"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan warna jingga keemasan yang perlahan meredup. Abi melangkah keluar rumah menuju bangunan rumah barunya, bagian depannya butuh penerangan karena lampu terasnya sudah mati sejak kemarin sore.
"Biar ndak gelap kalau malam," gumam Abi pelan sembari menegakkan tangga lipat.
Dengan cekatan, Abi menaiki anak tangga satu per satu. Ia memutar bohlam lama yang sudah menghitam, lalu memasang bohlam LED baru hingga terdengar bunyi klik yang pas. Begitu tombol sakelar di samping pintu dijepretkan, cahaya putih terang seketika menerangi area teras dan halaman depan rumah barunya.
Abi tersenyum puas menatap pendar cahaya itu. Rumah baru ini disiapkannya untuk masa depan yang lebih baik bersama Akbar dan Aqil.
Abi yang hendak merapikan tangga lipatnya mendadak menghentikan gerakan. Dari balik pagar tanaman di samping rumah barunya, samar-samar terdengar suara percakapan dua orang yang melintas di jalan setapak.
"Neng Kayla... kok buru-buru amat toh jalannya? Nanti kepeleset lagi kayak kemaren" suara berat Kang Pardi terdengar mengudara, terkekeh pelan.
Abi mengenali suara itu. Ia berdiri diam di balik pendar cahaya lampu teras, mendengarkan dengan seksama.
"Enggak kok, Kang. Saya cuma mau cepat sampai rumah, kasihan Ibu sendirian," sahut Kayla.
"Halah, Ibu kan sudah biasa sendiri. Ini Aa ada bawain pisang rebus hangat, tadi dibawain sama Mbak di rumah. Dimakan ya, Neng?" desak Kang Pardi, langkah kakinya terdengar sengaja menyamai tempo jalan Kayla.
"Aduh, ndak usah, Kang Pardi. Terima kasih banyak, tapi Kayla masih kenyang," tolak Kayla halus.
"Terima aja toh, Neng. Masa pemberian Aa ditolak terus? Ndak enak lho sama tetangga," balas Kang Pardi lagi, nada bicaranya mulai terdengar sedikit memaksa.
Abi memicingkan mata. Mendorong tangga lipatnya pelan ke pinggir dinding, ia melangkah tenang menuju arah pagar samping rumah untuk memastikan keadaan.
"Dari mana, Dek? Kok sendirian jalannya, padahal sudah mau malam lho?" tanya Abi.
Kayla yang kaget langsung menghentikan langkah. Wajahnya seketika menunjukkan bauran antara lega dan canggung.
"Eh... Mas Abi," sahut Kayla agak gugup, mengelus dadanya pelan. "A-anu... itu tadi habis ke warung sebentar beli bumbu dapur buat Ibu."
Kang Pardi yang berjalan di samping Kayla mendadak ikut menghentikan langkah. Raut wajahnya mendadak berubah tidak senang melihat kemunculan Abi yang memotong usahanya mendekati Kayla.
"Lho, Mas Abi masih di rumah baru toh?" sapa Kang Pardi dengan nada basa-basi.
Abi mengangguk tipis, mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Kang Pardi lalu kembali menatap Kayla. "Iya, baru selesai ganti lampu teras yang mati. Mau jalan pulang ke rumah Ibu juga ini."
Ia memajukan langkahnya sedikit, berdiri sejajar di jalan setapak. "Ayo sekalian bareng, Dek. Mas juga mau ke arah sana, biar ndak kemalaman di jalan."
Kayla mengangguk cepat tanpa ragu. "Nggih, Mas. Mari..."
Tanpa menunggu tanggapan Kang Pardi lebih lanjut, Kayla bergegas berjalan di samping Abi, meninggalkan Kang Pardi yang hanya bisa berdiri mematung memegangi bungkusan pisang rebusnya dengan raut wajah berengut kesal.
Abi melangkah santai di samping Kayla, memecah keheningan jalan setapak desa yang mulai temaram ditelan petang. Ia melirik tipis ke arah gadis di sebelahnya yang masih tampak bernapas lega setelah terlepas dari kejaran Kang Pardi.
"Suka kamu, Dek, sama si Pardi?" tanya Abi tiba-tiba dengan nada selengean.
Kayla mendadak menghentikan langkahnya, menoleh kaget dengan mata membelalak. "Siapa, Mas? Kang Pardi? Nggak, lah!"
Abi mengulum senyum geli melihat reaksi cepat dan panik dari gadis itu. Ia terus berjalan santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Ganteng lho dia..." ledek Abi lagi, menahan tawa.
"Badannya tegap, rajin kerja, terus perhatian banget sampai dibawain pisang rebus segala tadi."
"Hih, Mas Abi ini apaan sih!" sungut Kayla.
"Boro-boro suka, Mas. Kayla malah merinding kalau dia mulai sok perhatian begitu. Mending Kayla lari daripada disuruh ngobrol lama-lama sama dia."
Kekehan pelan akhirnya lolos dari mulut Abi.
Abi menghentikan langkahnya sejenak, menatap Kayla dengan sunggingan senyum tipis yang hangat di bawah temaram lampu jalan.
"Ya bagus kalau ndak suka..." sahut Abi pelan.
"...biar Mas ndak punya saingan."
Mendengar ucapan itu, jantung Kayla mendadak berdesir hebat. Wajahnya makin memerah padam, sementara Abi hanya tertawa pelan dan kembali melangkah santai mendahuluinya menuju rumah.
Kayla buru-buru menyelinap masuk ke dalam rumah, menepis rasa gugup yang membuat dadanya berdebar liar akibat godaan Abi tadi. Ia langsung menutup pintu kayu depan rapat-rapat dan mengembuskan napas panjang.
Bu Sulastri yang sedang menata piring di meja makan mendongak begitu mendengar selot pintu dipasang. Mata sang ibu memicing menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam lewat.
"Kok lama toh, Nduk? Cuma beli bumbu ke warung Pak Lek kok sampai hampir gelap gini?" tanya Bu Sulastri heran.
Kayla berjalan mendekati meja dapur, meletakkan kantong plastik bumbu yang dibelinya di atas meja sambil merengut.
"Di-stop Kang Pardi, Bu, tadi..." adu Kayla.
"Nyerocos terus di jalan, nawarin pisang rebus segala. Untung ada Mas Abi baru selesai ganti lampu rumah barunya, terus ngajak jalan bareng ke sini."
Bu Sulastri terkekeh pelan mendengar aduan putrinya. "Oalah... si Pardi toh. Ya wis, yang penting kamu sudah sampai rumah dengan selamat. Laguna ada Mas Abi juga yang nemenin."
"Tapi Mas Abi malah ikutan ngeledekin Kayla, Bu!" sungut Kayla.
"Ngeledekin gimana?" tanya Bu Sulastri menghentikan usapannya di serbet, menatap Kayla dengan alis terangkat penasaran.
"Ya... nanya-nanya Kayla suka apa enggak sama Kang Pardi," bisik Kayla pelan.
Bu Sulastri tersenyum tipis penuh arti menatap punggung anak gadisnya itu. "Lah, terus kamu jawab apa?"
"Ya enggak lah, Bu! Merinding Kayla sama Kang Pardi," sahut Kayla cepat, lalu buru-buru pamit ke kamar mandi sebelum ibunya bertanya lebih dalam lagi.