Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sinar matahari pagi perlahan merayap masuk lewat celah tirai koridor rumah sakit, menggantikan pekatnya malam yang penuh trauma bagi Rimba.
Pria itu masih setia berdiri di balik kaca transparan ICU dengan mata merah dan kemeja yang kusut, tak berpaling sedetik pun dari sosok Dayang.
Tiba-tiba, bunyi tut-tut pada monitor detak jantung di dalam ruangan berubah ritme—suaranya terdengar lebih cepat dan konstan.
Garis grafik yang semula datar melemah kini meliuk naik menunjukkan lonjakan aktivitas otak dan kesadaran.
Di atas ranjang, jemari tangan kanan Dayang yang semula terkulai kaku perlahan bergerak halus, meremas seprai putih tempat tidurnya.
"Bang Jaka! Lihat!" panggil Rimba histeris, menunjuk kaca dengan tangan bergetar.
Bang Jaka yang tertidur ayam di kursi tunggu langsung meloncat berdiri.
"Jarinya, bergerak, Rim!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Rimba memutar badan dan berlari kencang menyusuri koridor.
"Dokter! Dokter! Pasien di ICU sadar!" teriak Rimba memecah ketenangan pagi rumah sakit.
Hanya dalam hitungan belasan detik, dokter spesialis beserta dua perawat senior berlari memasuki ruang ICU.
Rimba dan Bang Jaka menempelkan wajah dan telapak tangan mereka pada kaca, menyaksikan dengan dada bergemuruh saat dokter menyorotkan senter kecil ke pupil mata Dayang.
Kelopak mata Dayang yang terpejam rapat perlahan-lahan bergerak.
Dengan sangat perlahan dan berat, mata yang selalu memancarkan keteguhan itu akhirnya terbuka sedikit, menyesuaikan dengan silau lampu ruangan.
"Refleks pupil dan respons motoriknya sangat baik," ujar dokter saat keluar dari ruangan beberapa menit kemudian dengan senyum lega.
"Masa kritis pendarahan dalam sudah lewat. Pasien sudah sadar penuh, meski kondisinya masih sangat lemah."
Dokter menatap Rimba dan Bang Jaka bergantian.
"Satu orang boleh masuk menemani, tapi tolong jaga suasana agar pasien tidak stres."
Bang Jaka menepuk bahu Rimba dengan lembut. "Masuklah, Rim. Kamu yang paling butuh bicara sama dia."
Dengan langkah bergetar dan napas tertahan, Rimba mengenakan gaun steril, mendorong pintu kaca ICU, dan melangkah mendekati ranjang tempat Dayang berbaring.
Langkah kaki Rimba terasa amat berat saat mendekati ranjang.
Ia berlutut di samping tempat tidur, perlahan meraih jemari kanan Dayang yang terasa dingin dan menyatukannya dalam genggaman kedua tangannya yang bergetar.
"Dayang," bisik Rimba, suaranya pecah. Air mata yang sejak kemarin ditahannya kini menetes deras, membasahi punggung tangan Dayang.
"Maafkan aku, Dayang. Aku salah. Aku mohon, maafkan aku."
Dayang yang masih terpasang selang oksigen tipis di hidungnya bergerak pelan.
Kelopak matanya yang sayu menatap sosok pria yang berlutut di sampingnya.
Pria yang kemarin berdiri gagah dengan jas mahalnya di ruang kerja megah itu, kini tampak begitu rapuh dan hancur di hadapannya.
Namun, bayangan kebohongan, rasa terkhianati, dan kekecewaan yang teramat dalam kembali menyeruak memenuhi dada Dayang.
Jemari tangannya yang berada dalam genggaman Rimba bergetar pelan, mencoba menarik diri meski tenaganya masih amat lemah.
"B-bohong," bisik Dayang sangat lirih, suaranya parau dan terputus-putus di balik masker oksigen.
Dayang perlahan memalingkan wajahnya ke arah dinding, menolak untuk menatap wajah Rimba.
Setiap tatapan pria itu kini hanya mengingatkannya pada betapa bodohnya ia telah menyerahkan seluruh ketulusan hatinya pada sebuah penyamaran.
Rimba memejamkan mata erat-erat, meresapi rasa perih yang menjalar di dadanya saat Dayang menolak kehadirannya.
Tak berselang lama, tim perawat masuk ke dalam ruangan untuk mengecek tanda-tanda vital Dayang.
Karena kondisi pendarahan dalamnya yang sudah stabil dan masa kritis telah terlewati, dokter memberi izin agar Dayang segera dipindahkan dari ICU ke ruang perawatan umum.
Rimba langsung menghampiri kepala perawat dan dokter spesialis yang menangani.
"Tolong pindahkan Dayang ke ruang perawatan VVIP terbaik yang dimiliki rumah sakit ini," panggil Rimba dengan suara tegas namun sarat akan kelelahan.
