Indonesia
NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: JARAK YANG BERBICARA 3

Jakarta tetap sibuk seperti biasanya.

Sejak matahari terbit, jalanan utama telah dipenuhi kendaraan yang saling berebut ruang. Suara klakson bersahutan dengan deru mesin bus kota dan sepeda motor yang mengular di setiap persimpangan. Kota itu seolah tidak pernah benar-benar beristirahat.

Di tengah hiruk-pikuk tersebut, ruko percetakan digital milik Rangga kembali membuka pintunya tepat pukul delapan pagi.

Tono mengangkat pintu besi lipat hingga terbuka penuh. Udara pagi segera memenuhi ruangan yang masih menyimpan aroma khas tinta dan kertas dari pekerjaan semalam.

Ia langsung menyalakan seluruh peralatan seperti rutinitas yang selama bertahun-tahun telah melekat dalam dirinya.

Komputer desain.

Mesin cetak.

Pendingin ruangan.

Semuanya hidup satu per satu.

Tak lama kemudian, Beni datang sambil membawa dua bungkus nasi uduk dan segelas kopi dalam kantong plastik.

"Pagi, Pak Bos sementara," godanya sambil tertawa.

Tono mendengus pelan.

"Bos apanya."

"Kan sekarang yang pegang kunci Mas Tono."

"Yang pegang amanah, bukan jadi bos."

Beni terkekeh.

"Iya, iya. Jangan serius amat."

Ia meletakkan sarapan di atas meja kerja, lalu membantu membuka gulungan bahan cetak yang baru datang dari pemasok.

Ruangan perlahan kembali dipenuhi aktivitas.

Telepon toko mulai berdering.

Pesanan melalui aplikasi daring masuk satu demi satu.

Seorang pelanggan datang mengambil spanduk yang selesai dicetak sehari sebelumnya.

Semua berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, sesekali pandangan Tono masih berhenti pada meja kerja di sudut ruangan.

Meja itu kini kosong.

Laptop pribadi Rangga memang telah dibawa ke Borneo, menyisakan ruang yang terasa berbeda dari biasanya.

"Masih belum terbiasa ya?"

Suara Beni memecah lamunan Tono.

Tono hanya mengangguk kecil.

"Biasanya setiap pagi Mas Rangga sudah duduk di sana."

Beni ikut melirik ke arah meja itu.

"Iya."

"Terus kalau ada file pelanggan yang berantakan, langsung dibenerin sambil ngomel pelan."

Keduanya tertawa kecil.

Suasana yang sempat terasa sendu perlahan mencair.

"Semoga proyeknya lancar."

"Aamiin."

Tono menjawab singkat.

"Kalau proyek itu berhasil, percetakan kita juga ikut berkembang."

Beni mengangguk penuh semangat.

"Aku juga kepengin suatu hari nanti kita punya tempat yang lebih besar."

"Bukan cuma ruko dua lantai begini."

Tono tersenyum.

"Itu juga keinginan Mas Rangga."

"Mudah-mudahan pelan-pelan tercapai."

Pintu depan kembali terbuka.

Seorang pelanggan masuk membawa flashdisk.

"Selamat pagi."

"Pagi, Pak."

Tono segera berdiri menyambut.

"Silakan, ada yang bisa kami bantu?"

Aktivitas kembali berjalan seperti biasa.

Meski Rangga berada jauh di pedalaman Borneo, roda usaha yang selama ini ia bangun tetap berputar.

Bukan karena kebetulan.

Melainkan karena kepercayaan yang telah ia tanam kepada orang-orang yang kini menjaga mimpinya di Jakarta.

Menjelang tengah hari, suasana di ruko percetakan digital milik Rangga semakin ramai.

Suara mesin cetak bersahut-sahutan dengan bunyi papan ketik komputer. Di meja depan, beberapa pelanggan bergantian datang untuk mengambil pesanan, sementara yang lain menyerahkan desain baru yang harus segera dikerjakan.

