Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Suasana pagi di studio kumuh sayap barat terasa sangat sibuk.

Kertas-kertas partitur berserakan menutupi hampir seluruh permukaan meja kayu tua itu.

Clara sedang memegang kepalanya dengan kedua tangan sambil menatap selembar lirik yang sangat rumit.

"Kak Stevan, ini benar-benar gila," keluh Clara dengan nada putus asa.

"Menggabungkan elemen musik tradisional, rock elektronik, dan opera klasik dalam satu lagu?"

Stevan yang duduk di depan laptop usangnya hanya tersenyum tipis di balik masker hitamnya.

Ia mengetik pesan dengan cepat dan menunjukkannya kepada Clara.

"Ini adalah panggung final, kita tidak boleh memberikan sesuatu yang biasa saja."

"Lagu pamungkas ini akan menjadi standar baru yang tidak bisa dicapai oleh musisi mana pun di negara ini."

Clara menghela napas panjang dan kembali membaca partitur tersebut.

"Tapi Kak, bagian transisi dari rock ke opera ini sangat sulit untuk napasku," ucap Clara jujur.

[TING!]

[Kemampuan Manipulasi Suara Instrumental siap digunakan.]

Stevan berdiri dari kursinya dan mengambil sebuah seruling bambu tradisional dari tumpukan barang bekas.

Clara menatap bingung melihat instrumen yang sudah lama tidak dipakai itu.

Stevan menempelkan seruling itu ke bibirnya di balik masker yang sedikit ia turunkan.

Ia meniup pelan, namun suara yang keluar bukan hanya suara seruling bambu biasa.

Berkat kemampuan sistem, hembusan napas Stevan memanipulasi udara di sekitarnya.

Suara seruling itu menggema berlapis-lapis seolah dimainkan oleh lima orang sekaligus dengan nada yang berbeda.

Bahkan, ada gema suara senar biola gaib yang mengiringi tiupan seruling tersebut.

Mata Clara terbelalak sangat lebar hingga rahangnya nyaris jatuh menyentuh lantai.

"K-kak Stevan... bagaimana kakak bisa melakukan itu?" tanya Clara dengan suara bergetar takjub.

"Itu terdengar seperti sihir!"

Stevan meletakkan seruling itu dan kembali mengetik di ponselnya dengan santai.

"Itu adalah rahasia akustik tingkat tinggi."

"Kau urus bagian vokal utamanya, aku yang akan memanipulasi ruang audionya dari belakang panggung nanti."

Saat mereka sedang asyik membahas aransemen, suara deru mesin mobil mewah terdengar dari luar jendela.

Suara mobil itu sangat kontras dengan lingkungan sayap barat kampus yang terbengkalai.

Krieeet...

Pintu studio tiba-tiba terbuka tanpa ada ketukan sama sekali.

Seorang pria paruh baya berjas mahal melangkah masuk sambil menutup hidungnya karena debu.

Pria itu adalah Pak Surya, manajer eksekutif label Mega Bintang Sejahtera.

Di belakangnya, dua orang pengawal berbadan besar berdiri menjaga pintu masuk.

Clara langsung mundur selangkah dan bersembunyi di belakang Stevan karena terkejut.

"Ternyata di sini sarang dari grup The Zeros yang sedang mengguncang negara kita," ucap Pak Surya dengan senyum palsu yang sangat menjijikkan.

Stevan tidak berdiri dari kursinya sama sekali, ia hanya menatap pria itu dengan pandangan sedingin es.

"Aku tahu kalian pasti terkejut melihatku datang ke tempat kumuh ini secara langsung," lanjut Pak Surya sambil menepuk debu dari jasnya.

"Tapi aku adalah pebisnis, dan aku selalu datang langsung untuk menjemput aset yang berharga."

Stevan mengambil ponselnya, mengetik satu kalimat tajam, dan memutar layarnya ke arah Pak Surya.

"Asetmu baru saja kau buang ke jalanan kemarin sore," bunyi tulisan di layar ponsel Stevan.

Raut wajah Pak Surya sedikit menegang membaca sindiran tentang Dion tersebut.

Namun ia dengan cepat menutupi kekesalannya dengan tawa buatan yang keras.

"Hahaha! Kau sangat tajam, Zero," tawa Pak Surya sambil menarik kursi kayu kosong dan duduk di seberang meja.

"Dion hanyalah produk gagal yang terlalu sombong dan tidak bisa diatur."

"Tapi kalian berdua... kalian adalah tambang emas murni yang belum dipoles oleh label besar."

Pak Surya merogoh saku jas dalamnya dan mengeluarkan sebuah buku cek tebal.

Ia mengambil pulpen emas dari saku dadanya dan mulai menuliskan deretan angka yang sangat panjang.

Srak.

Pak Surya merobek selembar cek itu dan meletakkannya tepat di depan Stevan.

Clara mengintip dari balik bahu Stevan dan matanya langsung membulat sempurna melihat angka di kertas itu.

"Sepuluh miliar rupiah," ucap Pak Surya dengan nada yang sangat sombong dan percaya diri.

"Itu hanya uang muka atau biaya tanda tangan kontrak eksklusif kalian dengan Mega Bintang Sejahtera."

"Jika kalian bergabung denganku hari ini, aku akan memastikan kalian memenangkan festival itu tanpa hambatan."

Stevan menatap cek senilai sepuluh miliar itu dengan wajah tanpa ekspresi sedikit pun.

