Kiena Putri adalah artis muda yang belum terkenal, dia berusaha mencari pekerjaan sampingan untuk menunjang kehidupannya di ibu kota.
Dia menjadi salah satu wanita yang dapat di sewa sebagai kekasih atau hanya teman cerita, tanpa di sangka, penyewanya adalah seorang bintang terkenal yang dapat mengubah jalan hidupnya.
Kiena ingin menghentikan desiran aneh di dadanya ketika bersama sang Bintang. Bisa kah Kiena melakukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanksm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KIENA
...🎬🎬🎬...
Dada Kiena terus berdegub dengan kencang, setelah turun dari ojek online, Kiena membuka kembali ponsel dengan deretan panggilan tidak terjawab dari Farah, dan rentetan pesan Farah yang memintanya untuk tidak menemui Ghazam. Kiena harus bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi, ia tidak ingin Farah ataupun Kemal yang malah menanggung akibatnya.
Masih dengan tangan gemetar, Kiena mengirim pesan pada Tobias, karena hanya laki-laki itu yang dapat ia hubungi. Namun saat baru mengetik sembari berjalan masuk ke dalam gedung agensi milik Ghazam, kepalanya mendongak, melihat banyak orang yang menatapnya kaget. Entah karena mereka tahu soal berita yang sedang beredar, atau karena ia masih mengenakan seragam sekolah berdiri di ambang pintu.
"Nona Kiena."
Kiena menoleh, pada sosok yang sangat ia kenali, Tobias. Laki-laki tinggi dengan wajah datar itu berlari ke arahnya, Tobias menunduk padanya, lalu menatap kebingungan dengan dirinya.
"Kenapa nona ke sini tidak mengabari saya?" Tanya Tobias. Kiena masih menahan diri untuk tidak membentak, emosinya hanya perlu dikeluarkan untuk Ghazam saja.
"Kiena..." Kiena dan Tobias menoleh pada sumber suara.
Emosi Kiena memuncak saat melihat laki-laki tampan yang berlari dengan senyum merekah. Ini dia sang pelaku utama, Ghazam Bentley.
Belum Ghazam sampai di hadapannya, Kiena sudah melangkah menuju laki-laki itu. "Sudah puas kamu?"
Langkah Ghazam berhenti, senyumnya pun ikut memudar. Dengan wajah kebingungan ia menatap Kiena. "Apa maksud kamu?"
"Ini yang kamu bilang akan menghancurkan impian saya?"
"Kiena apa maksudnya?"
Kiena mundur saat Ghazam hendak meraih tangannya. Napas Kiena turun-naik dengan cepat, semua amarah sudah bersarang diubun-ubunnya. Kenapa rasanya perasaan Kiena melemah, Kiena merasa perasaan rindu kembali menyerang, ia menggeleng menatap ke arah lain.
"Kenapa kamu melakukan ini? Bukankah sudah ada dalam perjanjian kalau sesuatu seperti ini tidak boleh terjadi." Kiena menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangisnya. "Saya, sakit Ghazam, saya pikir kamu tidak mungkin melakukan hal semacam ini, tidak perlu kamu melakukan hal ini untuk mengingatkan kepada saya serendah apa saya di mata semua orang."
"Kiena..."
"Ghazam..." Seorang perempuan berlari ke arah mereka, mata perempuan itu membulat kala matanya bertemu dengan mata Kiena. "Hah, Kiena." Perempuan itu membungkuk.
"Ada apa?" Tanya Ghazam, Kiena tidak tahu siapa perempuan itu hingga membungkuk saat menatapnya.
"Lihat ini," menyodorkan tablet, Ghazam tampak membaca teliti, wajahnya terlihat terkejut dan sesekali menatap Kiena.
"Kiena," Ghazam menyerahkan tablet tersebut pada Tobias. "Semua itu tidak benar, saya tulus menyayangi kamu, kamu bisa percaya saya."
Tobias terlihat menggeleng saat membaca setiap pragraf yang ada dalam layar. Tobias menatap Kiena yang sudah menjatuhkan air matanya. "Nona, ini salah paham."
"Salah paham?" Kiena mengusap air matanya, "siapa lagi yang tidak tahu soal saya selain kamu Ghazam? Dan berita itu mengatakan bahwa kamu sumbernya."
"Itu sebuah karangan, Kiena."
Kiena dapat melihat dengan mata kepalanya bahwa tangan Ghazam gemetar, wajah laki-laki terlihat ketakutan, Kiena tidak tahu soal arti dari ekspresi yang Ghazam tunjukkan. Kiena menatap tangannya yang sudah di genggam kuat oleh bintang terkenal itu.
