Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: JARAK YANG BERBICARA 4
Minggu-minggu berikutnya berlalu lebih cepat daripada yang dibayangkan Rangga.
Proyek pembangunan di pedalaman Borneo memasuki tahap yang semakin padat. Hampir setiap divisi bekerja berpacu dengan waktu demi memenuhi target yang telah ditetapkan manajemen.
Percetakan digital lapangan milik Rangga pun ikut terseret ke dalam ritme tersebut.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar meninggi, ia sudah berada di depan komputer, memeriksa daftar pekerjaan yang masuk sejak malam sebelumnya. Belum sempat satu pesanan selesai dicetak, permintaan baru kembali berdatangan dari berbagai bagian proyek.
Denah lokasi.
Spanduk keselamatan kerja.
Dokumen rapat.
Hingga gambar teknik berukuran besar yang harus selesai sebelum pagi berganti siang.
Hari-harinya dipenuhi suara mesin cetak yang nyaris tak pernah berhenti.
Sesekali Doni membantu mengganti gulungan media cetak atau mengangkat hasil pekerjaan yang telah selesai. Tanpa disadari, keduanya mulai bekerja dengan irama yang selaras.
"Mas, tinta warna biru tinggal satu botol."
Doni menghampiri sambil membawa catatan persediaan.
Rangga segera menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Sudah dihitung untuk kebutuhan minggu ini?"
"Sudah."
"Kalau kiriman dari kota terlambat, stok kita paling kuat sampai empat hari."
Rangga mengangguk pelan.
"Berarti sore ini langsung buat daftar pemesanan."
"Jangan tunggu habis."
"Siap."
Masalah di pedalaman memang berbeda dengan di Jakarta.
Di kota, kebutuhan yang kurang bisa dibeli dalam hitungan jam.
Di sini, satu keterlambatan pengiriman dapat menghambat pekerjaan berhari-hari.
Karena itulah Rangga mulai membiasakan diri berpikir beberapa langkah lebih jauh.
Menjelang malam, hujan turun perlahan membasahi kawasan proyek.
Suara rintiknya memukul atap seng bangunan percetakan, berpadu dengan dengung mesin yang masih bekerja menyelesaikan pesanan terakhir.
Rangga melirik jam dinding.
Pukul delapan lewat tiga puluh.
"Mas."
Doni menutup map laporan.
"Sudah cukup buat hari ini."
Rangga masih menatap layar komputer.
"Tinggal satu file."
"Biar besok pagi saja."
"Kalau selesai sekarang, besok tinggal cetak."
Doni tersenyum maklum.
"Akhirnya Mas Rangga mulai susah disuruh istirahat."
Rangga tertawa kecil.
"Mungkin."
Beberapa menit kemudian, file terakhir berhasil disimpan.
Ia mematikan komputer dan meregangkan kedua lengannya.
Tubuhnya terasa jauh lebih lelah dibanding minggu-minggu pertama saat tiba di Borneo.
Namun anehnya...
Ia mulai terbiasa dengan semua itu.
Rutinitas yang dulu terasa berat kini perlahan menjadi bagian dari kehidupannya.
Saat hendak memasukkan laptop ke dalam tas, layar ponselnya menyala pelan.
Ada beberapa pesan yang masuk sejak sore.
Sebagian berasal dari grup proyek.
Sebagian lagi dari pemasok bahan cetak.
Dan satu pesan dari seseorang yang selalu berhasil membuat sudut bibirnya terangkat.
Sari.
Rangga membuka pesan itu perlahan.
"Semoga pekerjaanmu hari ini lancar. Jangan lupa istirahat kalau sudah selesai. "
Ia menatap tulisan itu beberapa saat.
Lalu tanpa sadar mengembuskan napas panjang.
Hari demi hari, pesan-pesan sederhana seperti itulah yang selalu menunggunya di sela kesibukan.
Pesan yang mungkin singkat.
Namun selalu berhasil mengingatkannya bahwa ada seseorang di Jakarta yang tak pernah berhenti mendoakan setiap langkahnya.
Rangga tidak langsung membalas pesan itu.
Ia memasukkan beberapa peralatan kerja ke dalam tas, memastikan seluruh mesin cetak telah dimatikan, lalu menutup pintu bangunan percetakan bersama Doni.
"Hujannya masih lumayan deras, Mas."
Doni menatap langit yang gelap.
"Semoga besok cuaca lebih bersahabat."
"Semoga."
Rangga mengangguk.
"Kalau hujan begini terus, jalan menuju gudang pasti makin licin."
"Truk logistik juga bisa terlambat."
Keduanya berjalan cepat menuju mes karyawan sambil mengenakan jas hujan tipis yang disediakan pihak proyek.
Udara malam terasa jauh lebih dingin daripada biasanya.
Sesampainya di kamar, Rangga segera membersihkan diri.
Air hangat yang membasahi tubuhnya sedikit mengusir rasa pegal setelah seharian bekerja tanpa banyak jeda.
Beberapa menit kemudian, ia duduk di tepi ranjang sambil kembali membuka ponselnya.
Pesan dari Sari masih terpampang di layar.
Kali ini ia segera membalas.
"Alhamdulillah, hari ini lancar. Baru selesai kerja. Di sini lagi hujan deras. Kamu jangan lupa istirahat juga."
Tak sampai satu menit, tanda centang berubah menjadi telah dibaca.
Tak lama kemudian, nama Sari muncul di layar.
Panggilan masuk.
Rangga tersenyum kecil sebelum mengusap tombol hijau.
"Halo, Sar."
"Halo."
Suara Sari terdengar lebih jelas daripada biasanya.