Ia memutar-mutar ponsel di tangan kanannya dengan gaya yang sangat meremehkan.

"Bagaimana tawaranku? Tidak ada musisi waras yang akan menolak uang sebesar itu," bujuk Pak Surya dengan senyum liciknya.

"Kalian bisa pindah dari tempat sampah ini dan memiliki studio paling mewah di ibu kota."

Stevan menghentikan putaran ponselnya lalu mengetik pesan balasan dengan gerakan lambat.

Ia menyodorkan ponsel itu ke tengah meja tepat di samping lembaran cek.

"Apa syarat kotor di balik uang sepuluh miliar ini?" ketik Stevan dengan sangat lugas.

Pak Surya tersenyum semakin lebar, merasa bahwa negosiasi ini mulai masuk ke dalam genggamannya.

"Syaratnya sangat sederhana dan saling menguntungkan," jawab Pak Surya sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Kalian akan menandatangani kontrak sepuluh tahun dengan labelku."

"Selama sepuluh tahun itu, hak cipta seluruh lagu kalian akan menjadi milik label sepenuhnya."

"Dan yang paling penting, kalian harus mengalah di babak final festival lusa nanti."

Clara tersentak kaget mendengar syarat terakhir tersebut.

"Mengalah?! Kenapa kami harus mengalah saat kami pasti bisa menang?!" teriak Clara yang tiba-tiba berani bersuara.

Pak Surya melirik Clara dengan tatapan merendahkan.

"Karena aku sudah menyiapkan artis cadanganku untuk memenangkan festival itu," jawab Pak Surya santai.

"Festival itu disponsori oleh banyak kolega bisnisku."

"Jika kalian memenangkannya dan mendirikan label independen, kalian akan mengganggu monopoli pasar kami."

Pak Surya menunjuk cek di meja itu dengan pulpen emasnya.

"Ambil uangnya, pura-pura sakit di hari final, dan nikmati hidup mewah kalian sebagai artis di bawah asuhanku."

Keheningan mencekam menyelimuti studio kumuh itu selama satu menit penuh.

Pak Surya terus tersenyum menunggu Stevan mengambil cek berharga tersebut.

Stevan akhirnya bergerak, ia mengangkat tangan kanannya perlahan ke atas meja.

Namun ia sama sekali tidak mengambil lembaran cek itu.

Stevan justru mengambil pulpen merah miliknya sendiri.

Sret... sret... sret...

Stevan mencoret-coret lembaran cek sepuluh miliar itu dengan tinta merah hingga angkanya tidak terlihat lagi.

Lalu ia mengambil ponselnya dan memutar layarnya ke arah Pak Surya.

Wajah Pak Surya seketika berubah merah padam menahan amarah yang luar biasa memuncak.

"Uangmu bahkan tidak cukup untuk membayar debu di lantai studioku ini," bunyi tulisan di layar ponsel Stevan.

"Bawa pulang uang kotormu, karena aku akan menghancurkan monopoli pasarmu hingga rata dengan tanah lusa nanti."

Brak!

Pak Surya menggebrak meja dengan sangat keras hingga urat di lehernya menonjol keluar.

"Kau benar-benar tidak tahu diuntung, dasar orang bisu bodoh!" bentak Pak Surya dengan suara melengking.

"Kau pikir kalian bisa menang melawanku di panggung final nanti?!"

"Aku akan membuat Pak Barata dan semua juri mendiskualifikasi kalian dengan alasan apa pun!"

Stevan hanya menyilangkan lengannya di dada dan tersenyum sangat mengejek dari balik maskernya.

Pak Surya berdiri dari kursinya dengan kasar, merapikan jasnya yang berantakan karena emosi.

"Kalian akan menyesal karena menolak belas kasihanku hari ini!" ancam Pak Surya sambil berjalan menuju pintu.

"Kita lihat saja siapa yang akan tertawa terakhir di malam final nanti!"

Blam!

Pintu studio dibanting dengan sangat keras oleh pengawal Pak Surya dari luar.

Ruangan kembali hening menyisakan Clara yang masih sedikit gemetar menahan napas.

"Kak Stevan, dia mengancam akan menggunakan Pak Barata lagi di babak final," ucap Clara dengan panik.

"Apakah uang sepuluh miliar tadi tidak terlalu sayang untuk ditolak, Kak?" tanyanya dengan polos.

Stevan tertawa pelan tanpa suara dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Ia membuka sebuah aplikasi perekam suara yang rupanya sudah menyala sejak pintu studio dibuka tadi.

[Rekaman audio berhasil disimpan.]

[Durasi: 12 menit 45 detik.]

Mata Clara membulat sempurna melihat layar ponsel seniornya itu.

"Kakak merekam semua pembicaraan tadi?!" seru Clara tidak percaya.

Stevan mengangguk puas dan mengetik satu kalimat penutup untuk malam ini.

"Kita baru saja mendapatkan tiket emas untuk menghancurkan karirnya di siaran langsung televisi nasional lusa nanti."

Clara menelan ludah dan menatap pria di depannya ini dengan rasa takut yang bercampur kekaguman mutlak.

Pria paruh baya serakah itu tidak tahu bahwa ia baru saja menyerahkan lehernya sendiri ke dalam alat pancung yang dibuat oleh Stevan.

Panggung final lusa nanti bukan hanya tentang bernyanyi lagi.

Panggung itu akan menjadi tempat eksekusi publik paling brutal yang pernah terjadi dalam sejarah industri hiburan.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!