Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Mencari Alasan
Sam memegangi perutnya dengan raut wajah yang mendadak meringis heboh. "A-aduh, Mbak Tia! Perutku mendadak mulas banget ini! Kayaknya gara-gara sambal terasi nasi goreng tadi!"
Tanpa menunggu balasan dari Tia yang masih melongo dengan mata basah, Sam melompat berdiri dan berlari mengangkang secepat kilat menuju kamar mandi.
Brak!
Pintu kamar mandi terkunci rapat. Sam menyandarkan punggung tegapnya di balik pintu kayu, menghembuskan napas panjang yang ditahannya sejak tadi. Jemari kekarnya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pening.
"Hampir saja..." bisik Sam pada dirinya sendiri, dadanya berdebar liar. "Kalau Mbak Tia desak terus, bisa-bisa mulutku asal jeplak bilang kalau aku ini miliarder pemilik Norman Corp! Mana mungkin aku bilang 'aku mau jadi suamimu karena aku cinta'? Bisa-bisa dia makin heran dan curiga!"
Sementara di ruang tamu, Tia terpaku menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Air mata di pipinya perlahan mengering, berganti dengan rona merah tipis yang merayap hingga ke ujung telinganya.
Kalimat Sam tadi terus bergema tanpa henti di kepalanya: 'Aku tidak peduli Mbak Tia punya uang atau tidak... Aku tidak bakal pergi ke mana-mana. Aku bakal tetap di sini, jadi suami Mbak Tia.'
Tia menggigit bibir bawahnya. Dengan perasaan bercampur aduk antara canggung, haru, dan bingung, ia membereskan piring-piring di meja, lalu berjalan pelan masuk ke dalam kamar tidur.
Ia membaringkan tubuhnya terlentang di atas kasur busa tipis, menatap plafon kamar yang diterpa remang lampu tidur. Tia memeluk bantalnya erat-erat. Tanpa bisa ditahan, sebuah senyuman manis dan lebar terukir secara alami di wajah cantiknya. Jantungnya berdegup kencang bagaikan drum yang ditabuh liar.
Tia mendadak menepuk kedua pipinya keras-keras. "Astaga, Tia! Sadar! Kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri kayak remaja baru kasmaran?! Dia itu suami kreditmu! Pawang buaya yang kamu sewa lima ratus ribu per bulan!"
Namun, makin berusaha disangkal, bayangan tatapan mata Sam yang begitu tulus, hangat, dan penuh perlindungan saat berlutut di sampingnya tadi malam makin jelas terbayang. Tia menutup wajahnya dengan bantal, tertawa pelan dalam kepasrahan bahwa hatinya kini telah luluh sepenuhnya pada sang suami sewaan.
Di luar kamar, Sam mengintip pelan dari celah pintu kamar mandi yang dibuka sedikit. Setelah memastikan situasi aman dan suasana kontrakan sudah hening, Sam merayap keluar dengan langkah tanpa suara. Ia melihat pintu kamar Tia sudah tertutup rapat.
Sam menarik napas lega, lalu menjatuhkan tubuh tegapnya di atas sofa ruang tamu. Ia meluruskan kakinya yang panjang, menyilangkan kedua tangan di belakang kepala, dan menatap langit-langit kontrakan yang berdebu.
Semakin berusaha Sam mencari alasan logis di dalam kepalanya, kenapa seorang pewaris konglomerat beraset puluhan triliun mau repot-repot tinggal di kontrakan sempit, menyapu lantai, mengusir kecoak, dan mempertahankan pernikahan tanpa bayaran, semakin buntu otaknya. Tidak ada alasan bisnis. Tidak ada alasan investasi.
Hanya ada satu jawaban yang paling nyata, dia sudah jatuh cinta setengah mati pada majikan kreditnya itu.
Gelisah dan tak bisa tidur, Sam meraba saku celananya, mengambil ponsel canggih terenkripsi khusus yang diberikan Hendra. Pria itu menggeser layar, lalu menekan tombol panggil ke nomor sekretaris pribadinya.
Di ujung lain kota, di dalam ruang kerja mewahnya, Hendra yang sedang memeriksa laporan akuisisi saham kaget melihat telepon masuk dari sang bos muda tepat pukul 23.30 malam.
"Selamat malam, Mas Sam," sapa Hendra sigap dan profesional. "Ada darurat soal aset perusahaan atau kondisi Bapak Norman di rumah sakit?"
Sam berdehem canggung, membalikkan badannya membelakangi kamar Tia. "E-eh... bukan, Mas Hendra. Perusahaan aman, Papa juga tadi kata dokter sudah tidur tenang."
