Bagaimana hidupmu jika terdampar seorang diri di pulau yang hanya berisi seribu wanita cantik?
Apalagi jika mereka mengganggap kamu sebagai Dewa yang harus dilayani dengan setia dan sepenuh hati?
Bercerita tentang seorang manusia biasa bernama Bejo yang dikira sebagai Dewa oleh Para Peri di Pulau Bidadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon krucilpolos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerhana Matahari
Dari penjelasan kepala desa, Bejo kini jadi sedikit memahami asal usul kelahirannya. Meski begitu, dia jadi memiliki banyak pertanyaan di hatinya.
"Apakah hanya keturunan Raja Dewa yang bisa menjadi Raja berikutnya?" tanya Bejo memastikan dugaannya.
Bejo masih merasa sedikit heran. Diantara para dewa pasti ada yang hampir sekuat Raja Dewa sebelumnya. Tapi dari penjelasan kepala desa, seolah olah dia telah dianggap Raja Dewa sejak lahir.
"Ada beberapa alasan tentang itu. Suatu saat tuan akan mengetahui sendiri" kata kepala desa dengan nada hormat.
Karena dia telah menjelaskan asal usul dan indentitas Bejo, dia tentu tidak bisa memperlakukannya seperti sebelumnya.
"Ini bukan dunia dewa. Jadi panggil saja aku Bejo seperti biasa" kata Bejo yang kurang nyaman dipanggil tuan, oleh orang yang membesarkannya.
"Tapi anda memanglah Raja Dewa berikutnya" kata kepala desa bersikeras.
"Jangan mempersulit ku. Kamu sudah ku anggap orang tuaku di dunia ini." kata Bejo menatap kepala desa dengan tulus.
"Baiklah. Lagipula, aku bukan dewa lagi" kata kepala desa tertawa kencang.
Bejo pun tersenyum melihat kepala desa tertawa begitu lepas. Selama ini, Bejo selalu melihat kepala desa sebagai sosok yang berwibawa dan tegas.
Apakah ini sifat aslinya? pikir Bejo heran.
"Sepertinya kepala desa cukup dekat dengan ayahku" kata Bejo tersenyum.
"Beliau adalah guru sekaligus tuanku. Sayang sekali, aku tidak bisa memenuhi harapannya." ucap sedih kepala desa.
"Ceritakan lah. Aku ingin sedikit mengenalnya. " kata Bejo ingin sedikit mengobrol.
Kepala desa pun akhirnya menceritakan kenangannya saat menjadi murid sekaligus bawahan Raja Dewa sebelumnya. Dia terlihat begitu bersemangat seolah sedang menceritakan seorang idolanya.
Selama ini dia tidak pernah bisa bercerita pada siapapun, termasuk istri yang mendampingi nya selama beberapa puluh tahun di dunia manusia.
Jadi begitu mendapat kesempatan bercerita, dia seolah ingin menumpahkan segalanya.
Dari cerita panjang kepala desa, Bejo akhirnya mengetahui sedikit kehidupan di dunia para dewa. Terutama tentang ayahnya yang menjadi Raja Dewa sebelumnya.
Selama ini, Bejo berfikir bahwa para dewa adalah orang yang mengatur segala hal di dunia. Seperti mendatangkan hujan, mengatur cuaca, dan bahkan kehidupan dan kematian.
Tapi ternyata, tugas dewa tidaklah serumit itu. Dewa hanya bertugas menjaga keseimbangan alam dari hal hal yang tidak seharusnya.
Segala hal di dunia ini ternyata juga telah memiliki fungsi dan peran masing masing sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Anggapan Bejo bahwa dewa dapat menciptakan kehidupan seperti manusia, hewan dan tumbuhan ternyata juga tidak tepat. Mereka ternyata tidak memiliki kemampuan sejauh itu.
Bahkan kekuatan dewa tidak dapat digunakan untuk ikut campur dalam kehidupan manusia secara langsung.
Kekuatan mereka paling jauh hanya bisa mempengaruhi beberapa keadaan alam di dunia manusia.
"Bagaimana jika ada dewa atau iblis yang datang ke dunia ini?" tanya Bejo ditengah obrolan karena penasaran.
