Indonesia
NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Di tenda.

Zephyr baru saja selesai membantu mengobati luka di wajah Xavier. Ia kembali berbaring di ranjangnya, sedangkan Xavier memilih untuk membuka buku dan membaca.

Tiba-tiba seseorang membuka tenda dan masuk dengan tergesa-gesa membuat dua pemuda itu terkejut.

“Astaga Evren, kamu membuatku terkejut setengah mati,” ucap Xavier sambil mengelus dadanya.

Kemudian ia menatap seorang tabib di belakang Evren dan menatap Evren secara bergantian.

“Tunggu!”

“Bukankah kamu sedang tugas jaga sekarang?”

Evren mengabaikan ucapan Xavier dan mempersilahkan Sang Tabib untuk memeriksa kondisi Xavier.

Sang Tabib mengecek luka di wajah Xavier lalu ia mundur dan berkata kepada Evren.

“Tidak ada luka serius, cukup istirahat dan obati lukanya dengan teratur.”

“Terimakasih Tabib.”

Setelah Sang Tabib keluar, Evren menarik kursi ke samping tempat tidur dan duduk sambil menatap serius ke arah Xavier.

“Kamu datang ke sini hanya untuk memeriksa kondisiku?” tanya Xavier.

Evren tidak menghiraukan pertanyaan darinya dan balik bertanya.

“Aku mendapat informasi dari seseorang katanya kamu dipukuli cukup parah.”

“Sebenarnya apa yang terjadi sampai dipukuli begini?” Tanya Evren kepada Xavier.

Xavier tersenyum kikuk lalu menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Matanya tidak fokus dan menghindari kontak mata dengan Evren.

“Hanya orang gila saja, bukan masalah besar,” jawabnya.

Melihat Xavier tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, Evren pun hanya bisa menghela nafas lalu ia mengeluarkan sebuah salep dari kantong bajunya dan memberikan kepada Xavier.

“Oleskan ini ke lukamu, aku mendapatkan ini dari orang yang memberitahuku tadi. Aku sudah mengecek isinya dan kualitasnya jauh lebih baik dari salep milikku,” ucap Evren sambil melirik ke arah kotak obatnya yang masih terbuka di atas meja.

Xavier mengikuti arah lirikan Evren dan kembali tertawa pelan.

“Hehe, tadi Zephyr yang mengambil kotak obatmu.”

Evren tidak mengatakan apa-apa lagi dan kembali ke pos jaganya untuk lanjut bertugas.

Keesokan harinya, setelah menyelesaikan latihan pagi, Xavier pergi ke desa untuk menemui Dante. Ia membawa beberapa buah-buahan untuk temannya yang sedang sakit.

TOK TOK TOK

Pintu terbuka menampilkan wajah lesu Dante. Terlihat jelas bahwa dia terjaga semalaman menjaga temannya.

“Bagaimana kondisi temanmu?” Tanya Xavier begitu ia dipersilahkan masuk oleh Dante.

“Sudah lebih baik, demamnya sudah turun. Sekarang dia sedang tidur.” Ucap Dante sambil berjalan diikuti oleh Xavier.

Setelah sampai di dalam kamar, Xavier menempelkan punggung tangan kanannya ke kening pemuda yang sedang terbaring itu lalu ia mengangguk pelan saat merasakan suhu tubuhnya yang sudah tidak sepanas tadi malam.

Dante di sampingnya menyadari sudut bibir Xavier terluka dan ada lebam di sekitarnya. Persis luka habis dipukul seseorang.

“Kak Xavier, wajahnya kenapa?” tanya Dante.

Xavier menoleh lalu mengibaskan tangannya di depan wajah Dante.

“Oh tidak apa-apa hanya bertemu orang gila saja kemarin.”

Dante mengernyitkan dahinya karena merasa kebingungan.

“Tapi setahuku di desa sini tidak ada orang gila.”

Warga desa yang tinggal beberapa orang saja, tentu saja Dante sudah mengenal semua warga. Dan tidak ada orang gila seperti yang disebutkan oleh Xavier.

“Yahh orang kan bisa jadi gila kapan saja,” jawabnya asal.

“Oh iya Dante.”

“Ya kak, Ada apa?”

“Aku penasaran, kemarin bagaimana kamu bisa masuk ke barak tanpa bertemu penjaga di gerbang masuk?”

