Indonesia
NovelToon NovelToon
Pintar X Nakal'

Pintar X Nakal'

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Naik Kelas / Romansa / Tamat
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: egi Santomi

Rahman Ardika adalah siswa paling nakal di sekolah smanya. Terlambat,bolos,tawuran dengan sekolah sma lain adalah kebiasaanya.Alicia Dwi Septiani adalah siswi terpintar dan berprestasi di sekolah smanya,dia telah memenangkan beberapa olimpiade dan membanggakan nama sekolahnya, serta dia juga menjabat menjadi ketua osis di sekolah smanya.

Sebelumnya mereka berdua tidak terlalu akrab dan tidak mengenali satu sama lain.Hingga akhirnya mereka berdua pun menjadi akrab ketika Rahman meminta bantuan kepada Alicia untuk mengajarkan anak anak yang tidak mampu untuk bersekolah dan Alicia pun menyetujui permintaan Alicia.

Mulai sejak saat itu,mereka berdua menjadi semakin akrab dan tumbuh rasa cinta di antara mereka berdua.Namun ayah Alicia yang mengetahui jika Alicia selalu bersama dengan Rahman pun melarang anaknya bersama dan bertemu lagi dengan Rahman,bahkan ayahnya mengancam Rahman agar tidak mendekati anaknya.

Dan bagaimanakah akhir kisah mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon egi Santomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IBU

HAPPY READING!!

.......

.......

.......

.......

.......

...🙁🙁🙁🙁🙁...

Beberapa saat setelah itu Rahman pun telah sampai di parkiran rumah sakit, hatinya begitu berdebar ketika mendengar kabar Dewi yang tiba tiba sakit, rasanya ini sangat mendadak baginya, dia tidak menyangka jika Dewi akan sakit.

Dia mencopot helmnya, kemudian turun dari motornya dia berjalan perlahan mendekati pusat rumah sakit itu. Langkah demi langkah dia lalui hingga kini dia telah sampai di teras rumah sakit, dia berniat untuk menelpon Alicia, agar Alicia mau menjemputnya.

Dan untungnya Alicia langsung mengangkat telpon dari Rahman.

"Lo udah sampai?"

"Udah, gua ada di teras rumah sakit."

"Gua jemput atau gimana?"

"Iya, lo jemput juga gak apa apa."

"Tunggu sana habis ini gue jemput."

"Oke."

Kemudian Alicia mematikan sambungan telponnya dengan Rahman. Sementara Rahman pun duduk di kursi, yang ada di teras rumah sakit, sembari menunggu Alicia yang akan menjemputnya.

Hatinya begitu cemas dan khawatir dengan keadaan gadis kecil yang sudah di anggapnya seperti adiknya sendiri itu. Beberapa waktu berselang Alicia pun datang dan menghampiri Rahman.

Alicia tersenyum."Udah lama sampai?"

"Baru aja sampai, Al," ucapnya dengan tersenyum.

Alicia tersenyum."Yaudah ayo kita masuk!"

Kemudian Rahman berdiri dan Alicia langsung melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah sakit, sementara Rahman mengikutinya dari belakangnya. Mereka berdua berjalan melewati koridor rumah sakit, tidak ada percakapan yang tercipta dari mereka berdua.

"Dia gak nanya apa apa ke gue gitu?" ucap Alicia di dalam hati.

"Masa dia gak cerita keadaan Dewi kepada gue, gini banget ya kita sekarang?" ucap Rahman di dalam hati.

Langkah demi langkah telah mereka berdua lalui, hingga akhirnya mereka berdua telah sampai di depan kamar tempat Dewi di rawat. Namun pemandangan kurang mengenakkan, di sana terdapat Aryo yang sedang duduk di kursi yang ada di depan kamar.

Namun Alicia dan juga Rahman tidak menghiraukan itu, mereka tetap berjalan dan masuk ke dalam kamar rumah sakit itu untuk menemui Dewi. Ketika mereka masuk, terdapat kedua wanita yang menjaga Dewi yaitu Winda dan Irna.

Dewi terbaring lemas di kasur rumah sakit, dia dalam keadaan tidur, jadi dia tidak menyadari kehadiran Rahman di sana. Setelah itu, Rahman pun menghampiri Irna dan hendak menanyakan keadaan Dewi kepada wanita yang seumuran dengan ibunya itu.

"Tante, Dewi kenapa?" tanya Rahman dengan khawatir.

"Gak tau Nak, tiba tiba badannya panas banget," jawab Irna.

Kemudian Rahman menatap Winda yang ada di samping Irna."Tante, udah lama?"

"Baru kok, Nak," ucapnya dengan tersenyum."Ibu kamu sehat, kan?"

"Sehat kok, Tante," ucap Rahman dengan tersenyum.

