Raja Arthur Georgia, seorang pria muda berani dan cerdas, berjuang memulihkan kehormatan kerajaan ayahnya yang hancur akibat pengkhianatan. Dengan dukungan teman-teman setia dan kekuatan batin, ia menghadapi konflik dan tantangan untuk membuktikan dirinya sebagai pemimpin sejati. Apakah ia berhasil memulihkan kehormatan keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendra 31., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 ~ Queen Victoria Memulai Rencannya.
Malam merayap di atas Atalanta, membawa bersamanya ketidakpastian dan kecemasan. Di dalam istana, Raja Arthur dan para dewannya berkumpul kembali setelah menyebarkan perintah. Peta kota terbentang di atas meja, diterangi oleh cahaya redup obor. Setiap sudut dan gang diperhatikan dengan saksama, mencoba memprediksi ke mana Ratu Victoria mungkin bersembunyi atau bergerak.
"Kita harus memikirkan motifnya," ujar Nicola, suaranya tenang namun penuh perhitungan. "mengapa ia kabur sekarang? Apakah ia memiliki rencana yang lebih besar dari sekadar melarikan diri?"
Elisabeth mengangguk setuju. "Dan bagaimana ia bisa menjebol sel yang begitu kuat? Apakah ada seseorang di dalam yang membantunya?"
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara, menambah berat suasana. Edward, yang duduk terpisah dari yang lain, tampak tenggelam dalam pikirannya. Rasa bersalahnya bercampur dengan kekhawatiran akan keselamatan kota dan rakyatnya. Ia tahu betul betapa licik dan ambisiusnya mantan istrinya itu.
"Queen Victoria tidak pernah berhenti begitu saja sebelum dirinya kembali merebut kerajaanku." kata Edward. "kita tidak boleh meremehkan dirinya, kaburnya ini pasti bagian dari rencana yang lebih besar!"
Raja Arthur menatap ayahandanya dengan tatapan penuh pengertian. "Kau benar, Ayah. Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk. Perketat penjagaan istana, gandakan patroli di jalanan, dan awasi setiap orang asing yang masuk ke kota."
Semua para dewan mengangguk setuju ...!
Sementara itu, di kegelapan hutan selatan, Ratu Victoria dan para pengikutnya mulai bergerak. Agen-agen mereka, yang menyamar sebagai pengungsi atau pedagang, perlahan menyusup ke dalam kota. Mereka membawa bersamanya bisikan-bisikan keraguan dan ketidakpercayaan, menabur benih perpecahan di antara warga Atalanta yang masih trauma. Di dalam gua, Ratu Victoria mengawasi peta Atalanta yang terbentang di atas batu besar.
Lord Devil berdiri di sisinya, siap melaksanakan setiap perintah. Para pengikut baru mereka, dengan wajah garang dan pakaian compang-camping, menunggu dengan penuh semangat. Mereka adalah orang-orang yang menyimpan dendam terhadap kekuasaan Arthur dan Edward, dan melihat Ratu Victoria sebagai harapan untuk membalas dendam.
"Ingat," desis Ratu Victoria kepada Lord Devil, jarinya menunjuk beberapa titik strategis di peta. "kita akan menyerang ketika mereka lengah, ketika rasa aman palsu telah membutakan mereka. Biarkan agen-agen kita bekerja terlebih dahulu, menciptakan kekacauan dan kebingungan."
Lord Devil mengangguk patuh. "Seperti yang Anda perintahkan, Yang Mulia."
Burung gagak hitam yang tadi bertengger di tangannya kini terbang berputar-putar di atas kepala Ratu Victoria, seolah mengawasi wilayah kekuasaannya yang akan datang. Ratu Victoria tersenyum tipis, membayangkan kejayaan yang sebentar lagi akan ia raih.
Di Atalanta, malam semakin larut. Para dewan masih berjaga, membahas setiap kemungkinan dan menyusun rencana pertahanan. Mereka tahu bahwa ancaman Ratu Victoria bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Keamanan dan kedamaian kota yang baru saja mereka bangun kembali kini berada di ujung tanduk. Mereka harus bertindak cepat dan tepat sebelum kegelapan yang dibawa Ratu Victoria menelan seluruh Atalanta.
Fajar menyingsing di atas Atalanta, namun tidak membawa serta ketenangan seperti biasanya. Udara terasa berat, diisi oleh kecemasan yang tak terucapkan. Patroli kota diperketat, para prajurit berjaga di setiap sudut jalan dengan mata awas. Warga berbisik-bisik di balik pintu rumah mereka, bertanya-tanya tentang bahaya yang mengintai.
