Indonesia
NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Dingin yang Menular

Suara detak jarum jam dinding berbingkai kayu jati di ruang makan utama kediaman Dirgantara terdengar bagai dentangan besi yang berat. Suasana makan malam keluarga yang biasanya hangat dan dipenuhi canda tawa, kini berubah menjadi sebuah ruang eksekusi yang membeku.

Aroma masakan gurih yang dihidangkan Bi Asih melayang di udara, namun tidak ada satu pun orang di meja panjang itu yang menikmati hidangan tersebut.

Di ujung meja, Baskara duduk dengan kemeja kerja yang sudah dilipat hingga siku. Wajah pria matang itu tampak begitu lelah, dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang semakin mempertegas keputusasaan yang menggerogoti jiwanya. Sepasang matanya terus-menerus bergerak, menatap bergantian ke arah dua wanita terpenting dalam hidupnya yang duduk bersisian di hadapannya Kinanti dan Natasha.

Kinanti menyuapkan nasi ke mulutnya dengan gerakan yang amat sangat tenang, halus, dan anggun. Perutnya yang kian membuncit tersangga nyaman di balik gaun hamil berwarna abu-abu muda. Wajahnya bersih, datar, dan tanpa ekspresi sebuah topeng es tak tertembus yang konsisten ia kenakan sejak beberapa hari terakhir.

Namun, yang membuat dada Baskara malam ini jauh lebih sesak dan berdebar cemas bukan hanya sikap dingin istrinya.

Natasha putri tunggal kesayangannya yang biasanya bermanja-manja, bercerita tentang sekolahnya, atau tertawa renyah menyambut kepulangannya malam ini duduk membisu. Gadis remaja itu hanya memutar-mutar sendok di atas piringnya, menunduk dengan raut wajah yang teramat sangat kaku dan kelam.

"Sha..." panggil Baskara dengan suara rendah, mencoba mencairkan keheningan yang mencekik itu. Pria itu menyunggingkan senyum hangat yang dipaksakan. "Kenapa makanannya cuma diacak-acak seperti itu, Nak? Ayam panggangnya tidak enak? Mau Papi belikan makanan lain?"

Natasha tidak mendongak. Jemari lentiknya yang memegang sendok justru mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.

"Tidak perlu, Pi. Natasha kenyang," jawab Natasha singkat. Suaranya begitu dingin, datar, dan sama sekali tidak memiliki dinamika kehangatan seperti biasanya.

Baskara menahan napasnya. Hatinya seperti tertusuk jarum-jarum kecil. Pria berkuasa itu meraba-raba kesalahan apa lagi yang sudah ia perbuat hingga putri kesayangannya bersikap seasing ini padanya. Baskara mengira perubahan sikap Natasha hanyalah karena gadis itu terpengaruh oleh keributan antara dirinya dan Kinanti beberapa hari lalu.

Baskara sama sekali tidak tahu... bahwa ada sebuah rahasia besar yang disimpan rapat oleh Natasha di dalam dadanya sebuah rahasia yang telah meremukkan rasa hormatnya sebagai seorang anak kepada sosok sang papa.

Tiga Hari yang Lalu.

Matahari sore baru saja terbenam di balik gedung-gedung pencakar langit kota ketika Natasha berjalan tertawa bersama tiga orang teman sekolahnya di sebuah pusat perbelanjaan kelas atas. Hari itu adalah hari ulang tahun salah satu temannya, dan mereka memutuskan untuk merayakannya dengan minum kopi di sebuah kafe privat bergaya Eropa yang terkenal sangat eksklusif.

Suasana kafe ramah dan penuh alunan musik jazz pelan. Natasha yang mengenakan seragam sekolah yang dilapisi jaket kasual melangkah menuju sudut ruangan bersama teman-temannya.

Namun, saat matanya secara tidak sengaja menyapu area VIP lounge berkaca buram yang berada di pojok kanan kafe, langkah kaki Natasha seketika terhenti kaku. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga.

Di balik kaca buram yang sedikit terbuka, Natasha melihat sosok pria paruh baya yang sangat ia kenali pria tegap bersetelan jas yang selama ini ia banggakan sebagai pahlawannya.

Papinya. Baskara Dirgantara.