Kemudian Rahman menghampiri Dewi yang sedang berbaring lemas di kasur rumah sakit itu. Dia masih dalam keadaan tidur dan belum menyadari kehadiran Rahman.

"Dewi Kak Rahman di sini, Dek," ucap Rahman dengan senyuman yang terpancar di wajah tampannya itu.

Kemudian Rahman mengelus wajah cantik gadis kecil itu, memang badan gadis itu sangatlah panas, mungkin saja dia demam tinggi. Seolah olah menyadari jika Rahman mengelus wajahnya, Dewi pun langsung membuka kedua matanya.

"Kak Rahman akhirnya datang juga," ucap Dewi dengan tersenyum di tengah tengah deritanya.

"Iya Dewi, Kak Rahman ada di sini, Kak Rahman kangen banget sama Dewi, udah dua hari gak ketemu," ucapnya dengan tersenyum.

"Dewi juga kangen sama, Kak Rahman."

Kemudian Alicia pun menghampiri Dewi dan juga Rahman.

"Kak Alicia sama Kak Rahman berantem ya?" tanya Dewi.

Winda dan Irna pun mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dewi.

"Iya kan, Kak?"

"Kak Rahman sama Kak Alicia baik baik saja kok," ucap Rahman.

Kemudian Aryo pun masuk ke dalam kamar rumah sakit.

"Tapi kenapa Kak Rahman gak pernah datang ke tempat biasanya?"

Rahman mengelus pipi Dewi."Kak Rahman sibuk, Dek."

"Tapi kenapa Kak Alicia masih bisa datang? Bukannya Kak Rahman dan Kak Alicia satu sekolahan ya?"

"Kalau Dewi udah sembuh, pasti nanti Kak Rahman datang lagi kok,"ucapnya dengan tersenyum.

"Kalau Dewi gak sembuh? Kakak gak akan datang lagi ke sana?"

Rahman bingung dengan apa yang di ucapkan Dewi."Dewi gak boleh ngomong gitu, kamu pasti sembuh, Dek."

"Iya Dek, secepatnya kamu pasti akan sembuh," ucap Alicia mencoba menyemangati Dewi.

Dewi hanya tersenyum mendengar ucapan mereka berdua. Sementara Aryo sedang merenung melihat mereka, ternyata Dewi saja ingin mereka bersatu, serta mereka juga ingin selalu bersama, namun Aryo yang menghancurkan kebersamaan mereka.

Dia menyadari memang benar dia egois, dia tidak memikirkan kebahagiaan anaknya sendiri serta menganggap remeh Rahman. Setelah itu dia pun keluar dari ruangan itu dan kembali duduk di kursi yang ada di luar.

...EGSATO...

Sementara di rumah Alista, kini Alista sedang bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit menjenguk anak temannya yang sakit. Dia meriasi wajah cantiknya sambil melihat cermin. Setelah selesai semuanya, Alista pun langsung berjalan keluar rumah.

Namun hal yang tak di inginkan pun terjadi, ketika berada di ruang tamu, dia tersandung sesuatu, sehingga membuat dirinya terjatuh dan kepalanya membentur di kursi yang lumayan keras.

Sehingga Alista pun tak sadarkan diri dan bagian kepalanya pun berdarah. Bertepatan dengan itu, Anto pun sampai di rumah Alista, setelah itu dia turun dari motornya, lalu berjalan menuju ke dalam rumah Alista.

"Ta, gua udah nyampek nih."

Namun ketika sampai di dalam rumah dia terkejut dengan Alista yang sudah terbaring di ruang tamu dengan darah yang keluar dari kepalanya.

"Ta, kamu kenapa, Ta?" ucapnya dengan raut wajah sedih.

Kemudian Anto langsung mengecek Alista dengan tubuh gemetar, dia takut, jika Alista tiba tiba sudah tak bernyawa lagi. Namun untungnya Alista masih bernafas.

Anto langsung meminta bantuan temannya untuk membawa mobil kesini untuk mengantarkan Alista ke rumah sakit.

"Ta, bertahan ya Sayang, ku mohon..." ucapnya lirih dengan air mata yang membasahi wajahnya.

...EGSATO...

Beberapa saat setelah itu, akhirnya Tasya dan Rahmah pun sampai di kamar rumah sakit yang di tuju.Di sana ada Anto yang sedang duduk di depan kamar.

"Om," sapa Tasya.

Aryo pun hanya tersenyum. Kemudian Rahmah dan Tasya pun masuk ke dalam kamar rumah sakit yang di tempati Dewi.

"Lama banget sih kalian?"

"Gue nungguin Rahmah, lama banget anjir," ucap Tasya dengan tersenyum.

"Gak anjir, biasa aja kali."

Kemudian Rahmah dan Tasya pun menghampiri Dewi yang terbaring lemas di kasur rumah sakit.

"Dewi, cepet sembuh ya Sayang," ucap Tasya dengan tersenyum.

