WARNING!!!!
SEBELUM MEMBUAT KECEWA PEMBACA, BUKAN CERITA DEWASA, HANYA KEJAHILAN KECIL SAJA.
JADI DI SINI TIDAK ADA ADEGAN KUDA-KUDAAN, MAAF🙏
Setelah kematiannya, LESTARI tiba-tiba hidup kembali dan menemukan dirinya terlempar ke dalam dunia novel karangan PEMUDA NGANGGUR , menjelma sebagai karakter bernama LUCY GABRIELLE
Cerita ini menggambarkan pemeran utama yang menjadi sasaran kejahatan pria, mengalami penurunan mental, dan tragisnya mengakhiri hidup dengan bunuh diri di akhir cerita.
Berbekal ingatan dari membaca novel tersebut, LESTARI, yang kini menghuni tubuh LUCY, berusaha mengubah takdirnya melalui berbagai lika-liku dan tantangan yang dihadapi karakter dalam novel itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Izoy11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REINKARNASI : MTC__26
Dengan niat untuk menenangkan diri di tengah keramaian murid sekitarnya, Lucy tanpa sengaja menyaksikan sebuah amplop nyentrik terjatuh dari kolong meja.
Jemari halus Lucy segera menyentuh amplop itu, namun kesempatan itu dirampas dengan cepat oleh tangan Liam. Matanya menyelusuri berbagai detil amplop yang menurutnya terlalu norak. Setelah membukanya, Liam kembali dihadapkan pada isi surat yang sama dengan yang pertama, membuat misteri pengirim surat usil itu semakin tak terpecahkan.
Dengan tatapan sinis, Liam mengarahkannya pada Tiana dan dua temannya, mencurigai keterlibatan mereka dalam surat misterius tersebut. Keberadaan surat itu membuat suasana semakin tegang di antara mereka.
Tiana merasa risih saat Liam menatapnya dengan pandangan tak menyenangkan. Dengan nada tegas, ia menegur Liam, "Kenapa kau?!"
Biance dan Drea turut menyentak Liam dengan wajah sinis. Liam, enggan memberi penjelasan, hanya memalingkan pandangannya. Dalam pikirannya, Tiana dan teman-temannya mungkin terlibat dalam permainan iseng ini.
Khawatir akan keselamatan Lucy, Liam meminta agar gadis itu tidak pergi ke belakang sekolah setelah pulang, sesuai petunjuk di dalam surat. Keputusan ini didasari kekhawatiran bahwa Lucy bisa mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, terutama saat berada sendirian.
Nathan, sebagai saudara Lucy, merasa tanggung jawab untuk melindunginya. Meskipun tidak seberani Liam, Nathan tetap berusaha melibatkan diri dalam melindungi Lucy.
Lucy mengucapkan terima kasih dengan senyum sayu, merasa dihargai karena perhatian dari mereka. "Kalian sudah peduli padaku," ucap Lucy, mengakhiri episode ini dengan kepastian bahwa ia takkan pernah memenuhi panggilan surat itu, karena baginya, itu tak ada gunanya.
Pada esok harinya, seperti déjà vu yang tak berkesudahan, amplop baru kembali menyelinap di bawah mejanya. Liam, dengan rasa penasaran yang semakin memuncak, kembali meraihnya dan membuka surat tersebut. Namun, kekecewaan kembali menyergap, karena isi dan gaya bahasa surat itu tetap tidak berubah, menyisakan tanda tanya mengenai identitas pengirim misterius.
Dengan pandangan yang menyelusuri sudut ruangan dari kiri ke kanan, Liam mencari-cari siapa di antara murid-murid itu yang bisa menjadi otak di balik surat-surat tersebut. Tetapi, tanpa seorang pun yang mencurigakan, Tiana tetap menjadi sasaran utama kecurigaannya, dan tatapan sinis dari gadis itu semakin menguatkan dugaannya.
Meskipun Lucy mengetahui siapa pelaku di balik serangkaian surat iseng itu, dia memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Tujuannya adalah untuk menghindari kehebohan yang mungkin timbul dari reaksi Liam dan Nathan. Lebih lanjut, Lucy ingin menjaga jarak dengan pengirim surat, agar tak semakin memperumit keadaan.
Keesokan harinya, saat Lucy dan Nathan tiba di kelas, mereka ditemui oleh Liam yang sudah menunggu dengan amplop nyentrik di tangan. Nathan terkejut, "Lagi?"
Liam mengangguk, kekesalannya semakin mencuat karena si pelaku masih belum terungkap. Ia bersumpah akan mencari dan menghukum pelaku hingga menyesal, bahkan hingga kedua tangannya tidak dapat menulis lagi.
Ketika Tiana masuk tanpa ditemani pengikutnya, tatapan tajam Liam kembali tertuju padanya. Namun Lucy berusaha menghalangi Liam agar tidak bertindak gegabah. Meskipun Liam meyakini Tiana sebagai pelakunya, Lucy berusaha meyakinkan bahwa kemungkinan itu tidaklah benar.
