar saja, buku yang dijual di pasar isinya hanya informasi umum,” Gumamnya sambil menendang kerikil sembarangan.
Kemudian tanpa sengaja ia melihat Kaelen di kejauhan berjalan bersama dengan Lysander. Lalu berhenti dan berdiri di depan tenda Sang Komandan dan terlihat sedang berbicara serius. Setelah itu Lysander pergi dan Kaelen masuk ke dalam tendanya.
“Oh iya!” Seru Xavier.
Ia berlari menuju ke arah tenda Kaelen. Menyapa sekilas ke Lysander saat mereka berdua berpapasan.
“Tuan Lysander selamat malam!”
Kemudian langsung masuk ke dalam tenda tanpa menunggu perizinan dari Prajurit yang berjaga.
“Tuan muda, apa terjadi sesuatu di sini?” Tanya Gavin saat melihat Xavier begitu terburu-buru.
“Coba lihat apa yang terjadi,” Perintahnya kepada Gavin.
“Baik tuan muda.”
Di dalam tenda Kaelen, Xavier tanpa permisi langsung masuk dan menggebrak meja di depannya membuat Kaelen yang sedang membaca sebuah dokumen pun terkejut.
“Ada apa?”
“Tuan Komandan Kaelen yang terhormat!”
Kaelen mengernyitkan dahinya lalu teringat kejadian sehari setelah Xavier tiba di barak ini. Dia mengatakan hal yang mirip seperti ini dengan tujuan meminjam buku dari perpustakaan, yang mana tempat itu hanya bisa diakses oleh Prajurit Draven. Sedangkan Xavier waktu itu belum resmi menjadi bagian dari Draven.
“Kali ini apa yang kamu inginkan?” Tanya Kaelen dengan penuh kecurigaan.
“Hehehe… bolehkah aku meminjam seluruh buku di ruang bacamu?”
“Ruang baca? Bukan perpustakaan?”
“Bukankah itu sama saja? Ruang bacamu ada di samping perpustakaan dan terhubung!” Xavier berbicara sambil memperagakan posisi perpustakaan dan ruang baca menggunakan tangannya.
“Memangnya buku apa yang sedang kamu cari?”
“Aku ingin bisa memahami Zephyr lebih baik lagi,” Ucap Xavier dengan penuh semangat.
“Hm?”
Kaelen memiringkan kepalanya sedikit. Mencoba memahami maksud ucapan pemuda tinggi di depannya. Kemudian ia berjalan keluar dari tenda menuju ke tenda yang berisi rak buku. Kaelen berjalan di depan diikuti oleh Xavier. Berjalan melewati satu persatu rak hingga mereka berdua sampai di ujung.
“Apa buku ini yang kamu cari?”
Kaelen mengambil sebuah buku lalu memberikannya kepada Xavier. Ia menerima buku itu dan membaca judulnya lalu membuka untuk melihatnya sekilas.
“BENAR!” Matanya berbinar dan senyumnya mengembang sangat lebar.
“Satu deret ini isinya buku tentang penyihir, kamu bisa membacanya,” Ucap Kaelen sambil menunjukkan deretan buku di rak paling ujung.
“Hanya satu deret?”
“Buku sihir itu susah di cari, bahkan untuk buku pengetahuan dasar saja sangat langka di pasaran.”
Setelah menunjukkan letak buku yang dicari oleh Xavier, Kaelen membuka tirai tenda di samping rak itu dan terlihatlah rak lainnya dengan sebuah meja dan kursi di tengahnya.
“Kamu bisa membacanya di sana.”
“Terimakasih Komandan!”
Di tenda Lysander.
Gavin kembali dan melaporkan apa yang baru saja didengarnya. Xavier terdiam setelah menerima informasi itu.
“Dia masuk ke ruang baca Komandan dan meminjam semua buku tentang penyihir ya,” gumam Lysander.
Kemudian ia menatap Gavin dan bertanya, “Apakah barang-barangku yang ada di benteng Ravenhold sudah dikirim?”
“Sudah tuan muda, tadi siang sudah sampai.”
Lysander berdiri lalu keluar dari tenda. Berjalan santai menuju ke ruang baca Komandan. Saat masuk ke dalam, ia melihat Kaelen sedang menyingkirkan beberapa dokumen dari mejanya. Dan memasukkannya ke dalam lemari kecil di samping meja kemudian dikunci rapat.
“Tuan Lysander? ada apa anda kemari? apa masih ada yang mau disampaikan?”
Kaelen langsung menghampiri Lysander dan bertanya tujuan kedatangannya. Apalagi mereka baru saja berpisah tadi, mungkin saja ada hal penting yang memang harus segera dibahas.
“Tidak, aku hanya mau bertanya, apakah masih ada rak kosong di sini untuk menyimpan bukuku?”
“Masih ada satu rak yang masih cukup kosong di sebelah, di dalam perpustakaan,” Jawabnya sambil menunjuk perpustakaan di sebelahnya.
Lysander langsung masuk ke dalam perpustakaan melewati sekat antara perpustakaan dan ruang baca Kaelen. Sosok tinggi langsung terlihat sedang mengambil buku.
“Gavin, bukankah bukuku sudah datang?”
“Su…sudah tuan…” Gavin kebingungan karena tuan mudanya bertanya lagi.
Telinga Xavier berkedut dan fokusnya langsung berpindah ke Lysander.
“Buku, kamu punya banyak buku?” tanyanya sambil menghampiri Lysander.
“Tentu saja.”
“Apa ada buku tentang ini juga?”
Xavier menunjukkan sebuah buku yang sedang dipegangnya kepada Lysander.
“Ada banyak.”
Mata Xavier semakin berbinar setelah mendengar jawaban dari Lysander. Ia tersenyum semakin lebar dan maju selangkah lebih dekat ke arahnya..
“Apa aku boleh pinjam?”
“Boleh, tapi…”
“Tapi apa?”
“Kamu harus memindahkannya dulu ke rak itu.”
“BAIK!”
Tanpa pikir panjang, Xavier langsung menyetujui syarat yang diajukan oleh Lysander.