Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berusaha Tenang
"Pergilah, Bu. Uangnya saya simpan untuk membeli perlengkapan bayi saya dan biaya lahiran," ucap Naresta sambil berusaha menahan emosinya.
Ibunya langsung mendecak.
"Perlengkapan bayi memang habis lima belas juta?"
Naresta memejamkan matanya sebentar.
"Bukan hanya perlengkapan bayi, Bu."
Tangannya mengusap perutnya perlahan.
"Saya juga harus menyiapkan biaya persalinan, kontrol, kebutuhan setelah lahir, dan kebutuhan rumah tangga."
"Kamu kan masih punya pemasukan dari toko."
"Iya."
Naresta mengangguk.
"Tapi saya juga punya karyawan yang harus digaji, barang yang harus distok ulang, dan kebutuhan toko lainnya."
Ibunya terdiam.
Naresta menarik napas panjang.
"Jadi jangan melihat toko saya ramai lalu menganggap semua uang yang masuk adalah uang bebas yang bisa saya keluarkan kapan saja."
"Alasan saja kamu."
Naresta tersenyum getir.
"Kalau menurut Ibu itu alasan, terserah."
Elvan yang sejak tadi berdiri di samping istrinya mulai terlihat khawatir.
"S-sayang..."
Naresta langsung menoleh.
"Iya, Mas. Aku nggak apa-apa."
Elvan menggenggam tangannya.
"J-jangan m-marah."
Naresta mengangguk pelan.
"Iya. Aku berusaha tenang."
Ibunya melirik Elvan dengan tatapan tidak suka.
"Naresta, Ibu nggak akan lama pinjamnya."
Naresta kembali menatap ibunya.
"Jawaban saya tetap sama."
"Nggak bisa?"
"Nggak bisa."
"Naresta!"
"Bu."
Naresta memotong dengan suara tegas.
"Saya sedang hamil tujuh bulan."
Ia menarik napas perlahan.
"Saya nggak mau bertengkar."
"Jadi tolong pergi."
Ibunya menatap Naresta tajam.
"Kamu mengusir ibu kandungmu sendiri?"
"Saya meminta Ibu pergi karena pembicaraan ini sudah selesai."
"Belum selesai!"
"Bagi saya sudah."
Aya yang sejak tadi berdiri di belakang kasir mulai terlihat khawatir melihat wajah Naresta.
"Mbak, duduk dulu."
Naresta mengangguk kecil.
"Iya."
Ia hendak berbalik, tetapi ibunya kembali bersuara.
"Kalau kamu nggak menikah dengan laki-laki seperti dia, mungkin kamu nggak akan jadi anak durhaka begini!"
Langkah Naresta langsung berhenti.
Elvan menundukkan kepalanya.
Aya membulatkan mata.
Naresta mengepalkan tangannya beberapa saat sebelum perlahan melepaskannya kembali.
Ia menarik napas panjang.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian berbalik menatap ibunya.
"Saya tidak mau marah."
Suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
"Tapi jangan hina suami saya lagi."
Ibunya mendecak.
"Kenyataannya memang—"
"Bu."
Naresta langsung memotong.
"Kalau Ibu masih ingin saya menghormati Ibu sebagai orang tua, tolong hormati laki-laki yang sudah empat tahun menjaga saya ketika keluarga saya sendiri memilih meninggalkan saya."
Naresta memegangi perutnya yang mulai terasa sedikit kencang. Ia menarik napas perlahan sambil berusaha menahan rasa tidak nyaman.
"Dia orang yang selalu bertahan sama saya sampai detik ini," ucap Naresta sambil menggenggam tangan Elvan.
Tatapannya kembali mengarah kepada ibunya.
"Dan Ibu jangan lupa, bukannya pernikahan ini adalah perjodohan Ibu dengan teman Ibu yang biadab itu?"
Wajah ibunya langsung berubah.
"Jaga ucapanmu, Naresta!"
"Kenapa? Saya salah?"
Naresta tersenyum getir.
"Dulu Ibu sendiri yang menjodohkan saya dengan Mas Elvan."
"Itu karena Ibu nggak tahu kalau ternyata dia—"
"Autisme?"
Naresta langsung memotong ucapan ibunya.
Ibunya terdiam.
Naresta menggelengkan kepala.
"Ibu marah setelah tahu kondisi Mas Elvan. Lalu teman Ibu yang merupakan ibunya Mas Elvan itu juga sama saja."
Elvan yang berdiri di samping Naresta langsung menundukkan wajah.
Naresta menyadarinya dan segera menggenggam tangannya lebih erat.
"Mas, jangan dengarkan."
Elvan hanya mengangguk kecil.
Naresta kembali menatap ibunya.
"Kalian yang menjodohkan kami."
"Tapi begitu tahu keadaan sebenarnya, kalian juga yang sama-sama ingin menghancurkan pernikahan kami."
"Naresta, waktu itu Ibu hanya memikirkan masa depanmu!"
"Masa depan saya?"
Naresta tertawa getir.
"Kalau memang memikirkan masa depan saya, kenapa setelah saya memilih bertahan dengan suami saya, Ibu malah bilang saya bukan anak Ibu lagi?"