Dan di hadapan papanya, duduk seorang wanita bergaun merah marun yang belakangan ini kerap menjadi pemicu keributan di rumah mereka: Valerie.

Natasha terpaku di tempatnya, matanya membelalak lebar dengan napas yang tertahan di dada. Aliran darahnya mendadak terasa membeku.

Di dalam ruangan kaca itu, Natasha melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Baskara memperlakukan Valerie. Papanya memotongkan daging steak untuk wanita itu, menyodorkan segelas air putih dengan tatapan yang begitu lembut, dan bahkan menggenggam jemari wanita itu dengan penuh perhatian—perhatian yang teramat sangat manis, seolah-olah wanita bernama Valerie itu adalah barang sangat mahal dan berharga yang harus dijaga sepenuh hati.

Seketika, rasa mual dan kemurkaan yang luar biasa bergolak di dalam perut Natasha. Dinding penghormatan yang ia bangun puluhan tahun untuk papanya runtuh berantakan menjadi puing-puing tak bernilai dalam hitungan detik.

Dada Natasha bergemuruh hebat. Tangannya mengepal erat di samping tubuh, dan dorongan emosi remajanya sempat memprovokasinya untuk melangkah maju, membalikkan meja di ruangan itu, dan mengamuk menumpahkan amarahnya pada papa dan wanita tidak tahu malu tersebut.

Namun, saat Natasha hendak mengambil langkah pertama, suara tawa riang dari teman-temannya yang berjalan di sampingnya menyentakkan kesadarannya.

"Sha? Mau duduk di meja mana kita?" tanya salah satu temannya.

Natasha tersentak pelan. Dia dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain, napasnya memburu dan matanya berkaca-kaca menahan malu dan amarah yang meledak-ledak. Natasha sadar betul siapa dirinya dan siapa papanya. Jika dia mengamuk di kafe umum ini dan teman-temannya menyadari kehadiran Baskara yang sedang berselingkuh dengan wanita lain, mau ditaruh di mana wajah dan harga dirinya sebagai putri dari keluarga Dirgantara yang terpandang?

"K-kita... cari kafe lain saja, yuk," bisik Natasha dengan suara gemetar hebat, berusaha keras menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi dari pandangan teman-temannya. "Aku... aku mendadak mual dan pusing."

Teman-temannya yang polos mengangguk setuju tanpa menaruh curiga sedikit pun. Natasha berjalan keluar dari mall tersebut dengan langkah gontai dan air mata menetes diam-diam di balik kacamata hitamnya. Sejak sore yang kelam itu, sosok 'Papa Baskara' yang sempurna di matanya telah mati seutuhnya.

Kembali ke Meja Makan Malam Ini.

Baskara berdehem pelan, mencoba meraih perhatian Natasha kembali di meja makan yang sunyi tersebut. Pria itu menyodorkan se piring buah potong segar ke arah putrinya.

"Sha, ini buah naga kesukaanmu. Papi ambilkan, ya?" ucap Baskara lembut, mencoba memasang raut wajah manis seorang ayah yang penyayang.

Natasha mendongak perlahan. Sepasang mata remajanya menatap lurus tepat ke dalam manik mata Baskara. Tidak ada lagi binar kehangatan atau manja seorang anak di dalam mata itu. Yang tersisa hanyalah tatapan dingin, benci, dan kekecewaan yang begitu tebal—sebuah tatapan yang membuat Baskara seketika membeku di tempatnya.

"Tidak usah, Pi," sahut Natasha datar, suaranya tajam menusuk udara. "Natasha bisa ambil sendiri. Lagipula, Papi tidak perlu repot-repot bersikap manis padaku di meja makan ini."

Baskara tersentak. Alis tebalnya bertaut bingung dan kaget. "Sha? Kenapa kau bicara begitu pada Papi? Papi ini papamu!"

Natasha menyunggingkan senyum sinis yang amat sangat mirip dengan cara Kinanti tersenyum sinis—sebuah pemandangan yang membuat dada Baskara kian terguncang.

"Papi memang Papi-ku," jawab Natasha pelan namun setiap katanya ditegaskan dengan penuh kebencian yang tertahan. "Tapi aku baru tahu kalau Papi ternyata sangat pandai berakting menjadi pria penyayang di depan keluarga, sementara di luar Papi sibuk memperlakukan orang lain dengan sangat manis."

