Indonesia
NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Moral TataKrama

Setelah mobil Nala melaju meninggalkan basement apartemen tersebut, Junho melirik putranya yang masih berlinang air mata.

“Adeul... Daddy mau ke rumah Jinwoo Samcheon. Mungkin pulang malam. Mau ikut?” tanyanya. Sejak semalam, memang sudah ada rencana untuk datang ke rumah Jinwoo.

Anak itu diam cukup lama pandangannya tertuju pada jalan di depan, sementara sesekali ia mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Hingga akhirnya, ia mengangguk, mengiyakan ajakan ayahnya. Bagaimanapun, ia tidak ingin ditinggal sendirian di rumah.

“Baiklah... gaja,” ajaknya sambil menuntun bocah itu menuju mobilnya.

Mobil hitam itu pun melaju pelan meninggalkan kawasan apartemen, menyatu dengan arus kendaraan sore yang mulai padat. Lampu-lampu kota Nonhyeon-dong menyala satu per satu, memantul di kaca jendela seperti kilau yang dingin, tetapi tertata.

Di dalam mobil, suasana justru jauh lebih hening Jun-seok duduk tegak di kursi depan, punggungnya menempel rapi pada sandaran. Kedua tangannya bertumpu di paha, jemarinya saling bertaut sebuah kebiasaan kecil yang selalu muncul ketika ia berusaha menenangkan diri. Matanya masih merah, sisa air mata belum sepenuhnya kering, meski napasnya sudah kembali stabil.

Junho melirik sekilas ke arah putranya, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalan tanpa berkata apa-apa ia sangaja tidak terburu-buru menenangkan, tidak pula memaksakan percakapan. Karena Junho tahu, bagi anak seusia Jun-seok, terkadang kehadiran jauh lebih berarti daripada kata-kata.

Beberapa menit berlalu sebelum suara kecil itu kembali terdengar.

“Daddy…”

“Hm?” Junho menanggapi tanpa menoleh, suaranya rendah dan stabil.

“Nanti… beli es krim dulu, ya. Untuk Yul juga,” pintanya, membuat Junho mengangguk ringan.

“Boleh. Tapi satu saja buat kamu lalu kita bawa pulang untuk Yul,” jawab Junho.

Jun-seok mengangguk cepat tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis, meskipun bukan senyum penuh, tetapi cukup untuk menandakan bahwa suasana hatinya mulai membaik. Tak lama mobil mereka berhenti di sebuah toko es krim artisan di pinggir jalan—tempat yang tenang dengan etalase kaca bersih dan lampu kuning hangat. Junho turun lebih dulu, kemudian membuka pintu untuk Jun-seok dengan gerakan refleks yang nyaris otomatis.

Di dalam toko, udara dingin langsung menyambut mereka. Jun-seok berdiri di depan etalase, matanya menyapu deretan rasa dengan serius, seolah sedang mempertimbangkan sebuah keputusan besar.

“Vanilla atau cokelat?” tanya Junho.

Jun-seok berpikir sejenak hingga akhirnya tersenyum kecil.

“Vanilla karena Mommy suka itu. Yang cokelat untuk Yul. Dia selalu bilang vanilla itu ‘terlalu dewasa’. Daddy mau apa?” tanyanya, membuat Junho menahan senyum kecil.

“Kamu hafal betul selera sepupumu... Daddy tidak makan es krim malam ini. Kamu saja dan Yul,” jawabnya, membuat Jun-seok mengangguk.

Junho memesan es krim dengan tenang, lalu setelah es krim dibungkus rapi dalam wadah pendingin kecil, ia langsung membayar, lalu mengajak Jun-seok menunggu sebentar di mobil. Ia kemudian berjalan menuju toko kue yang tidak jauh dari sana.

Sebuah pâtisserie kecil dengan jendela kaca besar dan aroma mentega yang lembut. Beberapa cake tersusun rapi di balik etalase, diterangi lampu hangat yang membuat permukaannya tampak semakin menggugah selera.

Junho memilih sebuah cake sederhana berukuran sedang, dengan dekorasi minimalis dan beberapa buah segar di atasnya. Tidak berlebihan namun cukup tepat sebagai buah tangan untuk kunjungan malam yang sebenarnya sudah direncanakan sejak sebelumnya, meski tidak dalam waktu yang panjang.

Perjalanan dilanjutkan menuju Cheongdam-dong, jalanan di kawasan itu lebih lengang dan tertata, dengan deretan bangunan yang berdiri anggun dalam kesunyian khas lingkungan residensial kelas atas. Lampu-lampu jalan menciptakan garis cahaya panjang di atas aspal, sementara pantulannya sesekali menyapu kaca mobil yang bergerak tenang di antara bangunan-bangunan yang mulai redup oleh malam.