"Lengkapi semua fasilitasnya dan siapkan tim perawat khusus 24 jam."
Dokter mengangguk paham. "Baik, Pak Rimba. Kami akan segera menyiapkan kamar VVIP di lantai paling atas."
Beberapa saat kemudian, brankar Dayang didorong keluar dari ICU menuju ruang perawatan VVIP yang tenang, luas, dan dilengkapi fasilitas medis paling modern untuk mendukung pemulihannya.
Pintu ruang perawatan VVIP yang tenang itu terbuka pelan saat brankar Dayang didorong masuk.
Setelah perawat memindahkan tubuh Dayang ke atas ranjang dan menyelaraskan peralatan medis, suasana kamar mendadak hening.
Dayang mengalihkan pandangannya dari plafon kamar, menatap Bang Jaka yang berdiri paling dekat di sisi ranjangnya.
"Bang," panggil Dayang dengan suara parau dan lemah di balik masker oksigennya.
Bang Jaka langsung membungkuk pelan, meremas lembut jemari Dayang.
"Iya, Nduk? Ada apa? Apa yang sakit?"
"Bang, tolong jual lapakku di pasar ya." bisik Dayang.
Kata-kata itu meluncur begitu tenang, namun dampaknya bagaikan hantaman petir yang mengguncang isi ruangan.
Rimba dan Bang Jaka seketika terkejut setengah mati, membelalakkan mata tak percaya.
Lapak pasar itu adalah warisan almarhum ayahnya, napas hidupnya, dan harga diri Dayang selama ini.
"Kenapa dijual, Nduk?!" tanya Bang Jaka dengan suara memburu, raut wajahnya diliputi kepanikan dan kebingungan luar biasa.
Dayang perlahan melirik ke arah Rimba yang berdiri kaku di ujung ranjang.
Sorot mata gadis itu begitu dingin, tanpa ada lagi binar kehangatan yang dulu selalu menyapa sang kuli panggul.
"Bang, aku butuh uang buat membayar Tuan Rimba yang terhormat," ucap Dayang lirih namun sarat akan rasa sakit hati yang amat dalam.
"Biaya rumah sakit ini, dan semua hal yang sudah dia keluarkan. Aku tidak mau utang budi sepeser pun sama orang kaya."
DEGG!
Panggilan 'Tuan Rimba yang terhormat' menghantam tepat di ulu hati Rimba.
Pria itu menyandarkan punggungnya ke dinding, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Lidahnya kufur, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun membela diri.
Rasa malu dan penyesalan meremukkan seluruh keangkuhan sang CEO hingga ia merasa tak lebih dari seorang pesakitan di hadapan gadis itu.
Bang Jaka mendesah berat, matanya mengembun menatap Dayang yang begitu keras kepala dalam luka hatinya.
Pria tua itu mengusap lembut dahi Dayang dengan penuh kasih sayang.
"Nduk, kamu harus istirahat dulu ya," tutur Bang Jaka lembut, mencoba menenangkan gejolak emosi di dada gadis itu.
"Masalah itu gampang, nanti kita bicarakan lagi kalau kamu sudah sehat. Yang penting sekarang kamu sembuh dulu."
Rimba memberanikan diri melangkah pelan, lalu menarik kursi kayu di samping ranjang tempat Dayang terbaring.
Dengan dada yang terasa sesak dan berat, sang CEO duduk di sana, menatap wajah pucat wanita yang terbalut selang medis dan balutan gips di kakinya.
Dayang yang merasakan pergerakan di sisinya perlahan memutar kepala.
Begitu matanya menangkap sosok Rimba, tatapannya membeku seketika.
Tak ada lagi binar kehangatan atau senyum tulus yang dulu selalu menyambut 'Bima' sang kuli panggul—hanya ada keheningan dingin yang menusuk.
"Buat apa kamu di sini, Tuan Rimba?" tanya Dayang lirih, suaranya parau dan terputus-putus di balik masker oksigennya.
Rimba mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas lutut, menundukkan kepala tak sanggup menatap langsung mata Dayang yang memerah.
"Dayang, izinkan aku di sini menjaga kamu..." bisik Rimba dengan suara bergetar dan parau.
Dayang mengulas senyum sinis yang sarat akan kepedihan. Ia memalingkan wajahnya kembali menatap plafon kamar VVIP yang serbaputih.
"Aku tidak butuh pembohong seperti kamu," potong Dayang dingin, kata-katanya bagai sembilu tajam yang langsung menancap di ulu hati Rimba.
"Pergi. Tuan Rimba yang terhormat ndak pantas ada di tempat orang seperti aku."
Air mata Rimba menetes membasahi tangannya sendiri.
Pria yang biasanya ditakuti di dunia bisnis itu kini hanya bisa duduk membisu dalam kehancuran, menerima setiap kata rajam dari wanita tulus yang telah ia lukai secara mendalam.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