Indonesia
NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Sumpah di Dalam Sangkar Emas

Matahari sore meredup di balik awan hitam yang menggantung rendah di atas kota. Hawa dingin sisa hujan semalam belum juga menguap dari kediaman Dirgantara. Rumah megah itu kini terasa bagai sebuah benteng yang pengap, terisolasi oleh udara cemas dan keputusasaan yang tertahan.

Di dalam kamar utama lantai dua, Kinanti duduk sendirian di tepi ranjang besar berseprai putih. Dia mengenakan terusan hamil katun yang longgar. Tangan kecilnya bergerak tanpa henti, mengusap lembut permukaan perutnya yang kini sudah mulai membuncit dengan jelas di usia kehamilan empat bulan lebih. Sentuhan itu hangat, bertolak belakang dengan tatapan mata jernihnya yang kini sedingin dan sekeras batu karang.

Meskipun Bapak mertuanya Juragan Ramli mendukungnya secara penuh dan siap membentenginya dari ancaman Baskara, Kinanti adalah wanita yang terbiasa berpikir jauh ke depan. Dia sadar betul kenyataan pahit yang sedang dihadapinya malam ini,dia belum bisa melangkah keluar dari rumah ini begitu saja.

Bukti yang dia pegang saat ini barulah selembar foto dari nomor tak dikenal dan kedatangan provokatif Valerie tadi pagi. Bagi pria licik dan berkuasa sekelas Baskara, bukti seperti itu masih sangat mudah untuk disanggah. Baskara bisa saja berdalih bahwa foto itu adalah jebakan rekayasa (framing) untuk menjatuhkan nama baiknya, dan kedatangan Valerie bisa dituduhkan sebagai aksi nekat wanita gila yang terobsesi padanya. Tanpa adanya bukti transaksi fisik yang mengikat, rekaman percakapan, atau dokumen resmi yang membuktikan perselingkuhan secara utuh, hukum dan keluarga besar masih bisa diputarbalikkan oleh Baskara.

Jika Kinanti nekad pergi malam ini hanya berbekal amarah, Baskara yang sedang kalap dan dilanda ketakutan luar biasa akan bertindak jauh lebih nekat. Pria itu bisa mengunci akses keluar, memicu konflik terbuka yang membahayakan kesehatan janinnya, atau menggunakan celah hukum untuk merebut hak asuh anak mereka kelak dengan dalih Kinanti melarikan diri tanpa alasan yang sah.

Kinanti menghela napas panjang, meresapi setiap denyut kehidupan kecil yang mulai bergerak halus di dalam rahimnya.

"Sabar ya, Sayang..." bisik Kinanti lirih pada keheningan kamar, suaranya halus namun sarat akan keteguhan batin seorang ibu. "Tunggu Mama punya bukti yang benar-benar lengkap atas perselingkuhan dan kebohongan Papamu. Kita tidak boleh kalah secara konyol. Nanti, saatnya tiba, kita akan pergi dari rumah ini... dan Kakekmu pasti akan menolong kita sepenuhnya."

Kinanti memejamkan mata sejenak, mengalihkan pikirannya pada kampung halamannya di desa. Setidaknya, ada satu hal yang membuat dadanya terasa sedikit lega di tengah badai ini. Kehidupan orang tuanya di desa kini sudah tidak sesusah dulu lagi. Uang hasil jerih payahnya sendiri dari pengelolaan kafe Kinan’s Blossom yang rutin dia sisihkan dan kirimkan ke kampung telah digunakan oleh Bapak dan Ibunya dengan sangat bijak. Mereka telah membeli beberapa petak tanah kebun di kaki bukit, dan rumah kayu reot mereka yang dulu sering bocor kini sudah direnovasi menjadi rumah permanen yang kokoh, bagus, dan sangat layak untuk ditinggali.

Ibu dan Bapaknya di desa sudah mandiri secara ekonomi. Mereka tidak lagi bisa diintimidasi dengan mudah oleh gertakan finansial Baskara. Hal itu menjadi benteng pertahanan kedua bagi Kinanti untuk menyusun strateginya dengan tenang.

Kinanti kembali membuka matanya. Tatapannya menembus kaca jendela yang dibasahi titik-titik air hujan.