Jun-seok menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, menatap keluar jendela. Sesekali, ia melirik ke arah kantong es krim di kursi belakang, memastikan benda itu masih aman di tempatnya.

“Daddy…” panggilnya lagi, kali ini lebih pelan.

“Ya?”

“Kalau nanti Yul tanya… Mommy ke mana?” tanyanya, membuat Junho terdiam sejenak. Tangannya tetap mantap menggenggam setir, tetapi rahangnya mengeras tipis.

“Mommy sedang bekerja,” jawabnya akhirnya. Jujur, singkat, tanpa detail yang belum perlu dipahami. Jun-seok mengangguk seolah menerima jawaban itu tanpa pertanyaan lanjutan, karena tanpa banyak penjelasan pun, dia sudah mempercayai ayahnya.

“Daddy... Kenapa Daddy beli cake untuk Yul? Itu untuk kesopanan?” tanyanya, membuat Junho mengangguk pelan.

“Tepat. Saat kita datang ke rumah orang, kita sebaiknya membawa sesuatu. Ada aturan tidak tertulis bagi orang dewasa yang disebut adab dan etika, dan kita harus mematuhinya,” jelas Junho.

Jun-seok terdiam cukup lama tampak mencerna penjelasan itu, lalu menoleh kepada ayahnya dengan dahi sedikit berkerut.

“Kalau kita tidak mematuhinya? Kita akan dihukum?” tanya Jun-seok, berusaha memahami maksud perkataan ayahnya.

Junho tidak langsung menjawab sengaja membiarkan jeda kecil menggantung di antara mereka, sementara matanya tetap tertuju pada jalan di depan. Ada banyak cara untuk menjelaskan hal itu, tetapi ia tidak ingin memberikan jawaban yang terlalu rumit untuk anak berusia sepuluh tahun.

“Tidak selalu dalam bentuk hukuman, tetapi sering kali yang terjadi bukan dihukum oleh orang lain, melainkan oleh keadaan,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan stabil.

Jun-seok mengerjap, lalu menggeser tubuhnya sedikit agar menghadap ayahnya. Malam di luar jendela bergerak perlahan, lampu-lampu jalan memantul di matanya yang jernih.

“Keadaan seperti apa, Daddy?” tanyanya.

“Seperti... pintu yang tidak terbuka atau percakapan yang berhenti sebelum sempat dimulai. Orang-orang mungkin tetap tersenyum, tetap sopan, tetapi jaraknya terasa bahwa kita tidak diterima sepenuhnya,” jawab Junho tenang.

Jun-seok terdiam seperti sedang memproses kalimat itu dengan serius. Alisnya sedikit berkerut, sementara bibirnya mengatup rapat. Cara yang sama seperti ketika ia mempelajari nada-nada piano yang belum ia kuasai. Tanpa disadari, ekspresinya benar-benar menyerupai Junho ketika pria itu sedang berpikir keras.

Junho tersenyum tipis saat menyadari kemiripan tersebut.

“Jadi, adab itu... supaya pintu tidak tertutup?” gumamnya ragu.

Junho melirik sekilas, senyum tipis masih terselip di sudut bibirnya.

“Bisa dibilang begitu,” balas Junho.

Mobil berbelok mulus di tikungan menuju kompleks Cheongdam-dong. Rumah-rumah besar berdiri anggun, tersembunyi di balik pagar dan pepohonan yang dirawat dengan cermat. Kesunyian kawasan itu terasa tertib—bukan kosong, melainkan terjaga.

“Adab dan etika adalah cara kita menghormati ruang orang lain, bukan karena kita lebih rendah dan bukan pula karena kita takut. Namun, karena kita sadar... setiap orang punya batas,” lanjut Junho.

Jun-seok mengangguk pelan, tangannya terlipat di pangkuan, bahunya kecil, tetapi sikapnya sudah menyerupai seseorang yang sedang mendengarkan sebuah wejangan penting.

“Kalau lupa bawa cake?” tanyanya kemudian. Suara kecilnya nyaris bercampur dengan dengung mesin mobil yang terdengar konstan di antara kesunyian kabin. Junho tersenyum lagi—kali ini sedikit lebih jelas, seolah pertanyaan sederhana itu justru membuatnya teringat pada sesuatu.

“Kalau lupa, kita minta maaf, lalu kita ingat untuk lain kali dan jangan ulangi lagi... Seok tahu, kan, Daddy selalu bilang lupa itu manusiawi. Tapi, jika lupa itu terus berulang... berarti kita—” Ucapannya terhenti.

“Sengaja.” Jun-seok menyela cepat.

Junho mengangguk pelan, sudut bibirnya masih terangkat tipis.

