Mizell Haines dan Samuel Haines, kedua insan yang sedikit berbahaya, yang membuat masalah dengan mereka, akan mendapatkan pembalasan yang setara bahkan mereka akan memberikan pembalasan yang lebih kejam dari yang mereka dapatkan.
Sampai ketika, seseorang datang dengan rahasia yang mengejutkan. Memiliki niat buruk terhadap mereka, seseorang yang membuat Samuel cemas akan kedatangannya.
Apakah yang akan terjadi? mampukah Samuel dan Mizell menyelesaikan masalah itu?
•••••
"dia akan membayar semua perbuatannya pada mu, walaupun itu harus dengan nyawanya." lirih Samuel menggenggam tangan Mizell yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"cepatlah sembuh sayang, akan aku ceritakan sebuah kisah yang mengejutkan." matanya yang dingin sudah memerah, perlahan air matanya menetes dengan rasa sesak yang memenuhi dadanya.
•••••
Samuel Haines & Mizell Haines
ini kisah mereka berdua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dola Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
don't make trouble •PART 25
Mizell meninggalkan sebuah rumah sederhana setelah mengantarkan Maxime dan Vian ke sana, ternyata mereka berdua adalah sepupu yang tinggal dalam satu rumah, pantas saja sikap mereka sama-sama dingin.
Dalam perjalan pulang ke rumahnya, Mizell hanya menatap keluar jendela sambil mengunyah permen karet tanpa mengeluarkan suara apapun yang membuat suasana sangat hening di dalam mobil.
Sesampainya di mansion, di liriknya dua mobil yang masih terparkir rapi di depan mansion, sepertinya Ciko dan Julian masih berada di dalam.
Mizell melangkah masuk, tanpa mengucapkan apapun. Ketiga lelaki yang sedang duduk santai di depan tv menatap kearahnya.
wushhh~
Bagaikan angin, Mizell melewati mereka bahkan tidak menoleh sedikitpun pada mereka, ada apa dengan Mizell?
Samuel terpaku di tempatnya, baru saja dia akan berdiri menyambut Mizell tapi malah mendapatkan perlakuan tak terduga seperti itu.
"Julian...jelaskan!" Samuel menatap Julian tajam, Julian menjadi gelisah di buatnya, dia awalnya hanya berniat jahil mengirimkan foto Samuel dan Ciko yang bergulat di ring tinju, dia sama sekali tidak berharap hal ini akan terjadi.
"aku benar-benar gak bermaksud..." Julian hanya menggaruk tengkuknya, tak tahu harus menjelaskan dari mana.
"sudahlah." ucap Samuel lelah dan melangkah menghampiri Mizell yang sudah masuk ke kamarnya.
•••••
Samuel melirik ke kiri kanan dengan gelisah, menunggu Mizell yang berada di dalam kamar mandi, entah sedang apa Samuel sama sekali tidak tahu, sampai ketika pintu itu terbuka perlahan, menunjukan wajah datar Mizell yang bahkan terlihat tidak bersemangat untuk menatap ke arahnya.
"sayang..." dengan suara selembut mungkin Samuel mulai melangkah ke sofa tempat Mizell duduk sekarang.
Lirikan singkat dari Mizell mampu membuat Samuel tersenyum kecil, tanpa aba-aba Mizell menarik tangan Samuel untuk duduk disampingnya, menatap lekat wajah kakaknya yang tampan dengan lebam di pipi kirinya, sepertinya hasil dari baku hantam tadi.
"padahal hanya ingin kakak beristirahat, tapi malah menambah luka baru." ucap Mizell menyentuh lebam itu, wajahnya yang awalnya datar mulai melembut, dasar Mizell yang memang tak pernah bisa berlama-lama mendiami Samuel.
Tidak ada respon dari Samuel, dia hanya menatap dalam Mizell yang menatapnya khawatir, perasaanya membuncah hebat saat Mizell memperhatikannya dengan wajah sayu penuh perhatian.