Deg!

Jantung Baskara berdesir hebat. Pria itu meletakkan garpunya dengan tangan gemetar. "Sha! Jangan bicara ngawur! Apa yang disimpulkan dari ucapanmu itu?!"

Kinanti yang duduk di sebelah Natasha perlahan meletakkan sendoknya. Dia menatap anak tirinya dengan lembut, lalu mengusap punggung tangan Natasha di bawah meja, menyalurkan kekuatan batin agar remaja itu tidak terbawa emosi yang meledak-ledak di depan pria egois seperti Baskara.

Natasha menghela napas panjang, menatap papanya tanpa rasa takut sedikit pun.

"Papi tidak usah mengelak lagi," ucap Natasha dengan nada suara yang membeku. "Papi pikir Papi bisa menyembunyikan semuanya? Papi sibuk mengurung Tante Kinan di rumah ini dengan alasan melindungi keluarga, tapi Papi sendiri yang menghancurkan rumah ini dari luar. Aku malu punya Papi pembohong seperti Papi!"

"Natasha! Cukup!" bentak Baskara, egonya sebagai seorang kepala keluarga yang dominan meledak akibat disudutkan oleh anak kandungnya sendiri di depan Kinanti. "Kau masih remaja! Kau tidak tahu apa-apa soal urusan orang dewasa!"

"Memang aku tidak tahu apa-apa!" potong Natasha, berdiri dari kursinya hingga kursi kayu itu terdorong ke belakang dengan suara berdecit nyaring. Matanya berkaca-kaca menahan amarah yang teramat sangat. "Tapi aku punya mata untuk melihat dan punya hati untuk membedakan mana pria yang terhormat dan mana pria yang sudah kehilangan harganya!"

Pernyataan menohok dari Natasha memukul telak tepat di pusat kesadaran Baskara. Wajah pria matang itu seketika memerah padam lalu berubah pucat pasi. Kata-kata putrinya sendiri terasa jauh lebih menyakitkan daripada tusukan pisau.

Natasha berbalik, memegang pundak Kinanti dengan lembut. "Tante Kinan, aku selesai makan. Aku mau ke kamar dulu."

Kinanti menyunggingkan senyum tipis yang hangat hanya untuk Natasha, mengangguk pelan. "Iya, Nak. Istirahatlah."

Natasha melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh sedikit pun pada Baskara yang berdiri mematung. Suara derap langkah kaki remaja itu menaiki anak tangga kayu memecah keheningan rumah, disusul dengan dentuman pintu kamar yang tertutup rapat dari atas.

Baskara terduduk kembali di atas kursinya secara perlahan. Tubuh tegapnya bergetar hebat. Pria berkuasa itu mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan, dilanda kepanikan dan rasa bersalah yang belum pernah ia bayangkan sepanjang hidupnya. Dia tidak hanya kehilangan cemburu dan cinta dari istrinya, tetapi malam ini dia juga menyadari bahwa dia telah kehilangan rasa hormat dari putri tunggal kandungnya.

Baskara perlahan mendongak, menatap Kinanti dengan mata merah yang berkaca-kaca dipenuhi permohonan yang menyedihkan.

"Kinanti..." panggil Baskara dengan suara serak yang memilukan. "Kau lihat sendiri, kan? Natasha membenciku... Dia terpengaruh oleh suasana dingin di rumah ini! Tolong, Kinanti... bicaralah padanya... katakan padanya kalau aku tidak seperti yang dia pikirkan..."

Kinanti menatap suaminya yang sedang berlutut memohon di hadapannya dengan tatapan penuh rasa iba yang amat sangat dingin. Tidak ada riak emosi amarah di wajah Kinanti.

Kinanti menyapu mulutnya dengan serbet kain secara perlahan, lalu merapikan posisi duduknya.

"Kenapa aku harus membantumu berbohong pada anakmu sendiri, Mas?" tanya Kinanti dengan suara yang begitu halus, jernih, dan tenang bagai air di danau yang membeku.

Baskara mengepalkan tangannya di atas meja. "Dia anakku! Dia menghormatiku selama ini!"