"Kekuatan mereka akan ditekan hingga hampir mendekati manusia biasa." jawab kepala desa.
"Dan perlahan, tubuh dan jiwa mereka akan hancur. Yang tersisa paling hanya kehendak jiwa yang samar dan tak berdaya" imbuh kepala desa dengan raut wajah sedikit ketakutan.
"Apakah Raja Dewa dan Raja Iblis juga sama?" tanya Bejo memastikan tebakan awalnya.
"Secara umum, mereka juga mendapat perlakuan yang sama" kata kepala desa seperti memikirkan sesuatu.
"Maksud mu, ada tempat yang dikecualikan?" tanya Bejo seperti menemukan arti lain dari ucapan kepala desa.
"Entahlah. Tapi saat aku masih muda, Raja Dewa pernah mengajakku mengunjungi Ratu Bidadari yang sedang melatih muridnya di suatu tempat di dunia ini."
"Meski kekuatan ku tetap ditekan, tapi aku tidak merasakan bahaya."
"Dan kekuatan Raja Dewa, sepertinya tidak ditekan sama sekali" ucap kepala desa.
Mendengar ini, Bejo jadi seperti memikirkan sesuatu. Namun dia tidak bisa memastikan sebelum mengetahui lebih jauh.
Mereka berdua terus mengobrol hingga memasuki malam. Selama ini mereka memang tidak pernah bicara banyak karena perbedaan usia.
"Apakah kamu benar akan pergi?" tanya kepala desa mengingat ucapan Bejo sebelumnya.
"Aku perlu meningkatkan kekuatan ku. Dan itu membutuhkan bantuan para peri yang sebelumnya ku ceritakan" kata Bejo menghela nafas.
"Kamu masih sangat muda, tidak perlu buru buru meningkatkan kekuatan."
"Lagipula dunia sedikit aman sejak kematian Raja Iblis" ucap kepala desa.
"Apa anda sangat yakin kalau Raja Iblis sudah mati?" kata Bejo menatap kepala desa dengan bermartabat.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya kepala desa seolah menangkap makna lain dari ucapan Bejo.
"Aku sedikit memiliki firasat buruk" kata Bejo tidak ingin menjelaskan hal yang belum pasti.
"Pergilah jika ingin pergi."
"Tapi, Teman mu Bambang akan menikah besok. Jadi tinggallah beberapa saat" kata kepala desa meminta Bejo tinggal sebenar.
"Bambang? Dia selamat?" tanya Bejo sedikit kaget.
Bambang adalah salah satu dari lima teman Bejo yang ikut berlayar, saat dia mengalami kecelakaan diterjang gelombang laut.
Awalnya Bejo sangat pesimis dengan nasib kelima temannya itu.
"Semua teman mu selamat. Mereka terdampar di pantai tempat kalian berangkat" kata kepala desa menjelaskan.
"Mereka semua selamat?" kata Bejo yang sangat senang sekaligus merasa heran.
Jika hanya satu temannya yang selamat, itu masih cukup wajar. Mungkin dia sangat beruntung.
Tapi ternyata semuanya selamat, itu sedikit membuat Bejo merasa aneh. Mengingat gelombang laut itu sangat besar dan mengerikan.
Apalagi mereka semua ditemukan di tempat yang sama. Di pantai tempat awal mereka berlayar.
Apakah ada hal yang dia lewatkan? pikir Bejo dalam hati.
Bahagia mendengar teman temannya selamat, Bejo pun memutuskan untuk tinggal beberapa hari dan menemui mereka.
Dia juga sekaligus ingin menghadiri pernikahan temannya. Setidaknya teman temannya harus tau bahwa dia juga selamat.
Bejo bermalam di rumah kepala desa. Beberapa teman dan kenalannya juga datang menemuinya setelah mendengar kabar bahwa dia kembali dengan selamat.
Bejo cukup terharu melihat kepedulian warga kampung nelayan akan keselamatannya.
Dia juga menyampaikan pada mereka, bahwa setelah ini dia akan melakukan perjalanan jauh mencari pengalaman hidup. Itu memang hal biasa yang dilakukan pemuda kampung nelayan di usia muda.
