"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Tidak Cemburu
“Aku tidak cemburu!”
Itu adalah kalimat yang sama yang Kate ucapkan beberapa saat yang lalu. Sebelum Rhea menuduhnya, ia sudah lebih dulu menyangkal tuduhan itu. Tangan Kate bersedekap dada, kepalanya sengaja menoleh ke kanan, memalingkan wajahnya dari Rhea.
“Nona, saya bahkan tidak menuduh Anda cemburu sekarang,” kata Rhea pada akhirnya.
“Tatapanmu menjelaskan segalanya,” ketus Kate. Ia masih bersedekap dada dan memalingkan wajahnya dari Rhea, tidak memiliki niatan untuk menoleh.
Rhea hanya bisa menghela napas. Ia merasa tidak sedang menangani nona nya melainkan anak kecil yang sedang merajuk dan butuh di bujuk. “Raut wajah saya dari dulu memang seperti ini, nona. Tidak ada satupun ekspresi wajah saya yang mencoba mengejek Anda,” katanya.
Meski Rhea mencoba mengklasifikasi, Kate tetap teguh dengan pendiriannya. “Omong kosong. Sebenarnya di dalam hati kau pasti sedang mengejek. Aku bisa melihat raut wajahmu yang menahan tawa karena tingkahku.”
Dayang pribadi itu langsung melebarkan matanya. Sungguh, dia bahkan tidak mengeluarkan ekspresi sedikitpun. Bagaimana bisa nona nya memfitnah dia seperti ini?
“Nona! Saya bahkan tidak memasang ekspresi!” Elak Rhea, merasa dirugikan karena di fitnah.
Kate hanya mendengkus kesal, tetap mengabaikan Rhea yang mencoba membujuknya agar tidak lagi marah.
“Saya tidak menuduh Anda cemburu, nona. Kalau nona mengatakan Anda tidak cemburu, ya sudah, berarti memang tidak cemburu. Saya hanya menyimpulkan ekspresi wajah Anda ketika melihat Lady Sonia bersama dengan Jenderal Ardan.”
Kate langsung menoleh dan melotot. “Aku tidak memasang ekspresi itu!”
Rhea hanya mengangkat bahunya. “Saya hanya menyimpulkan.”
Putri Duke itu memukul ranjangnya dengan bantal, kesal. “Kau selalu begitu! Kau tidak mengatakan aku cemburu, tapi tetap saja menyebalkan!”
Sang dayang hanya memasang wajah polos. Wajah yang selalu sukses membuat Kate mendengkus kesal. “Jangan memasang wajah sok polos, Rhea! Kau selalu menyebalkan,” ketus Kate.
“Maafkan saya, nona.”
Rhea membungkukkan badannya sedikit dengan gestur formal yang sangat sempurna, namun justru ketenangan tanpa cela itulah yang membuat darah Kate makin serasa mendidih.
"Maaf Anda diterima," cetus Kate ketus sembari menyilangkan lengan di dada, membuang muka kembali ke dinding kamar. "Sekarang pergilah! Buatkan aku camilan baru atau periksa tumpukan gaunku di lemari. Intinya, aku tidak mau melihat wajah sok polosmu itu selama satu jam ke depan!"
"Baik, Nona. Saya akan menyiapkan camilan hangat di dapur," jawab Rhea patuh. Tanpa banyak bicara, dayang pribadi itu memutar tubuhnya, melangkah keluar kamar, dan menutup pintu kayu tebal itu dengan sangat pelan hingga terdengar bunyi klik yang halus.
Begitu derap langkah Rhea benar-benar menghilang di balik koridor, perubahan drastis terjadi pada Putri Raventhal.
Bahu Kate yang tadinya ditegakkan kaku penuh gengsi mendadak merosot turun. Raut wajah galaknya meluntur dalam sekejap, berganti menjadi raut cemas dan gelisah yang amat sangat kentara. Ia memegang dadanya sendiri, merasakan jantungnya yang berdegup tak karuan dan hawa panas yang masih membakar kedua pipinya.
"Cemburu?" gumam Kate pelan pada dirinya sendiri, suaranya bergema samar di kamar yang sepi. "Ha! Mana mungkin aku cemburu pada pria batu tidak peka seperti Salvatore Ardan? Pernikahan ini kan cuma transaksi birokrasi politik! Aku bahkan berniat menceraikannya sejak hari pertama!"
Kate mengangguk-angguk mantap, mencoba menyuntikkan keyakinan pada otaknya sendiri.
"Tepat sekali! Aku tidak cemburu," tegas Kate lagi, menunjuk bayangannya di dalam cermin meja rias. "Aku cuma... penasaran! Ya, murni rasa ingin tahu sebagai seorang pemilik sah rumah ini! Siapa tahu wanita berseragam itu adalah penyusup atau mata-mata yang menyamar menjadi temannya!"
