Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Jiwa yang Hilang

Aroma melati beradu tajam dengan bau uap kluwek yang merembes keluar dari celah pintu dapur. Pagi itu, ruang tengah rumah keluarga Broto dipenuhi kerabat dekat dan tetangga sekitar yang datang melayat.

Di atas dipan kayu yang dialasi kain batik panjang, jasad Pertiwi terbaring kaku dengan wajah pucat kebiruan. Suasana duka membungkus rumah tua itu, namun duka yang hadir terasa aneh, kaku, dan dipaksakan.

Galang duduk bersimpuh di sisi kepala Pertiwi. Matanya sembap memerah, hatinya hancur berkeping-keping. Setiap kali tangannya menyentuh kain penutup jasad sang gadis, kemarahan yang membakar dada mengancam meledak.

Ia tahu, gadis yang lugu ini tak pernah sakit secara alami. Pertiwi dicabut paksa dari dunia ini, ditumbalkan untuk memberi makan kuali raksasa di dapur belakang yang tak pernah berhenti mendidih.

Namun, di antara semua kejanggalan pagi itu, ada satu hal yang membuat dada Galang makin bergejolak parah: sikap ibunya sendiri.

Bu Retno berdiri di dekat pintu depan, mengenakan pakaian serba hitam yang anggun dan mahal. Kerudung hitam bersulam benang emas membingkai wajahnya yang halus tanpa kerut.

Tak ada lelehan air mata di pipinya. Tak ada suara isak tangis yang biasa meratapi kepergian seorang buah hati. Wajah wanita itu sehalus porselen, namun tatapan matanya kosong, dingin, dan benar-benar hampa.

Beberapa wanita tetangga mendekat, memeluk Bu Retno seraya menyampaikan rasa duka yang mendalam.

"Sabar ya, Mbak Retno ... cobaan ini pasti berat sekali, belum ada sebulan Bayu pergi, sekarang Pertiwi ...." Tangis seorang tetangga pecah seraya meremas tangan Bu Retno.

Bu Retno hanya mengangguk pelan. Senyum kaku—hampir menyerupai cetakan kawat—terukir di bibirnya yang dipoles lipstik merah tipis.

"Sudah takdirnya, Mbak. Anak-anak cuma titipan. Kalau sudah waktunya diambil, ya harus ikhlas. Yang penting warung tetap harus jalan."

Kalimat itu meluncur dari bibir Bu Retno tanpa getaran emosi sedikit pun. Suaranya datar, monoton, bagaikan pita rekaman tua yang diputar berulang-ulang.

Tetangga yang memeluknya perlahan melepaskan pelukan dengan dahi berkerut bingung, merasa bulu kuduk mereka berdiri menyaksikan ketenangan yang tak wajar dari seorang ibu yang baru saja kehilangan anak keduanya.

Galang beranjak berdiri, melangkah dengan napas memburu mendekati ibunya. Ia menarik lengan ibunya sedikit menjauh dari kerumunan pelayat, membawanya ke sudut lorong yang agak sepi.

"Ibu ...," bisik Galang, suaranya bergetar menahan amarah dan tangis yang berbaur menjadi satu. "Ibu nggak sedih? Ini Pertiwi, Bu! Anak perempuan Ibu sendiri! Ibu bahkan sama sekali nggak nangis. Kalau Ibu udah gak peduli sama anak Ibu, minimal masih punya empati."

Bu Retno memutar kepalanya lambat-lambat. Matanya yang redup menatap Galang tanpa ada pijar kehangatan naluri seorang ibu.

"Kenapa harus menangis, Galang?" sahut Bu Retno pelan, begitu tenang hingga rasanya mengerikan. "Menangis tidak akan menghasilkan uang. Menangis tidak akan membuat kuali di dapur terisi. Pak Sapta sudah bilang, Pertiwi sudah tenang. Dia sudah menjalankan tugasnya untuk keluarga ini."

"Tugas?!" jerit Galang tertahan, mencengkeram kedua bahu ibunya dengan gemetar. "Tugas untuk jadi tumbal?! Ibu sudah gila! Otak Ibu sudah dicuci sama lelaki tua itu! Ibu ditumbalkan secara perlahan tanpa Ibu sadari!"

"Jaga mulutmu, Galang!"