"Saya mohon, saya butuh kamu, percaya sama saya Kiena."
"Sewaktu Tobias mengatakan kalau kamu tidak pernah main-main pada setiap kalimat yang kamu ucapkan, saya mulai berharap. Tapi ketika segelintir orang kembali mengatakan bahwa saya dikenal berkat kamu, saya mulai membuang harapan saya. Saat kamu hadir dan mengatakan seperti ingin memiliki saya, saya kembali berharap. Namun kali ini, saya yakin bahwa kamu yang menyakiti saya, bukan saya. Saya tidak akan berharap apa pun."
"No, Kiena. Jangan mengatakan hal itu, saya tidak melakukan apa pun. Tidak mungkin saya melakukan hal sebusuk itu kepada perempuan yang saya cintai."
Kiena tersenyum tipis, "saya sampai lupa kalau kamu memang pantas mendapatkan penghargaan aktor pemeran terbaik, akting kamu bagus."
"Nona..." Tobias hendak membantu,
"Permisi," Kiena berlari keluar dari gedung, Kiena tidak peduli dengan tatapan orang yang mungkin saja mengenalinya, ia berlari memutari gedung berusaha menjauh dari semua orang. Benar kata ibunya, bahwa dunia ini kejam, Kiena harusnya pulang dan menjadi putri tersayang ibunya saja.
Ghazam tidak peduli dengan teriakan Tobias, yang dia takutkan hanyalah Kiena menghilang. Tobias menyerahkan kembali tablet kepada perempuan yang berdiri disampingnya. "Tulis berita mengenai kebohongan itu, Tuan Ghazam tidak melakukan apapun seperti yang diberitakan."
...🎬🎬🎬...
"Kiena tunggu, jangan pergi..."
Teriakan gila Ghazam tidak Kiena pedulikan, ia terus berlari ke segala arah agar Ghazam tidak mengejarnya.
BUG!!
Langkah lari Kiena terhenti, Kiena berbalik melihat seorang pria dengan pakaian kantorannya, berdiri membelakanginya, Kiena melihat Ghazam yang tersungkur ditanah.
"Berhenti menjadi egois, Ghazam."
"Mas Kemal." Kiena menghampiri kekasih dari Farah itu,
Kemal menoleh, pria itu mengusap peluh yang ada pada dahi Kiena. "kamu tidak apa-apa?"
"Saya baik mas, kenapa mas ada di sini?"
"Itu tidak penting," Kemal menarik Kiena untuk berlindung dibelakangnya saat melihat Ghazam sudah berdiri, mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan dara. Kemal menatap tajam pada Ghazam. "Jangan melewati batasanmu, Ghazam."
"Kemal, tolong serahkan Kiena padaku, aku akan membahagiakannya."
"Shut the hell up!! Jangan karena kita masih satu keturunan kamu jadi seenaknya merintahku. Aku sudah pernah bilang padamu, Ghazam, kalau kamu memang menyukai Kiena sejak dua tahun lalu, menjadikannya kekasih sewaan bukanlah jalannya." Ungkapan Kemal membut Kiena tersentak kaget, Ghazam menyukainya? Kemal menghela napas pelan. "Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Menghapus berita itu agar namamu kembali bersih, lalu bagaimana dengan Kiena? Dunia tetap akan menghakiminya sebagai perempuan bayaran."
"Kalimatmu menyakitiku, Kemal."
"Berhenti bersikap menjadi orang yang paling tersakiti, Ghazam. Kamu harus ingat bahwa traumamu kepada perempuan tidak benar adanya," ungkap Kemal lagi. "Jangan menjadikan traumamu sebagai alat untuk Kiena merasa bersalah. Traumamu ya traumamu, Kiena bukan termasuk ke dalam ceritamu."
Kiena merasakan genggaman Kemal pada pergelangan tangannya menguat saat Ghazam melangkah maju.
"Sentuh Kiena, kamu tidak akan bisa berakting lagi. Duniamu kubuat hancur."
"Kamu pasti merasakan hal yang sama, Kemal. Melakukan cara apapun demi wanita yang kamu cintai,"
"Tapi aku tidak seegois kamu, Ghazam. Aku tidak akan membuat Farah kesulitan seperti kamu membuat Kiena kesulitan." Kemal berdecak. "Kamu hanya memikirkan duniamu, tapi kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Kiena padamu."
Kemal menarik Kiena untuk menjauh, bagi Kiena kenyataan ini lebih menyakitkan dari pada disudutkan oleh Cindy Cyrus.
"Aku akan mendapatkanmu."
Kemal menghentikan langkahnya, menatap Ghazam tajam. "Simpan itu untuk mimpimu."
^^^Bersambung 🎬🎬^^^