Berpegang teguh pada alibi fantastis yang baru saja ia ciptakan di dalam kepalanya, Kate pelan-pelan berdiri dari ranjangnya. Langkah kakinya berjinjit halus tanpa suara, merayap mendekati pintu kaca balkon yang tadi ia hempaskan dengan kasar.
Ia tidak berani membuka pintu kaca itu lagi. Sebagai gantinya, Kate bersembunyi di balik tirai sutra tebal berwarna krem. Dengan jari-jarinya yang gemetar pelan, ia menyibak sedikit saja celah kain tirai—hanya cukup untuk satu mata bulatnya mengintip ke arah lapangan latihan di bawah sana.
Di lapangan bawah, matahari mulai bergeser sedikit lebih tinggi.
Salvatore masih berdiri di sana bersama Lady Sonia. Pria bertubuh tegap itu memegang gulungan peta perbatasan, sementara Sonia berdiri begitu dekat di sampingnya—kelewat dekat menurut standar keamanan pribadi Kate!
Mata Kate melotot makin lebar saat melihat Sonia mendongak, tertawa renyah, lalu tanpa ragu menyenggol bahu tegap Salvatore menggunakan sudut gulungan kertas. Dan yang paling membuat ulu hati Kate seperti dihantam batu besar: Salvatore sama sekali tidak melangkah mundur atau menunjukkan wajah terganggu! Pria itu tetap berdiri kokoh, hanya menanggapi ucapan Sonia dengan anggukan pelan dan ekspresi wajahnya yang selalu tenang.
‘Lihat itu! Lihat!’ jerit Kate di dalam hatinya, jarinya mencengkeram kain tirai sampai teremas kaku.
‘Aku saja kalau berdiri jarak satu meter dari pria itu selalu dipandang seperti pengganggu! Aku menyentuh lengannya saja tidak pernah! Tapi kenapa wanita itu bisa menyenggol dan menepuk bahunya begitu saja?! Memangnya seragam militer memberi hak istimewa untuk menempel-nempel pada suami orang?!’
Rasa panas yang menyengat kembali berkumpul di dada Kate, merambat naik hingga ke tenggorokannya dan membuat matanya sedikit memanas. Ada rasa ketidakadilan yang amat sangat besar yang tiba-tiba menekan hatinya.
Kate menggigit bibir bawahnya erat-erat. Selama dua bulan menikah, Salvatore selalu bersikap kaku bagaikan tembok perbatasan Kerajaan. Pria itu selalu membalas ucapannya dengan dua kata, menatapnya dengan pandangan logis yang dingin, dan bertingkah seolah-olah dunia asmara adalah bahasa asing yang tidak bisa diterjemahkan oleh otaknya.
Tapi di bawah sana... pria batu yang sama justru berdiri begitu santai bersama seorang wanita yang paham akan bahasa militernya, berdiskusi dengan begitu luwes, dan membiarkan wanita itu tertawa leluasa di sampingnya.
"Sonia..." bisik Kate dengan nada ketus yang bergetar samar. "Lady Sonia dari Divisi Ketiga Pasukan Perbatasan Utara... Kenapa dia harus muncul di sini sekarang?"
Kate mengamati detail penampilan Sonia dari atas balkon dengan tatapan menilai yang sangat tajam. Wanita itu mengenakan seragam perwira lengkap dengan potongan ketat yang memamerkan lekuk tubuhnya yang tegap namun anggun. Rambut pirang gelapnya diikat rapi ke belakang, dan cara berdirinya memancarkan wibawa yang luar biasa.
"Dia memang cantik... dan kelihatan sangat tangguh," gumam Kate pelan, lalu seketika menggelengkan kepalanya histeris untuk menghapus pikiran itu! "TIDAK! Dia tidak cantik! Dia cuma wanita yang lehernya mendadak lemas kalau bicara dengan Salvatore!"
Kate menarik tirai itu rapat-rapat, menutup akses pandangannya ke lapangan bawah sebelum matanya benar-benar terbakar oleh pemandangan di sana. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kamar yang dingin, menatap langit-langit dengan napas yang memburu halus.
Di satu sisi, gengsi tingginya sebagai Putri Raventhal berteriak kencang agar ia tidak peduli dan tetap fokus pada rencananya untuk membuat Salvatore berlutut memohon perceraian. Namun di sisi lain, ada kejengkelan dan rasa tidak terima yang merayap liar di dalam dadanya—sebuah percikan cemburu riil yang mulai membakar pertahanan mentalnya, meski ia bersumpah demi nama baik keluarganya tidak akan pernah mengakui perasaan itu sampai dunia kiamat.
"Lihat saja nanti, Salvatore Ardan," gerutu Kate dengan kepalan tangan yang meremas gaun mewahnya. "Kau pikir kau bisa mengabaikanku dan bersenang-senang dengan Komandan kesayanganmu itu? Aku akan memastikan kau menyesal telah membiarkan wanita lain tertawa di depan mukamu!”
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