Ibunya terdiam.
Naresta kembali mengusap perutnya yang masih terasa kencang.
"Dan sekarang setelah empat tahun, Ibu datang."
"Bukan untuk bertanya keadaan saya."
"Bukan untuk bertanya bagaimana rumah tangga saya."
"Bahkan bukan untuk bertanya tentang cucu Ibu yang sedang saya kandung."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ibu datang hanya karena butuh uang."
Elvan tiba-tiba memperhatikan tangan Naresta yang terus memegangi perutnya.
Wajahnya langsung berubah panik.
"S-sayang?"
Naresta menoleh.
"Kenapa, Mas?"
"P-perut."
Naresta mencoba tersenyum.
"Nggak apa-apa. Cuma sedikit kencang."
Elvan langsung menggeleng cepat.
"T-tidak. D-duduk."
Aya yang mendengar itu segera keluar dari belakang meja kasir.
"Mbak, perutnya kenapa?"
"Cuma terasa kencang sedikit, Mbak."
Aya langsung memegang lengan Naresta.
"Sudah, Mbak. Jangan berdiri lagi."
Ibunya masih hendak membuka mulut.
Namun, Aya langsung menoleh tajam.
"Bu, cukup."
Ia membantu Naresta duduk.
"Mbak Naresta sudah bilang nggak bisa kasih uang. Tolong jangan dipaksa lagi."
Elvan berjongkok di depan istrinya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"S-sakit?"
Naresta menggeleng pelan.
"Nggak, Mas. Aku cuma harus tenang."
Ia menarik napas perlahan sambil mengusap perutnya.
Kemudian tatapannya kembali tertuju kepada ibunya.
"Jadi, Bu..."
Suaranya kini terdengar lebih lelah.
"Tolong pulang."
"Saya nggak mau anak saya ikut merasakan akibat dari pertengkaran yang bahkan tidak pernah saya inginkan."
Tiba-tiba.
"Aww!" Naresta meringis sambil memegangi perutnya.
"S-sayang!" Elvan langsung panik melihat istrinya membungkukkan tubuh.
"Mbak, kenapa, Mbak?" tanya Aya sambil cepat-cepat mendekat.
Naresta memejamkan matanya.
"Perutku... kencang banget, Mbak."
Aya langsung berjongkok di sampingnya.
"Mbak, duduk yang benar dulu. Jangan berdiri."
"Aku sudah duduk, tapi sakitnya tiba-tiba makin terasa."
Elvan semakin panik. Kedua tangannya terlihat gemetar saat memegang lengan istrinya.
"S-sayang, s-sakit?"
"Iya, Mas."
Naresta menarik napas panjang.
"Sebentar... aku coba tenang."
Ibunya yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka ikut terdiam. Wajahnya mulai berubah khawatir.
"Naresta?"
Naresta tidak menjawab.
"Aww!"
Ia kembali meringis sambil mencengkeram pakaiannya di sekitar perut.
Elvan langsung berdiri.
"D-dokter!"
Aya ikut panik.
"Iya, Mas. Kita bawa ke klinik saja."
Dicky yang mendengar keributan dari bagian belakang langsung berlari mendekat.
"Ada apa?"
"Mas Dicky, cepat cari mobil! Perut Mbak Naresta sakit."
Dicky langsung meletakkan barang yang dibawanya.
"Iya, saya cari sekarang."
Elvan kembali berjongkok di depan istrinya.
"S-sayang, k-kita p-periksa."
Naresta mengangguk pelan.
"Iya, Mas."
Aya menggenggam tangan Naresta.
"Mbak, jangan banyak bicara dulu."
Naresta mencoba mengatur napasnya.
Namun, baru beberapa detik rasa kencang itu kembali datang.
"Ah... Mas."
Elvan langsung memegang tangannya erat.
"A-aku d-di s-sini."
Naresta membuka matanya dan menatap Elvan.
"Jangan panik, Mas."
Elvan justru terlihat hampir menangis.
"T-tapi S-sayang s-sakit."
"Aku nggak apa-apa."
Aya langsung menggeleng.
"Mbak, jangan bilang nggak apa-apa terus. Kita periksa dulu."
Tak lama kemudian, Dicky berlari kembali dari luar.
"Mbak Aya! Mobilnya sudah ada di depan."
"Mas Elvan, ayo."
Elvan langsung membantu Naresta berdiri dengan sangat hati-hati.
Namun, baru saja tubuhnya terangkat dari kursi, Naresta kembali meringis.
"Aww!"
"S-sayang!"
"Aku bisa, Mas... pelan-pelan."
Elvan merangkul tubuh istrinya erat sambil menuntunnya menuju pintu.
Aya kemudian menoleh tajam ke arah ibu Naresta yang masih berdiri terpaku.
"Bu, sekarang puas?"
Wanita itu langsung terdiam.
Aya menggeleng kesal.
"Mbak Naresta sudah bilang berkali-kali dia nggak mau bertengkar."
Tanpa menunggu jawaban, Aya segera menyusul Naresta dan Elvan menuju mobil.