Sekuel dari buku berjudul Rumah.
Menceritakan tentang alasan Rendi pergi dan anak-anak mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BellaBiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Gina terlalu berani di mata seorang Agus. Bisa-bisanya gadis itu mengajak Agus untuk melakukan malam pertama tadi malam. Padahal Agus sudah membayangkan kalau malam itu harus berjalan seperti malam biasanya.
Tapi Gina benar-benar di luar nalar. Ia sudah menyiapkan baju-baju transparan untuk menggoda sang suami di malam pertama. Tapi, Agus malah berpura-pura jatuh pingsan begitu melihat Gina melepas jilbab dan menyisir rambutnya yang cantik.
Agus melihat sekeliling kamar dan ia berusaha untuk membuat dirinya dan Gina untuk tidak tidur dengan satu ranjang seperti semalam. Gina juga memeluk Agus saat tertidur. Sementara Agus tidak bisa memejamkan matanya hingga jam 2 pagi dan dia melakukan sholat sunnah taubat, dan dilanjutkan dengan sholat tahajud. Lalu Agus mengaji. Agus benar-benar tidak bisa diperlakukan seperti itu. Sebisa mungkin ia menyibukkan diri agar pikirannya tidak terfokuskan pada Gina.
***
"Ha ha ha!" Tawa seorang wanita di sebuah kafe setelah mendengar cerita Gina. "Jadi lo belum diapa-apain? Ha ha!"
Wanita itu adalah Rahma, sahabat Gina sewaktu di madrasah.
"Diapa-apain gimana? Kalo dia ngeliat gue, dia langsung nunduk! Atau dia ngeliat atap. Kalo gue mau nyentuh, dia langsung nggak bolehin! Gue jadi bingung! Apa jangan-jangan Mas Agus itu gay?" tebak Gina membuat Rahma semakin terpingkal-pingkal.
"Ya ampun! Astaghfirullah! Sakit pipi gue ngakak mulu." Rahma merenggangkan otot pipinya dengan masih tertawa kecil.
"Apa gue harus cerita ke orang tua gue ya? Biar mereka bilangin ke keluarganya Mas Agus kalo anak mereka itu kelainan!" lanjut Gina dengan polosnya.
Rahma kembali tertawa. "Jangan! Jangan dulu! Lo nggak ada bukti kalo Agus gay!" balasnya.
"Tapi dia beneran nggak apa-apain gue, Rah! Apa gue kurang menggoda ya? Apa gue kurang cantik? Apa gue terlalu tepos? Atau dia nggak suka cewek yang pendek kayak gue? Atau dia nggak suka rambut gue lurus?" tanya Gina.
Rahma mengangguk. "Bisa jadi! Coba lo ubah gaya sesuai dengan apa yang dia suka. Mungkin dia nggak suka rambut lo kayak gitu, atau mungkin dia nggak suka muka lo jelek," jawab Rahma.
***
Agus benar-benar merasa bebas di rumahnya hari ini. Setelah ia menikmati main game seharian. Malam ini Gina pulang. Tiba-tiba listrik mati. Seluruh komplek perumahan itu juga tidak mendapatkan listrik.
"Yah, kok mati lampu? Assalamu'alaikum, Mas Agus! Buka pintunyaaa!" teriak Gina panik karena ia takut kegelapan. "Mas Aguuuuuuusss!! Aa! Astaghfirullahaladziiiim!" pekik Gina.
Sosok hitam legam yang semasa kecil pernah dilihat oleh Gina, kini kembali terbayang di otak gadis itu. Kejadian yang sangat mengejutkan dan menyeramkan.
Gina kalang kabut menyalakan ponsel dan menggunakan fitur senter.
Tangan Agus yang tadinya leluasa memainkan game di ponsel tiba-tiba mematung dan ia baru menyadari bahwa sedang mati lampu.
"Maass!! Assalamu'alaikum!" teriak Gina lagi sambil menggedor pinti.
Agus menarik selimut menutupi seluruh tubuh. "Wa'alaikumussalam," bisik pria itu dan berpura-pura tidur.
"Ih, ke mana sih? Apa dia sengaja ya mau ngunciin gue di luar, gegara balik malam? Aduuhh! Jangan-jangan Mas Agus marah sama gue? Diih! Gue harus minta maaf! Ih, gimana nih?" gerutu Gina di depan pintu.
"Eh! Kan ada kunci serep! Ngapain teriak-teriak, Ginaaaa!" omel Gina pada kebodohannya sendiri. Gadis itu mengeluarkan kunci cadangan dari tas dan membuka pintu.
Rumah dengan keadaan gelap gulita, Gina menyusuri ruang tamu dengan bekal senter ponsel. Gadis itu langsung membuka jilbabnya dan memasuki kamar.
~Cklek! Suara pintu kamar yang terkunci.
Agus berdiam diri di balik selimut. Detak jantungnya tak terkendali karena menyadari bahwa Gina juga berada di kamar ini. Napas pria itu menggebu-gebu. Ia takut Gina melakukan hal gila lagi.
"Mas Agus!" teriak Gina tak mendapati jawaban. "Ke mana sih itu orang aneh?! Jangan-jangan dia balik ke rumah orang tuanya!" gerutu Gina sambil mengganti pakaian dengan piyama.
Gemercik air terdengar di telinga Agus. Gina berada di kamar mandi. Agus hendak kabur dari ruangan ini. Tapi, begitu ia mengintip. Rupaya Gina tidak menutup pintu kamar mandi. Gadis itu sedang gosok gigi dengan bantuan cahaya senter ponsel.
Ya Allah! Selamatkan aku, Ya Allah! Selamatkan aku dari godaan setan yang terkutuk! Hanya kepada-Mu aku berlindung, Ya Allah! (Batin Agus).
Gina selesai membersihkan diri. Gadis itu mengambil ponsel dan menghempas tubuh di atas selimut yang Agus berada di baliknya.
"Aaah!" teriak Gina terkejut. Begitu pula Agus yang rasanya hampir ingin menangis akibat ditubruk tubuh gadis pendek dan lumayan berat itu.
Gina terjungkal. Kepalanya ikut berbaring di bantal yang Agus tiduri. Wajah mereka berada sangat dekat. Agus mematung tak berani membuka mata. Napasnya masih menggebu-gebu. Detak jantung pria itu berderu bak suara peluru senjata api.
"Mas Agus," ucap Gina menatap wajah pria yang terpejam dengan sekuat tenaga itu. Bahkan otot alis Agus ikut mengkerut karena usaha pria tersebut untuk menutup mata.
"Astaghfirullahaladziiiim! Astaghfirullahaladziiiim!" kalimat itu terus diulangi dari Agus dalam bisikan. Sehingga membuat bibirnya terlihat seperti berkomat-kamit.
Gina menatap heran. "Mas Agus lagi mantrain apaan? Kok bibirnya gerak-gerak?" tanya gadis itu.
Bibir? Bibir Agus! Bibir Gina! Bibir kami! Bibir mereka! Bibir kita! Bibir! Bibir! Bibir! Bergerak-gerak! Bibir yang bergerak-gerak!
Otak Agus mendadak eror.
"Allaahu laa ilaaha illaa huwalhayyul qoyyuuum!" teriak Agus di depan wajah Gina.