Di Draven, ada dua gerbang masuk yang biasa dilalui. Pertama di depan sekaligus sebagai gerbang utama. Dan di belakang, gerbang yang dilewati Xavier waktu pertama kali datang ke Draven. Jika warga desa ada keperluan, mereka seharusnya melewati gerbang belakang dan di sana selalu ada dua orang penjaga yang bertugas.

Dante tersenyum kikuk mendengar pertanyaan dari Xavier.

“Hehe, lewat jalan.”

Dante menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan matanya menghindari tatapan Xavier. Xavier pun paham, Dante adalah warga lokal desa ini. Dia pasti mengetahui beberapa jalan tikus masuk ke barak.

Setelah melihat langsung kondisi teman Dante dan menyerahkan buah tangan itu, Xavier langsung berpamitan karena masih harus berlatih bela diri.

Saat sudah keluar dari rumah tersebut dan berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja Dante berlutut di atas tanah bersalju dan berseru, “Kak Xavier, aku punya sebuah permintaan yang lancang!”

Xavier menoleh dan langsung menghampiri Dante.

“Dante, kenapa kamu berlutut, kalau mau apa-apa tinggal bilang saja tidak perlu berlutut,” Xavier mencoba menariknya agar berdiri. Namun Dante ternyata lebih kuat dan tetap mempertahankan posisinya.

“Tolong…”

“Tolong biarkan aku masuk ke barak dan menjadi prajurit!”

Xavier sedikit kebingungan karena ia sendiri tidak mengetahui prosedur perekrutan prajurit di sini seperti apa.

“Aku akan membicarakannya dengan komandan, kamu berdiri dulu.”

“Benarkah?” tanyanya dengan mata yang berbinar.

“iya, nanti aku coba mengatakannya kepada komandan. Tapi aku tidak bisa berjanji.”

“Tidak apa-apa, yang penting kamu mau membantuku bertanya.”

Dante berdiri dibantu oleh Xavier. Setelah itu, Xavier benar-benar pergi kembali ke barak.

“Berhasil atau tidaknya itu tergantung keberuntungan, dan aku yakin aku memiliki keberuntungan yang sangat bagus karena buktinya bisa tetap hidup sampai sekarang,” gumam Dante sambil tersenyum. Tangannya mengepal ke udara dan sorot matanya begitu bersemangat. Lalu ia kembali masuk ke dalam rumah dan menjaga temannya.

Setelah kembali ke barak, Xavier benar-benar menemui Kaelen untuk menyampaikan permintaan Dante. Kaelen berdiri dan berjalan menghampiri Xavier lalu bertanya, “Dia warga desa kan? lalu bagaimana dengan program peternakan dan pertaniannya? warga desa saat ini hanya tersisa beberapa orang saja.”

“Tidak tahu, aku hanya menyampaikan saja. Sisanya anda putuskan sendiri,” ucap Xavier sambil mengangkat kedua bahunya.

“Ya sudah aku pergi dulu, nanti guru bisa marah seharian kalau aku telat.”

Setelah selesai mengatakan apa yang ingin dikatakan, Xavier langsung berpamitan keluar dari tenda Sang Komandan. Ia melambaikan tangannya dan berlari dengan cukup cepat. Sementara Kaelen hanya bisa melihat sambil menghela nafasnya.

Kemudian ia mengambil buku berisi daftar warga desa yang kemarin sempat ditulis oleh salah satu prajuritnya. Mencari nama yang dimaksud oleh Xavier.

“Dia mendaftar di bagian pertanian,” gumam Kaelen.

Selama musim dingin, pertanian tidak akan memiliki pekerjaan karena suhu yang tidak cocok untuk bertani. Kaelen memanggil prajuritnya dan memerintahkannya untuk memanggil pemuda tersebut ke tendanya.

Tidak lama kemudian, Dante datang dan berdiri dengan kikuk di hadapan Kaelen. Kaelen melihat wajahnya lalu teringat sesuatu.

“Kamu kan yang diam-diam suka mengikuti latihan prajurit dari balik semak?” tanyanya langsung membuat Dante terkejut.

“Maaf tuan, saya tidak bermaksud begitu, saya hanya… hanya…”

“Jangan takut, aku tidak akan menghukummu.”

