Indonesia
NovelToon NovelToon
LOVE STORY FROM ROAD

LOVE STORY FROM ROAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Obsesi / Fantasi Wanita
Popularitas:39.1k
Nilai: 5
Nama Author: sjulerjn29

Raisa terlahir sebagai anak yang ceria selayaknya anak pada umumnya. Namun, setelah kejadian hilangnya sang adik semua kehangatan dan kebahagiaan yang dulu ia dapatkan di rumah sirna seketika. Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang hilang berada di jalanan, melepas semua beban dan merasakan kebebasan yang telah lama terkurung dalam sangkar. Karena trauma masa lalu yang berbekas di hatinya, memaksanya terlihat kuat di hadapan semua orang. walau sebenarnya hatinya sangat rapuh, sampai dia tak tahu artinya pelukan hangat, pujian yang membanggakan dan kasih sayang yang tulus. Akankah Raisa menemukan jati dirinya lagi yang selama ini ia kubur dalam-dalam dan menemukan seseorang yang mampu melelehkan hatinya yang telah membeku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. CRIMSON DAY

‎Di balik amukan itu, semua orang menahan napas, tak berani bergerak.

‎Raisa gemetar, kedua tangannya sempat terangkat, ragu-ragu tapi akhirnya ia menggenggam erat jaket kulit hitam yang membalut tubuhnya, mencari rasa aman di tengah kekacauan. Tubuhnya nyaris tenggelam dalam dekapan itu, begitu dekat hingga ia bisa mendengar detak jantungnya yang cepat, bercampur dengan napas berat yang penuh kecemasan.

‎Sementara itu, ayahnya yang masih mengamuk tidak melihat pelukan itu sebagai perlindungan melainkan penghinaan. Tatapan matanya makin membara, melihat putrinya dipeluk lelaki asing di hadapannya.

‎Namun Raisa tidak peduli. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada pemuda itu, terisak tanpa suara. Pelukan itu bukan tentang cinta, melainkan keputusasaan akan rasa takut kehilangan kendali, rasa ingin selamat, dan harapan agar badai di ruang tamu itu cepat reda.

‎‎Namun di sisi lain, sahabat Raisa justru berada di ujung batas. Tatapannya liar, dadanya naik-turun cepat. Tangannya menutupi mulut, seakan berusaha menahan teriakan. Setiap kali gelas pecah atau kursi tergeser keras ke lantai, tubuhnya tersentak, membuat kecemasannya semakin parah.

‎Matanya memandang Raisa yang sedang dipeluk, bukan dengan rasa cemburu, melainkan ketakutan ganda, takut ayah Raisa makin murka, dan takut dirinya sendiri akan tumbang karena anxiety yang mulai menyerang hebat.

‎Suasana ruang tamu makin tegang, Raisa dan anak buahnya saling berpegangan seolah bertahan dalam badai, sementara sahabatnya hampir terhempas oleh badai yang sama, dengan napas tercekik dan tubuh bergetar. Semua itu terjadi di bawah tatapan liar penuh amarah ayah Raisa, yang makin sulit dikendalikan.

‎Raisa berusaha melepaskan diri dari pelukan anak buahnya, wajahnya panik. “Ayah, tolong! Dia hanya melindungi ku, jangan salah paham!”

‎Namun sorot mata ayahnya seakan buta tercampur antara ketakutan, marah, dan rasa dikhianati. Setiap helaan napasnya terdengar kasar, seperti deru binatang buas yang siap menerkam.

‎Sahabat Raisa ikut maju, mencoba menahan di sisi lain. Tapi tangannya gemetar, matanya jelas menunjukkan ketakutan luar biasa pada sosok yang dulu ia kagumi sebagai atlet legendaris kini berubah menjadi badai amarah yang sulit dikendalikan.

‎"Kumohon hentikan.." suara itu terdengar pelan dan gemetar keluar dari mulut Bobby yang mulai diliputi ketakutan dan kecemasan.

‎Suasana ruang tamu makin mencekam. Pecahan kaca masih berkilauan di lantai, suara langkah berat ayah Raisa mendekat, dan Raisa hanya bisa menangis sambil memohon, tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan anak buahnya.

‎Tanpa kendali, ia meraih vas kaca di dekatnya berniat melempar ke arah Alex yang sedang melindungi putrinya. Begitu menyadari ayahnya hendak melempar vas kaca ke arah punggung anak buahnya, Raisa langsung bereaksi. Tanpa pikir panjang, ia menarik tubuh anak buahnya ke depan lalu mendekapnya erat dari belakang, seperti perisai hidup.

‎“Jangan!” suaranya pecah, hampir terselip panik.

‎Tubuh mungil Raisa menempel rapat di punggung bidang anak buahnya. Lengannya yang lemah tapi penuh tekad melingkar kuat di pinggangnya, membuat pria itu sempat terkejut dan kaku.

