Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. UMPAN BERACUN
Di foyer lantai bawah, keheningan yang ditinggalkan Aira terasa bagaikan udara beracun. Hendra Gunawan membanting tubuhnya ke sofa kulit dengan wajah pucat menahan murka, sementara Rani masih menggenggam lengan Azka dengan jemari yang gemetar.
"Kita dalam masalah besar, Azka!" desis Hendra dengan suara tertahan, menepuk meja kaca di depannya. "Dua puluh lima persen saham veto itu bukan sekadar angka di atas kertas! Jika Aira menggunakan hak vetonya di sidang pleno bulan depan dan berkoalisi dengan kubu Rizky, posisi pimpinan direksiku akan lengser, dan seluruh proyek kawasan industrimu akan dibekukan secara permanen!"
"Tapi, Yah... apakah sidang pleno itu tidak bisa ditunda atau dibatalkan saja?" tanya Rani dengan nada polos yang dibuat-buat, mencoba ikut campur dalam diskusi keluarga inti.
"Bodoh!" bentak Hendra tanpa sadar, membuat Rani tersentak kaget dan menyusut takut. "Sidang pleno itu sudah dijadwalkan oleh komite independen! Kalau kita membatalkannya secara sepihak, para komisaris lain akan makin curiga bahwa kita menyembunyikan kejahatan finansial! Sidang itu harus tetap terjadi, dan kita harus memastikan Aira berada di pihak kita!"
Azka mengepalkan tangannya rapat-rapat. Matanya menatap tajam ke arah tangga menuju kamar utama di lantai dua. "Satu-satunya kunci untuk mengendalikan sidang itu... adalah Aira sendiri."
Hendra menatap putranya dengan pandangan menilai, lalu mengangguk pelan. "Benar. Aira memang pemegang saham terbesar, tapi ingat... dia masih istri sahmu secara hukum. Turunkan gengsimu, Azka. Berpura-puralah menjadi suami yang menyesal. Minta maaf atas tamparan tadi, dan katakan bahwa kamu ingin memperbaiki rumah tangga kalian. Mulai malam ini... masuklah ke kamarnya dan lunakkan hatinya."
Rani menahan napasnya, dadanya sesak mendengar instruksi Hendra. Namun, demi mengamankan posisi Azka dan kelangsungan hidupnya di keluarga ini, Rani terpaksa menelan rasa cemburu itu bulat-bulat.
Azka merapikan tuksedonya yang sedikit kusut, meminta pelayan menyiapkan segelas susu hangat dan beberapa butir vitamin di atas nampan perak, lalu melangkah mantap menaiki tangga utama.
Cklek.
Pintu kamar utama terbuka perlahan. Aira sedang berdiri di depan cermin rias, mengusap lembut bekas memar merah di pipinya dengan kapas beralkohol saat bayangan Azka muncul di ambang pintu melalui pantulan kaca.
Azka melangkah masuk dengan wajah yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi raut membunuh atau bentakan kasar. Wajah pria itu kini dipenuhi penyesalan yang mendalam dan binar mata yang tampak melas.
Ia meletakkan nampan perak itu di meja samping tempat tidur, lalu mendekati Aira dan berlutut tepat di samping kursi rias istrinya.
"Aira..." panggil Azka dengan suara rendah dan bergetar—suara lembut yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati Aira. "Aku... aku minta maaf. Aku benar-benar kalap malam ini. Amarahku membakar pikiranku sampai aku tega melayangkan tangan padamu. Tolong maafkan aku, Aira..."
Azka mendongak, meraih jemari dingin Aira dan menggenggamnya erat. "Aku sadar aku salah. Selama ini aku terlalu emosional. Tapi malam ini... biarkan aku membuktikannya. Minumlah susu hangat ini untuk menenangkan dirimu, dan biarkan aku tidur di kamar ini bersamamu. Kita perbaiki rumah tangga kita dari awal, ya?"
Aira menatap Azka dari pantulan cermin. Bukannya tersentuh atau luluh, bibirnya justru mengukir senyuman sinis yang teramat dingin.
Dengan gerakan lambat dan sangat anggun, Aira melepaskan genggaman tangan Azka, lalu meraih gelas susu hangat dari atas nampan... dan memiringkannya tepat di atas sepatu kulit mahal milik Azka.
Bles!
Cairan susu putih yang masih hangat mengucur deras, mengotori sepatu dan celana tuksedo mahal milik Azka hingga basah kuyup.
Wajah Azka seketika membeku. Matanya membelalak kaget atas perlakuan tanpa ampun dari istrinya. "A-Aira... apa yang kamu lakukan?!"
"Akting yang sangat murah, Suamiku," bisik Aira dingin, meletakkan gelas kosong itu kembali ke atas nampan dengan ketukan porselen yang halus.
Aira menundukkan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke mata Azka yang masih berlutut di lantai yang basah oleh genangan susu.
"Kamu pikir hanya dengan berpura-pura berlutut, membawakan susu, dan menawarkan diri untuk tidur di kamarku, aku akan langsung lupa pada tamparanmu dan menyerahkan hak vetoku begitu saja?" cemooh Aira dengan senyuman paling merendahkan. "Jangan salahkan aku kalau aku melihatmu tak lebih dari seorang pengemis yang sedang mengharapkan belas kasihan atas sahamku."
