Riyla tidak mempercayai kalau dia terlahir kembali disebuah dunia misterius, walau hanya menjadi anak petani yatim piatu, tapi Riyla tidak mempermasalahkannya, hingga suatu ketika dia bertemu dengan pemuda misterius bernama Flynn, pemuda tersebut mengalami sebuah amnesia, bukan hanya itu dia juga memiliki tanda daun dilengannya seperti tanda pada ras Leaflin, ras yang keberadaannya telah lama tidak ada. tetapi pertemuan singkat mereka harus berakhir karena orang-orang iri dan serakah menghancurkan desa tempat tinggal Riyla, memaksa keduanya untuk pergi dan tidak bisa kembali lagi, maka keduanya memutuskan berpetualang dan mengembalikan ingatan Flynn, lalu mencari berbagai misteri-misteri dari dunia Ethland
bagaimana kisah petualangan Riyla dan Flynn, akankan ingatan Flynn berhasil dipulihkan dan misteri apa yang menanti mereka disana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elisya Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 (Riyla) : Lady Liana
Tak pernah Riyla bayangkan kalau dia akan kembali lagi bertemu dengan kesatria Ren, tapi berkat bantuan dia juga akhirnya Riyla bisa kembali bertemu dengan teman-temannya, tak di sangka, awalnya berniat menghindar dari pantauan kesatria malah dibantu sama kesatria. Entah ini yang namanya beruntung atau justru buntung.
Esok paginya, niat awal mereka akan langsung pergi meninggalkan kota Lucia. Awalnya mau seperti itu, tetapi ketika tiba digerbang kota belakang, gerbangnya ditutup dan akan kembali dibuka besok.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu, Riyla, Flynn dan Eilaria aga kecewa tidak bisa keluar dari kota.
Saat ditanya kenapa gerbang ditutup, dari keterangan kesatria penjaga gerbang, akan ada rombongan kereta bangsawan datang kekota. Tingkat bangsawan tersebut sangat tinggi sehingga keamanan kota perlu ditingkatkan.
“maaf boleh Tanya lagi” pinta Riyla “sosok bangsawan tersebut siapa?”
“Lady Liana Mackenzie”
Karena tidak bisa keluar dari kota. Riyla dan teman-temannya kembali duduk bengong dalam kamar penginapan. Diluar masih terdengar hiruk-piruk festival, lebih ramai dari kemaren, apa mungkin hari ini puncaknya.
Tapi berbeda dari kemaren, hari ini banyak balon-balon warna-warni berterbangan kelangin ditambah tawa anak-anak ingin menambah keceriaan festival. Mendengan keramaian diluar menggoda siapa saja untuk keluar dan bersenang-senang, tapi tidak untuk Riyla dan kawan-kawan.
Sebab insiden kemaren, mereka aga lelah untuk keluar apalagi setelah mengetahui gerbang belakang kota ditutup sehari, nambah rasa males.
“ngomong-ngomong” ucap Flynn memecah keheningan (hanya ada suara Grey asik main bola) “Lady Liana Mackenzie siapa?”
“Putri Duke Mackenzie, segaligus sepupuh Putra Mahkota” jawab Riyla “dia digadang-gadang bakal jadi calon penerus keluarga Mackenzie”
“wah pantes keamanan jadi aga ketat” ucap Flynn.
“sosoknya seperti apa?” Tanya Eilaria “aku aga males perhatiin kaum bangsawan”
“aku sih belum pernah melihat dia secara langsug” jawab Riyla “tapi rumornya dia cantik seperti permata, pintar, jenius, lalu banyak rakyat suka padanya”
“benar enggak tuh rumornya?” Tanya Eilaria ragu.
“namanya juga rumor” jawab Riyla seadanya.
Yep itu hanya rumor yang tak bisa Riyla pastikan sendiri. dulu waktu masih didesa, saat sedang menjual hasil panen, beberapa pedagang dari luar desa datang berkunjung, setiap kunjungan mereka selalu membawa lebih dari satu rumor, entah rumor apapun. Para pedagang selalu penuh dengan rumor dan informasi.
Lalu salah satu pedangan yang Riyla temui pernah menceritakan soal Lady Liana, dia bercerita dengan wajah penuh senyum karena bagi dia Lady Liana adalah sosok penyelamat warga.
Dikala Putra Mahkota sibuk berperang, sepupuhnya sendiri selalu turun langsung dan melihat kondisi warga kerajaan. Rasa sosialnya yang tinggi membuat dia begitu disayangi banyak orang.
Kebaikan hatinya memang dikagumi banyak orang, tapi tidak dengan kaum bangsawan lain. Sosok Lady Liana yang seperti itu kurang disukai bangsawan tertentu, dari yang Riyla dengar pernah ada beberapa kasus dimana nama Lady Liana berusaha dijatuhkan oleh kaum bangsawan, tetapi hal itu tidak pernah berhasil, bukan karena Lady Liana adalah sepupuh Putra Mahkota. Melainkan dia membuat orang-orang yang membencinya tutup mulut.
