Shelin yang masih belia harus menghadapi pahitnya hidup secara bertubi-tubi. Tak cukup dengan kehilangan ayah tercinta, ibunya terlilit hutang pada rentenir, lalu dia juga mesti menjadi korban perdagangan manusia saat mengadu nasib ke kota.
Saat dilanda keputusasaan dan berniat untuk mengakhiri hidup, Shelin diselamatkan oleh Erick, seorang lelaki dewasa dengan segudang permasalahan hati dan cerita masa lalu yang belum usai. Saat kedua hati mereka perlahan menyatu, akankah berakhir dengan Bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiwie Sizo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Pengantin Baru
Setelah memperbaiki kesalahan penulisan angka dalam laporannya, Shelin pun akhirnya memeriksa kembali semua hasil pekerjaannya hari itu. Beruntung tak ada kesalahan lain yang dia buat sehingga membuat dirinya menjadi lega. Ternyata membiarkan harinya terhanyut dalam perasaan adalah hal yang tak boleh dia ulangi lagi. Bisa kacau pekerjaannya jika ia terus seperti itu.
Sore pun menjelang. Shelin membereskan barang-barang di meja kerjanya dan beranjak untuk pulang. Para karyawan restoran yang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka akan bertukar shift dengan yang lain sampai melanjutkan operasional restoran sampai malam nanti.
"Pulang naik apa?" tanya Damar saat Shelin beranjak dari meja kerjanya.
"Naik busway seperti biasa, Pak," sahut Shelin.
Damar sedikit berdehem, seperti hendak kembali mengatakan sesuatu, tapi sulit untuk disampaikan.
"Ada apa, Pak?" tanya Shelin saat melihat gelagat aneh Damar.
"Tidak ada. Silakan pulang," sahut Damar akhirnya sambil mempersilakan Shelin pergi dengan isyarat tangannya.
"Bapak tadi sepertinya mau mengatakan sesuatu," ujar Shelin.
"Tidak jadi." Damar menyahut cepat sembari pura-pura membereskan berkas-berkas di meja kerjanya.
Shelin sedikit heran dengan sikap Damar. Dalam hati dia bertanya-tanya, mungkinkah atasannya ini sedang kesal padanya setelah kesalahan dalam data keuangan yang ditulisnya tadi. Dia tak tahu jika saat ini Damar sedang ingin mengajaknya pulang bersama, tapi tak tahu bagaimana mesti mengatakan niatnya itu.
"Kalau begitu, saya duluan ya, Pak." Shelin akhirnya memilih untuk undur diri lebih dulu untuk menghindari kecanggungan.
"Silakan." Sekali lagi Damar mempersilakan.
Shelin meninggalkan ruang kerjanya dan berjalan keluar restoran, meninggalkan Damar yang tampak menggaruk kepalanya yang tak gatal karena niatnya gagal total.
Di pelataran restoran, secara kebetulan Shelin bertemu dengan Erick juga tampak hendak pulang. Lelaki itu terlihat baru saja akan membuka pintu mobilnya.
Shelin menghentikan langkahnya sejenak dengan sedikit menundukkan badannya dengan hormat di depan Erick. Hal yang selalu dia lakukan jika berpapasan dengan Erick, seperti halnya yang dilakukan oleh para karyawan restoran lain.
"Mau pulang?" tanya Erick pada Shelin. Jika biasanya lelaki itu hanya merespon dengan menganggukkan kepala saja, kali ini dia bertanya. Tentu saja bagi Shelin itu mungkin hanya basa-basi bos pada karyawannya.
"Iya, Pak," sahut Shelin. Sebisa mungkin dia berusaha meredam debaran yang kembali mulai terasa di dadanya. Lama-lama dia kesal sendiri pada jantungnya yang seperti tak bisa dikondisikan.
"Mari saya antar sekalian," tawar Erick sembari membukakan pintu mobilnya.
"Ya?" Shelin mengangkat pandangannya ke arah Erick. Raut wajahnya tampak memperlihatkan ekspresi tak percaya.
"Saya juga mau pulang, jadi sekalian saya antar kamu," ulang Erick lagi.
Terang saja Shelin jadi agak salah tingkah mendengar tawaran tak terduga itu.
"Ta-tapi kan rumah Bapak dan kost-an saya tidak searah," sahut Shelin akhirnya dengan sedikit ragu, sekaligus bingung.
"Tidak apa-apa," sahut Erick bersikeras.
Sekali lagi Shelin dibuat tak mampu berkata-kata.
