Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : PAGI DI LANTAI EMPAT PULUH DUA
Suara itu sudah hilang.
Waktu Chen membuka mata lagi, ruangan di lantai puncak itu sudah terang benderang. Bukan karena lampu gantung dipasang penuh, melainkan cahaya matahari pagi bulan Oktober yang menerobos masuk menembus kaca antipeluru setebal tiga inci. Silau sekali. Pantulan sinarnya membentur lantai marmer hitam, menciptakan garis-garis terang yang menyilaukan mata siapa saja yang baru bangun tidur.
Chen menyipitkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya. Ia berniat mengangkat tangan kanan untuk mengusap wajahnya yang terasa kaku, tetapi gerakannya tertahan. Plester transparan bekas jarum infus masih menempel di punggung tangannya.
Badannya masih terasa remuk. Otot-ototnya protes setiap kali ia bergeser di atas kasur king-size berseprai beludru hitam itu. Namun, sensasi terbakar akibat hipotermia semalam sudah jauh mereda. Demamnya turun drastis, digantikan oleh rasa lemas yang tertinggal di setiap sendi. Tenggorokannya juga tidak lagi sekering amplas, meski masih terasa sedikit seret saat ia menelan ludah.
Di kursi kulit tempat Shen Mo duduk semalam, pria itu sudah tidak ada. Kursinya kosong. Hanya ada sebuah jas hitam berpotongan rapi yang disampirkan begitu saja di sandaran kursi.
Chen memaksa tubuhnya untuk bangun. Ia mendesah pelan saat rasa nyeri menyergap rusuknya, sisa benturan di gudang pelabuhan kemarin. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggeser pantatnya ke tepi ranjang, berniat menurunkan kedua kakinya ke lantai.
Kriek...
Sebelum kakinya menyentuh lantai dingin, pintu geser otomatis di sudut kamar terbuka tanpa suara.
Shen Mo melangkah masuk. Pria itu tidak membawa kesan bos mafia yang menyeramkan pagi ini, melainkan sosok atasan dingin yang sudah terjaga sejak subuh. Ia menenteng cangkir keramik hitam yang mengepulkan uap tipis aroma kopi pahit. Kemeja hitamnya digulung rapi sampai ke siku, memperlihatkan lengan yang kokoh, dipadu celana bahan gelap tanpa balutan jas.
Langkah kaki Shen Mo berhenti pas di samping ranjang saat ia melihat Chen sudah duduk tegak.
"Sudah enakan?" tanya Shen Mo. Suaranya berat, khas suara orang yang melewatkan malam tanpa tidur sedetik pun untuk mengurus kekacauan perusahaannya.
Chen mendongak. Ia menatap pria di hadapannya sesaat sebelum mengangguk pelan. "Lumayan."
Tanpa banyak bicara, Shen Mo meletakkan cangkir kopinya di atas meja nakas kecil. Tangannya langsung merogoh saku celana bahan yang dikenakannya, mengeluarkan sebuah ponsel satelit berlayar gelap, lalu melemparkannya begitu saja ke atas kasur, tepat di pangkuan Chen.
"Baca," kata Shen Mo singkat.
Chen menunduk. Jarinya menyentuh layar ponsel yang otomatis menyala.
Bukan sekadar pesan teks biasa. Itu adalah laporan dokumen enkripsi tingkat tinggi dari Tiga, kepala intelijen bayangan Crown Tower. Barisan data digital itu tersusun padat: nomor rekening aktif atas nama Li Mei di bank komersial distrik selatan, catatan transaksi Penarikan tunai setiap tanggal enam selama tujuh tahun terakhir, lembar salinan digital surat tanah palsu, hingga alamat tempat tinggal Zhang Wei di kawasan perumahan buruh pelabuhan.
Chen membaca setiap barisnya dengan cepat. Matanya menyusuri angka-angka nominal yang terpampang nyata di layar—angka-angka yang merenggut jatah makan malam, obat penurun panas, dan masa kecilnya di gang sempit. Otaknya secara otomatis mengunci setiap detail informasi itu, menyatukannya dengan potongan memori masa lalu saat ibunya menangis di sudut ruangan karena uang bantuan yayasan ditolak dengan alasan administrasi.
"Anak buah saya sudah bergerak ke sana dari jam enam pagi tadi," ucap Shen Mo memecah keheningan, suaranya terdengar datar namun mengandung ancaman mematikan. "Tim audit lantai 42 masuk pakai dalih pemeriksaan rutin kuartal ketiga di Crescent Group. Zhang Wei tidak bisa berkutik. Dia sudah digiring naik ke lantai bawah tanah kita."
Chen mendongak dari layar ponsel. Ia menatap lurus ke manik mata gelap Shen Mo. "Dia pasti punya sandaran di lantai eksekutif."
"Saya tahu," potong Shen Mo cepat. Rahangnya mengeras hingga otot di pipinya berkedut. "Makanya dia dibawa ke sini hidup-hidup. Biar dia sendiri yang menyebutkan siapa dalang di balik semua ini."
Chen terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, meresapi rasa sakit yang masih tertinggal di dadanya, lalu melirik ke arah pintu kamar.
"Saya mau ikut turun," kata Chen tanpa ragu.
Shen Mo menyipitkan mata. Alis tebalnya bertaut tajam. Ia menatap bocah sepuluh tahun di depannya dengan pandangan tidak percaya bercampur jengkel.
"Kamu baru saja lolos dari hipotermia semalam, Chen," ujar Shen Mo, nadanya meninggi satu tingkat, menunjukkan penolakan tegas. "Kerjaan kamu sekarang istirahat di atas tempat tidur, bukan keluyuran ke ruang interogasi bawah tanah."
"Saya bukan pasien rumah sakit yang harus kamu kurung," balas Chen dingin, suaranya serak namun tidak goyah sedikit pun. Sorot matanya menatap tajam, menolak tunduk pada perintah sang penguasa mafia. "Kamu butuh saya buat baca pola data yang bakal disembunyikan sama Zhang Wei atau atasannya. Kamu tidak bakal bisa menemukan celahnya sendirian secepat itu."
Kamar itu mendadak sunyi.
Shen Mo terdiam. Ia menatap bocah di depannya lekat-lekat. Seharusnya ia membentak anak ini, menyuruhnya diam, atau bahkan mengunci pintu kamar agar tidak bisa kemana-mana. Tapi tatapan mata Chen—sorot mata yang memantulkan dendam tujuh tahun dan kecerdasan di atas rata-rata—membuat semua argumen Shen Mo mendadak lenyap di ujung lidah.
Pria dewasa itu menghela napas kasar, mengakui kekalahannya dalam adu tatap melawan bocah yang usianya bahkan belum sepertiga umurnya sendiri.
Shen Mo menggelengkan kepala pelan, lalu berbalik mengambil sesuatu dari balik sandaran kursi.
"Terserah kamu," gerutu Shen Mo sambil melemparkan sebuah jaket hoodie hitam tebal ke pangkuan Chen. "Tapi pakai itu. Ruang bawah tanah Crown Tower dingin. Kalau kamu pingsan di tengah jalan, saya tidak bakal repot-repot gendong."
Chen menangkap jaket itu dengan satu tangan, lalu memakainya langsung di atas kaos rumah sakitnya.
"Saya tidak bakal pingsan," jawab Chen tenang, merapatkan ritsleting jaketnya. "Sebelum bajingan itu ngaku."