"Aira! Aku sudah menurunkan gengsiku dan meminta maaf demi hubungan kita!" geram Azka, urat di lehernya kembali menegang, emosinya hampir meledak karena merasa dipermalukan.
"Kamu menurunkan gengsimu demi sahamku, Azka. Bukan demi aku," potong Aira tajam dengan intonasi yang begitu menekan. "Trik manipulasi murahanmu ini tidak berlaku lagi bagiku. Keluar dari kamarku sekarang juga, sebelum aku memanggil pengawal untuk menyeretmu keluar!"
"Aira, dengarkan aku dulu—"
"Keluar!" bentak Aira tenang namun sarat akan intimidasi mutlak. "Celana mahal dan kemunafikanmu mengotori karpet kamarku."
Dengan wajah merah padam menahan malu, amarah, dan kekalahan yang telak, Azka terpaksa bangkit dari posisinya yang berlutut dan melangkah keluar dari kamar utama dengan tangan kosong.
Keesokan harinya.
Kepanikan di kediaman utama klan Gunawan makin tidak terkendali setelah strategi malam hari Azka gagal total. Menyadari bahwa Azka saja tidak cukup untuk melunakkan sikap Aira, seluruh anggota keluarga Gunawan mendadak mengubah taktik secara drastis.
Saat Aira melangkah turun menaiki tangga menuju ruang makan untuk sarapan, pemandangan absurd yang memuakkan langsung menyambut inderapenglihatannya.
Suasana ruang makan yang biasanya dingin dan penuh tatapan merendahkan, kini mendadak dipenuhi ramah-tamah kepalsuan. Hendra Gunawan yang biasanya menatap Aira seperti beban, kini tersenyum hangat dibalut raut keibuan dan kebapak-bapaan yang belum pernah Aira lihat sebelumnya.
"Aira, sayang... mari duduk," panggil Hendra dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin, bahkan berdiri sedikit untuk menyambut menantunya. "Ayah sudah minta koki menyiapkan menu sarapan favoritmu pagi ini. Kamu pasti lelah setelah acara semalam."
Para sepupu dan kerabat Gunawan yang biasanya sibuk menyindir Aira di meja makan, kini saling berebut menyodorkan piring, jus buah segar, dan cangkir teh hangat ke hadapan Aira.
"Mbak Aira, ini teh herbalnya. Katanya bagus untuk menenangkan pikiran," ucap salah satu sepupu Azka dengan senyum manis yang dipaksakan.
Bahkan Rani—yang berdiri agak jauh di sudut meja hidang—mengusap tangannya canggung sambil melemparkan tatapan memohon yang serba salah, berpura-pura menjadi adik yang sangat patuh dan penuh penyesalan.
Azka yang duduk di samping kursi utama menatap Aira dengan binar mata yang memohon, seolah memberi isyarat agar Aira menerima kebaikan 'keluarga' mereka yang mendadak hangat ini.
"Aira, Ayah dan kami semua sadar... selama ini mungkin ada banyak kesalahpahaman di antara kita," lanjut Hendra dengan intonasi sarat manipulasi. "Malam ini kita adalah keluarga besar yang utuh. Ayah sangat bangga memiliki menantu setangguh dan secerdas kamu. Rumah ini adalah rumahmu juga, Aira."
Aira berdiri mematung di pinggir meja makan.
Melihat rentetan drama kepalsuan, senyum manis yang dipaksakan, dan keramahan mendadak dari orang-orang yang biasanya menginjak-injak harga dirinya, rasa mual dan jijik yang luar biasa mendadak bergejolak di dada Aira.
Bukannya tersentuh, Aira justru merasa seperti sedang menonton pertunjukan topeng topeng serigala yang sangat murahan.
Aira tidak menyentuh piring maupun cangkir teh yang disodorkan padanya. Ia menarik napas panjang, menatap satu per satu wajah anggota keluarga Gunawan di meja makan dengan pandangan paling dingin dan penuh cemoohan.
"Sungguh pemandangan yang sangat menggelikan," bisik Aira pelan, suaranya yang tenang memotong riuh ramah-tamah palsu di ruangan itu secara instan.
Seluruh meja makan mendadak hening seketika. Senyum manis di wajah Hendra dan Azka perlahan membeku.
Aira menyunggingkan senyum sinisnya yang paling tajam.
"Kemarin malam kalian menatapku bagaikan sampah yang layak ditampar dan dibuang. Dan pagi ini... kalian semua mendadak merendahkan diri bagaikan pelayan yang memohon belas kasihan di hadapanku," ucap Aira lantang, menatap Hendra lurus di matanya.
"Simpan seluruh kebaikan palsu dan topeng menjijikkan kalian ini," lanjut Aira dingin, merapikan mantelnya tanpa ada niat sedikit pun untuk duduk. "Dua puluh lima persen saham milik ibuku tidak akan pernah bisa kalian beli hanya dengan piring sarapan dan senyuman manis murahan."
Tanpa menyentuh makanan sedikit pun, Aira berbalik arah dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan, membiarkan seluruh keluarga Gunawan terpaku kaku dalam kehampaan dan rasa malu yang luar biasa.