Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di Tempat Indah
Wafa duduk di tepi kasurnya seraya memukul dadanya pelan, mencoba mengurai rasa sesak yang makin menghimpit. "Kenapa harus sakit gini sih..." desis Wafa tertahan, merintih dalam kesendirian.
"Gue pengin cepat-cepat ketemu Mami... biar nggak usah ngerasa sakit kayak gini lagi," lanjutnya lirih. "Satu bulan lagi kita bakal ketemu ya, Mih. Tunggu Wafa," ujar Wafa dengan tatapan kosong, bahkan tanpa sebaris air mata yang menetes.
Jemari Wafa meraih sebuah figura foto di atas nakas. Foto masa kecilnya saat ia sedang tertidur lelap di pangkuan sang Mami.
"Wafa kangen, Mih... Kangen lihat Mami senyum gara-gara tingkah konyol Wafa," bisiknya seraya mengusap lembut kaca figura tersebut.
"Wafa udah capek sama kehidupan ini, Mih. Wafa cuma pengin tidur di pangkuan Mami kayak dulu lagi... nggak perlu manggul beban sakit yang nyiksa ini lagi," gumam Wafa pasrah.
Tok...
Tok...
Tok...
"Siapa sih, ganggu aja," desis Wafa kesal. Ia menyapu wajahnya cepat, lalu bangkit berjalan memutar kunci dan membuka pintu.
Tanpa permisi, Lily langsung menerobos masuk ke dalam kamar. Matanya memancarkan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan. "Ada yang sakit nggak, Waf?" tanyanya panik.
"Halah, nggak usah sok peduli deh," cetus Wafa ketus, berjalan kembali dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Gue beneran peduli, Waf... Cuma mungkin karena kita sama-sama udah makin dewasa, kita jadi makin berjarak," ujar Lily pelan, suaranya bergetar menahan sedih.
"Gue kangen masa kecil kita dulu. Lo selalu cerita apa aja ke gue. Tapi sekarang? Hal sebesar ini malah Lo sembunyiin sendirian?"
Pandangan Wafa menyendu. Sikap pertahanannya perlahan runtuh. "Gue juga kangen masa-masa kita kecil dulu, Ly..."
"Dulu Lo sering sakit-sakitan," lanjut Wafa tulus, menatap kakak perempuannya itu. "Makanya waktu kita kecil, gue selalu berusaha jadi perisai buat jaga Lo."
Lily mendekat, duduk di samping adiknya. "Boleh Kakak cium pipi kamu?" tanya Lily lembut.
Wafa mengangguk pelan. Detik itu juga, genangan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya. Lily mendaratkan kecupan hangat di pipi Wafa, menyerap seluruh kerapuhan adiknya.
"Lo pasti kangen banget ya sama Mami?" bisik Lily. Semua orang tahu, Wafa adalah anak kesayangan Mami. "Tapi di sini masih ada gue, Waf. Gue bisa jadi 'Mami' buat Lo."
"Nggak ada yang bisa gantiin Mami, Ly..." sahut Wafa lirih, menggelengkan kepalanya.
"Memang enggak. Tapi gue bisa jadi Mami kecil buat Lo," tegas Lily dengan air mata yang mulai mengalir deras. "Lo boleh ngadu apa pun ke gue. Kayak waktu Lo kecil dulu suka mengadu ke Mami..."
Pertahanan Wafa benar-benar hancur. Ia menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa takut dan sakit yang membelenggunya. Lily dengan cepat merengkuh tubuh adiknya, mendekapnya erat.
"Lo nggak perlu malu lagi buat nunjukin sisi lemah Lo di depan gue, Waf," bisik Lily menenangkan.
Wafa mengusap air matanya kasar, berusaha menguasai diri. "Oh iya... gue ada PR besok harus dikumpulin," ujarnya mengalihkan suasana agar tidak makin larut dalam kesedihan.
Lily tersenyum tipis, mengusap jejak air mata di pipinya sendiri. "Ya udah, ayo kita kerjain bareng."