"Kenapa kau begitu yakin, Lucy?" tanya Liam dengan rasa kecewa karena Lucy tidak sepenuhnya mendukung tindakannya.
"Amati tulisan di kertas itu. Apakah sama dengan tulisan Tiana?" tanya Lucy, mencoba meyakinkan Liam dengan argumen yang rasional.
Memang, Lucy benar. Tulisan di surat itu tidak sebanding dengan tulisan Tiana. Namun, Liam tak tergoyahkan, mendekati Tiana dan membuka tasnya, menciptakan rasa risih pada gadis itu.
"Apa yang kau lakukan, Liam?!" protes Tiana, berusaha mendorong tubuh Liam, tapi upayanya sia-sia.
"Hanya ingin mencocokan tulisanmu," ujar Liam, mendorong tubuh Tiana menjauh.
"Kenapa begitu?! Sejak kapan tingkahmu berubah semenjak ada gadis kampung itu?! Padahal, sebelumnya kau selalu tidur di kelas!" keluh Tiana dengan wajah kesal.
Liam enggan menanggapi keluhan Tiana, ia terfokus pada pengecekan tulisan di buku dengan surat misterius. Tiana yang penasaran mencoba membaca isi surat dari awal hingga akhir, bahkan dengan paksaan mengambil kertas dari tangan Liam.
Tiba-tiba, perhatian seluruh murid di kelas teralihkan pada kehebohan mendadak Tiana.
"Hahaha ahahah, ternyata kau cukup populer juga, gadis kampung," ejek Tiana, menghentikan aksi loncat-loncatnya, teringat akan kecenderungan Presdir Victor yang menyukai gadis berkelas.
Tiana terdiam sejenak, menatap tajam ke arah Liam yang berada di depannya. "Jadi, kau menuduhku melakukan kegabutan ini?" tanya Tiana, mencoba membela diri.
"Mungkin saja, mengingat ketidaksetujuanmu terhadap Lucy," jawab Liam sambil berusaha merebut kertas dari tangan Tiana.
"Aku memang tidak suka, tapi itu boleh jadi cara yang cocok untuk orang lain, bukan untuk gadis kampung sok kaya itu!" tegas Tiana, menyilangkan kedua tangannya. "Bagaimana mungkin dia pergi ke belakang sekolah, sedangkan dia tidak pernah datang saat aku menyuruhnya dulu!"
"Ya, karena kau sangat bodoh juga dungu!," Liam menyindir, menepuk kepala Tiana, lalu meninggalkannya dengan langkah mantap.
Tiba-tiba, gadis itu meledak, mengejar Liam dan memukul-mukul punggungnya tanpa ampun. "Kau benar-benar tol*ol, baji*ngan, tukang molor!!" Kata-kata ejekan terus meluncur dari mulut Tiana, sementara Liam berusaha melindungi dirinya.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Liam, berbalik badan untuk melindungi kepalanya dari pukulan yang terus menghujani.
"Kau yang memancing, ya! Aku hanya membalas!! Ihhh!!" Pukulan terakhir meluncur, dan setelah itu, Tiana meninggalkan kelas dengan langkah cepat.
"Gadis gila!" seru Liam, sambil mencoba merapikan dirinya.
Hanya Liam yang berani menantang Tiana dan gengnya. Sebelum kedatangan Lucy, pria itu sebenarnya enggan terlibat dalam konflik yang dapat meresahkan hidupnya. Yang diinginkannya hanyalah ketenangan dan kesempatan untuk tidur nyenyak, bahkan jika itu terjadi di dalam kelas yang ramai.
"Ternyata, bukan Tiana yang menjadi pelakunya," ucap Liam dengan serius, memberitahu Lucy dan Nathan. "Mungkin sebaiknya kita menunda pencarian pelaku ini."
"Sudah, jangan terlalu membesar-besarkan surat itu," pinta Lucy, mencoba meredakan ketegangan.
"Tapi, ini sudah terlalu jauh," tegas Liam, berusaha meyakinkan Lucy akan seriusitas situasi.
"Aku tahu, tapi semakin kita menganggap serius, semakin besar kemungkinan orang itu kesal dan benar-benar menargetkanku lagi." Lucy berkata sambil menunduk, kesedihan tergambar di wajahnya.
Liam merasa bersalah. "Maaf, aku tidak berfikir sejauh itu," ujarnya sambil duduk di bangku, meremukkan selembar kertas dan membuangnya ke jendela. Pria itu menutup wajahnya dengan tas sekolah, mencoba menyembunyikan rasa menyesalnya.
Lucy semakin terpuruk, merasa bersalah atas kata-kata dan tindakannya. Gadis itu duduk melamun, terpisah dari suasana di sekitarnya.
Kini, Nathan merasa bingung, tak tahu harus melakukan apa dan dengan siapa ia harus berbicara. Mereka berdua adalah orang terdekat baginya, namun suasana hati yang tegang membuatnya ragu untuk memulai percakapan.
Bersambung....