Dena adalah seorang wanita berusia 25 tahun yang sudah memiliki suami, namun tidak ada satu orangpun yang mengetahui kalau Dena sudah menikah bahkan sahabat baiknya sekalipun.
Kenapa bisa begitu? Pasti kalian akan berpikir seperti itu, tapi hal itu tentu saja bisa terjadi, karena Dena adalah seorang istri simpanan...
Bagaimana kisah Dena dan suami rahasianya? Apakah hubungan keduanya akan terjalin selamanya atau akan kandas di tengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khintannia Viny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AHIS 27
Hidup bukan tentang menemukan dirimu sendiri, hidup adalah bagaimana membangun dirimu.
***
“Halo?” ucap seorang wanita dari baling telfon membuat Ocha menatap ke arah Dena dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan.
“Ada apa?” tanya Dena tanpa bersuara.
Saat itu memang Ocha belum mengaktifkan mode loadspeaker jadi Dena tidak bisa mendengar apapun yang di ucapkan oleh Irham.
“Cewek..” ucap Ocha yang juga tidak bersuara.
“Hah?” balas Dena yang tidak mengerti maksud dari sahabatnya itu.
Akhirnya Ocha segera mengaktifkan mode loadspeaker agar Dena juga bisa ikut mendengarkan.
“Halo, benarkan saya bicara dengan nona Ocha?” tanya seorang wanita dari sebrang.
“I-iya saya sendiri.” Balas Ocha sambil menatap ke arah Dena untuk meminta penjelasan.
Dena berfikir sebentar lalu akhirnya dia menganggukkan kepala karena baru ingat suara siapa yang sedang berbicara dengan Ocha.
“Saya bu Dewi bibinya non Dena, apa non Ocha sedang bersama non Dena?” tanya bu Dewi.
Ocha semakin bingung, dia bahkan mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah Dena untuk meminta penjelasan, karena yang Ocha tau Dena tidak memiliki siapa-siapa, sedangkan yang menghubunginya saat ini mengaku kalau dia adalah bibi Dena.
Dena yang bingung harus bagaimana menjelaskan kepada Ocha segera mengambil kertas dan pulpen untuk menulis apa yang harus di jawab oleh Ocha, sedangkan Ocha yang membaca tulisan Dena segera mengangguk dan mengatakan sesuai dengan yang di tulis Dena.
“Iya aku sekarang sedang bersama Dena bu, dia menginap di apartmentku semalam dan sekarang dia masih tertidur, apa ada yang ingin di sampaikan?” tanya Ocha.
“Oh syukurlah kalau non Dena bersama non Ocha, ibu hanya khawatir karena non Dena tidak bisa di hubungi, kalau non Dena sudah bangun tolong sampaikan segera hubungi ibu atau ke nomer ini ya.” Ucap bu Dewi.
“Iya bu pasti saya sampaikan.” Balas Ocha.
Akhirnya telfon pun terputus dan Ocha bisa bernafas lega, begitu juga dengan Dena yang seketika lemas dan mendudukkan tubuhnya di kursi makan.
“Sumpah ya Den, dari semalem lu tuh bikin gue jantungan terus tau ga sih!” ketus Ocha sambil mengelus dadanya.
“Jantungan kenapa? Emang Dena ngapain?” tanya Mila yang tiba-tiba saja datang dan membuat Ocha dan Dena terkejut bukan main bahkan sampai berteriak dan lompat dari tempatnya.
“Aaaaa!!!” teriak Dena dan Ocha secara bersamaan.
Mila yang mendengar teriakan dari kedua sahabatnya itu langsung menutup kedua telinganya dengan tangannya karena teriakan mereka hampir membuat gendang telinga Mila pecah.
“Kalian berdua ini kenapa sampe kaget begitu sih?! Telinga gue sakit tau!” ketus Mila.
“S-sorry Mil, lu sih ngagetin kita ya teriak lah jadinya.” Balas Ocha.
“Lagian kalian berdua habis ngapain sih sampe kaget gitu ngeliat aku? Jangan-jangan kalian berdua habis melakukan hal yang engga-engga tanpa sepengetahuan aku ya? Apa kalian lagi ngomongin aku di belakang?” tanya Mila dengan tatapan curiga.
“Hah? Apaan sih Mil, engga kok kita lagi asik rencanain liburan kita lu malah muncul tiba-tiba, ya gimana ga kaget kita.” Sahut Dena mencari alasan.
“Benarkah? Kenapa ga nunggu aku sih bikin rencananya? Aku juga kan mau ikutan buat rencana tau, emang kita jadi berangkat hari ini?” tanya Mila.
Dena dan Ocah saling menatap satu sama lain selama beberapa detik lalu keduanya segera menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Mila.
“Kita berangkat nanti sore atau malam ya, gue pesen tiket dulu.” Ucap Ocha.