Banyak yang bilang Lady Liana bisa membaca situasi dan kondisi, kejelian mata dan ketajaman instingnya membuat dia bisa bertindang 2x lebih dulu dari pada orang lain yang berusaha mencelakai dia.
Karena tindakan Lady Liana tersebut, tak ada lagi bangawan yang berani mengusiknya. Lalu bagi orang-orang, mereka beranggapan Lady Liana bisa melihat masa depan.
Tetapi jika Riyla memikirkan soal rumor tindangan Lady Liana tersebut, semua itu bisa dilogikakan. Mungkin saja dia menguasai beberapa ilmu seperti matematika atau enggak secara tidak langsung Lady Liana bisa menganalisis situasi dan kondisi layaknya seorang detektif.
Yaa masalahnya, itu hanya asumsi Riyla saja, tidak akan tau seperti apa sosok wanita bangsawan ini sebelum dirinya melihat secara langsung. Percumah mengira-ngira kalau belum pernah lihat.
Kelamaan didalam kamar penginapan membuat Riyla bosan, begitu pula dengan Eilaria, mereka berdua berpikir untuk keluar sebentar mencari udara segar. Disaat ingin mengajak Flynn untuk ikut bersama, pemuda itu sedang tertidur pulas diatas tempat tidur sambil memeluk Grey, itu kucing juga ikut tidur rupanya.
“yaudah kita pergi aja” ajak Eilaria.
“iya, enggak tega bangunin juga” Riyla sepakat dengan ucapan Eilaria.
Keluar dari penginapan, suasana ramai festival langsung terasa, dimana-mana orang-orang sedang asik berjalan menikmati festival, bahkan beberapa anak tertawa-tawa sabil berlari membawa berbagai jenis roti ditangan mereka.
“sebenarnya festival disini berapa hari?” Tanya Riyla.
“setauku 2 hari sih” jawab Eilaria.
“berarti sekarang hari terakhir?”
“iya”
Entah Riyla mau bilang senang atau enggak, tapi dia sudah cukup menikmati festival kemaren, sekarang sih mungkin karena kemaren sudah merasakan ditambah insiden kesasaran, jadinya untuk hari kedua terasa biasa.
Lagi-lagi mereka melihat sekelompok kesatria, perasaan Riyla bisa menjadi enggak karuan kalau dia tidak memperhatikan rombongan kesatria tersebut baik-baik, itu hanyalah kelompok kesatria penjaga kota, bukan kesatria Charcoal. Bahkan Eilaria yang berdiri tepat disamping Riyla sama-sama merasa tegang.
Riyla menggeleng-geleng kepalanya, membuang rasa enggak karuan dalam dirinya, dia langsung menarik Eilaria bersamanya, dan mereka langsung pergi taman kecil dekat penginapan.
Taman kecil itu tidaklah terlalu besar dan tidak terlalu kecil, hanya sebuah taman bunga yang sengaja dibuat oleh pemilik penginapan agar para pengunjungnya merasa betah selama mereka menginap disini, ada sebuah air mancur berbentuk linkaran dengan lebar sekitar satu setengah meter berdiri tingah-tengah taman, ada batung seorang wanita dress panjang anggun berdiri ditengah-tengah air mancur,
Tidak ada makna apapun didalam patung tersebut, hanya sebatas penghias taman saja. Dibelakang air mancur terdapat dua pohon berdiri sejajar dengan tinggi yang sama, bagaikan pengawal patung didepan mereka.
Ada seorang wanita berdiri menghadap salah satu pohon. Rambutnya panjang sepinggang warna pirang cerah seperti matahari, kulitnya putih cerah, dia mengenakan dress warna kuning cerah panjang sampai menutupi kaki.
Entah bagaimana, padahal baru saja Riyla dan Eilaria masuk kedalam taman, wanita itu langsung tau kedatangan keduanya dan berbalik. Untuk pertama kalinya baru kali ini Riyla melihat seseorang dengan mata oddeye, wanita itu memiliki sepasang mata dengan warna berbeda, kiri biru kanan kuning, dan jika dia ingin jujur, wanita itu jelas cantik banget seperti bidadari.
“maaf apa aku membuat kalian kaget?” Tanya wanita itu dengan lembut.
“ah enggak kok” bantah Eilaria dengan cepat “justru kami yang harusnya minta maaf karena seenaknya masuk sini”
“enggak apa-apa kok, ini taman terbuka untuk umum” ucap wanita itu sambil mengelus pohon didekatnya.
Setelah wanita itu selesai dengan urusannya, dia langsung berjalan menghampiri Riyla dan Eilaria.