"Get well soon ya Dewi," ucap Rahmah dengan tersenyum.

Dewi hanya tersenyum.

"Nanti gue sama Tasya aja yang ngajarin adik adik, biar lo yang jagain Dewi."

"Udah siap kalian?"

"Udah siap banget gue." Rahmah tersenyum.

Sementara di luar, Aryo pun melihat ada seorang pasien di dorong menuju ke UGD, namun betapa terkejutnya dia ketika pasien yang di dorong itu adalah Alista yang tak sadarkan diri. Sehingga membuat Aryo ingat jika Rahman anaknya ada di dalam kamar.

Kemudian dia pun masuk ke dalam kamar untuk memberitahu Rahman jika ibunya di bawa ke UGD."Nak, Rahman."

Rahman pun menoleh ke Aryo."Iya Om?"

"Ibu kamu di bawa ke UGD."

Mendengar ucapan Aryo, Rahman pun langsung keluar dari kamar itu, namun dia masih belum percaya dengan apa yang di ucapkan Aryo. Rahman pun berlari menuju ke ruang UGD, sementara Alicia yang tidak tega pun mengikuti Rahman dari belakang.

Hingga akhirnya pun dia sampai di ruang UGD, memang benar ada Anto di luar sedang duduk dengan raut wajah yang sedih.

"Om, ibu kenapa Om?"

Kemudian Anto berdiri dan menghampiri Rahman."Ibu kamu jatuh, Man."

"Tapi ibu baik baik aja, kan?"tanya Rahman dengan air mata yang mengalir di matanya.

"Ibu kamu belum sadarkan diri," jawabnya."Sekarang ibu kamu sedang di tangani dokter."

Tak lama setelah itu Alicia pun sampai di depan UGD, dia menghampiri Rahman.

"Man."

Rahman menoleh ke arah Alicia.

"Yang sabar ya?" ucap Alicia.

Kemudian Rahman pun duduk di kursi tunggu yang ada di sana, dengan perasaan yang teramat sedih, kini wanita yang paling dia sayangi itu, belum sadarkan diri, lalu Alicia yang merasa kasihan pun ikut duduk di sampingnya.

"Yang sabar ya, Tante Alista pasti baik baik aja kok," ucap Alicia mencoba menenangkan Rahman.

Namun Rahman hanya terdiam.

"Man, gue tau kok kalau kita sepakat menjadi seperti dulu lagi." Alicia menghela nafas."Tapi gua pikir, kita gak bisa lakuin itu, Man."

Kemudian Rahman menatap Alicia. "Doain ibu gue, agar bisa cepat sadar."

"Pasti, Man."

Rahman tersenyum.

"Tapi gue tau kok, kalau kita saling mencintai dan mungkin suatu saat nanti pasti papa, akan ngizinin hubungan kita."

"Bisa gak? Gak bahas itu sekarang, lo gak tau situasi apa?"

"Maaf, Man," ucap Rahman.

Rahman menghela nafas."Tapi itu memang benar Al, gue gak bisa terus membohongi perasaan gue sendiri."

"Gue yakin, kalau bentar lagi papa juga sadar akan kebahagiaan anaknya."

Rahman pun hanya tersenyum.

"Sekarang lo yang sabar ya, Man." Alicia menghela nafas."Tante Alista pasti akan baik baik aja kok."

"Iya Al."

Sementara Aryo, kini dia sedang menghubungi adiknya yaitu Irina dan untungnya Irina mau mengangkat telpon darinya.

"Rin kamu di mana?"

"Di sekolahan Mas, emang kenapa?"

"Sahabat kamu Alista, di rumah sakit."

"Beneran Mas?"

"Iya Dek, dia gak sadarkan diri tadi ketika aku lihat."

"Kira kira dia sakit apa Mas?"

"Gak tau Rin," jawabnya.

"Yaudah habis dari sekolahan aku akan langsung ke sana."

"Iya, Dek."

Kemudian Irina mematikan sambungan telponnya, sekarang Aryo sedikit tersadar jika Rahman memang bukan anak yang nakal, perkiraannya selama ini salah besar.

Tak lama setelah itu, Alicia pun datang menghampiri Aryo.

"Pa, Alicia di sini aja Sampek besok boleh ya?" Izin Alicia kepada Aryo.

"Tapi besok kamu sekolah?"

tanya Aryo.

"Besok Alicia izin sama guru."

"Yaudah, Papa izinin," ucapnya dengan tersenyum.

"Makasih Pa."

Kemudian Alicia pun kembali masuk ke dalam kamar tempat Dewi di rawat di sana.

...Lanjut gess!!...

*Makasih yang udah baca Sampek sini,kalau memang ada hehehe😅.

*Bantu vote ya kalau boleh🤭

1
marrydiana
hai kak, aku mampir nih semangat yaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!