“Iya gue juga mau ke panti dulu ambil baju yang mau di bawa.” Sahut Dena.
“Lah kenapa lu ambil baju lagi Den? Bukannya lu udah pindahan ya?” tanya Mila.
“Masih ada beberapa barang yang ketinggalan, gue mau ambil dulu sekalian bilang ke anak-anak panti kalo gue mau pergi beberapa hari.” Jelas Dena.
Akhirnya Mila bisa menerima alasan Dena dan dia juga memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan berpamitan kepada kedua orang tuanya lebih dulu.
“Udah ayo pada mandi dulu sana, gue buatin sarapan dulu baru kita pergi.” Ajak Dena yang langsung di laksanakan oleh keduanya.
Mila mandi lebih dulu karena Ocha bilang dia masih mau mencari tiket online, tentu saja Mila setuju tanpa curiga apapun.
Ocha kembali duduk di kursi makan yang ada di dapur, dia menatap ke arah Dena yang sedang sibuk dengan alat dapurnya dengan serius.
“Ada apa sih Cha? Lu mau tanya sesuatu ke gue kan?” ucap Dena seolah bisa melihat ke arah Ocha yang ada di belakangnya.
“Cewek tadi siapa? Ga mungkin bibi lu kan Den, karena setau gue lu ga punya siapa-siapa selain ibu panti dan kita berdua.” Ucap Ocha.
“Itu bu Dewi, kepala pelayan di mansion yang udah aku anggep kayak ibu aku sendiri Cha, dia baik banget sama gue.” Balas Dena.
“Ah jadi dia pura-pura jadi bibi lu?” tanya Ocha.
“Bukan pura-pura jadi bibi doang Cha, dia bahkan mewakili kak Irham ngomong sama kamu.” Ucap Dena.
“Hah? Maksudnya?” tanya Ocha tidak mengerti.
“Nomer itu nomernya kak Irham, tapi kak Irham nyuruh bu Dewi yang bicara, mungkin dia takut kalau lu tau dia sama gue ada sesuatu.” Jelas Dena.
“Ribet hubungan kalian berdua! Gue mau lu bahagia, ketemu sama laki-laki yang memprioritaskan lu, bukan malah di sembunyiin kayak begini!” ucap Ocha.
“Ya gue juga maunya begitu, udah ah sono mandi si Mila udah mau selesai tuh kayaknya.” Ucap Dena.
Akhirnya Ocha segera beranjak dari kursi makannya dan segera berjalan ke kamar mandi.
***
Di sisi lain, bu Dewi yang baru saja selesai menghubungi Ocha langsung di serbu dengan pertanyaan oleh Irham.
“Gimana bu? Ada Dena di sana?” tanya Irham.
“Ada tuan, non Dena semalam tidur di apartmennya non Ocha.” Jawab bu Dewi.
Sebenarnya bu Dewi benar-benar tidak habis fikir, karena tadi saat menelfon Irham langsung mengaktifkan mode loadspeaker, tapi Irham masih saja bertanya hal yang sudah tau jawabannya membuat bu Dewi menyebut di dalam hatinya.
“Apa dia akan pulang ke sini bu?” tanya Irham.
“Saya juga ga tau tuan, katanya non Dena masih tidur.” Jawab bu Dewi.
“Bohong kali bi, Dena ga pernah bangun sesiang ini.” Ucap Irham.
“Saya juga ga tau tuan, mungkin non Dena kelelahan.” Ucap bu Dewi.
“Pasti Dena ga ada di sana bu, telfon lagi bu.” Ucap Irham.
“Tuan, nanti juga non Dena menghubungi tuan kok, ibu udah titip pesan kepada non Ocha.” Jelas bu Dewi.
“Haah,, anak itu benar-benar bikin aku pusing!” ketus Irham.
“Lah kayaknya yang bikin pusing malah tuan Irham deh.” Gumam bu Dewi.
“Apa bu?! Ibu ngomong apa tadi?” tanya Irham.
“Engga tuan, hari ini tuan harus menjemput nona Sita, apa tuan lupa?” tanya bu Dewi.
Mendengar ucapan bu Dewi membuat kedua mata Irham membulat sempurna, dia baru ingat kalau hari ini Sita akan tiba di Indonesia dan dia harus menjemputnya, kalau tidak Sita akan marah kepadanya.
“Yaampun bu, untung aja bu Dewi ingetin aku! Aku siap-siap dulu bu.” Seru Irham yang langsung berlari menuju lift untuk bersiap.
sudah biasa menolong orang di masa lalu dan nnti tergoda deh suaminya ocha seharusnya tidak satu atap juga kali Thor
kuharap alurnya berbeda Derian tetap mencintai ocha tidak menerima penghiatan
hadapi ya ocha dengan kepala dingin walaupun ada rasa cemburu, semangat ocha🥰🥰
semangat juga author up nya🥰🥰🥰❤❤❤