Indonesia
NovelToon NovelToon
Lamaran Yang Bukan Untukku

Lamaran Yang Bukan Untukku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Konglomerat berpura-pura miskin / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefin Eka Ramana Putri

Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Di Antara Dua Dunia yang Berbeda

Banyak orang mungkin mengira setelah pindah tinggal ke rumah mewah itu, Cynthia akan berhenti bekerja dan hanya menikmati hidup di sana. Padahal rumah itu bukan rumah sembarangan — rumah itu adalah rumah yang dulu pernah dibeli YB saat masih berpacaran dengan Cynthia. Rumah yang dulu seharusnya menjadi tempat tinggal Cynthia dan YB, kini justru ditempati oleh YB dan Karen sebagai pasangan suami istri. Dan alasan Cynthia pindah ke sana pun bukan tanpa alasan — Karen yang kini sudah resmi menikah dengan YB, sedang mengandung anak mereka, dan kandungannya mulai membesar. Karena itulah Karen meminta Cynthia pindah untuk menemani, membantu mengurus, dan menjaganya selama masa kehamilan yang semakin berat ini. Seharusnya, kehadiran Cynthia di sana adalah sebagai saudara yang saling mendukung. Namun kenyataannya di balik punggung semua orang — bahkan di belakang YB sekalipun — Cynthia justru diperlakukan tidak seperti saudara, melainkan seperti pembantu atau babu. Karen bersikap bak majikan yang kasar, menyuruh Cynthia mengerjakan segala hal berat sendirian, merendahkannya setiap kali tak ada yang melihat, dan tak pernah mengucapkan terima kasih atas semua tenaga yang telah dikorbankan Cynthia.

Itulah sebabnya setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, Cynthia sudah bangun lebih awal dari siapa pun, menyiapkan segala keperluan rumah tangga Karen dan YB — mulai dari memasak sarapan, membersihkan seluruh ruangan dari lantai hingga langit-langit, mencuci pakaian, merapikan tempat tidur keduanya, hingga memastikan segala sesuatu sudah berada pada tempatnya sebelum Karen dan YB membuka mata. Semua itu ia kerjakan seorang diri, seakan memang itulah tugas utamanya di rumah itu. Padahal janji semula hanyalah "menemani dan membantu", bukan menjadi satu-satunya orang yang harus mengurus seluruh rumah tangga seorang diri tanpa dihargai sedikit pun.

Meski harus bangun sangat pagi dan sudah lelah sebelum hari dimulai, Cynthia tetap berangkat bekerja tepat waktu tanpa pernah terlambat. Ia tidak ingin bergantung sepenuhnya pada belas kasih orang lain, apalagi pada Karen yang sering merendahkannya. Cynthia tetap ingin mandiri, tetap memiliki penghasilan sendiri, dan tetap menjadi wanita yang bekerja keras seperti dulu.

Pekerjaannya pun masih sama — ia tetap menjadi staf perencana acara di perusahaan jasa pernikahan dan acara yang dulu pernah ia masuki dengan penuh semangat. Perusahaan tempat Cynthia bekerja itu didirikan oleh Aldy Reynaldi — atau yang akrab disapa Aloy, pendiri sekaligus pemilik perusahaan tersebut. Pekerjaan Aloy tidak hanya mengurus perusahaannya sendiri saja. Ia juga bekerja di perusahaan lain di bidang yang berbeda, sehingga tidak selalu berada di kantornya sendiri setiap hari. Ia mempercayakan operasional harian perusahaan kepada para manajer yang ia tunjuk, dan jarang terlibat langsung dalam penugasan klien-klien tertentu.

Karena itulah, saat dulu Cynthia ditugaskan untuk mengurusi persiapan pernikahan YB dan Karen, ia sempat mencoba mengajukan permohonan kepada atasannya — manajer divisi tempat Cynthia bekerja — agar dialihkan ke klien lain. Namun bosnya itu menolak permohonan Cynthia dengan tegas.

"Kau harus bersikap profesional, Cynthia," ucap bosnya itu dengan nada yang serius namun penuh makna. "Pisahkan antara perasaan dan pekerjaan. Aku tahu ini mungkin berat untukmu, tapi justru inilah yang akan membuktikan betapa hebatnya dirimu. Kalau kau merasa benar-benar tak sanggup, kau boleh mempertimbangkan untuk berhenti. Tapi selama kau masih di sini, kerjakanlah dengan sebaik-baiknya."

Cynthia terdiam. Ia tidak bisa berbuat banyak selain menerima keputusan itu. Dan memang pada saat itu, Aloy sama sekali tidak mengetahui bahwa klien yang sedang ditangani Cynthia adalah YB dan Karen. Ia tidak ikut campur dalam penugasan klien-klien, sehingga hal itu sama sekali tidak diketahuinya. Hingga pada suatu hari di gedung acara, saat sedang berlangsungnya persiapan, kertas-kertas terbang berhamburan di udara, dan tangan YB serta Cynthia bersentuhan begitu dekat dan mesra tanpa sengaja — dan momen itu justru dilihat langsung oleh Aloy. Cemburu dan merasa curiga, Aloy kemudian mencari tahu sendiri ke perusahaannya. Dan barulah saat itulah ia mengetahui kenyataan pahit bahwa selama ini Cynthia lah yang mengurusi seluruh persiapan pernikahan YB dan Karen. Namun karena pekerjaan itu sudah berjalan jauh dan hampir selesai, serta sebagai pemilik perusahaan ia harus tetap bersikap profesional dan tidak boleh memihak, maka Aloy tidak bisa menarik atau mengubah keputusan itu lagi. Ia harus tetap memegang prinsip kerjanya — meskipun hatinya sedang hancur. Dan kini, setelah pernikahan itu berlangsung dan Karen sedang mengandung anak YB, hal itu tetap menjadi kenangan yang tak bisa diubah lagi.