"Eh, itu ... Pak," ujar Shelin dengan agak terbata. "Terima kasih untuk tawarannya, tapi saya mau mampir dulu ke pasar untuk berbelanja kebutuhan dapur," tambah Shelin dengan jujur. Dia memang berniat untuk berbelanja dulu di sebuah pasar tradisional yang dilaluinya sebelum sampai tempat kost. Terlebih sebelumnya Erick juga sudah minta untuk dibuatkan bekal makan siang mulai besok.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Sekalian saya juga mau belanja," sahut Erick.
"Hah?" Shelin tak bisa menyembunyikan raut wajah bingungnya. Dia ingin menolak lagi, tapi hal itu pasti akan sangat tidak sopan.
"Ayo," ajak Erick lagi sembari mengisyaratkan Shelin untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Ba-baik, Pak." Shelin pun akhirnya tak punya pilihan selain menerima ajakan Erick. Dia masuk ke dalam mobil lelaki tersebut, tentu saja dengan dada yang kembali terasa berdebar.
Melihat Shelin yang akhirnya masuk ke dalam mobil meski awalnya hendak menolak, Erick pun tanpa sadar tersenyum tipis. Lelaki itu kemudian ikut masuk ke dalam mobil dan mengemudikan kendaraan tersebut meninggalkan pelataran restoran.
Shelin tampak diam dengan tatapan lurus ke depan. Meski ini bukanlah kali pertama dia menaiki mobil Erick, tetap saja rasanya menegangkan sekaligus mendebarkan. Belum lagi, tadi ada beberapa karyawan restoran yang melihat dirinya pulang bersama Erick. Entah rumor apa yang nanti akan tersebar, Shelin tak mau membayangkannya.
Lamunan Shelin akhirnya mesti terbuyar saat mobil Erick berhenti tepat di depan sebuah supermarket.
"Ayo, turun. Katanya tadi kamu mau belanja," ujar Erick sembari membuka sabuk pengaman.
"Iya, tapi saya biasanya tidak belanja di sini, Pak." Shelin menjawab sembari ikut melepas sabuk pengaman juga.
"Terus kamu biasa berbelanja di mana?" tanya Erick.
"Di pasar tradisional tidak jauh dari tempat kost saya."
Erick tampak terdiam sebentar,,sebelum akhirnya kembali membuka mulut.
"Sudah, tidak apa-apa. Sekarang belanja di sini saja, lebih nyaman. Saya juga mau belanja soalnya," ujar Erick kemudian sembari membuka pintu mobil dan turun dari kendaraan tersebut.
Mau tak mau Shelin pun ikut turun. Dia mengikuti langkah Erick dari belakang dengan perasaan yang tak menentu.
Di dalam supermarket, Erick langsung mengambil sebuah troli dan mendorongnya, sedangkan Shelin berjalan bersisian dengannya. Tentu saja Shelin masih menunjukkan sikap canggung di samping bosnya itu.
"Kamu ambil saja belanjaan yang kamu butuhkan," perintah Erick.
Shelin hanya mengangguk pelan. Sepertinya kali ini dia mesti membeli keperluan dapur dengan harga yang jauh lebih mahal daripada biasanya, meski tentunya dengan kualitas yang lebih bagus.
Tangan Shelin pun akhirnya meraih beberapa barang yang dia butuhkan dan memasukkannya ke dalam troli yang didorong oleh Erick. Terkadang Erick yang mengambil barang dan memasukannya juga ke dalam troli tersebut.
"Kamu bisa masak udang?" tanya Erick saat mereka tiba di bagian bahan makanan segar.
Shelin mengangguk.
"Tapi sepertinya cuma dimasak balado saja saya bisanya," ujarnya dengan agak malu.
"Tidak apa-apa. Itu enak." Erick menyahut sembari memasukkan dua kemasan udang segar ke dalam troli.
"Di kost-an kamu ada kulkas, kan?" tanya Erick kemudian.
"Ada, Pak. Tapi gabung sama teman kost yang lain," sahut Shelin.
"Berarti belanja bahan makanannya tidak usah terlalu banyak," Erick bergumam seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Katanya Bapak mau belanja, kok barangnya dijadikan satu dengan punya saya?" tanya Shelin kemudian.
"Saya belanja untuk kamu," sahut Erick. Sebuah jawaban yang membuat jantung Shelin kembali berdentum tak menentu.
"Maksud saya, belanja bahan makanan yang bakal kamu masak untuk saja." Erick meralat ucapannya, tapi tak urung dada Shelin masih berdebar dibuatnya. Terlebih saat lewat pasangan muda yang juga sedang berbelanja seperti yang dilakukan oleh mereka berdua.
"Pengantin baru juga, ya?" tanpa diduga, pasangan itu bertanya pada Shelin dan juga Erick, membuat atmosfer terasa berubah seketika.
Bersambung ....
🙏
makanya maksa shelin nikah sm bandot tua itu spy hutangnya lunas.