"Dia menghormatimu karena dulu dia melihatmu sebagai pria yang jujur dan bertanggung jawab," balas Kinanti datar, menatap lurus ke dalam manik mata Baskara. "Anak remaja tidak bisa dibohongi dengan retorika kekuasaanmu, Mas. Natasha melihat kebenaran dengan matanya sendiri, sama seperti aku melihat kebohonganmu dengan hatiku sendiri."

Kinanti perlahan berdiri dari kursinya, memegangi perut buncitnya dengan anggun.

"Mas Baskara," lanjut Kinanti, berdiri tegak menatap suaminya yang terduduk lemas di kursi. "Kau bisa memaksa tubuhku untuk tetap berada di rumah ini dengan ancamanmu pada desaku. Kau bisa menyuruh pengawal menjaga gerbang depan dua puluh empat jam. Tapi kau tidak akan pernah bisa memaksa aku atau Natasha untuk menghormatimu lagi."

Kinanti melangkah mundur satu titik, menyunggingkan senyum sinis yang mematikan.

"Kau sekarang hidup di dalam rumah yang mewah, Mas... tapi kau hidup sendirian di tengah dua wanita yang sudah mematikan perasaannya untukmu. Nikmatilah kurungan dingin yang kau ciptakan sendiri ini."

Tanpa menunggu balasan atau jeritan keputusasaan Baskara, Kinanti berbalik dengan anggun dan melangkah perlahan meninggalkan ruang makan. Langkah kakinya mantap, tegap, dan penuh kemenangan moral.

Baskara tertinggal sendirian di ruang makan yang megah dan dingin itu. Pria tuan pemaksa itu mencengkeram permukaan meja marmer dengan raungan frustrasi yang tertahan di tenggorokan.

Dia dikelilingi oleh harta, kekuasaan, dan benteng rumah yang kokoh, namun malam ini Baskara Dirgantara sadar... dia telah menjadi seorang asing yang dibenci dan diasingkan di dalam rumah tangganya sendiri.

1
sunaryati jarum
Ayo Tuan Besar Ramli segera cabut aset darimu yang dikelola Baskoro, tidak sadar malah makin menjadi
sunaryati jarum
Kamu memang cocok sama Valerie sama - sama sampah , dan menjijikan .Sekali siap - siap jadi gelandangan
sunaryati jarum
Menuju kehancuran kamu Baskoro,otw jadi gembel sebentar lagi pasti semua asetmu ditarik Kakek Ramli.Semoga kandungan kamu baik- baik saja .
sunaryati jarum
Baskara setelah ini kamu akan dimiskinkan oleh kakek Ramli, semua asetmu dan kakek dibagi dua untuk Natasya dan anak Kinant.Kamu akan jadi gembel.Masih maukah Valerie padamu?
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Bagus Kinanti tua Bangka tidak tahu diuntung dulu mendapatkan kamu dengan cara paksa, sekarang nikmati hidupmu dengan parasit Valery.Untuk Kinanti mulai sekarang sayangi dirimu sendiri dengan dukungan Natasya dan Kakek Ramli
sunaryati jarum
Yang terbiasa mengobral.tubuh demi kemewahan, apapun.akan dilakukan.Saat ini karma untukmu Valerie lewat putri pria bodoh, yang kau jebak
sunaryati jarum
Kakek Ramli lebih siapa Valerie dari pada Baskara.Siap- siap jadi gembel setelah anakmu dari rahim Kinanti lahir.Karena seluruh harta Juragan Ramli untuk Natasya dan anak Kinanti.Harta Baskara juga dibagi sebagai harta gono- gini setelah bercerai dan juga untuk Natasya. Momen yang emak tunggu
sunaryati jarum: Maksudnya lebih paham
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak akan beri 5 🌟 jika Baskara dan Valerie hancur
sunaryati jarum
Tua Bangka bodoh dan egois, tidak mengindahkan peringatan putri dan istrinya yang tulus menyelamatkan usahamu . Sokoor kau masuk jebakan Valerie dan sudah melakukan kegiatan intim padanya, yang pasti sudah direkam untuk mengancam kamu.Sebentar kehancuran kamu bersama Valerie, karena Natasya akan membongkarnya,semua kekayaan Baskara sudah langsung milik Kinanti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!