Hendra mengerutkan dahi. "Lalu ada masalah apa, Mas Sam? Perlu saya kirimkan tim pengawal ke kontrakan?"
"Bukan... ini..." Sam menggigit bibir, suaranya berubah menjadi bisikan lirih. "Mas Hendra... saya mau konsultasi. Tapi ini rahasia, jangan sampai bocor ke siapa-siapa."
Hendra langsung menegakkan posisi duduknya, memasang mode serius. "Paham, Mas Sam. Silakan. Masalah strategis apa yang sedang Mas Sam hadapi?"
"Jadi begini..." desah Sam, mengusap wajahnya yang panas. "Mbak Tia baru saja mengaku kalau dia di-PHK dan sudah kehabisan uang. Dia minta maaf karena tidak bisa bayar cicilan suami kredit lima ratus ribu lagi, terus dia menawarkan untuk mengakhiri pernikahan kontrak kita."
"Lalu, respons Mas Sam bagaimana?" tanya Hendra tekun.
"Ya aku tolaklah!" sahut Sam refleks dengan nada berapi-api. "Aku bilang, aku tidak peduli soal uang lima ratus ribu itu, dan aku bakal tetap jadi suaminya! Aku tidak mau pisah sama dia!"
Hendra terdiam tiga detik di ujung telepon, sebelum helaan napas geli yang ditahan terdengar pelan. "Lalu, letak masalahnya di mana, Mas Sam? Bukankah itu keputusan yang sangat bagus?"
"Masalahnya, Mbak Tia tadi menanyakan alasannya!" seru Sam gusar namun berbisik. "Dia heran kenapa aku masih mau bertahan padahal tidak dapat keuntungan apa-apa lagi! Aku bingung mau jawab apa, Mas Hendra! Tadi aku pura-pura mulas terus kabur ke kamar mandi!"
Hendra tak sanggup lagi menahan tawa giginya. Tawa sekretaris tegap itu pecah pelan di ujung saluran. "Mas Sam, Mas Sam... Pria yang sanggup mengambil keputusan akuisisi perusahaan triliunan rupiah dalam hitungan menit, sekarang mati kutu cuma gara-gara pertanyaan polos seorang wanita?"
"Mas Hendra jangan tertawa dong! Aku serius ini!" pangkas Sam malu setengah mati. "Aku butuh solusi! Gimana caranya aku menjelaskan ke Mbak Tia tanpa membocorkan kalau aku ini pewaris Norman Corp, tapi juga tidak kelihatan aneh?!"
Hendra berdehem meluruskan suaranya, mencoba memberi arahan terbaik sebagai mentor kehidupan sang CEO muda.
"Mas Sam..." ujar Hendra dengan nada lembut dan bijak. "Dalam dunia bisnis, jika sebuah investasi sudah tidak menghasilkan keuntungan materi, tetapi kita masih terus menanamkan modal dan waktu di sana... itu namanya bukan lagi transaksi bisnis."
"Terus dinamakan apa?" tanya Sam polos.
"Itu dinamakan investasi hati, Mas Sam," sahut Hendra tersenyum. "Mas Sam tidak perlu alasan rumit atau alibi bisnis. Katakan saja yang sejujurnya pada Mbak Tia, bahwa Mas Sam bertahan bukan karena kontrak lima ratus ribu, melainkan karena Mas Sam sudah sayang dan merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai seorang pria sejati untuk membahagiakannya."
Sam tertegun di atas sofa. Kata-kata Hendra meresap dalam-dalam ke dalam dadanya.
"Tunjukkan perhatian Mas Sam secara nyata," lanjut Hendra. "Soal utang pinjol dan pekerjaan Mbak Tia, biarkan tim kita yang mengurusnya secara halus dari belakang agar gengsi Mbak Tia tetap terjaga. Tapi soal perasaan Mas Sam... itu adalah tugas Mas Sam sendiri untuk menyampaikannya."
Sam menghembuskan napas panjang, mengulas senyuman lega di bibirnya. "Terima kasih banyak ya, Mas Hendra. Solusi Mas Hendra selalu mantap."
"Sama-sama, Mas Sam. Selamat berjuang meluluhkan hati Mbak Tia. Dan satu lagi..."
"Apa itu?"
"Tidur yang nyenyak, Mas CEO. Besok pagi ada jadwal penandatanganan berkas direksi jam sembilan," ledek Hendra sebelum menutup telepon.
Tut... tut... tut...
Sam meletakkan ponselnya di atas meja. Rasa canggung dan kebingungan yang menghimpit dadanya sejak tadi sore perlahan menguap tuntas.
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