"Mas... kau sendiri yang sudah membuatku tidak akan pernah percaya kepadamu lagi," ucap Kinanti lirih, kata-katanya menguap di udara dingin kamar. "Lakukanlah semua kebohongan dan penyangkalanmu sepuasmu sekarang. Tapi aku bersumpah... setelah anak ini lahir ke dunia, kau tidak akan pernah melihatku dan anakmu lagi seumur hidupmu."

Sebuah janji dingin telah diikrarkan. Kinanti memutuskan untuk memilih jalur ketenangan yang mematikan,berpura-pura bertahan di dalam kurungan emas ini sembari mengintai dan mengumpulkan setiap jengkal bukti kebusukan suaminya sampai tak tersisa.

Sementara itu, di sebuah kafe privat di pinggiran kota, Baskara sedang duduk di dalam ruangan khusus dengan wajah yang teramat tegang dan cemas. Di hadapannya, Valerie duduk dengan raut wajah yang dipenuhi air mata buatan dan napas yang tersendat-sendat, memainkan peran sebagai korban yang teraniaya dengan teramat sempurna.

Baskara baru saja mendatangi Valerie setelah keributan di rumahnya tadi pagi. Alih-alih menyadari manipulasi wanita itu, Baskara yang otaknya sedang kacau akibat rasa takut kehilangan Kinanti, justru kembali masuk ke dalam lubang jebakan yang dirancang Valerie.

"Bas... demi Tuhan, aku tidak bermaksud merusak rumah tanggamu..." tangis Valerie pecah, jemari lentiknya menyentuh lengan kemeja Baskara dengan getaran yang disengaja. "Tadi pagi aku datang ke rumahmu hanya karena aku sangat khawatir padamu! Aku dengar dari orang-orang kau sedang stres berat karena masalah proyek. Tapi... tapi istri mudamu itu... dia malah menghinaku, Bas! Dia menuduhku wanita murahan dan melempar foto-foto jebakan yang bahkan aku sendiri tidak tahu siapa yang mengambilnya di apartemen!"

Baskara meremas jemarinya sendiri, rasa pusing yang menyiksa menghantam kepalanya. Manipulasi Valerie yang menjual kesedihan dan rasa bersalah masa lalu lagi-lagi berhasil mengaburkan akal sehat sang tuan pemaksa. Baskara yang egois pada dasarnya memang ingin mempercayai bahwa dirinya tidak bersalah seutuhnya, sehingga narasi Valerie bahwa foto-foto itu adalah 'rekayasa pihak luar untuk memeras mereka' menjadi pegangan palsu yang sangat ia butuhkan untuk mengelak di depan Kinanti.

"Aku tahu, Val... aku tahu," sahut Baskara dengan suara berat dan lelah, mengusap wajahnya kasar. "Foto itu memang digunakan Kinanti untuk menuduhku. Tapi dialah istriku sekarang, dan dia sedang mengandung anakku. Kau tidak seharusnya datang ke rumah itu tadi pagi!"

Valerie menyurukkan wajahnya di atas meja, menangis tersedu-sedu. "Maafkan aku, Bas... aku hanya merasa bersalah karena masa lalu kita... Aku tidak tahu kalau foto jebakan dari orang jahat itu akan membuat rumah tanggamu hancur... Kalau begitu, biarkan aku pergi saja, Bas. Biarkan aku menanggung semua penderitaan ini sendiri..."

Umpan 'ingin pergi' itu kembali dikeluarkan oleh Valerie. Dan seperti dugaan Valerie, Baskara yang memiliki kecenderungan protektif berlebihan dan tidak ingin merasa bersalah dua kali atas wanita masa lalunya, seketika tertangkap umpan tersebut.

"Jangan bicara sembarangan! Kau tidak boleh ke mana-mana!" tegas Baskara, suaranya kembali mengeras dengan otoritas yang membuai ego Valerie. "Tinggallah di apartemen itu. Aku yang akan menyelesaikan masalah foto jebakan ini di rumah. Kinanti hanya sedang emosi karena bawaan bayi, dia belum punya bukti apa-apa selain foto itu. Aku masih bisa membereskannya."

Di balik tangisannya yang memilukan di atas meja, bibir Valerie menyunggingkan senyuman licik yang penuh kemenangan. Baskara begitu bodoh dan mudah dikendalikan oleh rasa bersalahnya sendiri. Valerie tahu, selama Baskara masih mengelak dan percaya pada kebohongannya, konflik di rumah Dirgantara akan semakin membakar dan meremukkan hati Kinanti hingga gadis desa itu hancur dengan sendirinya.