“Dan kalau tidak minta maaf?” desak Jun-seok, masih ingin memastikan.

“Maka kita bukan sedang melanggar aturan, melainkan mengabaikan perasaan orang lain. Itu yang membuat hubungan retak, Jun-seok. Bukan kesalahannya melainkan sikap setelah kesalahan itu terjadi,” jawab Junho lembut, tetapi tetap tegas.

Jun-seok menelan ludah namun pandangannya kembali lurus ke depan, mengikuti garis jalan yang sesekali diterangi lampu kendaraan dari arah berlawanan. Setelah beberapa saat, ia perlahan mengangguk sekali lagi, seolah menyimpan penjelasan itu di dalam kepalanya.

“Daddy selalu mikir jauh... Aku kadang bingung...” katanya polos.

Junho terkekeh pendek suaranya rendah, nyaris tenggelam di antara suara mesin mobil.

“Tidak selalu. Daddy hanya berusaha belajar dari apa yang pernah Daddy salahkan,” jawabnya.

Kalimat itu membuat Jun-seok kembali menoleh tatapannya tertuju pada sang ayah dengan rasa ingin tahu yang lebih dalam seolah ada sesuatu di balik perkataan Junho yang belum sepenuhnya ia pahami. Namun, anak itu memilih diam.

“Mommy juga pasti bingung kalau Daddy bicara seperti ini,” ucapnya kemudian.

Junho menggeleng pelan.

“Tidak... Dia mengerti. Dia orang yang paling mengerti dan selalu mengerti Daddy luar dalam,” katanya tanpa sadar.

Jun-seok kembali menoleh kepada ayahnya, dahinya sedikit berkerut. Ada sesuatu dalam cara Junho mengucapkan kalimat itu yang membuatnya penasaran, tetapi ia tidak benar-benar memahami maksudnya. Namun, untuk kali ini, Jun-seok memilih tidak bertanya karena memang dia tidak mengerti.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang nyaman. Hanya suara mesin mobil dan gesekan ban dengan aspal yang terdengar samar, menemani perjalanan mereka.

“Daddy,” panggilnya lagi, kali ini suaranya lebih pelan.

“Ya?”

“Kalau aku dewasa nanti… aku juga harus ingat adab itu?” tanyanya, nyaris seperti sebuah janji kecil pada dirinya sendiri. Junho mengangguk pelan tatapannya tetap tertuju pada jalan di depan, tetapi senyum tipis muncul di wajahnya.

“Iya. Tapi lebih dari itu, ingatlah niatnya. Adab tanpa niat hanyalah kebiasaan. Niat tanpa adab sering melukai. Daddy dan Mommy ingin kamu menjadi pria yang memiliki dua hal itu,” jawabnya.

“Daddy ribet,” katanya lirih.

Junho tertawa singkat bahunya yang sejak tadi sedikit tegang tampak mengendur.

“Mungkin. Tapi dunia orang dewasa memang tidak pernah sesederhana pilihan vanilla atau cokelat,” balasnya sembari tersenyum.

Jun-seok ikut tersenyum namun setelah itu, pandangannya kembali beralih ke kursi belakang—tepat ke arah kantong es krim yang masih tersimpan dengan aman.

“Untung Yul hanya ribet soal rasa,” katanya.

Junho kembali terkekeh pelan. Untuk beberapa saat, percakapan sederhana itu membuat suasana di dalam mobil terasa jauh lebih ringan. Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan halaman kecil yang terawat. Lampu teras menyala terang, sementara jendela ruang tamu memancarkan cahaya hangat ke halaman depan.

Rumah Jinwoo selalu terasa hidup, bahkan dari luar, ada kehangatan yang berbeda dari rumah itu; sederhana, tenang, tetapi cukup untuk membuat siapa pun yang datang merasa seperti sedang pulang.

Begitu Junho mematikan mesin mobil, pintu depan rumah terbuka. Ia dan Jun-seok turun, lalu membawa barang-barang yang tadi mereka beli. Jun-seok melangkah lebih dulu dengan antusias, menyambut Yul yang langsung berlari kecil ke arahnya.

“Hyung! Akhirnya datang juga!” Suara Yul terdengar nyaring, diikuti langkah cepatnya yang semakin mendekat. Jun-seok melepaskan tangan yang sejak tadi dituntun Junho, lalu berjalan lebih dulu sambil membawa kantong es krim dengan hati-hati.

“Yul...”

“Hyung!” seru Yul ceria.

Kedua bocah itu langsung berpelukan, seolah-olah mereka adalah sahabat karib yang sudah berpisah selama bertahun-tahun. Tawa Yul terdengar lepas, sementara Jun-seok ikut tersenyum lebar.

