Kejadian mengerikan tersimpan di sebuah desa sejak lama, ada yang menganggapnya hanya mitos, dan ada juga yang sangat mempercayainya.
Kasus demi kasus mengerikan terjadi yang membuat geger seluruh desa.
Anak Sima, sosok yang menjadi perbincangan dari mulut ke mulut oleh warga desa hingga membuat warga desa takut dan waswas untuk beraktivitas di hutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Wahyu
Keesokan paginya Wahyu berserta yang lain sedang menikmati sarapan paginya.
Terlihat wajah bahagia mereka di pagi hari saat-saat berkumpul terakhir kalinya.
“Jam berapa kamu mau berangkat Wahyu?” tanya Basuki.
“Sekitar jam sembilan Pak, Wahyu berangkat,” sahut Wahyu sembari menikmati sarapan paginya.
“Terima kasih ya Bang sudah Menolongi teman kami Dimas, membantu tugas kami, dan juga membantu melenyapkan anak sima itu,” celetuk Sari.
“Iya sama-sama kalian di sini sudah di anggap keluarga kami,” kata Wahyu dengan tersenyum.
“Oh iya kapan Abang ke desa ini lagi?” tanya Sinta.
“Mungkin 3 tahun lagi, aku baru bisa pulang ke desa ini,” sahut Wahyu dengan sedih.
“Tidak apa-apa Wahyu, bapak dan ibu tidak perlu kamu terlalu pikirkan, kami sangat bangga kepadamu, tugasmu itu lebih besar memikulnya,” Basuki yang memberikan nasehat.
“Iya Pak, terima kasih kalian berdua orang tua Wahyu yang paling mengerti dan Wahyu sangat bangga memiliki orang tua seperti kalian berdua,” sahut Wahyu yang terharu akan nasehat dari Basuki.
“Oh iya kalian kapan akan kembali ke kota lagi?” sambung kembali Wahyu.
“Rencananya sih seminggu lagi Bang, tugas kami sedikit lagi selesai,” sahut Yusuf.
Di saat mereka sedang menikmati sarapan paginya ponsel milik Yusuf pun berbunyi.
Yusuf pun segera berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju meja kamar untuk mengambil ponselnya.
“Sebentar saya tinggal terlebih dahulu,” kaya Yusuf bergegas pergi meninggalkan mereka semua dan bergegas pergi ke kamar.
Sesampainya di kamar Yusuf pun menghampiri meja lalu mengambil ponselnya terlihat panggilan telepon dari Dimas.
Yusuf pun segera mengangkat panggilan telepon dari Dimas.
“Hallo, Yusuf bagaimana kabar kalian di sana,” kata Dimas di dalam telepon.
“Alhamdulillah baik dan semua telah selesai Dimas, mungkin senin depan kita semua akan pulang ke kota,” ujar Yusuf yang memberitahu Dimas di telepon.
“Oke dah kalau begitu aku akan menjemput kalian senin depan.”
“Memangnya kamu sudah sembuh Dimas?”
“Alhamdulillah aku sudah bisa pulang dan mulai membaik luka pun mulai mengering, mungkin senin depan aku baru bisa menjeput kalian.”
“Tapi kalau kamu masih sakit Dimas, tidak apa-apa paling aku suruh sopir ayah saja yang menjemput kami di sini.”
“Udah tenang saja Yusuf, aku baik-baik saja kok.”
“Ya sudah kalau begitu, aku tutup dulu ya teleponnya soalnya aku dan yang lain sedang sarapan pagi bersama.”
“Oke deh,” kata Dimas sembari menutup teleponnya.
Setelah selesai menerima telepon dari Dimas, Yusuf pun kembali ke meja makannya ia keluar dari kamarnya dan menuju meja makan.
Di saat dirinya telah sampai di meja makan, Sinta menanyakan kepada Yusuf siapa yang menelepon dirinya.
Yusuf pun memberitahukan kepada kedua temannya itu Sari berserta Sinta bahwa yang menelepon dirinya adalah Dimas
Yusuf juga memberitahukan kabar Dimas telah membaik dan akan menjemput mereka senin depan, mendengar kabar dari Yusuf kondisi Dimas telah membaik mereka berdua sangat senang.
Beberapa jam telah berlalu, Wahyu pun tengah bersiap-siap merapikan barang bawaannya.
Setelah semua selesai Wahyu berpamitan kepada kedua orang tuanya.
“Bu, Pak, Wahyu pamit Bapak dan Ibu baik-baik di rumah,” ujar Wahyu memeluk ke dua orang tuanya.
“Iya Nak, Ibu selalu mendoakanmu di sana agar kamu senantiasa sehat selalu,” sahut Sri.
“Iya Bapak pun akan selalu mendoakan setiap langkah kakimu melangkah Wahyu,” kata Basuki.
“Terima kasih Pak, Bu,” ujar Wahyu sembari mencium tangan kedua orang tuanya.
Wahyu pun membawa tas ranselnya lalu berjalan masuk ke dalam mobil Jeepnya sementara mereka semua mengantarkan Wahyu di depan teras rumah Basuki.
Sesekali Wahyu melambaikan tangannya dan menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Basuki.
rasa hormat,adab dlam bertamu,sslu menjaga etika dmn pun kita berada.
persahabatan yg bgtu erat,bersma2 melewati masa sulit & senng...
jg menambah pengetahuan ttng legeda2 dri belahan lain yg mngkn kita tdk tau,
Terima kasih kak..❤️❤️❤️
bisa pulang kembali,stelah selesai dlam menjalankan tugasny.,,,,
sdh tdk ada teror lagi dari anak sima,,
smg segera sampai rmh k rmhny pak Bas,,
bahwa jika kita berada d deaa org lain,kita tdk boleh bicara sembarangan,kita hrus mematuhi peraturan yg ad dan sllu mendengarkan nasihat dri para petuah desa yg kita tinggali....
aduh Andi,knp si gak mau dengerin kata2 pak Bas.....
smg Andi baik2 sja.....
smg tdk ada apa2,
jng sampai krn mulutmu,akan menjadi hal buruk pada mu,,,,
kita jg hrs mematuhi peraturan yg ad,
krn kita tdk tau bagaimana keadaan d desa tersebut...
jng sampai in jd awal yg buruk,
g kedepany tdk ad ap2....