Di istana, Raja Arthur dan para dewan belum beristirahat. Mereka terus memantau laporan yang masuk dari para pengintai dan warga yang waspada. Setiap informasi sekecil apa pun dianalisis dengan cermat, mencari petunjuk tentang keberadaan Ratu Victoria.
"Laporan dari gerbang utara," seorang prajurit melapor kepada Sir Lucas. "beberapa pedagang baru tiba dengan kereta yang tertutup rapat. Mereka mengaku membawa barang dagangan dari selatan."
Sir Lucas mengerutkan kening. "Periksa mereka dengan saksama. Jangan biarkan satu orang pun lolos tanpa pemeriksaan."
Sementara itu, di tengah kota, Andrew dan Lord Thomas bergerak di antara keramaian. Mereka berbicara dengan para pemimpin kelompok masyarakat, meminta mereka untuk tetap tenang dan membantu mengawasi setiap aktivitas mencurigakan. "Kita harus bersatu, warga Atalanta," seru Lord Thomas kepada sekelompok pedagang di pasar. "jangan biarkan rasa takut menguasai kalian. Laporkan setiap hal yang kalian anggap aneh kepada para penjaga."
Namun, benih-benih keraguan yang ditanam oleh agen-agen Ratu Victoria mulai tumbuh. Beberapa warga mulai mempertanyakan kemampuan Arthur dan Edward dalam melindungi kota. Bisikan-bisikan tentang pengkhianatan dan konspirasi mulai menyebar seperti penyakit.
Di luar kota, di dalam kegelapan hutan selatan, Ratu Victoria menerima laporan dari agen-agennya. Senyum licik terukir di wajahnya saat mendengar tentang kekacauan kecil yang mulai terjadi di Atalanta.
"Bagus," katanya kepada salah seorang pengikutnya yang baru kembali dari kota. "biarkan mereka saling curiga. Semakin besar perpecahan di antara mereka, semakin mudah bagi kita untuk mengambil alih."
Lord Devil menambahkan, "Para pengikut baru kita semakin tidak sabar untuk menyerang, Yang Mulia. Mereka haus akan kekuasaan dan ingin melihat Arthur dan Edward jatuh."
Ratu Victoria mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk tenang. "Kesabaran adalah kunci, Lord Devil. Mereka memiliki kekuatan tongkat Maria dan mempunyai kekuatan penjaga artefak." bisiknya kepada Lord Devil.
Lord Devil terdiam ia mundur selangkah, ia berdiri tegap disisi Queen Victoria.
"Kita akan menyerang jika sudah sepadan kekuatan kita oleh mereka!" seru Queen Victoria kepada para pengikutnya.
Ia kembali menatap peta Atalanta, matanya berkilat penuh perhitungan. Rencananya berjalan sesuai harapan. Kekacauan kecil di dalam kota akan menjadi pengalih perhatian yang sempurna untuk gerakan mereka yang sebenarnya.
Kembali ke istana, Edward merasa semakin frustrasi. Ia tahu betul bagaimana cara kerja Ratu Victoria, bagaimana ia memanfaatkan ketakutan dan keraguan orang lain. Rasa bersalahnya semakin besar karena ia merasa bertanggung jawab atas lolosnya mantan istrinya itu.
"Kita harus bertindak lebih cepat," kata Edward kepada Raja Arthur. "Kita tidak bisa hanya menunggu Ratu Victoria menyerang. Kita harus mencari dan menangkapnya sebelum ia mengumpulkan kekuatan yang lebih besar."
Raja Arthur menghela napas. "Aku tahu, Ayah. Namun kita memiliki orang yang sedang bekerja mencari informasi yang akurat. Biarkan semua berjalan lancar dulu, aku yakin Queen Victoria pun tidak akan mungkin langsung menyerang kita begitu saja."
Rasa bersalah Edward menjadikan dirinya Tidka sabar dalam mengambil keputusan. Ia terus berucap tanpa dipikirkan matang-matang.
Di Istana semakin tegang, ambisi Edward untuk menangkap mantan istrinya begitu kuat, hingga menimbulkan ketegangan.
Arthur tahu Queen Victoria pasti mempunyai rencana besar untuk merebutkan kembali kerjaan, namun ia juga tidak mau kalah. Ia pasti menyusun rencananya matang-matang karena ia tahu kini kerajaan memiliki kekuatan yang luar biasa.
buat dialog kasih tanda petik "..." biar orang tahu bahwa itu adalah percakapan. 😊
"Penduduk kerajaan desa maupun kota"
seperti itu saja
Karena karya yang telah kita bantu, belum tentu bagus dari karya kita. timbullah rasa bangga dari diri kita, dari karya kita.
Di saat itu lah kita mulai mencintai diri kita dengan penuh kasih sayang.!
𝐒𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐥𝐢𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢, 𝐓𝐡𝐨𝐫.😇