Pukul delapan malam, Baskara tiba kembali di kediaman Dirgantara. Langkah kakinya terdengar berat saat membelah koridor lantai dua. Wajah pria matang itu mengeras, dipenuhi oleh keputusasaan dan keegoisan yang kian menjadi-jadi. Dia telah menyiapkan sejuta kalimat penyangkalan untuk mempertahankan posisinya di depan istrinya.

klek

Pintu kamar utama dibuka. Baskara melangkah masuk.

Di dalam kamar, Kinanti sedang berdiri di dekat lemari pakaian, merapikan beberapa helai baju bayi yang baru dibelinya minggu lalu. Dia membelakangi pintu. Suara pintu terbuka sama sekali tidak membuatnya menoleh.

Baskara menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Pria tegap itu melangkah mendekati Kinanti, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum dan hawa tubuhnya memenuhi udara di sekitar istrinya.

"Kinanti," panggil Baskara, suaranya berat, rendah, mencoba terdengar berkuasa namun ada getaran cemas yang tak bisa disembunyikan.

Kinanti tidak menjawab. Dia terus melipat baju bayi berukuran kecil itu dengan gerakan yang teramat pelan, teliti, dan anggun. Kehadiran Baskara diperlakukannya tak lebih dari sekadar bayangan kosong.

Baskara menggeram pelan, rasa diabaikan itu membakar egonya hingga ke puncak. Pria itu meraih bahu Kinanti secara paksa, memutar tubuh istrinya agar berhadapan langsung dengannya.

"Tatap mataku, Kinanti!" perintah Baskara, matanya berkilat penuh dominasi yang pekat. "Soal foto itu dan soal kedatangan Valerie tadi pagi... semuanya adalah rekayasa! Foto itu diambil oleh orang yang sengaja ingin memeras perusahaan kita, dan Valerie datang tadi pagi hanya karena dia panik dituduh yang tidak-tidak! Aku tidak pernah berselingkuh dibelakangmu!"

Penyangkalan terang-terangan yang meluncur dari bibir Baskara begitu murahan dan menggelikan. Pria itu benar-benar berpikir bahwa Kinanti adalah gadis desa bodoh yang bisa dibohongi dengan cerita karangan anak kecil.

Kinanti tidak mencoba melepaskan cengkeraman tangan Baskara di bahunya. Dia mendongak perlahan, menatap lurus tepat ke dalam manik mata elang suaminya.

Tidak ada air mata. Tidak ada teriakan amarah. Wajah Kinanti begitu bersih dan datar, sementara sepasang matanya memancarkan kedalaman es yang teramat dingin dan hampa. Tatapan mata yang tidak lagi memiliki seberkas pun rasa percaya atau rasa cinta di dalamnya.

Sikap dingin yang teramat ekstrem itu justru membuat Baskara tersentak. Cengkeramannya di bahu Kinanti perlahan melemah karena merinding oleh keheningan istrinya.

"Sudah selesai bicaranya, Mas?" tanya Kinanti dengan suara yang teramat halus, jernih, dan datar tanpa dinamika emosi sedikit pun.

Baskara menahan napas, dadanya bergemuruh hebat oleh kebingungan dan ketakutan yang kian mencekam. "Kinanti... kau... kau percaya padaku, kan? Aku suamimu!"

Kinanti menyunggingkan sebuah senyuman tipis senyuman paling dingin yang pernah Baskara lihat sepanjang hidupnya. Senyuman yang tidak pernah mencapai matanya.

"Terserah apa yang ingin Mas katakan," sahut Kinanti lembut, suaranya tenang bagai alunan air sungai yang membeku. "Mas mau bilang foto itu rekayasa, mau bilang wanita itu tidak bersalah, atau mau bilang bumi ini berbentuk kotak sekalipun... aku akan mengangguk dan mendengarkannya."

Baskara terpaku kaku. "Apa maksudmu?!"

"Maksudku," lanjut Kinanti, melangkah mundur satu titik hingga cengkeraman Baskara terlepas seutuhnya dari bahunya, "aku tidak peduli lagi dengan semua alasan dan kebohonganmu, Mas. Bicara sajalah sesukamu. Aku akan tetap tinggal di rumah ini, menjadi istri yang baik di depan orang-orang, dan merawat anakku."

