Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 ~ Mau Ikut
Panggilan terputus.
Eliza perlahan menarik ponsel tersebut dari telinganya. Saat itu juga, senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya perlahan lenyap. Menghilang begitu saja, seakan tak pernah ada.
Ia tahu. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu.. Damian tak menginginkannya. Bukan saat ini. Bukan juga di masa depan yang ia bayangkan.
Selama ini hatinya hanya selalu berusaha berbohong pada dirinya sendiri. Berbohong bahwa suatu saat nanti, pria itu akan menjadi miliknya. Akan memilihnya. Akan mencintainya dengan tulus, seperti yang ia inginkan.
Namun setiap kali berbicara dengannya, setiap kali nada bicaranya begitu datar, begitu dingin, begitu tak peduli, kebohongan itu semakin retak.
Tapi... ia tidak akan menyerah begitu saja.
Eliza mengepal tangannya erat di sisi tubuhnya, kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangan.
"Aku tidak akan pernah menyerah, Damian. Malam ini... akan kupastikan, semua orang akan tahu, jika kamu adalah milikku!"
Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menatap pantulan dirinya di cermin dinding seberang. Matanya menyala penuh tekad, tak ada lagi keraguan yang tersisa.
Lalu perlahan ia berbalik, menatap pelayan yang berdiri di belakangnya.
"Suruh supir untuk menyiapkan mobil," ucapnya tegas, tanpa ragu sedikit pun. "Aku akan pergi ke butik sebentar lagi."
"Baik, Nona. Segera saya sampaikan."
Pelayan itu segera berbalik pergi, meninggalkan Eliza yang masih berdiri tegak di depan cermin. Ia kembali menatap pantulannya sendiri, wanita yang siap melakukan apa saja untuk memenangkan hati pria yang ia cintai.
"Malam ini..." bisiknya pelan pada pantulan itu. "Kau akan menjadi milikku, Damian."
•
•
Malam mulai turun, langit berubah menjadi ungu gelap. Di dalam kamar yang hangat itu, Evelyn berdiri di depan cermin. Ia mengenakan setelan jas berwarna gelap yang rapi, kemeja putih bersih, dan sedang berusaha memasang dasi di lehernya — menyembunyikan setiap lekuk tubuhnya, menyembunyikan dirinya di balik sosok "Evan".
Tiba-tiba pintu terbuka pelan. Sebuah suara mungil terdengar, penuh keheranan sekaligus protes.
"Mommy?? Mommy mau pelgi??"
Evelyn menoleh seketika. Di ambang pintu, Axel berdiri dengan rambutnya yang sedikit berantakan, matanya membelalak menatap pakaian Mommy-nya yang berbeda dari biasanya.
Ia segera berlutut di depan putranya, menyentuh kedua pipi gembil itu dengan lembut.
"Iya, sayang... Mommy ada sedikit urusan. Mommy janji tidak akan lama. Axel tunggu di rumah ya, sama Bi Lusi..."
Namun bocah itu langsung menggeleng kuat, tangannya mencengkeram ujung jas Evelyn dengan erat.
"Tidak mau! Acel mau ikut!"
"Axel..." Evelyn menghela napas pelan, berusaha tetap lembut meski hatinya terasa berat. "Tidak bisa, sayang... tempat itu bukan untuk anak kecil. Nanti Mommy pulang, cerita banyak-banyak sama Axel, ya?"
"Tapi..." bibir kecilnya mulai mencebik, matanya berkaca-kaca. "Kalau Mommy pelgi, ciapa yang peluk Acel tidul?"
Evelyn tersentak. Ia menarik putranya ke dalam pelukan erat, membiarkan kepala kecil itu bersandar di dadanya. Jantungnya berdegup kencang, antara harus pergi dan ingin tetap di sini, di tempat yang paling aman bersama putranya.
"Mommy akan pulang sebelum Axel tidur," bisiknya lembut di telinga anak itu. "Janji. Dan besok pagi, Mommy yang bangunin Axel. Setuju?"
Namun Axel justru menggeleng kuat, tangannya mencengkeram erat kerah jas Evelyn, matanya berkaca-kaca namun tekadnya tak goyah sedikit pun.
"Tidak mau! Acel mau ikut! Pokoknya ikut!!"
Suara kecil itu meninggi, penuh kekesalan dan ketakutan akan ditinggalkan lagi. Evelyn tertegun, menatap wajah putranya yang mulai memerah karena emosi. Dadanya terasa sesak. Ia ingin sekali mengabulkan permintaan itu, ingin membawa putranya ke mana pun ia pergi. Tapi malam ini... tempat itu berbahaya. Bukan hanya karena acara itu, tapi karena siapa yang mungkin ada di sana.