Banyak diantara mereka yang kembali dengan sukses, namun banyak juga yang tidak ada kabar hingga sekarang.
Esok nya, Bejo mengunjungi rumah temannya Bambang yang mengadakan acara pernikahan. Suasana kampung nelayan cukup meriah, karena ada beberapa acara hiburan yang disiapkan oleh keluarga pengantin.
Bejo pun ikut menikmati suasana meriah yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Kudengar kamu akan meninggalkan kampung?" tanya Bambang setelah Bejo memberikan ucapan selamat atas pernikahannya.
Bambang adalah sahabat terdekat Bejo sejak kecil. Jadi dia tau watak Bejo yang sedikit malas dan selalu menghindari masalah yang tidak perlu. Dia tentu heran dengan keputusan bejo ini.
"Aku ingin mencari istri yang sangat cantik. Gadis di kampung ini bukan seleraku" jawab Bejo dengan candaan karena tidak ingin merusak suasana bahagia.
"Kamu tidak akan mendapatkan yang lebih cantik dari istriku" kata bambang membalas candaan Bejo.
"Kita lihat saja nanti" kata Bejo tersenyum dan memeluk bambang sebagai tanda perpisahan.
Saat warga kampung nelayan sedang menikmati suasana pesta, tiba tiba saja langit menjadi sedikit gelap.
Hal itu sedikit aneh karena waktu masih siang.
Semakin lama, suasana kampung terasa makin gelap. Seolah hari telah memasuki malam.
Para warga pun serentak melihat kearah matahari yang ternyata seperti tertutup sesuatu.
"Gerhana?" seru warga kampung.
Semua orang kini menatap matahari yang mulai tertutup seluruhnya. Sepertinya gerhana kali ini adalah gerhana matahari total.
Setelah matahari tertutup penuh, langit terasa sangat gelap melebihi malam. Udara di sekitar juga terasa sedikit mencekam. Bahkan angin pun rasanya seperti berhenti berhembus.
Entah mengapa, Bejo merasa kecemasan di hatinya. Seolah sesuatu yang buruk sedang terjadi.
Bejo pun menghampiri kepala desa yang sedang menonton fenomena gerhana, di tengah kerumunan warga lain.
"Apa kamu merasakan sesuatu?" tanya kepala desa melihat Bejo yang telah berada di samping nya.
"Aku belum pernah melihat gerhana matahari."
"Tapi, perasaan ku memang sedikit tidak nyaman" kata Bejo dengan tatapan serius.
"Gerhana kali ini, sedikit tidak biasa" kata kepala desa menyampaikan pendapat nya.
Sebagai orang yang pernah menjadi dewa dengan umur panjang, kepala desa tentu sudah berulang kali melihat gerhana matahari total.
Tapi, dia belum pernah merasa suasana segelap dan mencekam ini.
"Seperti nya aku harus pergi sekarang" kata Bejo seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu mengkhawatirkan keselamatan mereka?" tanya kepala desa menebak apa yang Bejo khawatirkan.
"Setidaknya aku harus memastikan" kata Bejo menghela nafas.
"Pergilah. Tidak akan ada bahaya disini" kata kepala desa yang tidak ingin menghalangi Bejo.
"Jaga dirimu. Aku pamit" kata Bejo sebelum pergi.
Kepala desa pun mengangguk menyaksikan Bejo yang segera menghilang seketika dari hadapannya.
Meski kepala desa yakin Bejo bisa menjaga diri, tapi dia tetap merasa sedikit cemas.
Bagaimanapun selama ini dia selalu bisa Mengawasi Bejo secara langsung. Namun sekarang, dia bahkan tidak tau kapan bisa melihatnya lagi.
Mungkin tugasnya memang sudah selesai. Kini saatnya dia menikmati sisa umurnya sebagai manusia dengan tenang. Pikir kepala desa dengan bijaksana.
Kepala desa pernah menjadi dewa sebelumya. Jadi tentu dia sangat tau, bahwa setiap orang memiliki jalan dan takdirnya sendiri.
Bersambung...