'Repotin gue sesuka Lo, Waf... tapi tolong jangan pernah tinggalin gue kayak Mami dulu,' batin Lily penuh harap.
Beberapa saat kemudian, keduanya tampak sibuk berkutat di depan meja belajar Wafa.
"Ini jawabannya udah bener, kan?" tanya Wafa menunjuk jalannya rumus. Lily mengangguk setuju.
Tiba-tiba, pintu kamar Wafa terdorong terbuka.
"Ternyata Kak Lily ada di sini! Ell dari tadi cariin Kamu tau, Kak!" omel Ell penuh kekesalan seraya melangkah masuk.
"Ada apa Ell cari Kakak? Kakak baru nemenin Bang Wafa ngerjain tugas," balas Lily lembut, lalu menarik Ell lembut untuk dipangku.
Ell menatap wajah kakaknya lekat-lekat. "Loh... Kak Lily habis menangis?" tanyanya polos melihat mata Lily yang memerah.
"Enggak kok, Ell. Ini tadi Kakak cuma kelilipan debu aja," bohong Lily tersenyum manis.
Ell memiringkan kepalanya, tak percaya. "Ell nggak percaya. Dulu Mami juga suka bilang gitu, tapi sebenarnya Mami beneran menangis. Kak Lily kenapa? Pasti dibikin kesal sama Bang Wafa, ya?"
"Dih! Kenapa jadi gue?" potong Wafa ketus, menatap tajam ke arah adik bontotnya itu.
"Udah, udah, jangan berantem," lerai Lily menahan tawa. "Jadi sebenarnya ada perlu apa Ell cari Kakak?"
"Mau main Lego yang kemarin," balas Ell memamerkan senyum bolongnya.
"Lo nggak belajar, Ell? Biasanya Lo yang paling rajin," tanya Wafa heran.
"Ell udah belajar tadi! Tapi nggak ada PR, makanya Ell belajar sendiri," balas Ell bangga.
"Iya, nanti kita main ya. Tapi nunggu Bang Wafa selesai ngerjain PR-nya dulu," ujar Lily seraya mengelus lembut kepala Ell.
Ell mendongak bingung. "Kenapa Kak Lily sekarang ikut-ikutan panggil Bang Wafa 'Bang' juga?"
Lily hanya tersenyum tanpa menjawab. Sebenarnya, ia hanya sedang menirukan kebiasaan kecil yang dulu selalu Maminya lakukan saat memanggil Wafa.
Setelah Wafa selesai mengerjakan tugas sekolahnya, mereka bertiga beralih menuju ruang tengah. Wafa dan Ell duduk bersila di atas karpet tebal, sibuk menyusun balok-balok Lego seraya melakukan video call dengan Kino hanya sekadar untuk menanyakan kabar dan mengobati rasa rindu.
"Kakak pergi ke dapur dulu ya, mau potong buah buat cemilan," pamit Lily lembut.
Kedua adiknya itu kompak mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Lily pun melangkah ke dapur, mengambil pisau dan beberapa buah segar untuk dipotong.
"Sayang banget ya, kita udah nggak bisa main Lego bareng secara langsung lagi, Ell," ucap Kino dari layar ponsel, menatap kearahnya dengan raut wajah rindu.
"Iya, Kino..." balas Ell dengan bibir melengkung sedih.
"Tapi tenang aja! Nanti waktu libur panjang, Kino bakal pulang kok, Ell. Ell tunggu Kino ya!" ujar Kino bersemangat, mencoba menghibur.
"Iya, Kino! Tapi Kino janji ya?" desak Ell memastikan.
"Iya, Ell, janji!"
"Sayang!" panggil suara ibu Kino terdengar dari latar belakang panggilan.
"Tuh, dipanggil mama kamu, No. Kita lanjut ngobrolnya besok lagi ya," potong Wafa tersenyum tipis. Kino mengangguk mengerti.
"Dadah Ell! Dadah Bang Wafa!"
Panggilan video itu terputus. Layar ponsel mendadak gelap, menyisakan keheningan singkat di antara mereka berdua.