"Axel, dengarkan Mommy..." Evelyn mencoba membujuk pelan, namun bocah itu justru mulai mengerang kesal, air mata mulai menetes di pipinya.
"Pokoknya ikut! Mau ikut!"
Melihat anak itu begitu bersikeras, Evelyn akhirnya menghela napas panjang, menyerah. Ia tak tega melihat putranya menangis seperti ini.
"Baiklah... baiklah, sayang..." ucapnya pelan, mengusap air mata di pipi gembil itu dengan lembut. "Kau ikut. Tapi janji sama Mommy.. harus tenang, dan kau akan digendong Bi Lusi, ya?"
Mata Axel seketika berhenti mengeluarkan air mata. Wajahnya yang tadi sedih kini berubah cerah seketika.
"Janji!"
Evelyn tersenyum tipis, meski hatinya semakin berat. Ia menoleh ke belakang, ke arah Bi Lusi yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum lembut melihat pemandangan itu.
"Bi Lusi," panggilnya pelan. "Boleh tolong gendong Axel? Kita berangkat sekarang."
"Tentu saja, Nona."
Bi Lusi melangkah maju, lalu dengan sigap mengangkat tubuh mungil Axel ke dalam gendongannya. Bocah itu langsung menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu, namun tangannya tetap terulur ke arah Evelyn, seakan tak ingin melepaskan pandangan satu pun.
"Ayo kita berangkat."
Evelyn membuka pintu rumah itu, melangkah keluar diikuti Bi Lusi yang menggendong Axel di belakangnya. Udara malam yang sejuk langsung menyapa wajahnya, namun tak mampu mendinginkan jantungnya yang berdegup tak menentu.
Mobil sudah menunggu di depan pintu. Sopir membukakan pintu untuknya, lalu Bi Lusi masuk setelahnya, tetap memeluk Axel di gendongannya. Evelyn duduk di sisi lain, menatap ke luar ke jalanan yang mulai diterangi lampu-lampu kota.
"Mommy..." panggil Axel pelan dari pangkuan Bi Lusi.
Evelyn segera menoleh, tangannya terulur menyentuh tangan kecil itu. "Ya, sayang?"
"Kita mau ke mana?"
"Ke sebuah tempat. Nanti kalau sudah sampai, Axel harus diam di pangkuan Bi Lusi, ya? Jangan berisik. Nanti kalau sudah selesai, kita pulang."
Axel mengangguk patuh, meski matanya masih menatap Evelyn lekat-lekat, tak ingin memalingkan wajah sedikit pun. "Oke. Acel janji."
Mobil mulai melaju, menjauh dari rumah itu, menuju tempat yang sejak tadi Evelyn takut sekaligus ingin tuju. Di dalam tas kecilnya, undangan yang diberikan Arlos terasa begitu berat. Dan di tempat tujuan itu... ia tahu, ada kemungkinan besar satu orang yang selama ini ia hindari akan hadir.
Damian.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, mobil mulai melambat. Pintu tempat acara itu sudah terlihat megah, penuh cahaya, dan dipenuhi mobil-mobil mewah yang berjejer rapi.
"Kita sudah sampai, Nona," ucap sopir pelan.
Evelyn menarik napas panjang, berusaha menguatkan dirinya. Ia merapikan dasi di lehernya sekali lagi, memastikan tak ada satu pun yang terlihat mencurigakan.
"Siap, Axel?" bisiknya pelan.
"Ciap, Mommy."
Dengan hati yang berdebar kencang, Evelyn membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Di belakangnya, Bi Lusi menyusul perlahan, tetap menggendong Axel yang matanya kini sibuk memandangi cahaya-cahaya indah di sekelilingnya.
Begitu Evelyn melangkah masuk ke dalam aula yang luas itu, suasananya begitu megah, lampu gantung kristal menyinari ruangan yang penuh tawa dan percakapan para tamu. Namun baginya, seluruh suara itu seketika menghilang saat matanya menangkap satu sosok yang berdiri tak jauh dari sana.
Damian.
Berdiri tegak, mengenakan setelan jas hitam yang sempurna, wajahnya dingin. Dan tepat saat itu, mata mereka bertemu.
•
•
❤️
AYO DI BACA, INI NOV YG PALING SERU DI NOVELTOON😀😀😀😀😀
gemess sama Axel