‎‎BRAKK!!

‎Prangg!!

‎Vas kaca menghantam kepala bagian belakang Raisa dengan keras. Seketika suara pecahan memenuhi ruangan. Cairan hangat mengalir dari rambutnya, membuat anak buahnya membelalak ngeri.

‎“Raisa!!” teriaknya, tangannya reflek meraih bahu Raisa, mencoba menahan tubuhnya yang mulai goyah.

‎"Kumohon..henti...kan.." Nadanya terdengar lemah, pandangannya kabur, napasnya tersengal, matanya berusaha terbuka namun perlahan tertutup, menyisakan bayangan samar wajah pria yang tengah mendekapnya. Raisa tak sadarkan diri dipelukan anak buahnya, noda merah menetes hingga membasahi baju anak buahnya.

‎"Raisa aku mohon sadarlah, gak mungkin..Raisa..." Alex berteriak histeris tak percaya dengan semua yang terjadi.

‎Di sisi lain, ayahnya tertegun, tatapannya kosong dan napasnya tersengal. Kedua tangannya gemetar, seolah baru sadar bahwa amarahnya barusan bukan hanya melukai orang lain, tapi putrinya sendiri.

‎Tubuh Raisa yang masih memeluk erat perlahan kehilangan tenaganya. Tangan kecilnya yang tadi mencengkeram kuat, kini mulai melemah dan terlepas perlahan dari pinggang anak buahnya.

‎“Raisa! Bertahan, sadarlah kumohon!” suara panik anak buahnya pecah, tangannya segera menahan tubuh gadis itu yang nyaris terjatuh.

‎Kepala Raisa bersandar di dada bidangnya, cairan merah yang merembes dari belakang kepalanya mengotori baju hitam yang ia kenakan.

‎“Raisa, jangan tinggalkan aku…” suaranya parau, penuh getir. Ia mengguncang tubuhnya pelan, mencoba membuatnya tetap sadar.

‎Namun tubuh Raisa sudah benar-benar lemas. Lalu kepalanya jatuh, terkulai di pelukan anak buahnya.

‎Anak buahnya menunduk, keringat bercampur cairan merah menempel di kulitnya. Jantungnya berdetak kencang, sementara dunia di sekitarnya seolah hening, hanya menyisakan kepanikan dalam dirinya.

‎Ayah Raisa berdiri membeku, wajahnya pucat, tangan kekarnya gemetar. Sahabat Raisa menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca, tak mampu menahan tangis. Ketika ruangan itu seolah membeku. Vas yang pecah masih berserakan di lantai, pecahan kacanya memantulkan cahaya lampu temaram. Cairan merah perlahan mengalir dari belakang kepala Raisa, menetes di lantai marmer yang kini ternodai warna merah.

‎"Tidak mungkin...aku tidak mungkin berbuat seperti itu? Tangan ini...tidak.." Tangannya gemetar dan tubuhnya mulai goyah karena rasa bersalah mulai merasuki pikirannya.

‎“RAISAAA!!!” teriak Ayah Raisa.

‎Teriakan itu menggema, parau, bercampur ketakutan.

‎Air mata Alex jatuh deras membasahi wajahnya, menetes di rambut Raisa. Dadanya naik turun tak beraturan, suaranya pecah saat ia memohon, mengguncang tubuh yang sudah lemas itu.

‎“Jangan pergi… jangan tinggalin aku… tolong, bangun…”

‎Tangisannya memenuhi ruangan, melawan keheningan mencekam setelah amukan brutal sang ayah berhenti begitu saja.

‎Ayah Raisa berdiri kaku, tubuh atletisnya gemetar, wajahnya pucat pasi. Sahabat Raisa pun jatuh terduduk, air mata mengalir deras, tak sanggup mendekat.

‎"Raisa....."

‎Ayah Raisa berdiri terpaku, tangannya masih terangkat kaku seakan tak percaya apa yang baru saja dilakukannya. Jemari kekar yang dulu melindungi, kini melukai putrinya sendiri. Pandangannya bergetar, pupilnya melebar tak fokus, bibirnya gemetar tanpa suara. “Tidak… ini bukan tangan ayah… ini tidak mungkin…”

‎Tubuh atletisnya gemetar, napasnya tersengal, dada naik turun penuh penyesalan. Dia menunduk, menatap telapak tangannya yang bergetar hebat. Rasa sakit menusuk ulu hatinya jauh lebih pedih dari luka fisik manapun yang pernah ia alami.

‎Sementara itu, sahabat Raisa masih jatuh terduduk di lantai. Lututnya lemas, tubuhnya gemetar hebat. Tatapannya kosong menembus ruang, matanya basah dengan airmata melihat sahabatnya terkulai tak sadarkan diri. Napasnya pendek, wajah pucat nya menoleh pada Raisa, namun tubuhnya tak mampu bergerak mendekat.

