Seorang santri perempuan yang menetap di sebuah pesantren yang terletak di sebuah kampung kecil.
Dia mondok di pesantren sejak usia sebelas tahun.
Pesantren itu di khususkan untuk wanita saja,karena guru guru di pesantren itu juga wanita yang di sebut ustadzah.Namun,ada satu orang guru laki laki yang di sebut Ustadz.
Ustadz itu masih muda.Dia baru pulang dari pesantren.Namun dia di cegah oleh ibunya yang menjadi pimpinan pesantren itu agar tidak berangkat ke pesantren lagi supaya bisa membantu mengajar di pesantren yang di pimpin ibunya itu.
Hampir semua santri wanita mengagumi Ustadz muda itu.Namun hanya satu orang yang di pilih Ustadz muda itu.
Siapa yang di pilih Ustadz muda tampan itu? dia adalah pemeran utama wanita di novel ini....
Bagai mana ceritanya?
Ikuti alur ceritanya!
Salam hangat dari Author....
Ig/fb :AuthorSyiba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syiba', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27 seseorang
Dari arah luar terdengar langkah seseorang dan suara sarung yang bergesekan karena langkah yang memakainya.
Hana semakin deg degan karena takut kalau yang datang bukan kang Hatim.
Setelah orang itu masuk Hana merasa tenang karena yang masuk adalah kang Hatim yang membawa baki dengan teko dan dua gelas di atasnya.
"Kenapa kamu belum makan? bukankah saya sudah memerintahkan kamu untuk makan?" tanya kang Hatim.
"Mana bisa saya makan kang,sedangkan makanan yang di depan saya ini saya tidak tahu punya siapa,dan adapun yang memerintahkan saya makan adalah orang misterius,orang yang hanya menampakan suaranya saja,tidak menampakan dirinya!" jawab Hana.
Aku juga takut makanan ini di campur dengan racun! kata Hana salam hatinya.
"Ya sudah,sekarang ayo kita makan!" kang Hatim pun duduk di samping Hana setelah menyimpan baki yang ia bawa di atas meja.
"Kang,jaga jarak!" kata Hana.
"Tidak mau,saya kedinginan!" jawab kang Hatim.
Ini bukan kang Hatim yang aku kenal...
"Ayo makan.Malah bengong!" kata kang Hatim.
Merekapun mulai makan.Ya walaupun keduanya tetap jaga wibawa.
"Sebenarnya akang ada perlu apa sama saya?" tanya Hana setelah selesai makan dan minum.
"Emh..!"
Apa aku harus membertahunya sekarang? ah tapi aku tidak yakin.Tapi bagaimana dengan perintah umi? Astagfirullah ya Allah bagaimana ini? kang Hatim bingung.
"Ekhem,kang!"
"Ah iya,apa?"
"Saya yang harusnya tanya apa ke akang!"
"Emh gini,tadinya saya ingin menyampaikan sesuatu pada kamu,tapi setelah di pikir pikir,sepertinya belum saatnya!"
*Apa yang ingin dia sampaikan? kenapa harus nunggu waktu yang tepat? apa sesuatu yang penting? atau lebih penting? atau lebih penting lagi? atau lebih penting dari yang terpenting?
Aku harus sholat istikhoroh dulu sepertinya,dan aku akan minta saran pada teh Alvi bagaimana cara bicaranya*.
Keduanya sibuk dengan pikirannya masing masing hingga adzan maghrib berkumandang menyadarkan mereka.
"Alhamdulillah!" kata Hana dan kang Hatim bersamaan.
"Kang,jika tidak jadi menyampaikan sesuatu,saya ijin pergi dulu!" kata Hana.
"Iya!" jawab kang Hatim singkat.
"Oh iya,terima kasih atas makanannya,saya pergi dulu!" kata Hana dan langsung melangkah setelah mendapat anggukan dari kang Hatim dan memakai cadar.
"Hey,jangan pergi dulu!" kang Hatim menghentikan langkah Hana.
"Ada apa kang?" tanya Hana.
Kang Hatim menyodorkan tangannya seperti Ustadz Kemed di sinetron.
Tanpa bicara lagi,Hana langsung mencium tangan kang Hatim.
Setelah Hana pergi kang Hatim menelepon kakak nya.
'Hallo assalamualaikum!'
'Waalaikumusalam,ada apa?'
'Teteh jadwal ngajar malam ini?'
'Tidak,malam ini giliran teh Putri!'
'Kalau kang Roni giliran ngajar gak?'
'Iya,kang Roni giliran ngajar!'
'Oh,bisa tidak jika setelah kang Roni ngajar teteh dan kang Roni ke sini?'
'Mau apa?'
'Ada yang mau aku bicarakan!'
'Kenapa gak kamu aja yang kesini?'
'Heheh,aku gak mau kak!'
'Ya sudah,insyaAllah nanti teteh dan kang Roni ke sana!'
'Aku tunggu di ruangan kesayanganku ya teh!'
'Iya!'
'Ya sudah Assalamualaikum!'
'Apa kau sudah memberi tahu istrimu?'
'Justru itu yang ingin aku bicarakan teh!'
'Astagfirullah,apa kamu tidak berani?'
'Bukan tidak berani teh,namun aku emh!'
'ya sudah biar teteh yang memberi tahu Hana!'
'Ish jangan,biar aku saja!'
seharusnya di bayar lebih baju nya...