dayn seorang anak SMA intorvert yang memiliki pandangan hidup sendiri itu lebih baik daripada berinteraksi dengan orang lain, tapi suatu hari pandangan hidupnya berubah semenjak bertemu dengan seorang gadis yang juga bersekolah di sekolah yang sama, dan disinilah awal mula ceritanya dayn merubah pandangan hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamdi Kun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Spesial eps:Sudut pandang Meira
Pagi ini aku bangun dengan kepala berat. Semalaman pikiranku terus dipenuhi bayangan Dayn dan Rika. Kejadian kemarin masih jelas terulang di kepalaku—bagaimana perhatian Dayn selalu condong pada Rika. Aku tahu tidak ada yang salah dengan itu, tapi tetap saja rasanya tidak adil. Kenapa aku tidak bisa berada di posisi Rika?
Aku menarik napas panjang dan mencoba menenangkan diri. Dengan lesu, aku bersiap untuk berangkat sekolah. Setiap langkah yang kuambil terasa berat, tapi aku berusaha untuk tidak terlihat terlalu murung.
Sesampainya di gerbang sekolah, mataku langsung menangkap pemandangan yang membuat dadaku terasa sesak. Dayn dan Rika sedang berbicara. Keduanya terlihat akrab, dengan senyum tipis yang terpancar dari wajah mereka. Meski aku tahu mereka tidak melakukan hal yang salah, hatiku tetap terasa perih.
“Kenapa aku nggak bisa seperti itu?” pikirku sambil menggigit bibir bawahku. Aku tahu Rika mengenal Dayn lebih dulu, tapi apakah itu berarti Dayn harus lebih memperhatikannya?
Tanpa sadar, kakiku melangkah lebih cepat, mencoba menghindari mereka. Aku yakin mereka bahkan tidak menyadari aku melewati mereka. Aku berhenti di lorong sekolah, duduk di bangku yang sepi. Tanganku meremas rok seragamku, dan pandanganku tertuju pada lantai.
Kenapa aku merasa seperti ini? Seharusnya aku bisa menerima kenyataan, tapi semakin aku melihat mereka bersama, semakin sulit rasanya.
Beberapa saat kemudian, suara langkah mendekat membuyarkan lamunanku. Aku mendongak dan melihat Dayn berdiri di hadapanku.
“Meira, kamu nggak apa-apa?” tanyanya dengan nada lembut.
Aku berusaha tersenyum tipis, meski aku tahu senyum itu tidak sampai ke mataku. “Aku baik-baik saja, Dayn.”
Dia menatapku dengan ragu, seolah tidak percaya. Saat aku mencoba bangkit, Dayn menahan tanganku. Sentuhannya hangat, tetapi hanya membuat hatiku semakin bergejolak.
“Kalau ada apa-apa, cerita ke aku, ya. Jangan dipendam sendiri,” katanya.
Aku menelan ludah dan mencoba tetap tenang. “Aku nggak apa-apa, benar,” jawabku sambil menarik tanganku perlahan. Tanpa menunggu tanggapannya, aku melangkah pergi menuju kelas.
Di dalam kelas, aku berusaha fokus pada pelajaran, tapi pikiranku terus melayang. Bayangan Dayn dan Rika terus menghantui pikiranku. Saat guru bertanya padaku, aku bahkan tidak menyadari hingga namaku disebut dua kali.
“Meira, apa kamu mendengarkan?” tegur guru dengan nada tajam.
Aku mengangguk cepat, mencoba menutupi rasa maluku. “Maaf, Bu,” jawabku singkat.
Namun, kejadian itu hanya membuat suasana hatiku semakin buruk. Ketika bel istirahat berbunyi, aku merasa dadaku begitu penuh. Tanpa berpikir panjang, aku berlari ke belakang sekolah.
Aku duduk di bawah pohon besar dan akhirnya membiarkan air mataku jatuh. Tidak ada gunanya menahan perasaan ini lagi. Aku merasa lemah, tetapi aku tidak tahu harus bagaimana.
“Meira?” Suara lembut itu membuatku menoleh.
Rika berdiri di sana dengan raut wajah khawatir. Aku buru-buru menghapus air mataku, tetapi dia sudah melihat semuanya. Dia mendekat dan duduk di sampingku.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
Awalnya aku tidak ingin bercerita, tapi rasa sesak di dadaku tidak bisa lagi kutahan. “Aku iri padamu, Rika,” ujarku akhirnya.
Rika terlihat terkejut, tapi dia tidak menyela. Aku melanjutkan, “Aku tahu kamu mengenal Dayn lebih dulu, dan aku tahu kamu pantas mendapatkan perhatian itu. Tapi tetap saja, rasanya nggak adil. Aku juga ingin diperhatikan seperti kamu.”
Rika menghela napas pelan, lalu menatapku dengan mata yang lembut. “Aku mengerti perasaanmu, Meira,” katanya. “Aku juga merasakannya, rasa takut kehilangan Dayn. Tapi aku nggak akan menyerah hanya karena rasa simpati.”
Aku mengangguk pelan. Dalam hati, aku tahu Rika benar. Aku juga tidak ingin dia menyerah hanya karena aku. Yang aku inginkan hanyalah dia tahu betapa besar rasa sukaku pada Dayn.
Tidak lama kemudian, langkah kaki lain mendekat. Aku mendongak dan melihat Dayn. Wajahnya langsung berubah khawatir saat melihatku.
“Meira, kenapa kamu menangis?” tanyanya dengan nada cemas.
Rika mencoba menjelaskan, tetapi Dayn justru memotong, “Apa kamu melakukan sesuatu?”
Aku buru-buru menggeleng. “Nggak, Dayn. Ini bukan salah Rika,” ucapku. Aku dan Rika saling pandang, seolah sepakat untuk tidak mengatakan apa pun.
Dayn akhirnya menghela napas panjang. “Kalau kalian nggak mau cerita, kita lupakan saja untuk sekarang. Yuk, kita nonton anime,” katanya mencoba mencairkan suasana.
Aku dan Rika akhirnya mengangguk. Meskipun masih terasa berat, aku mencoba tersenyum. Saat kami mulai menonton, aku beberapa kali mencuri pandang ke arah Dayn.
“Kenapa kamu nggak bisa melihatku lebih sering seperti itu?” pikirku sambil menunduk.
Tanpa sadar, aku terus memikirkan hal itu hingga bel masuk berbunyi. Kami bertiga bersiap kembali ke kelas masing-masing. Namun, sebelum pergi, Dayn menghentikanku.
Dia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menyerahkannya padaku. “Pakai ini,” katanya singkat.
Aku terkejut, tapi juga merasa senang. Meski kecil, perhatian itu berarti banyak bagiku. “Terima kasih, Dayn,” ucapku sambil tersenyum tulus.
Aku tahu, perjalanan ini masih panjang. Tapi perhatian kecil seperti itu memberikan harapan baru. Rika tersenyum di samping kami, tetapi aku tahu, di balik senyuman itu ada sesuatu yang sulit dijelaskan.
episode 27 Bersambung.....