Indonesia
NovelToon NovelToon
Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.

"Oppa, apa yang ingin kau tunjukkan?"

Nara mengikuti langkah Seokjin hingga mereka berhenti di depan sebuah pintu kamar VVIP pribadi milik Seokjin di hotel itu.

Pintu terbuka. Nara melangkah masuk dan seketika pandangannya menyapu kamar mewah yang luas. Seokjin menutup pintu di belakang mereka lalu melangkah menuju ranjang besar di tengah kamar.

Sebuah map tergeletak di atas ranjang besar itu. Seokjin mengambil map tersebut lalu menyerahkannya pada Nara. "Bukalah."

Nara menerima map itu dengan alis berkerut. "Apa isinya?"

"Baca saja," jawab Seokjin singkat.

Nara membuka map tersebut. Beberapa lembar dokumen tersusun rapi di dalamnya. Matanya bergerak dari satu baris ke baris berikutnya. Semakin lama membaca, wajahnya semakin berubah, tangannya perlahan naik menutup mulut. "Bagaimana mungkin?" Ia menatap Seokjin dengan mata membulat. "Dari mana Oppa mendapatkan semua ini?"

"Asisten Kim tidak sengaja mendapatkan informasi tersebut saat membantu mengurus surat kepindahan Viola."

Nara kembali melihat berkas di tangannya. "Jadi selama ini ...." Suaranya mengecil.

"Ratna bukanlah ibu kandung Viola. Itu adalah fakta sebenarnya," tukas Seokjin tegas.

"Apakah Viola dan suamiku tahu soal ini?"

Seokjin mengangguk pelan. "Viola mungkin sudah mengetahuinya, tapi aku tidak terlalu yakin dengan suamimu."

Nara menurunkan map itu. Dadanya terasa sesak. "Kasihan sekali Viola." Ia menatap kembali lembaran-lembaran di tangannya. "Selama ini dia hidup di bawah tekanan wanita yang ternyata bukan ibu kandungnya."

Seokjin tidak menjawab. Ia hanya diam sambil menatap wajah Nara.

"Oppa ...." Nara mengangkat wajahnya. "Bisakah Oppa membantunya?"

"Aku sudah banyak membantunya." Suara Seokjin terdengar datar. "Kau ingin aku membantunya soal apalagi?"

Nara menarik napasnya dalam. Ia teringat bagaimana selama ini Viola bekerja keras memimpin Jayendra Group atas keinginan wanita yang ternyata bukan ibu kandungnya. Viola juga menjadi korban kemarahan Sagara hingga wanita itu diminta pergi menjauh, padahal Viola sama sekali tidak bersalah. Ia hanya korban dari keserakahan Ratna.

Wajah lelah Viola, saat Nara mengunjungi Sweet Cake kembali terlintas di benak wanita itu. Menurutnya, Viola adalah wanita yang tidak pantang menyerah meski berdiri seorang diri.

"Oppa ...." Suara Nara kembali terdengar. Kali ini lebih pelan. Namun, sorot matanya menatap Seokjin penuh arti. "Bisakah Oppa ... menikahi Viola?"

Seokjin tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya bergerak sedikit, tetapi tidak membentuk senyuman. "Kenapa?"

"Karena aku ingin Viola memiliki seseorang yang mampu melindunginya."

"Dan kau ingin orang itu aku?"

Nara tidak langsung menjawab, ia hanya mengangguk pelan.

Permintaan Nara membuat Seokjin tidak mampu berkata-kata. Ia menunduk, menghembuskan napas panjang, lalu tertawa.

Nara terdiam sejenak melihat Seokjin yang justru bereaksi di luar ekspektasinya. "Oppa ...."

Setelah tawanya berhenti, Seokjin kembali menatap Nara. "Nara ...." Ia menarik sudut bibirnya. "Dari semua pria di dunia ini. Kenapa aku yang kau minta untuk menikahinya?"

"Karena aku tahu Oppa pria yang baik," jawab Nara tanpa ragu.

Jawaban itu membuat Seokjin tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat wajahnya terlihat semakin terluka.

"Jadi karena aku pria baik, aku harus menikahi Viola?"

"Oppa, tolong mengertilah. Aku hanya ingin Viola bahagia. Dia sudah banyak menderita. Karena itu, Oppa harus ...."

"Kau memikirkan penderitaan orang lain, tapi tidak pernah memikirkan perasaanku!" potong Seokjin cepat. Rahangnya tampak mengeras. "Kalau kau benar-benar kasihan pada Viola, seharusnya dulu kau tidak menikah dengan Sagara."

Wajah Nara seketika berubah. "Oppa!"

"Seharusnya kau membiarkan Sagara menikahi Viola seperti yang tertulis dalam wasiat mendiang Tuan Jayendra." Suara Seokjin semakin berat. "Jika itu terjadi, mungkin hidup Viola tidak akan seperti sekarang."