Tono memeriksa hasil cetakan sebuah banner sebelum menyerahkannya kepada pelanggan.

"Silakan dicek dulu, Pak."

Pria itu membuka gulungan banner perlahan.

Tatapannya menyusuri setiap bagian, memastikan tidak ada kesalahan warna maupun tulisan.

"Sudah sesuai."

Ia mengangguk puas.

"Terima kasih."

"Sama-sama, Pak. Semoga acaranya lancar."

Setelah pelanggan itu pergi, Beni membawa setumpuk kertas HVS dari gudang belakang.

"Mas Tono, stok ukuran A3 tinggal sedikit."

"Sudah dicatat?"

"Sudah."

"Nanti sore langsung pesan ke pemasok. Jangan sampai kehabisan."

"Siap."

Beni kembali bekerja.

Beberapa menit kemudian, telepon toko berdering.

Tono segera mengangkatnya.

"Selamat siang, percetakan digital milik Pak Rangga. Ada yang bisa kami bantu?"

Suara di seberang meminta penawaran harga untuk pencetakan brosur dalam jumlah besar.

Tono menjelaskan dengan sabar satu per satu, mulai dari jenis kertas hingga estimasi waktu pengerjaan.

Setelah pembicaraan selesai, ia menutup telepon sambil mencatat detail pesanan pada buku kerja.

"Calon pelanggan?"

tanya Beni.

"Iya."

"Semoga jadi."

"Aamiin."

Beni tersenyum lebar.

"Kalau jadi, minggu ini lumayan ramai."

Tak lama kemudian, pintu kaca kembali terbuka.

Seorang perempuan berblus krem melangkah masuk sambil membawa sebuah kotak makanan.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Tono spontan tersenyum.

"Mbak Sari."

"Siang, Mas Tono."

Sari meletakkan kotak makanan itu di atas meja.

"Aku tadi lewat sekalian mampir."

"Wah, repot-repot."

"Nggak apa-apa."

Sari tersenyum hangat.

"Ini ada sedikit gorengan sama kue. Buat teman-teman di sini."

"Wah, rezeki."

Beni yang sejak tadi berada di belakang langsung mendekat.

"Kalau Mbak Sari datang, pasti bawa makanan."

Sari tertawa pelan.

"Kalau datang bawa tagihan gimana?"

"Waduh... saya sembunyi dulu."

Mereka bertiga tertawa bersama.

Suasana ruko yang sejak pagi dipenuhi kesibukan mendadak terasa lebih hangat.

Sari memandang sekeliling ruangan.

Mesin-mesin masih bekerja.

Rak kertas tetap tersusun rapi.

Beberapa pelanggan masih keluar masuk seperti biasanya.

Rasanya hampir tidak ada yang berubah.

Hanya satu hal yang berbeda.

Meja kerja di sudut ruangan itu masih kosong.

Tanpa sadar, pandangannya berhenti beberapa saat di sana.

Tono mengikuti arah tatapan Sari.

"Masih terasa ya..."

Sari mengangguk pelan.

"Iya."

"Biasanya kalau jam segini..."

"...Mas Rangga belum tentu sudah makan."

Kalimat itu membuat Tono tersenyum tipis.

"Itu benar."

"Kalau lagi banyak pesanan, sering harus diingatkan."

Sari menarik napas pelan.

"Semoga di sana ada yang mengingatkan juga."

Tak ada yang langsung menjawab.

Masing-masing memahami maksud kalimat sederhana itu.

Jauh di pedalaman Borneo, tidak ada lagi Sari yang datang membawa bekal makan siang atau mengingatkan waktu istirahat.

Yang ada hanyalah pekerjaan, tenggat waktu, dan tanggung jawab yang terus bertambah dari hari ke hari.