"Malam ini sinyalnya bagus?"
"Sepertinya lagi baik."
"Alhamdulillah."
Rangga menyandarkan punggungnya ke dinding kayu kamar.
"Kamu belum tidur?"
"Belum."
"Aku baru selesai beres-beres kamar."
"Lelah?"
"Sedikit."
"Lalu kamu?"
Rangga tersenyum kecil.
"Lebih dari sedikit."
Sari terkekeh pelan.
"Aku sudah bisa menebaknya."
"Mukaku pasti kelihatan kusut ya?"
"Meskipun nggak lihat, aku tahu."
Percakapan sederhana itu kembali menghangatkan malam mereka.
Sari mulai bercerita tentang pekerjaannya di kantor yang beberapa hari terakhir juga cukup sibuk.
Sesekali ia menceritakan tingkah Beni yang masih sering membuat suasana ruko menjadi ramai.
Rangga mendengarkan sambil tersenyum.
Rasanya seperti sedang pulang sebentar ke Jakarta melalui suara yang terdengar dari seberang telepon.
"Aku senang dengar ruko baik-baik saja."
"Tono juga cerita, pesanan masih stabil."
"Syukurlah."
"Dia bilang kamu nggak perlu terlalu khawatir."
Rangga mengangguk pelan.
"Aku memang beruntung punya mereka."
"Dan..."
Sari berhenti sejenak.
"Kamu juga beruntung."
"Kenapa?"
"Karena masih banyak orang yang peduli sama kamu."
Rangga terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat dadanya terasa hangat.
Di luar, hujan masih turun membasahi pedalaman Borneo.
Sementara di dalam kamar mes yang sederhana, suara Sari kembali menjadi penghapus lelah setelah hari yang panjang.
Percakapan mereka terus mengalir.
Tidak ada pembahasan tentang proyek besar ataupun rencana masa depan yang rumit. Malam itu, mereka hanya saling bertukar cerita tentang hal-hal sederhana yang terjadi sepanjang hari.
Sesederhana itulah cara mereka menjaga kedekatan.
"Beberapa waktu lalu Aku sempat mampir ke ruko," ujar Sari.
Rangga tersenyum.
"Tono cerita."
"Katanya mereka mulai terbiasa."
"Iya."
"Tapi tetap saja rasanya beda."
Rangga memahami maksud perkataan itu.
Bukan hanya Sari yang merasakannya.
Ia pun beberapa kali tanpa sadar membayangkan suasana ruko kecil di Jakarta ketika sedang beristirahat di sela pekerjaan.
Suara mesin cetak yang sudah akrab di telinganya.
Candaan Beni yang hampir tidak pernah habis.
Ketelitian Tono saat memeriksa hasil cetakan.
Semuanya masih terasa begitu dekat di ingatannya.
"Rangga..."
Suara Sari kembali terdengar.
"Hm?"
"Kamu sehat, kan?"
Rangga tersenyum kecil.
"Alhamdulillah."
"Jangan bohong."
"Aku serius."
"Habis suaramu terdengar capek."
Rangga terdiam beberapa saat.
"Aku memang lelah."
"Tapi bukan berarti nggak kuat."
"Aku masih bisa menjalaninya."
Sari mengembuskan napas pelan.
"Aku percaya."
"Tapi tetap jaga dirimu."
"Iya."
"Kalau sakit, jangan merasa harus menanggung semuanya sendiri."
Kalimat itu membuat Rangga menatap langit-langit kamar mes.
Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
Di tempat sejauh ini, ternyata masih ada seseorang yang selalu mengingatkan hal-hal kecil yang sering ia abaikan.
"Aku janji."
jawabnya pelan.
Beberapa saat kemudian, sambungan telepon mulai dipenuhi suara berdesis.
Sinyal kembali melemah.
"Rangga..."
Suara Sari terdengar terputus-putus.
"...kayaknya... sinyal..."
"Iya."
"Aku masih dengar."
Namun suara itu kembali menghilang.
Hanya tersisa gangguan statis yang memanjang.
Rangga mencoba berpindah mendekati jendela kamar.
Sinyal sempat membaik sesaat.
"Hallo?"
"Masih dengar?"
"Aku..."
Suara Sari kembali terputus.
Tak lama kemudian, panggilan berakhir dengan sendirinya.
Rangga menatap layar ponselnya.
Beberapa detik ia menunggu.
Tidak ada panggilan masuk lagi.
Ia tersenyum tipis.
Sudah beberapa kali mereka mengalami hal seperti ini.
Dan setiap kali itu pula, mereka memilih untuk tidak saling menyalahkan.
Rangga kemudian mengetik sebuah pesan singkat.
"Sinyalnya hilang. Selamat istirahat ya. Semoga besok harimu menyenangkan. Terima kasih sudah selalu mengingatkanku untuk menjaga diri."
Pesan itu langsung terkirim.
Tak lama kemudian, balasan dari Sari muncul.
"Selamat istirahat juga. Semoga Allah selalu menjaga setiap langkahmu di sana."
Rangga membaca pesan itu sekali lagi sebelum meletakkan ponselnya di atas meja.
Di luar, hujan perlahan mulai reda.
Suara rintiknya berganti menjadi tetesan air yang jatuh dari ujung atap.
Rangga memejamkan mata.
Esok pagi, pekerjaan yang sama akan kembali menunggunya.
Namun malam itu, ia dapat beristirahat dengan lebih tenang.
Karena ia tahu, sejauh apa pun langkahnya membawanya pergi, selalu ada doa yang menyertai dari seseorang yang menunggu di bawah langit yang sama.