Junho yang melihatnya hanya tersenyum, lalu menggeleng pelan. Ada kehangatan kecil yang menyusup ke dalam dadanya melihat putranya kembali tertawa setelah beberapa waktu lalu masih menangis di dalam mobil. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Jinwoo dan istrinya, Seo Mira, yang berdiri menunggu di teras.

“Aku pikir kau bercanda akan datang,” ucap Jinwoo sembari merangkul sahabat yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.

“Ya... Ada hal yang ingin aku bicarakan,” jawab Junho.

Setelah itu, ia menundukkan kepala sedikit ke arah Mira.

“Malam, Noona,” sapanya sembari menyodorkan kotak kue yang sejak tadi dibawanya. Mira menerimanya dengan kedua tangan, lalu menatap kotak tersebut dengan sedikit penasaran.

“Apa ini?” tanyanya sopan.

“Hanya cake. Tadi sekalian membeli es krim untuk Seok,” jawab Junho.

Mira mengangguk pelan.

“Terima kasih banyak, Junho-ya,” ucap Jinwoo dari samping.

Junho hanya mengangguk ringan.

“Ayo masuk. Seok... Yul... Ayo masuk dan main di dalam,” ajak Mira kepada kedua bocah yang masih asyik tertawa sambil membawa kotak es krim masing-masing.

Tanpa perlu diminta dua kali, Yul langsung menarik tangan Jun-seok menuju ke dalam rumah. Tawa mereka kembali terdengar di sepanjang lorong, meninggalkan Junho, Jinwoo, dan Mira di teras untuk beberapa saat.

Mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa hangat sejak melewati ambang pintu. Aroma kayu yang bersih bercampur samar dengan wangi teh herbal memenuhi udara—ciri khas rumah Jinwoo yang selalu terawat, tidak berlebihan, tetapi tetap terasa hidup. Lampu-lampu gantung besar berwarna keemasan memantulkan cahaya lembut ke dinding, menciptakan suasana tenang yang perlahan meredam hiruk-pikuk dunia luar.

“Sepatunya di sini saja,” ucap Mira lembut sembari menunjuk rak kayu rendah di dekat pintu masuk. Jun-seok menuruti dengan sigap, melihat nya Mira membantu memegangi es krim miliknya sembari memperhatikan Jun-seok meletakkan sepatunya dengan rapi.

“Terima kasih, Imo,” ucapnya sembari kembali menerima kotak es krim itu dengan hati-hati, seolah sedang membawa sesuatu yang sangat berharga. Yul sudah lebih dahulu melangkah masuk dia menoleh sambil tersenyum lebar.

“Hyung, kita main di ruang musik. Eomma bilang boleh,” bisiknya penuh semangat.

Jun-seok menoleh singkat ke arah ayahnya untuk meminta izin , begitu Junho mengangguk kecil—izin tanpa kata baginya sudah cukup. Kedua bocah itu pun beranjak pergi dengan cepat, tetapi tetap terkontrol, seolah sudah memahami aturan rumah ini tanpa perlu diingatkan.

“Seok makin tinggi. Cara jalannya juga makin mirip denganmu,” komentar Mira sambil memperhatikan punggung kedua bocah itu yang semakin menjauh.

Junho tersenyum tipis.

“Ia cepat belajar dari lingkungannya,” jawab Junho pelan.

“Kalian duduk dulu. Aku buatkan teh,” sambung Mira, seolah memahami bahwa kedatangan Junho malam ini mungkin bukan sekadar kunjungan biasa. Ia kemudian menoleh kepada kedua pria itu tatapannya sempat berhenti pada sosok yang berdiri di samping suaminya.

“Oh, iya... Di mana Nala?” tanyanya setelah menyadari bahwa sejak tadi ia tidak melihat wanita itu.

“Dia sedang ada pekerjaan, jadi tidak bisa ikut,” jawab Junho.

Mira mengangguk namun tidak bertanya lebih jauh karena tatapan singkat yang diberikannya kepada Junho seolah menangkap sesuatu yang tidak diucapkan pria itu. Jinwoo menepuk bahu Junho ringan.

“Ruang kerja. Kita ke sana,” ajaknya.

Junho mengangguk, lalu mengikuti langkah sahabatnya menuju ruang kerja. Di belakang mereka, suara tawa kedua bocah masih terdengar samar dari arah ruang musik.

1
Namira Mara
Nala kaya perempuan zaman batu aja deh lawan ke Nala lawan
Ramapratama
Junho nyebelin nya awet bahkan setelah 13 tahun berlalu 🤭
Namira Mara
🤣🤣🤣🤣🤣 mimpi bisa barengan gitu 😭
Namira Mara
Junho ternyata gak berubah Thor, tetep dia yang sama nyebelin nya. 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!