Suara bariton yang berat memotong perdebatan mereka. Pak Sapta muncul dari balik pintu tengah, mengenakan kemeja batik tenun berwarna gelap dan kacamata berbingkai emas yang berkilau disiram cahaya pagi. Di tangannya, tongkat berkepala naga itu terpatri kokoh.

Pak Sapta melangkah mendekat, merangkul bahu Bu Retno dengan gestur protektif yang dipamerkan di depan para pelayat.

"Ibumu sedang berusaha tegar di depan orang banyak, Galang. Jangan menambah bebannya dengan tuduhan-tuduhan liar."

"Ibu bukan tegar, dia sudah tidak punya jiwa!" sembur Galang seraya menunjuk wajah Pak Sapta. "Kamu yang membunuh Pertiwi! Kamu yang menanam tanah kuburan Mas Bayu di bawah kasir!"

Beberapa tetangga di ruang tamu mulai menoleh, berbisik-bisik mendengar ucapan histeris Galang. Pak Sapta tidak panik sedikit pun. Pria paruh baya itu justru menghela napas panjang, memasang raut wajah prihatin penuh kasih sayang seorang ayah tiri.

"Anak ini benar-benar sudah terguncang jiwanya karena ditinggal dua saudaranya," kata Pak Sapta keras-keras agar terdengar oleh para pelayat di ruang tamu. "Kasihan sekali. Nanti setelah pemakaman selesai, kamu harus istirahat total, Galang. Jangan biarkan duka membuat otakmu berhalusinasi."

Pak Sapta maju satu langkah, memiringkan kepalanya, lalu berbisik di telinga Galang, "Kalau perlu, kamu berobat ke rumah sakit jiwa. Saya siap mengantar kamu."

Belum sempat Galang membalas, Bu Retno lebih dulu menyela. Ia mengangguk kaku menyetujui ucapan Pak Hendra.

"Iya, Galang ... kamu istirahat saja. Biar Ibu dan Pak Sapta yang mengurus pemakaman dan warung."

Galang mengepalkan tangannya kencang. Ia menyadari permainan halus Pak Sapta. Pria itu sengaja membangun narasi bahwa Galang sedang terganggu jiwanya akibat duka beruntun, sehingga apa pun tuduhan yang dilontarkan Galang kelak akan dianggap sebagai ilusi orang gila.

Prosesi pemakaman dilakukan sebelum salat Jumat. Jenazah Pertiwi diusung menyusuri jalan desa menuju TPU yang sama tempat Bayu dimakamkan belasan hari lalu.

Di sepanjang perjalanan menuju pemakaman, hal mengerikan kembali terjadi. Warung Nasi Broto di pinggir jalan raya tetap beroperasi penuh! Asap kuali mengepul tinggi ke udara, dan antrean mobil serta sepeda motor pelanggan meluber hingga memakan separuh badan jalan.

Orang-orang sibuk menyantap piring-piring rawon berkuah hitam pekat, sama sekali tidak peduli pada keranda jenazah anak pemilik warung yang melintas di depan mata mereka.

Di pinggir liang lahat, saat tanah merah mulai ditumpuk menutupi jasad Pertiwi, semua orang menundukkan kepala berdoa. Isak tangis dari Mia, Rian, dan Gilang—tiga adik kecil mereka yang tak paham apa-apa—memecah keheningan TPU pinggiran Madiun itu.

Namun, Bu Retno tetap berdiri tegap di samping Pak Sapta. Matanya menatap lurus ke dalam lubang kubur yang perlahan menghilang tertutup tanah.

Tak ada satu tetes pun air mata yang jatuh membasahi pipinya. Wajahnya tetap sedingin es, seolah-olah yang sedang dikuburkan di dalam tanah itu hanyalah sebuah barang bekas yang tak lagi terpakai.

Saat ustadz selesai memimpin doa dan para pelayat mulai membubarkan diri, Pak Sapta merogoh saku kemejanya. Di hadapan tanah kuburan Pertiwi yang masih basah dan ditaburi kembang tujuh rupa, Pak Sapta menarik selembar kain linen putih kusam kecil.

Tanpa diketahui oleh orang lain selain Galang yang memperhatikan dari jarak beberapa meter, Pak Sapta berlutut pura-pura mengusap nisan kayu Pertiwi.

Jemari pria tua itu dengan cepat mengeruk segenggam tanah merah yang masih segar dari atas makam Pertiwi, lalu membungkusnya rapat-rapat ke dalam kain linen tersebut.