Nara menatap Seokjin dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka Seokjin mampu mengatakan kalimat seperti itu.

"Seharusnya kau menikah denganku, bukan malah menikahi pria yang hanya membuatmu merasa bersalah pada Viola," lanjut Seokjin. Matanya memerah, jemarinya mengepal erat. Seokjin tengah bergelut dengan emosinya yang tiba-tiba naik perlahan.

Deg!

Kalimat itu menusuk langsung ke dada Nara. Air mata Nara jatuh satu persatu, dadanya terasa sesak. "Kenapa Oppa tega mengatakan semua itu? Aku hanya ...." Nara menunduk. Ia tidak mampu melanjutkan kalimatnya.

Sementara Seokjin terus menatapnya dengan rahang yang semakin mengeras. Dadanya naik turun, seolah seluruh perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam kini mendesak keluar bersamaan.

"Aku sudah mencintaimu sejak dulu, Nara. Kau jelas mengetahui itu."

Napas Nara semakin tercekat. Ia memang mengetahui perasaan Seokjin terhadapnya. Tapi seiring berjalannya waktu, Nara pikir Seokjin sudah berhasil menyingkirkan perasaan itu.

"Aku berusaha mengalah, mengubur perasaan ini karena kau terus menolakku dan lebih memilih Sagara sebagai suamimu." Seokjin berhenti sejenak sebelum kembali mengungkap seluruh rasa di hatinya.

"Tapi apa yang kudapat? Kau malah kembali menghancurkan hatiku dengan memintaku menikahi wanita yang bahkan tidak pernah kucintai."

Nara mengangkat wajahnya. Ia bisa melihat jelas sorot mata Seokjin yang penuh luka saat mereka saling bertatapan. "Maafkan aku Oppa. Aku tidak bermaksud ...."

"Cukup!"

Nara tersentak. Ia tidak pernah melihat Seokjin semarah itu.

Kedua tangan Seokjin mencengkram erat bahu Nara. Wajahnya memerah, napasnya semakin berat, tubuhnya bergetar menahan emosi. "Aku sudah cukup bersabar selama ini. Aku bahkan sengaja menjauh agar tidak merasa kesakitan setiap kali melihatmu bersama Sagara. Tapi sekarang ... aku sudah tidak bisa lagi menahannya."

Belum sempat Nara menjawab, Seokjin lebih dulu menarik tubuh Nara lalu mencium kasar bibir wanita itu.

***

Sementara di ballroom.

Musik akhirnya berhenti. Sagara yang kehilangan Nara, mencarinya ke setiap sudut ruangan megah itu. Pria itu juga sudah berusaha menghubungi ponsel Nara, namun ponselnya tertinggal bersama tas yang masih tergeletak di atas kursi.

Di sisi lain, Asisten Kim yang tampak kebingungan memutuskan menghampiri Viola.

"Nona Viola," panggilnya sopan.

Viola yang sedang mengobrol dengan Rani dan Siska spontan menoleh. "Ya, Asisten Kim?"

"Nona Viola, bolehkah saya meminta bantuan Anda?"

Viola menatap Asisten Kim sejenak. Ia bisa melihat pria itu tampak gelisah. Tidak setenang biasanya. "Tentu saja. Katakan, apa yang bisa saya bantu?"

Asisten tampak sedikit ragu, namun ia juga tidak memiliki pilihan lain. Hanya Viola yang bisa ia andalkan kali ini. Seluruh anak buahnya sedang menjalankan tugas masing-masing. Sementara dirinya juga harus segera menyelesaikan urusan penting.

"Tuan Han meninggalkan ponselnya. Beliau pasti membutuhkannya. Sementara saya masih harus menyelesaikan beberapa urusan lain. Karena itu .... Bisakah Anda mengantarkannya ke kamar pribadi beliau?"

"Tentu saja. Berikan ponselnya, saya akan mengantarnya pada beliau," jawab Viola santai.

"Terima kasih, Nona." Asisten Kim menyerahkan ponsel Seokjin pada Viola, ia juga memberi tahu nomor kamar pribadi Seokjin di hotel itu.

Viola kemudian berjalan keluar ballroom menuju kamar Seokjin.

***

Di dalam kamar VVIP Seokjin.

Nara masih terus berusaha melepaskan ciuman Seokjin, wanita itu mendorong tubuh tinggi Seokjin, memukulnya berkali-kali namun Seokjin seolah tidak merasakan apa pun. Pria itu justru semakin bersemangat melecehkan sepupunya sendiri.

Nara yang tidak menyerah, menggigit bibir Seokjin hingga pria itu merasa kesakitan dan tautan bibir itu pun terlepas. Kesempatan itu digunakan Nara untuk mendorong tubuh Seokjin menjauh darinya.

"Oppa!" Sebuah tamparan keras Nara layangkan tepat di pipi Seokjin.

