Assalamu'alaikum.. Maaf yah novel ini ngak di lanjut lagi jadi mending ngak usah di baca🥲
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKTM_27
Entah mengapa Araya yang biasa nya terlihat ceria dan susah untuk menjatuh kan air mata kini terdengar sedang menangis dengan suara yang nyaring hingga beberapa pelayan yang mendengar tangisan Araya sontak menghampiri Araya dan berusaha menenangkan nya.
Dengan langkah putus asa, Araya yang sakit hati dengan kata-kata Nyonya Lusy tanpa sadar sudah berada di depan kamar Evan. "Silahkan Nona".
Araya tidak sadar masuk ke dalam kamar Evan dengan pikiran kosong dan perasaan hancur. Araya naik ke atas ranjang lalu menekuk kedua lutut nya dan menangis sejadi jadi nya.
"Dasar nenek lampir!! Apa salah ku sampai dia selalu saja menghina ku" Araya mengerutu dengan tangis yang semakin menjadi jadi.
Sampai saat itu Araya tidak menyadari ke hadiran Evan di samping nya yang sedang berdiri dengan satu tangan yang terkepal kuat menahan amarah, sementara tangan nya yang satu menyodorkan sapu tangan pada Araya. "Tu_tuan" lirih Araya saat sadar Evan sedang menantap nya dengan tatapan tajam nya.
Tatapan mereka bertemu hingga beberapa saat kemudian Evan mengalihkan pandangan nya dan pergi meninggalkan Araya tanpa mengatakan sepatah kata pun setelah Araya mengambil sapu tangan yang diberikan oleh Evan.
Evan pergi keluar kamar menuju kolam renang untuk mereda kan emosi nya yang sempat membakar namun aneh nya saat melihat Araya sedang menangis entah mengapa Evan tidak tega untuk memarahi atau melontar kan kata-kata kasar pada Araya yang telah pergi bersama Alvin barusan.
Alvin yang baru saja masuk dari pintu utama tanpa sengaja melihat Evan yang sedang berdiri di kolam renang lalu segera menyusul Evan.
"Hey, Evan. Senang melihat mu di sini" Evan tersadar dari lamunan nya saat mendengar suara Alvin.
Evan melirik Alvin sebentar lalu membuang pandangan nya lain arah. "Pergilah dari sini" jawab Evan yang berusaha untuk menahan emosi nya.
Alvin tidak mengubris ucapan Evan dan malah mendekati Evan lalu memegang pundak Evan. "Aku ingin memberitahu mu sesuatu.."
Belum sempat Alvin melanjut kan ucapan nya suara Evan malah membuat Alvin tersentak. "Singkirkan tangan mu atau aku akan mematahkan nya" Evan menatap tangan Alvin dengan tajam yang berani menyentuh pundak nya.
Alvin dengan cepat menarik tangan nya dan memasukan nya ke dalam saku celana. "Aku tahu ini sulit untuk mu menikahi gadis yang tidak kau cintai" Alvin menjeda ucapan nya.
"Aku yakin Araya pasti tertekan selama menikah dengan mu karena sikap angkuh dan arrogant mu ini" Alvin berbalik lalu meninggalkan Evan namun langkah nya terhenti saat Evan memegang pundak nya dan menyentak tubuh Alvin hingga hampir saja terjatuh.
Buk
Satu pukulan manis dari Evan akhir nya mendarat tepat di pipi kanan Alvin setelah bertahan lama dalam kesabaran."Tuan Muda apa yang anda lakukan" teriak beberapa asisten yang melihat Evan dan Alvin sedang beradu argumen sontak membuat mereka memekik.
Evan melangkah maju tepat di hadapan Alvin yang sedang menyentuh pipi nya yang perih. "Tutup mulut busuk mu sebelum aku merobeknya" Evan tersenyum sinis menatap Alvin yang tersungkur di atas lantai.
Suara beberapa asisten mengalihkan asitensi Araya lalu menghampiri jendela dan melihat apa yang terjadi di bawa sana. Araya melotot dengan sempurna sembari membungkam mulut nya dengan tangan nya sendiri saat melihat Evan yang sedang memukul wajah Alvin.
"Jika kau tidak bisa membahagia kan nya maka aku dengan suka rela menggantikan posisi mu" Evan yang tadi nya ingin pergi kini menghentikan langkah nya dan menoleh pada Alvin.
"Kau memang suka dengan sesuatu yang bekas" desis Evan lalu melanjutkan langkah nya namun kali ini langkah nya terhenti lagi karena kalimat menohok Alvin.
"Kau pikir Araya menikahi mu karena rasa cinta?" Alvin tertawa mengejek Evan. "Araya terpaksa menikahi mu agar perusahaan paman nya tidak bangkrut". Alvin berhenti tertawa dan melanjut kan ucapan nya.
"Kau tidak pantas untuk nya! Kau hanya pria tidak berguna dan hanya membebani keluarga dan istri saja!"
Perkataan Alvin membuat Evan tersenyum tipis lalu menaikan lengan kemeja nya sampai siku dan menghampiri Alvin. "Pantas atau tidak, itu bukan urusan kau dan jangan perna ikut campur dengan masalah ku jika kau masih sayang dengan nyawa mu" Evan menyeket leher Alvin lalu mengangkat nya tinggi hingga wajah Alvin berubah menjadi merah.
Tap
Tap
Suara langkah kaki Araya menggema di mansion itu. "Apa yang anda lakukan" teriak Araya dengan mendorong keras tubuh Evan hingga mundur beberapa langkah. "Apa anda sudah gila!" sambung Araya saat cekikan Alvin terlepas dari tangan Evan.
"Kau kesini hanya untuk membela pria ini?" Evan menunjuk dada Alvin. "Apakah kau ingin melihat aku membunuh pria bre*sek ini! Hah!!" baru kali ini Evan membentak Araya dengan sangat keras lalu menggenggam tangan Araya dengan kuat hingga pergelangan tangan Araya merah.
Araya menangis sesegukan. "Evan!! Kau jangan kasar pada wanita" Alvin menggenggam tangan Araya yang sebelah kiri dengan lembut.
"Singkirkan tangan mu atau aku benar-benar akan mematahkan nya" tatapan Evan sangat mematikan hingga nyali Alvin menciut dan segera melepas tangan Araya.
Evan lalu menarik tangan Araya namun dengan cepat Araya menghempas kan tangan Evan. "Mengapa anda marah? Anda bahkan tidak menyukai ku dan sering mengusirku" Araya menjeda ucapan nya.
"Sikap anda yang seperti ini terlihat seperti suami yang sedang cemburu. Apakah anda cemburu?" Araya lalu mengusap kasar wajah nya untuk menghampus sisa air mata yang menetes di wajah cantik nya.
Sedangkan Evan hanya menatap Araya dan tatapan mereka bertemu hingga beberapa saat kemudian, Evan meninggalkan Araya di sana bersama Alvin.
Araya yang melihat Evan pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan nya. Kini mengikuti langkah Evan dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.
Araya pikir Evan akan kembali ke kamar mereka namun nyata nya salah. Saat Araya membuka pintu kamar nya Evan tidak ada di sana.
Araya menoleh menatap Lili. "Di mana Tuan Muda" tanyak Araya pada Lili yang sedari tadi mengikuti langkah Araya.
"Maaf Nona tapi sebaiknya anda jangan menemui Tuan Muda dulu" saran Lili. "Biarkan Tuan Muda tenang dulu" sambung Lili memcoba membujuk Araya agar tidak ke kamar Tuan Muda.
"Tunjukan di mana kamar nya".
Sebuah permintaan yang tidak bisa mereka tolak dan dengan terpaksa mengantar Araya ke dalam kamar pribadi milik Evan. Kini Araya sudah berdiri di depan kamar Evan dengan gusar saat mendengar suara barang berjatuhan dari kamar Evan, seperti nya penyakit Evan sedang kambuh.
"Nona, mohon urung kan niat anda untuk...."
"Aku ingin masuk" potong Araya begitu yakin.
June yang baru saja keluar dari kamar Evan kaget melihat Araya yang memaksa untuk masuk. "Maaf Nona, demi keselamatan anda mohon agar anda kembali ke kamar". June berdiri tepat di depan pintu menahan langkah Araya.
Araya melangkah lebih dekat pada June lalu berbisik di telinga June. "Siapa kau yang berani menentang ku?" Araya dengan angkuh membungsungkan dada nya dengan tatapan tajam.
Entah sejak kapan keberanian ini muncul, semua pelayan terkejut saat keangkuhan Tuan Muda mereka seperti nya menular juga pada istri kecilnya.
Lili dan June yang tadi nya tunduk kini mengangkat wajah nya dengan raut wajah keget. "Minggir" tegas Araya lalu mendorong tubuh June ke samping dan segera masuk ke dalam kamar sang suami dan menutup pintu nya rapat-rapat lalu mengunci nya dari dalam.
Araya terdiam sejenak bersandar di balik pintu menetralisi kan perasaan nya lalu mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan lahan mengurangi rasa gugup.
klo bisa, sebaiknya Evan dan araya pergi dari rmh org tuanya dan menjalani kehidupan mereka biar mereka bahagia