Pak Sapta mengikat bungkusan tanah kuburan baru itu dengan benang lawe merah, menyisipkannya kembali ke dalam saku dalam kemejanya seraya mengukir senyum puas yang teramat tipis.

Galang mematung di tempatnya berdiri. Darahnya mendidih hingga rasanya ingin meledak.

1
Its just a lunch
klo cuma mau nginep sementara waktu,knp gak minta izin pak kyai utk nginep di pesantren sih,malah kembali pulang ke markas iblis.
wajar para kerabat pada nolak bantuin kalo taruhan nya nyawa dan keluarga mrk.
kinoy
ni gmn sih masa mati smua
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kenapa Galang tidak minta ijin Kyai buat nginep di padepokan ya saja ya .... Biar ada yang membantu dia menghadapi datangnya malam Jumat Kliwon
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ini serius Galang tidak membawa Gilang pergi dari rumah ?
Serius Galang akan menantang datangnya malam Jumat kliwon?
Serius Galang pasrah saja....
Asphia fia
yg menang banyak Sapta Thor anak Retno mati semua, sedang Retno jg jiwanya telah mati siapa yg akan menikmati kekayaan & kekayaan nya klo bukan sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lantas ... kenapa saat itu Juga pakk kyai tidak membantu Galang untuk pergi segera dasi tanah Jawa ini, jika memang itu satu satunya jalan.
Kenapa pakk kyai tidak membantu Galang, yang belum dewasa untuk menyelesaikan ini sendiri.
Asphia fia
apa dr p.broto dan Bu Retno gk ada keluarga Thor ko GK ada yg peduli
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tidak adakah tempat bernaung dan berlindung buat Galang menyelamatkan Gilang dari rumah itu???????
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Disini ga diceritain soal reaksi warga yang melihat kematian anak pakk Broto secara berurutan dan dalam jarak waktu yang dekat , Thor ??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lagi .... dan lagi
Galang harus menyaksikan sisa saudaranya diambil gilirannya menjadi tumbal.

come on, Galang !
jangan diam saja .
Do something to save your little brother "Gilang".
kinoy
PGN komen kasar sbnrnya ke si Sapta ma si Retno .iblis kalian..Galang jg mst y CPT cari cara lain..dah tau pesugihan nyari ustad donk BKN dilawan sndr..maaf y KK otor. AQ gemes baca y&lama2 g sanggup..kyknya KLO msh kyk gini nunggu abis anak si Retno mati smua AQ ijin skip dl baca. jujur g sanggup baca y..maaf y
kinoy
edan..dah jls mengakui pesugihan ..menuntut tumbal
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
kasihan kondisi Rian dan Gilang.
masih kecil tapi diliputi ketakutan karena gangguan ghaib.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Mau menjerit sampai melengking ,
mau kamu menangis darah,
Buu Broto ga akan sadar dengan ucapan dan tindakannya, Galang .....
Dia dalam pengaruh ghaib Mbah Mangu.
kinoy
ALLAHU RABBI..KA Anna..blm muncul kah sosok yg BS nyelametin mrk yg tersisa..ato EMG bkl dibabad abis tuh keturunan
Shankara Senja
buat Galang..klo belom punya ilmu mumpuni..jangan coba coba ngelawan iblis ya...nnt yg ada mlh kamu yg celaka..terus gmn nasib adik adik mu..berguru dulu jgn emosi
kinoy
AQ baca y SKT hati y..kasian ATH KLO Rian&gilang bnr2 ditumbalin mah..gd yg BS nolongin gt..bantuin Galang..tetangga sekitar gmn..KK otor tolongin donk..mewek AQ ni😭
kinoy
hs yg ba nolongin Galang&adik2nya gt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lantas ..... apa yang akan kau lakukan, Galang .... untuk menyelamatkan Rian dan Gilang ?

Apakah pesugihan yang diambil bapakmu tidak bisa diputuskan ???
Dan tetapp harus dituntaskan dengan mengambil 2 nyawa yang tersisa , yaitu Rian dan Gilang ????
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kasihan Rian dan Gilang 😭
Mereka masih kecil
Tapi nyawa mereka sudah digadai oleh pesugihan yang dianut bapaknya sendiri.
Tinggal giliran Rian ..... Dan selanjutnya Gilang.
🥺🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!