Wafa terdiam sejenak. Tatapan matanya yang tadi hangat perlahan meredup, berganti menjadi sorot mata yang begitu serius. Pandangannya perlahan beralih menatap adiknya yang paling kecil.
"Ell..." panggil Wafa, suaranya terdengar begitu dalam.
"Kenapa, Bang?" tanya Ell polos, mendongak menatap abangnya.
Wafa memajukan posisinya, meletakkan kedua tangannya di atas pundak kecil Ell. "Abang... sebentar lagi bakal pergi jauh."
Ell mengerutkan dahi bingung. "Pergi ke mana?"
"Abang cuma mau pesan... kamu baik-baik ya di rumah. Jangan nakal, rajin belajar, dan kamu juga harus jagain Kak Lily," lanjut Wafa, menatap lekat wajah polos di depannya.
"Emang Abang mau pergi ke mana sih?" cecar Ell makin penasaran.
Wafa menghela napas berat, mencoba menahan getaran di dadanya. "Abang mau pergi... ke tempat yang jauh lebih baik."
"Emang rumah ini kurang baik ya, Bang?" tanya Ell dengan kepolosan khas anak kecil.
Wafa menggelengkan kepalanya pelan. "Rumah ini baik banget..."
"Tapi, kita masih bisa ketemu kan, Bang?" lanjut Ell bertanya, menatap lurus ke mata Wafa.
"Pasti... Pasti, Ell. Kita bakal ketemu lagi di tempat yang jauh lebih indah dari sekarang," ujar Wafa, genangan air mata perlahan mulai mengumpul dan memerah di sudut matanya.
"Tempat indah? Ell boleh ikut Abang ke sana?" tanya Ell bertubi-tubi.
Wafa menggeleng pelan, usahanya menahan tangis membuat tenggorokannya terasa seperti tercekik. "Ell nggak boleh ikut," bisik Wafa lirih.
"Tugas Ell di sini belum selesai." Wafa menarik napas panjang yang terasa menyiksa dadanya. "Ell kan udah janji mau jagain Kak Lily..."
"Kalau gitu, nanti Ell bakal ajak Papi sama Abang-Abang yang lain buat cari Bang Wafa!" ujar Ell polos namun penuh keyakinan.
Wafa tersenyum tipis sebuah senyuman paling rapuh yang pernah ia sunggingkan. "Suatu hari nanti Ell bakal paham... Yang terpenting, Ell nggak boleh nakal lagi, dan harus rajin belajar ya?"
Di saat yang sama, Lily kembali dari dapur membawa sepiring buah potong di tangannya. Pandangan Ell langsung tertuju pada kakaknya yang baru tiba.
"Kak Lily! Bang Wafa bilang dia bakal pergi jauh!" seru Ell mengadu.
Lily yang baru saja hendak meletakkan piring buah ke atas meja seketika membeku. Tangannya gemetar hebat, dan seluruh persendiannya serasa meluruh. Kata-kata Ell menghantam dadanya begitu telak hingga tak ada satu patah kata pun yang sanggup keluar dari tenggorokannya.
"Ell harus jadi anak baik ya..." kata Wafa menundukkan kepalanya, tak sanggup menatap Lily maupun Ell.
Airmata yang sejak tadi ditahan Lily akhirnya runtuh tak terkendali. Tak sanggup menanggung rasa sesak yang meremukkan dadanya, Lily membalikkan badan dan berlari kencang menuju tangga untuk kabur ke kamarnya. Namun, sebelum kakinya sempat menapaki anak tangga pertama, sebuah dekapan hangat menangkap tubuhnya yang gemetar.
Itu Rafa.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Rafa cemas melihat adiknya menangis.
Lily menyembunyikan wajahnya di dada Rafa, terisak tanpa sanggup menjawab.
Dari ruang tengah, Ell berjalan mendekati mereka dengan raut bingung. "Bang Rafa tahu nggak? Bang Wafa tadi bilang dia bakal pergi jauh banget."