Saat ini, Cynthia masih menjalani hari-harinya dengan dua dunia yang berbeda. Di kantor, ia bekerja keras, berusaha menyelesaikan tugas-tugasnya dengan sebaik-baiknya. Di rumah, ia harus menahan diri dari perlakuan Karen dan perhatian berlebih dari YB.

Setiap pagi saat Cynthia melangkah masuk ke gedung perkantoran yang modern dan megah itu, para karyawan lain selalu menyapanya dengan ramah dan hormat. Bukan karena mereka tahu Cynthia adalah kekasih pendiri perusahaan, melainkan karena Cynthia bekerja dengan sungguh-sungguh, rajin, dan selalu bisa diandalkan. Cynthia sendiri pun tidak pernah memamerkan hubungannya dengan Aloy kepada siapa pun di tempat kerja. Ia ingin dinilai dari kinerjanya sendiri, bukan karena ia adalah kekasih pendiri perusahaan.

Dan di setiap kesempatan saat mereka bertemu, Aloy selalu menyambutnya dengan senyum hangat yang mampu membuat segala kelelahan Cynthia seketika hilang. Sebagai pendiri perusahaan sekaligus pekerja di tempat lain, Aloy memang sangat sibuk, namun ia tak pernah melupakan Cynthia. Sering kali Aloy menyempatkan diri mampir ke ruangan kerja Cynthia, membawakan minuman kesukaan wanita itu, atau sekadar berhenti sejenak untuk menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang yang tulus — tanpa pernah menanyakan secara detail siapa saja klien yang sedang ditangani Cynthia, karena ia sudah tahu dan berusaha untuk tetap bersikap profesional.

"Sudah makan siang, Sayang?" tanya Aloy pelan suatu hari, saat ruangan itu mulai sepi karena jam istirahat telah tiba. "Jangan terlalu lelah bekerja, ya. Aku tahu di rumah pun kau tak benar-benar beristirahat. Ingat, kau bukan hanya karyawanku — kau adalah wanita yang paling berharga bagiku. Kalau kau kelelahan, aku juga ikut sedih."

Cynthia tersenyum lembut, menyambut kehadiran pria itu yang selalu menjadi tempat pulang ternyaman baginya. "Terima kasih, Aloy. Aku baik-baik saja. Justru bekerja membuatku merasa lebih berguna dan tidak terus-terusan berpikir tentang hal-hal di rumah itu."

Kata-kata itu membuat hati Cynthia terasa hangat. Di tengah semua kepalsuan dan penderitaan yang ia alami di rumah YB dan Karen — rumah yang dulu seharusnya miliknya — Aloy adalah satu-satunya kenyataan yang tulus dan murni. Pria itu mencintainya tanpa syarat, mendukungnya tanpa pamrih, dan selalu memperlakukannya dengan penuh rasa hormat — sesuatu yang tak pernah benar-benar ia rasakan dari YB selama bertahun-tahun.

Setiap sore setelah jam kerja berakhir, Cynthia kembali ke rumah itu. Di sana, ia kembali berperan — bukan sebagai kekasih Aloy yang dihargai, bukan pula sebagai staf perencana acara yang disegani, melainkan sebagai sosok yang harus melayani kemauan Karen dan menahan diri dari perhatian berlebih dari YB.

Hari-hari berlalu dengan ritme yang berat namun teratur: pagi hingga sore ia berada di kantor, bekerja keras dan sesekali bertemu Aloy dengan hati yang damai. Sore hingga pagi ia berada di rumah itu, menelan kepahitan, menyembunyikan rasa sakit, dan menjalani semuanya dengan sabar. Dua dunia yang berbeda — satu penuh kasih sayang dan kejujuran, satu lagi penuh kepalsuan dan pura-pura. Dan Cynthia berjalan di antara keduanya, menyadari satu hal yang paling berharga: bahwa di luar sana, ada seseorang bernama Aloy yang selalu menunggunya, seseorang yang tidak pernah memandang rendah siapa dirinya, dan seseorang yang membuktikan bahwa cinta sejati memang ada — selama kita bersabar menunggunya.

1
Sefin Eka Ramana Putri
Luar biasa! Alur cerita yang terus berkembang dan penuh kejutan. Saya sangat terkesan dengan bagaimana penulis menggambarkan perasaan masing-masing karakter — rasa sakit, rindu, dendam, dan cinta tulus yang tak pernah padam. Cynthia adalah wanita yang sangat kuat, dan Aloy adalah bukti bahwa pria baik hati memang ada. Bagaimana dengan kalian? Bagian mana yang paling membuat kalian tak sabar menanti kelanjutan ceritanya? Yuk bagikan pendapatmu di kolom komentar! 👇✨
pineapple
semangat kak, kalo berkenan ku tunggu kunjungan nya hehe
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap. terima kasih sudah mampir. ntar saya balik berkunjung ke novel kak ya..😊🙏
total 1 replies
Dini
jangan lupa mampir dan komentar di karyaku #Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Sefin Eka Ramana Putri: ok kak. siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!