Sepertinya ada yang salah dengannya dirinya, sejak dulu dia memang terlihat aneh saat bersama Mizell, dia tidak bisa berjauhan dengan Mizell, tidak mengizinkan Mizell berpacaran ataupun terlalu menaruh perhatian pada lelaki selain dirinya, bahkan temannya sekalipun.
Ada perasaan aneh yang timbul sejak lama padanya dirinya terhadap Mizell, dan dia menikmati segala hal itu tanpa pernah mencoba menyangkal sedikitpun, toh dia berhak memiliki perasaan itu.
"sebentar lagi juga akan sembuh, tidak perlu khawatir sayang.." Samuel menggenggam tangan Mizell yang bertengger di pipinya.
"bagaimana luka di perut kakak?" tanpa permisi Mizell langsung menyingkap pakaian Samuel yang membuat Samuel menegang di tempat akibat tindakan tiba-tiba yang Mizell lakukan.
"Mizell." Samuel menahan tangan Mizell, hal yang membuat Mizell menaikan sebelah alisnya bertanya-tanya, seakan tidak tahu menahu akan apa yang dia lakukan.
"ada apa? masih sakit?" Mizell menatap Samuel khawatir, tangannya berhenti bergerak saat tangan Samuel masih bertahan menahan tangannya.
"bu-bukan itu..." perlahan Samuel menyingkirkan tangan Mizell dari perutnya, tidak biasanya dia seperti ini, apa yang terjadi padanya?
"terus kenapa?"
"lukanya sudah mengering, jadi tidak perlu di periksa lagi." dengan wajah kurang yakin mizell hanya mengangguk paham.
"ya sudah, aku ke bawah dulu." Samuel yang merasakan atmosfer yang memanas memilih untuk meninggalkan kamar Mizell, sepertinya bersama Mizell sekarang tidak baik untuk jantungnya, yang seperti akan meloncat dari tempatnya.
"ah sialan." Samuel memukul pelan kepalanya saat sudah berada di luar kamar Mizell dengan mulut yang tak henti mengumpat akan tingkah bodohnya.
•••••
Keesokan paginya, Mizell sudah datang ke sekolah dengan pakaian olahraga. Hari ini dia memiliki tujuan untuk menghajar seseorang, siapa lagi kalau bukan lelaki yang bernama Ardra.
Mizell memang wanita yang sedikit pendendam, saat ada seseorang yang membuat masalah dengannya dia pasti akan membalas, tak jauh beda dengan Samuel. Bahkan sepertinya Mizell lebih baik dari pada Samuel yang bahkan lebih kejam darinya.
"pagiii..." tidak ada yang menjawab sapaan Mizell, semuanya hening dan menatapnya aneh. Ada yang menatap Mizell sinis, mungkin karena terganggu dengan kedatangannya.
Jelas saja, ini bukanlah kelas Mizell melainkan kelas Ardra yang adalah kakak kelasnya.
"kakak Ardra nya ada kak?" tanya Mizell, menatap lelaki yang sedang bermain game di ponselnya.
"di belakang Lo..." mendengar hal itu, Mizell berbalik dan langsung bertatap muka dengan Ardra yang mukanya langsung pucat pasi, melihat hal itu Mizell melangkah maju dengan wajah tersenyum manis.
Orang-orang menatap aneh dengan pemandangan langka di hadapan mereka, setahu mereka Ardra adalah saudara kembar dari Arden yang di takuti di sekolah mereka, lalu kenapa Ardra terlihat ketakutan terhadap Mizell yang bahkan hanya seorang perempuan?
"padahal sudah di beri peringatan, jangan membuat masalah denganku kan?" ucap Mizell tersenyum misterius, dia sudah muak selalu berurusan dengan makhluk seperti Ardra.
"sekarang jangan salahkan aku jika sedikit bersenang-senang."
•••••
TBC...
Dapet salam dari "Senja" dan "ZB".
Jangan lupa pada mampir ya.
jangan lupa juga untuk tinggal kan jejak.
Dapet salam dari "Senja" dan "ZB".
Jangan lupa pada mampir ya.
jangan lupa juga untuk tinggal kan jejak.