‎"Raisa..." Bobby tak kuasa menahan tangis setelah melihat kondisi Sahabatnya yang bersimbah cairan berwarna merah segar mengotori lantai, di depan matanya.

‎Keheningan yang mencekam hanya dipatahkan oleh suara isakan lirih anak buah Raisa yang masih memeluk gadis itu dan isakan pilu seorang sahabat. Dan di sudut pandangan semua orang, terlihat jelas, seorang ayah yang remuk karena menyadari bahwa dengan tangannya sendiri, ia melukai satu-satunya putri yang ia jaga selama ini.

‎Ayah Raisa berniat melangkah maju, lututnya gemetar, wajah penuh panik ingin menghampiri putrinya yang terkulai di pelukan anak buahnya. Namun, baru satu langkah kakinya goyah. Napasnya terputus-putus, dadanya terasa sesak bagai dihimpit batu besar.

‎Tangannya yang semula terulur untuk meraih Raisa malah terkulai jatuh, tubuh kekarnya kehilangan tenaga. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya. “Ra… Raisa…” suaranya bergetar, namun sebelum bisa menyentuh putrinya, matanya terpejam, dan tubuh besarnya ambruk menghantam lantai dengan bunyi berat.

‎Semua orang di ruang itu terperangah. Sahabat Raisa yang masih duduk lemas terhenyak, tangan gemetar dan segera berusaha bangkit menghampiri dua orang yang tak sadarkan diri di hadapannya. Anak buah Raisa makin erat memeluk tubuh gadis itu, kini dengan dua beban sekaligus, seorang pemimpinnya yang tak sadarkan diri, dan ayahnya yang juga roboh tak berdaya.

‎Keheningan yang menekan itu kini digantikan oleh hiruk pikuk kepanikan, teriakan memanggil nama mereka, dan tangis yang pecah tanpa bisa dibendung.

‎"AYAH..."

‎"RAISA.."

Bersambung...

Apa Raisa baik-baik saja?

Bagaimana dengan kondisi Ayah Raisa yang ikut pingsan setelah tak sengaja melukai putrinya?

Akankah penyesalan terulang kembali kepada Ayahnya?

Mampukah Alex dan Bobby menghadapi semuanya?

Kawal terus kelanjutannya ya jangan lupa kasih suport seperti vote, like, komen dan subscribe agar tidak ketinggalan ceritanya ya. Terimakasih yang sudah setia semoga aku tetap semangat melanjutkan kisah Raisa.

1
checangel_
Jurus pelarian berujung penantian 🤭
checangel_
Kekuatan do'a😇
checangel_
Dari baja yang dibekukan dalam suhu cukup sekian dan tidak butuh keluhan, walaupun terkadang banyak alasan 🤭
checangel_
🤭/Scowl/
checangel_
Aset mahal/Facepalm/
sjulerjn29: aset dia cuma muka🤭
total 1 replies
checangel_
/Facepalm/
checangel_
Calm down😊
checangel_
/Good/
checangel_
Aku setia menunggu Bobby ini🤭
sjulerjn29: tunggu aksi heroik dia ya🤭
total 1 replies
💃💃 H💃💃💃
bagus
checangel_
Harus dong, kan sudah makan es doger 🤭
sjulerjn29: iya Kenny pun gabung soalnya udah terkuras habis tenaganya 🤭
total 3 replies
checangel_
Bisa-bisanya lagi berada di tengah konflik, es doger lewat🤣🤭
sjulerjn29: di real life juga suka gitu kan🤭
total 1 replies
checangel_
🤣🤣 Sabar ya Bobby /Facepalm/
sjulerjn29: Bobby belum siap🤣
total 1 replies
checangel_
Merdeka bergema /Smile/
sjulerjn29: harus nya sambil bawa bambu runcing bukan helm🤭
total 1 replies
Xlyzy
eh kalian ga cemburu apa lihat Raisa di pepet terus gitu kalian kapan bertindak nya
Xlyzy
dia yang senyum dia yang ga sadar 🤣😭
@dadan_kusuma89
Rio, kamu mau nyamar jadi gembel apa gimana nanti? buat mengerjakan misi dari bosmu...
@dadan_kusuma89
Udah, Marco! Istirahat dulu, ngopi dulu... ntar bisa dicoba lagi
-Thiea-
siapa lagi ini. mau ngomong apa dia? suruhan siapa? apa musuhnya? atau ibunya? Atau pria yang diam-diam naksir Raisa. 🫣
-Thiea-: hahaha... biar bingung jawabnya. 😅😅
total 2 replies
-Thiea-
gak usah dipikirin ibumu, dia aja gak peduli sama kamu. dan g pernah ada saat kamu butuh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!