Seokjin terdiam. Suasana berubah sunyi.

Air mata Nara jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menatap Seokjin dengan sorot mata penuh kebencian. "Kau sudah melewati batasanmu, Seokjin!" Suaranya bergetar. Ia tidak pernah menyangka, pria yang selama ini begitu dihormatinya justru tega melecehkannya. "Aku kecewa padamu! Selama ini aku selalu menghormatimu sebagai saudara tertuaku. Tapi mulai saat ini. Aku membencimu!"

Setelah mengatakan kalimat itu. Nara menyeka wajahnya lalu segera membuka pintu dan berlari meninggalkan kamar.

*

"Nara?" Langkah Viola terhenti.

Beberapa langkah di depannya, Nara berlari dengan air mata yang membasahi pipi. Wajah yang biasanya cerah terlihat pucat dan kacau.

"Nara, tunggu!" Viola hendak mengejarnya, namun Nara tidak berhenti. Wanita itu terus berlari menyusuri lorong hotel, seolah hanya ingin menjauh sejauh mungkin dari tempat itu.

Kaki Viola sempat bergerak hendak menyusul Nara, tetapi ia teringat ponsel yang masih berada di genggamannya. Asisten Kim memintanya segera memberikan ponsel itu pada Seokjin.

Viola menatap ke arah Nara yang sudah tak lagi terlihat. "Aku akan mengantarkan ponsel ini dulu lalu menyusul Nara," gumamnya pelan. Ia lalu bergegas melanjutkan langkah mencari kamar Seokjin.

Tidak jauh melangkah, Viola melihat sebuah pintu kamar terbuka. Setelah memastikan kamar itu milik Seokjin, ia mengetuk pintu perlahan lalu melangkah masuk.

Viola tidak pernah menyangka bahwa keputusan kecilnya malam itu masuk ke dalam kamar Seokjin untuk mengantarkan ponsel, justru menjadi sebuah awal dari pengorbanan terbesar dalam hidupnya.

***Bersambung.

1
-Thiea-
Istighfar seokjin. Nara udah jadi milik orang lain.. /Gosh/
Aegis
itu aja pendapat gue. Sebagai orang yang lebih menikmati kisah yang ada latar belakang dan proses, mending gua baca yang alya aja.
Aegis
iya, pas masih lajang ae bisa jaga jarak, sekarang malah ngrangsek🥴
Aegis
nah, pelecehan seksual
Aegis
terlali denial si seok jong un ini🥴
Aegis
kali ini saya akan lawan🥴🥴🥴
Aegis
udah gue duga, gue paling gak suka sama seok jong un, terlalu gajelas alang ujurnya, makanya gue mutusin gak baca sekuel ini. Soalnya menuruku emang hubungan viola ama seok jong un terlalu dipaksakan. Soalnya di cerita sebelumnya mereka juga gadak kontak sama sekali. Kayak dua kutub magnet yang saling tolak menolak tapi terus didorong, ya jadinya ancur🥴. Ini cuma pendapat pribadi.
Teteh Lia: coba cermati judul na..
total 1 replies
Aegis
udah rusak sih kalo menurut pembaca cowok, gak tau ya kalo cewek. Soalnya rerata pembaca cowok kalo tokoh ceweknya udah disentuh tokoh cowok lain, ya dianggep bekas atau Latjur.🥴 mungkin sebaliknya juga gitu🥴 ini jenis nyesek yang tergantung gender.
Aegis
nah, nyeseknya lebih kerasa di sagara kalo gue.
Aegis
di sini seok jong un udah gak terlalu obses ke nara, kalo dibikin obses, mungkin bakal lebih nyelekit buat viola.
Aegis
kalo penjabarannya lewat berita, pembaca juga cuma kayak lagi baca berita, coba pendekatan konfliknya lebih ke personal, lebih langsung, mungkin bakal lebih kerasa, walau gak secara universal.
Aegis
kalo beneran kejadian, itu ngerusak cerita ini dan sebelumnya
Aegis
paling abid gelud kek biasa
Aegis
karena gue udah tau hubungan antara nara ama seok jong un, terlebih sebagai cowok, gue gak bisa terlalu ngerasain yang dirasain viola, mingkin pembaca cewek lebih ngerti ... di otak gw udah tau, ah palingan salah paham. Kalau beneran kejadian, lebih kerasa nyeseknya ke sagara.
Lisa
Wah jadi kacau semuanya..Seokjin seharusnya bisa mengendalikan dirinya..moga sj berita itu dpt dihentikan
mama Al
ya karena Seok Hyeon mencintai Nara. makanya Poto itu di biarkan di sana
mama Al
iya malas nunggu kalau masih lama
mama Al
Viola sejak ketemu Opa Han jadi sering bepergian ya.
mama Al
iya di beli si Han buat kamu viola
mama Al
Viola belom cerita sama mereka tentang kontrak gedung kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!