Rafa membeku. Tenggorokannya mendadak mengering, sementara Lily makin erat menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata agar tak terlihat oleh Ell.
"Iya... Abang tahu, Ell," ujar Rafa dengan suara parau dan hati yang serasa diiris-iris. "Bang Wafa bakal pergi jauh banget... ke tempat yang lebih indah."
"Tapi kita masih bisa ketemu sama Bang Wafa kan, Bang?" tanya Ell mendongak, meminta kepastian.
Rafa tertahan. Mulutnya terkunci rapat, tak sanggup memberi kebohongan lagi.
Tak lama kemudian, Owen turun dari lantai atas dan berdiri di samping Rafa. Alisnya bertaut melihat kondisi adik perempuannya. "Kamu kenapa, Ly?" tanya Owen penuh selidik.
Rafa dengan cepat menguasai rasa paniknya. "Ini, Bang... biasa, habis digangguin Wafa," alibi Rafa berbohong.
Wafa yang menyimak dari ruang tengah lantas bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat.
"Iya, Bang! Tadi gue ledekin dia gara-gara dia cengeng banget," sahut Wafa ikut berbohong seraya memasang cengiran santainya.
Tanpa membalas ucapan mereka, Lily melepaskan diri dari dekapan Rafa dan berlari kencang menaiki tangga menuju kamarnya.
"Gue mau susul Lily dulu, Bang," pamit Rafa menepuk bahu Owen, berusaha menutupi kepanikan.
"Gue juga mau susul dia deh. Mau minta maaf, kasihan juga kalau nangis beneran," pangkas Wafa ikut berlari menyusul Rafa ke lantai atas.
Sepeninggal kedua adiknya, Owen melangkah mendekati Ell yang berdiri sendirian di dekat tangga. Owen berlutut di hadapan adik bontotnya itu.
"Benar, Ell? Bang Wafa yang gangguin Kak Lily?" tanya Owen lembut, menatap lekat mata Ell.
Ell menggelengkan kepalanya polos. "Bukan, Kak. Kak Lily menangis gara-gara Bang Wafa bilang dia mau pergi jauh."
"Pergi jauh?" dahi Owen berkerut makin dalam.
"Bang Wafa mau kuliah ya, Kak? Kok Bang Wafa bilang bakal pergi jauh banget... Padahal kan Bang Wafa baru kelas dua SMA," lanjut Ell polos dengan raut wajah makin kebingungan.
'Ada yang aneh dari mereka...' batin Owen, rasa curiga mendadak menguasai benaknya.
Owen mengelus lembut kepala Ell untuk menenangkannya. "Ell, Kak Owen mau pergi nyamperin mereka sebentar ke atas ya. Kamu di sini dulu, nanti Kakak balik lagi ke sini."
Di dalam kamar Lily.
Lily berbaring telungkup di atas kasur, terisak histeris dengan wajah terbenam di bantal. Rafa duduk di sampingnya, mengelus lembut punggung adiknya yang naik-turun menahan sesak.
Pintu kamar terdorong terbuka. Wafa masuk dan langsung mengunci pintu.
"Ly! Gue kan udah bilang jangan menangis kayak gini! Nanti mereka pada curiga dan tahu semuanya!" kesal Wafa berbisik tajam begitu melihat kondisi Lily.
"Siapa yang nggak bakal menangis coba?!" amuk Lily mendudukkan dirinya. Tangannya mengepal, memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa amat sesak. "Kalau kita tahu... bakal ditinggal sama kamu, Waf?!"
Rafa tak mampu berkata-kata lagi. Isakan Lily seolah mewakili seluruh kehancuran hatinya. Ia hanya bisa terus merengkuh dan mengusap punggung Lily, berusaha memberikan ketenangan yang bahkan tak ia miliki.
Wafa mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengalihkan pandangan karena tak s
anggup melihat keperihan di mata kedua kakaknya.
Klek...
Gagang pintu kamar Lily mendadak ditekan kasar dari luar. Karena terkunci, sebuah ketukan keras menyusul dilayangkan dari luar.
"APA-APAAN INI?!"
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat