Sakit tak berdarah dirasakan perempuan bernama Ananta Gayatri Rumi ketika laki-laki yang menjadi suaminya justru mendorongnya pergi. Tidak hanya itu Ananta Gayatri Rumi di ceraikan hanya karena masalah sepele, Laki-laki yang menjadi suaminya kecewa karena saat pulang kerja tidak menemukan istrinya di rumah.
Hanya perihal sepele yang menjadi alasannya.
Saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Suaminya itu menyesal, tapi semua tak lagi sama. Talak sudah jatuh.
Tak habis akal, anak kepala desa itu memanfaatkan kedudukannya untuk menjerat istrinya yang sudah terlanjur dijatuhi talak tiga.
Dia memaksa Ananta Gayatri Rumi menikah dengan laki-laki pilihannya, laki-laki yang kerap perempuan itu ajak bicara.
Laki-laki tak sempurna yang akan dijadikan tumbal supaya dia bisa kembali rujuk dengan Ananta Gayatri Rumi.
Lantas siapa sebenarnya laki-laki pilihannya itu?
Benarkah rencananya sesuai dengan keinginannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih ujian yang sama.
"Kita pergi saja, aku nggak papah, Mas."
Dia berusaha meyakinkan Jaya yang telah siap dengan setelan rapi. Rumi pun demikian masih mengenakan pakaian yang di pilih Jaya untuk memeriksakan kandungan hari ini.
Jaya menatap Rumi dengan tatapan khawatir. Tapi Rumi berusaha meyakinkan Jaya bahwa ia akan baik-baik saja, sangat sayang jika momen ini tertunda.
Melihat cara Jaya menatapnya, entah mengapa Rumi kembali merasakan kesedihan yang teramat sangat. Suaminya itu tak baik-baik saja.
Walaupun tadi Jaya telah meyakinkannya bahwa mereka tidak akan berpisah, tapi tetap saja perasaan Rumi tidak membaik, Malah dia terus-terusan merasa sedih.
Yang di tentang bukan orang lain, melainkan seorang wanita yang menjadi alasan suaminya ada di dunia ini.
Rumi menghela napas pelan, dia begitu lelah harus terus berasa dalam kondisi seperti ini. Dia tidak pernah menginginkan semua ini. Dia lelah menjadi pihak yang terus disalahkan dan tidak diinginkan oleh keluarga suaminya. Dan dia tidak ingin terus dibenci oleh ibu mertuanya sendiri.
Sejujurnya Rumi bisa saja putus asa dengan situasi yang sedang dihadapinya. Tapi dia ingat jika sedang mengandung, dia hamil dan tertekan akan sangat tidak baik untuk calon anaknya.
Jaya terus menerus menatap istrinya, hingga sampai pada titik terakhir kesabaran.
"Maaf jika memilih hidup bersama denganku begitu sulit untukmu, dek."
Didekapnya tubuh sang istri dengan penuh kasih sayang, Jaya tahu istrinya pasti kaget dengan kehadiran ibu beserta kalimat kasar yang menghujatnya.
"Besok aja kita ke dokternya, ya dek." ucapnya seraya memberikan satu kecupan di kening Rumi.
Karena tidak mau berdebat, akhirnya Rumi mengangguk menyetujui.
****
Seharian ini dihabiskan keduanya mengurung diri di dalam kamar, Jaya mengerti saat ini perasaan istrinya sedang tak menentu. Untuk itu Jaya ingin Rumi beristirahat. Pria itu sangat khawatir dengan keadaan istrinya.
Ketikan pintu terdengar membuat Jaya melangkah membukanya.
"Tuan, maaf, itu makan siang sudah siap sejak tadi, saya sekalian mau pamit pulang setelah pekerjaan saya selesai." dia adalah Lestari yang tidak menyangka jika yang membuka pintu adalah Jaya.
"Ya, " kata Jaya irit, mempersilahkan perempuan muda itu pulang.
Lestari berusaha mengalihkan pandangan dari menatap Jaya agar tidak oleng.
Namun apa daya, kharismanya luar biasa.
Ia ragu bisa bertahan lebih lama bekerja di sini tanpa terpesona seorang Jaya, jadi ia harap ia cukup buta akan keberadaan Jaya di sekitarnya, meski tampaknya agak mustahil.
Rumi sangat baik, tak mungkin ia jadi pelakor dan menjadi antagonis hanya karena pesona pria yang nyatanya suami orang. Nauzubillah.
Lestari segera beranjak dari tempatnya ingin melakukan sisa pekerjaannya sebelum pulang.
*****
"Hassan.... "
Jaya mengambil kantong plastik yang menggantung di stang motornya dan mulai berjalan melewati wanita itu dengan langkah cepat, tanpa peduli apa pun lagi, sang wanita spontan mengekor lagi dan memegang tangannya.
"Hassan, kamu mau jadi anak durhaka, iya? Seandainya Ayah serta Troy masih ada, ibumu ini pastilah tidak kesepian dan mengemis perhatianmu seperti ini." Nyonya Sanjaya berteriak, Jaya melepaskan tangannya dari cekalan sang ibu.
"Hassan, Ibu mohon dengerin ibu Hassan."
Hassan tetap tidak perduli hingga ucapan wanita itu setelahnya kembali menyulut amarahnya.
"Ibu bisa melakukan sesuatu yang membuatmu melihat pada ibumu, kita tunggu saja antara wanita itu atau ibumu ini yang akan menang!"
Nyonya Sanjaya benar-benar tidak punya simpati ataupun empati.
"Bu, tolong!" ujar Jaya dengan rahang mengetat.
******
Kehamilan pertama Rumi tidak berjalan mulus. Terasa berat bagi wanita cantik itu, mual muntah nya berlebihan.
Hingga menyebabkan Rumi harus bolak-balik mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Jaya juga kerap tidak bekerja karena harus menemaninya di rumah sakit.
Selama hampir enam bulan mereka tinggal di rumah yang cukup mewah, segalanya tercukupi, tapi justru Rumi kerap makan hati di rumah yang Rumi ketahui milik suaminya, bukan karena hal itu yang membuat Rumi tertekan, tapi karena sejak hari dimana suaminya bertengkar hebat dengan sang ibu. Kini wanita paruh baya itu jadi kerap berkunjung.
Memasuki bulan ke enam Rumi mulai bisa beraktivitas seperti biasa dengan perutnya yang terlihat makin membesar. Dia menyukai penampilannya saat ini, dia begitu mencintai bayi yang berada di rahimnya.
Tentu saja semua itu juga dikarenakan dia cukup bahagia, hubungannya dan Jaya sudah sangat membaik. Mereka sudah saling terbuka setelah percakapan terakhir keduanya tentang semua hal, tidak ada lagi yang mereka tutupi dari satu sama lain. Jaya juga begitu perhatian dan menjaganya selama menjalani masa-masa awal kehamilannya yang cukup sulit.
Kini rumah tangga mereka terasa hangat walaupun Rumi masih sering mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari ibu mertuanya, yang terus menerus berusaha menggerus kesabaran Rumi.
Tapi Rumi terus menasehati dirinya untuk menahan kekesalannya karena Jaya yang pernah memintanya untuk terus bersabar. Rumi akan bersabar, apalagi mengingat dia tengah hamil.
Seminggu yang lalu nyonya Sanjaya datang beserta perempuan yang bernama Jenifer. Waktu itu Rumi bisa melihat rona wajah Jaya memerah menahan amarah.
Hari itu Jaya tidak langsung mengusir ibunya, tetapi sepanjang ibunya berada di rumah mereka, Jaya malah membawa sang istri pulang ke lamongan, menemui Zahra dan kedua orang yang dicintainya.
Saat ini Rumi tengah duduk di meja rias, sibuk mengoleskan gel di perutnya.
Terdengar suara pintu kamar yang diketuk. Rumi langsung berdiri dengan perlahan dan berjalan untuk membuka pintu.
"Permisi bu, ada nyonya besar di bawah." Lestari berkata ketika Rumi membuka pintu kamarnya.
"Sebentar_"
"Apa tidak sebaiknya ibu dikamar saja, temuinya nanti setelah bapak pulang, ini sudah setengah lima."
Lestari menjadi garda terdepan untuk Rumi ketika Jaya tidak ada. Lestari memang berkali-kali jatuh dalam pesona sang tuan, tapi itu tak membuatnya memiliki nyali untuk menjadi seorang penghianat sekalian pelakor.
Rumi belum sempat menjawab ditempatnya. Dia sudah menatap nyonya Sanjaya yang berjalan merangsek mendekatinya.
"Dasar wanita kotor, berani-berani sekali kamu menjadi penyebab putusnya komunikasi ibu dan anak."
Mendengar itu Rumi hanya bisa menghela napas kasar. Lagi-lagi dia yang disalahkan.
"Bu, anda jangan mendorong nyonya saya! " pekik Lestari ketika melihat nyonya Sanjaya mendorong pundak Rumi.
"Nyonya, eh? Memang kamu pikir siapa yang gaji kamu disini? Dia_" nyonya Sanjaya mengacungkan telunjuknya di depan wajah Rumi.
Lestari tidak bisa menjawab. Tapi dia menarik Rumi ke belakang punggungnya.
"Kamu bakal diceraikan Hassan!!" teriak seorang wanita lantang.
"Aku tidak akan pernah menceraikan Rumi!" suara berat bernada tinggi itu mengalihkan perhatian semua orang.
Jaya tegas menghampiri istrinya. "Dek, kamu baik-baik saja? " tanya Jaya dengan nada penuh kekhawatiran.
Senyum Rumi diam-diam terkembang. Dia suka ketika Jaya bersikap protektif seperti ini, dia benar-benar merasa dicintai.
Jaya membalikkan tubuhnya menghadap ibu dan wanita muda yang selalu ibunya bawa kemanapun.
"Saya sudah cukup bersabar dan diam, tapi kalian seperti menginjak harga diri saya didepan istri saya sendiri!"
Jaya kali ini benar-benar murka. Dia tidak bisa lagi bersabar menghadapi kelakuan ibunya. Apa lagi datang seperti ini dan berniat menyerang istrinya. Istrinya tengah hamil dan terus di tekan. Mana mungkin dia akan tetap diam.
Jika boleh jujur, tidak sulit untuk jatuh cinta pada Rumi. Wanita itu sempurna di mata Jaya. Jika dulu cintanya tak terkunci dengan almarhumah istrinya, Jaya akan dengan mudah mencintai wanita sesabar Rumi.
Jaya bangga bisa menjadi pria beruntung yang benar-benar dicintai oleh seorang Rumi. Dia memang tidak salah memilih, dan dia merasa benar untuk mengorbankan apapun untuk Rumi, termasuk melupakan cinta masa lalu dan menumbuhkan cinta baru untuk istri seperti Rumi.
"Saya diam karena menghormati ibu! Tapi ini semua sudah keterlaluan! Kini tidak ada lagi tempat untuk anda dengan bebas masuk kerumah kami, mulai sekarang, saya akan membayar orang untuk berjaga di depan."
"KAMU, SUDAH KAMU CUCI OTAK ANAK SAYA, PEREMPUAN SIALAN!"
"IBU! Jaga ucapan ibu! Rumi istri saya!"
"Durhaka kamu berani bentak ibumu! Pekik nyonya Sanjaya.
" Saya memilih jadi durhaka karena tindakan ibu sudah sangat keterlaluan!"
Rumi merasakan kram berlebihan pada perutnya.
Tidak mungkin dia sedang mengalami kontraksi palsu. Usia kandungannya baru akan memasuki tujuh bulan.
"Bu, kenapa? Ada yang sakit? " Lestari yang memperhatikan Rumi berubah khawatir.
"Perut aku_" Rumi meringis.
"Tuan, Bu Rumi kesakitan, tolong!" teriak Lestari yang menghentikan pertengkaran hebat antara ibu dan anak itu.
Saya sungguh terharu,
Karya Anda sungguh berkesan 🤍
Gnti nama jadi jaya?