Di dalam ruko kecil itu, percakapan kembali mengalir. Mereka membahas pelanggan, pesanan, dan pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun di balik obrolan ringan tersebut, tersimpan doa yang sama—semoga Rangga tetap sehat dan mampu menjaga dirinya di tanah perantauan.

Sari tidak berlama-lama di ruko.

Setelah menemani Tono dan Beni mengobrol beberapa saat, ia membantu merapikan kotak makanan yang mulai kosong. Suasana sederhana itu mengingatkannya pada hari-hari ketika Rangga masih berada di Jakarta. Saat jam makan siang tiba, mereka sering duduk bersama di sudut ruangan sambil berbincang ringan di sela suara mesin cetak yang terus bekerja.

Kini, kebiasaan itu tinggal kenangan.

"Aku pamit dulu, Mas Tono."

Tono mengangguk.

"Hati-hati di jalan, Mbak."

"Iya."

Sari menoleh kepada Beni.

"Jangan lupa makan. Dari tadi yang semangat cuma mulutnya saja."

Beni tertawa lebar.

"Siap, Mbak."

"Pesannya pasti saya laksanakan."

Sari menggeleng sambil tersenyum kecil. Candaan Beni masih sama seperti dulu. Mungkin itulah yang membuat suasana di ruko tetap terasa hidup meski pemiliknya sedang berada jauh di perantauan.

Ia melangkah keluar.

Pintu kaca menutup perlahan di belakangnya.

---

Matahari mulai condong ke barat ketika Sari memilih berjalan kaki menuju halte bus yang berjarak beberapa ratus meter dari ruko.

Langkahnya tidak terburu-buru.

Sesekali ia menoleh ke belakang.

Dari kejauhan, papan nama ruko masih terlihat jelas. Di balik kaca depan, Tono tampak sedang melayani pelanggan, sementara Beni sibuk mengangkat gulungan bahan cetak menuju ruang produksi.

Melihat pemandangan itu, Sari merasa sedikit lega.

Rangga memang sedang mengejar mimpinya di tanah Borneo.

Namun mimpi yang ia tinggalkan di Jakarta ternyata masih dijaga oleh orang-orang yang dapat dipercaya.

Sari mengeluarkan ponselnya.

Jarinya sempat berhenti di atas nama Rangga.

Ia ingin mengirim pesan.

Menanyakan apakah pria itu sudah makan.

Apakah hari ini pekerjaannya berjalan lancar.

Atau sekadar mengingatkannya agar tidak tidur terlalu larut.

Namun setelah beberapa saat berpikir, Sari mengurungkan niatnya.

Ia tersenyum tipis.

"Mungkin dia masih sibuk."

Ponsel itu kembali dimasukkan ke dalam tas.

Bukan karena ia berhenti peduli.

Melainkan karena ia mulai belajar memahami kehidupan baru yang sedang dijalani Rangga.

Ada kalanya perhatian terbaik bukanlah terus-menerus bertanya.

Melainkan memberi ruang agar orang yang kita sayangi dapat menyelesaikan tanggung jawabnya dengan tenang.

Bus yang ditunggunya akhirnya tiba.

Sari melangkah naik, lalu duduk di dekat jendela.

Kendaraan itu perlahan meninggalkan halte, menyusuri jalanan Jakarta yang mulai dipadati kendaraan menjelang sore.

Di balik kaca, deretan bangunan terus berganti.

Sementara di dalam hati Sari, doa yang sama tetap ia panjatkan dalam diam.

Semoga Rangga selalu diberi kesehatan.

Semoga segala perjuangannya dimudahkan.

Dan semoga, sejauh apa pun jarak yang kini membentang di antara mereka, keduanya tetap mampu menjaga kepercayaan yang telah dibangun bersama.

Tak semua bentuk kesetiaan harus diucapkan. Ada yang memilih hidup dalam doa-doa yang dipanjatkan diam-diam, menunggu saat yang tepat untuk kembali dipertemukan oleh waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!