Dulu saat ia menjadi prajurit dan mengikuti latihan pagi dengan yang lain, Kaelen tanpa sengaja melihat seorang pemuda yang rajin mengikuti latihan mereka dari balik semak.

“Siapa dia?”

“Oh dia, dia warga desa.”

“Memangnya boleh warga sipil mengikuti latihan militer diam-diam seperti ini?”

“Tuan Alaric meminta kita untuk membiarkannya,” jawab prajurit tersebut.

“Kenapa?”

“Setidaknya biar ada satu orang yang bisa melindungi desa, katanya begitu.”

Sejak saat itu, Kaelen selalu menyadari kehadiran pemuda tersebut. Tenaganya terlihat kuat, setiap gerakannya meskipun kurang tepat tapi tidak buruk.

Namun setelah mulai sering mendampingi Tuan Alaric dan disibukkan dengan tugas sebagai petinggi benteng, Kaelen tidak pernah lagi melihat pemuda itu. Hingga akhirnya ia diangkat menjadi komandan Draven.

“Dante, kamu sudah menandatangani perjanjian kerja dengan benteng dan tidak bisa dibatalkan.”

“Aku tahu itu, tapi ini kan musim dingin, aku tidak memiliki pekerjaan selama musim ini.”

Kaelen terdiam sesaat.

“Kamu yakin ingin menjadi prajurit?”

“Iya!”

“Apapun posisinya?”

“Iya, apapun posisinya aku terima.”

“Baiklah, sekarang pulanglah dulu. Nanti aku akan meminta seseorang untuk memanggilmu kembali.”

Dante tersenyum senang, namun senyumnya langsung luntur.

“Tapi Tuan…”

“Ada apa?”

“Bolehkah saya ke sini setelah temanku sembuh? Dia sedang sakit dan tidak bisa ditinggal sendirian terlalu lama.”

“Ya sudah datang setelah temanmu sembuh.”

Dante menunduk hormat kemudian berjalan keluar dari tenda komandan. Wajahnya terus menunjukkan senyum yang lebar karena akhirnya ia bisa menjadi prajurit sesuai dengan impiannya selama ini. Sebentar lagi ia akan menjadi lebih kuat dan bisa melindungi teman serta penduduk desa yang tersisa.

Tidak lama setelah Dante pergi, Tuan Alaric datang.

“Tuan Alaric, apa anda masih ingat dengan anak yang dulu bersembunyi di semak-semak sambil berlatih mengikuti prajurit?” tanya Kaelen sambil menuangkan teh ke cangkir dan diberikan kepada penasehatnya.

“Aku mengingatnya, ada apa?”

“Hari ini dia datang dan ingin menjadi prajurit.”

“Bukankah dia termasuk ke dalam daftar pekerja yang sudah tandatangan kontrak?”

“Iya, benar.”

“Lalu apa rencanamu?”

“Membuat pasukan cadangan…”

Kaelen mengambil lalu membuka peta pertahanan benteng dan menatapnya dengan serius. Pasukan di Draven selalu terbatas. Jika perang besar pecah, mau tidak mau seluruh pasukan langsung ditugaskan dan jika berhasil dipukul mundur maka benteng tidak bisa bertahan sampai bantuan dari benteng sekitar datang.

“Dia akan menjadi prajurit pertama yang masuk ke pasukan cadangan. Selama musim bertani dia bisa bertani, jika terjadi perang dia juga bisa ditugaskan ke garis depan,” ucap Kaelen.

“Pangan tetap tersedia, prajurit juga bertambah,” gumam Tuan Alaric sambil menganggukkan kepalanya.

“Apa kamu akan membuat perekrutan umum?”

“Untuk saat ini belum, kalau hanya warga desa yang bergabung aku masih bisa menerimanya. Tapi kalau warga luar desa juga bergabung, logistik yang kita miliki tidak akan cukup.”

“Baiklah, kamu bisa lakukan sesuai rencanamu, dan…”

Tuan Alaric menatap Kaelen, “Jangan lupa beritahu Lysander tentang rencanamu.”

“Tapi kenapa?”

“Lakukan saja.”

“Baik.” Kaelen menjawab dengan lesu.

1
Tosari Agung
satu satu cara author buat evren dan lysander kerja sama buat si kaisar banjingan kembaran si Wowo itu turun takhta dan asingkan di devren dan buat devren perang lagi habis itu si kaisar kembaran Wowo itu meningsoy
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!