“ngomong-ngomong kenapa kalian kemari?” Tanya wanita itu.
“kami berdua datang hanya untuk mencari angin saja” jawab Riyla jujur.
“begitu ya” ucap si wanita “tapi kenapa kalian tidak pergi ke festival?”
“kemaren sudah, sekarang inginnya istirahat” jawab Eilaria.
Entah kenapa, mengobrol dengan wanita misterius didepan mereka suasana ditaman jadi terasa begitu adem, tidak terdengar suara festival, yang ada alunan air mancur dan kicauan burung.
Terlebih tanpa dia sadari, mereka sudah berbincang cukup lama dengan wanita misterius tersebut, wanita it uterus menanyakan soal festival kepada mereka berdua, seakan-akan dia adalah orang yang tidak pernah keluar rumah atau seorang pendatang yang baru tiba dikota sehingga tidak sempat menikmati hari pertama festival.
Tiba-tiba seorang pelayan laki-laki datang berlari memasuki taman, dia langsung menghampiri sosok wanita didepan Riyla dan memanggilnya dengan sebutan ‘mylady’. Pelayan itu rupanya memanggil si wanita karena ada urusan mendadak yang harus dia lakukan.
Sebelum pergi, wanita itu pamitan kepada Riyla dan Eilaria dan bilang ‘semoga mereka bisa bertemu lagi’.
Melihat wanita rambut pirang tersebut berjalan menjauh dari taman, disini Riyla baru ingat, dia lupa untuk menanyakan namanya, saking asiknya mengobrol sampai-sampai tidak saling memperkenalkan diri.
“ada-ada aja, kita sampai lupa Tanya nama dia” komentar Eilaria.
“iya, enggak sadar lupa memperkenalkan diri” ucap Riyla.
Tapi justru berkat wanita itu, perasaan enggak nyaman gara-gara melihat kesatria hilang begitu saja, ditambah suasana taman yang begitu nyaman, membuat Riyla berasa seperti melupakan segala permasalah yang dia hadapi.
Mungkin jika suatu haru nanti dia bertemu lagi dengan wanita itu, dia akan memperkenalkan dirinya dengan benar.
Besok pagi, satu persatu orang-orang meninggalkan kota Lucia untuk pulang kerumah. Para penduduk asli kota sedang bersih-bersih dan merapihkan barang-barang setelah festival, sebagian dari mereka juga ada yang memulai aktivitas normalnya.
Jembatan besar menanti diluar gerbang kota, terhubung langsung kesebrang danau. Padang rumput hijau menanti dari kejauhan untuk dilewati.
Riyla menggendong Grey dalam pangkuannya, kucing itu masih mengantuk dan enggan turun maupun berjalan, dia terlalu malas. Sedangkan Flynn dan Eilaria tengah bersiap-siap, mereka kembali memeriksa tas masing-masing sebelum berangkat.
“enggak ada yang ketinggalankan?” Tanya Flynn.
“enggak” jawab Riyla.
“aman” tambah Eilaria.
“setelah keluar dari kota Lucia, kita kemana?” Tanya Flynn.
“pertama kita harus mendaki gunung dulu” jawab Eilaria “tidak terlalu curam, tapi lumayanlah”
Perasaan Riyla jadi enggak enak, dia tidak ada pengalaman dalam mendaki gunung, pergi kegunung saja belum pernah, petualangan kali ini benar-benar menantang hidupnya.
“enggak usah cemas kok” Eilaria sepertinya membaca isi kepala Riyla “aku tau rute amannya”
“ada rute aman?” Tanya Riyla cepat.
“ada” jawab Eilaria.
Riyla bisa bernapas lega, jika memang Eilaria tau rute aman, berarti tidak akan ada masalah selama nanti mendaki gudung.
Dari kejauhan, wanita berambut pirang memperhatikan kelompok Riyla dari kejauhan sambil tersenyum, dia begitu senang melihat kebersamaan Riyla dan teman-temannya, seakan-akan dia juga ingin memiliki moment tersebut.
“mylady anda dipanggil”
Seorang pelayan laki-laki datang memanggil wanita rambut pirang.
“baiklah aku kesana” jawab wanita rambut pirang.
Tiba-tiba saja sebelum pergi, wanita rambut pirang merasa ada yang berbisik padanya, lalu dia segera berbalik dan melihat kelompok Riyla tengah berjalan keluar dari kota Lucia.
“begitu rupanya”.[]
Jangan lupa singgah ke novelku My Hot Daddy is a Vampire🙌🙌
btw mampir yuk di karya pertama ku judulnya 𝗢𝘁𝗵𝗲𝗿 𝘀𝗶𝗱𝗲 𝗼𝗳 𝗺𝗲.
mampir juga dikisahku yang My Perfect Ghost makasih 🙏