Kata-kata Kinanti terdengar sangat patuh di permukaan, namun makna di baliknya adalah sebuah vonis mati bagi pernikahan mereka. Kinanti secara terang-terangan menunjukkan bahwa dia telah mematikan seluruh perasaannya untuk Baskara. Pria itu boleh berbohong setinggi langit, namun Kinanti tidak akan pernah lagi menganggap keberadaan hatinya.

"Kau... kau berpura-pura pasrah padaku?!" tuduh Baskara, suaranya bergetar oleh keputusasaan dan kemurkaan yang tertahan. "Kau membenciku, Kinanti! Katakan kalau kau membenciku! Jangan bersikap seperti ini!"

Baskara lebih memilih Kinanti memukulnya, menamparnya, atau berteriak histeris menuntut penjelasan ketimbang diperlakukan seperti udara kosong yang tak bernilai seperti ini. Sikap dingin Kinanti adalah bentuk siksaan psikologis yang paling kejam bagi pria dominan seperti Baskara.

Kinanti hanya menatap suaminya dengan rasa iba yang tenang. Dia tidak menjawab tuduhan Baskara. Dia perlahan membalikkan tubuhnya, kembali merapikan baju-baju bayi di dalam lemari seolah-olah Baskara tidak sedang berdiri di sana.

Baskara berdiri terpaku di tengah kamar yang terasa kian membeku. Pria berkuasa itu mencengkeram dadanya sendiri yang terasa amat sangat sesak. Dia berhasil menahan Kinanti di dalam rumah mewahnya, dia berhasil mengelak dari tuduhan foto perselingkuhan itu, namun malam ini dia menyadari kenyataan yang paling mengerikan.

Dia sedang hidup bersama seorang wanita yang tubuhnya berada di sampingnya, namun jiwa dan cintanya telah terkunci rapat di dalam benteng es yang tak akan pernah bisa ia tembus lagi. Dan di balik keheningan manis sang istri, sebuah jebakan taktik sedang teranyam rapi, menunggu waktu yang tepat untuk meruntuhkan seluruh kekuasaan sang tuan pemaksa hingga tak tersisa.

1
sunaryati jarum
Ayo Tuan Besar Ramli segera cabut aset darimu yang dikelola Baskoro, tidak sadar malah makin menjadi
sunaryati jarum
Kamu memang cocok sama Valerie sama - sama sampah , dan menjijikan .Sekali siap - siap jadi gelandangan
sunaryati jarum
Menuju kehancuran kamu Baskoro,otw jadi gembel sebentar lagi pasti semua asetmu ditarik Kakek Ramli.Semoga kandungan kamu baik- baik saja .
sunaryati jarum
Baskara setelah ini kamu akan dimiskinkan oleh kakek Ramli, semua asetmu dan kakek dibagi dua untuk Natasya dan anak Kinant.Kamu akan jadi gembel.Masih maukah Valerie padamu?
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Bagus Kinanti tua Bangka tidak tahu diuntung dulu mendapatkan kamu dengan cara paksa, sekarang nikmati hidupmu dengan parasit Valery.Untuk Kinanti mulai sekarang sayangi dirimu sendiri dengan dukungan Natasya dan Kakek Ramli
sunaryati jarum
Yang terbiasa mengobral.tubuh demi kemewahan, apapun.akan dilakukan.Saat ini karma untukmu Valerie lewat putri pria bodoh, yang kau jebak
sunaryati jarum
Kakek Ramli lebih siapa Valerie dari pada Baskara.Siap- siap jadi gembel setelah anakmu dari rahim Kinanti lahir.Karena seluruh harta Juragan Ramli untuk Natasya dan anak Kinanti.Harta Baskara juga dibagi sebagai harta gono- gini setelah bercerai dan juga untuk Natasya. Momen yang emak tunggu
sunaryati jarum: Maksudnya lebih paham
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak akan beri 5 🌟 jika Baskara dan Valerie hancur
sunaryati jarum
Tua Bangka bodoh dan egois, tidak mengindahkan peringatan putri dan istrinya yang tulus menyelamatkan usahamu . Sokoor kau masuk jebakan Valerie dan sudah melakukan kegiatan intim padanya, yang pasti sudah direkam untuk mengancam kamu.Sebentar kehancuran kamu bersama Valerie, karena Natasya akan membongkarnya,semua kekayaan Baskara sudah langsung milik Kinanti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!