Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katakutan Dan Mati Lampu
Malam itu, hujan kembali turun dengan lebatnya. Suara air yang memukul dinding dan jendela diselingi kilatan cahaya kilat serta suara petir yang bergemuruh seolah membelah langit. Di dalam kamarnya, Yasmin duduk di pinggir tempat tidur, memeluk lututnya erat-erat. Wajahnya pucat pasi, matanya terbelalak menatap jendela yang sesekali disinari cahaya kilat. Jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya.
'Duh... hujannya makin deras saja. Petirnya juga makin keras...' batinnya, lalu menarik napas panjang berusaha menenangkan diri.
'Sebenarnya Yaya takut sekali, tapi Yaya takut bilang ke Bapak. Kalau Yaya bilang, nanti Bapak mengira aku banyak alasan, menganggap Yaya merepotkan lagi. Belum lagi Bapak pasti akan berpikir Aku ini istri yang tidak berguna, penuh kekurangan. Yaya harus tahan... Yaya bisa melawan ketakutan ini sendiri seperti saat lari dari kejaran selina.'
Ia menutup telinganya dengan kedua tangan, mencoba memblokir suara gemuruh itu, namun suara itu tetap terdengar jelas dan membuat tubuhnya menggigil hebat.
Di kamar utama, Baskara sedang duduk di meja kerjanya, menyelesaikan beberapa berkas yang belum selesai. Suara hujan dan petir sempat menarik perhatiannya sejenak, namun ia segera kembali fokus pada pekerjaannya.
'Cuaca ini benar-benar buruk sekali. Semoga tidak ada hal yang mengganggu malam ini,' gumamnya pelan, lalu kembali menulis catatan kecil di atas kertas.
Tak lama kemudian, tiba-tiba seluruh lampu di apartemen itu padam seketika. Gelap gulita menyelimuti setiap sudut ruangan, bersamaan dengan suara petir yang menggelegar sangat keras seolah berada tepat di atas atap gedung.
"AAAAAAHHHH!!!"
Suara teriakan histeris yang sangat nyaring terdengar dari arah kamar Yasmin. Suara itu penuh ketakutan dan kepanikan, seolah ada sesuatu yang sangat menakutkan baru saja terjadi.
Baskara terkejut luar biasa, tangannya yang memegang pena terhenti seketika. Wajahnya berubah menjadi serius dan cemas.
"Ada apa?! Kenapa dia berteriak sekeras itu?!" serunya pelan, lalu segera berdiri dan berlari cepat menuju kamar sebelah.
Ia mengetuk pintu dengan cepat, lalu membukanya tanpa menunggu jawaban. Di dalam ruangan yang gelap itu, ia melihat Yasmin sedang duduk terkulai di lantai, bersandar di sisi tempat tidur. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, matanya terpejam rapat-rapat sementara tangannya mencengkeram kain baju di dadanya. Napasnya terengah-engah seolah baru saja lari dari bahaya yang besar.
"Yasmin! Apa yang terjadi?!" tanya Baskara dengan nada tergesa-gesa dan cemas. Ia segera mendekat, lalu berjongkok di depannya. "Kenapa kau berteriak begitu? Apakah ada orang masuk? Atau ada apa-apa?!"
Mendengar suara Baskara, Yasmin perlahan membuka matanya yang masih berkaca-kaca. Air mata mulai mengalir turun membasahi pipinya. Suaranya bergetar hebat saat ia berbicara.
"Ba... Pak... saya... saya takut..." bisiknya lirih, suaranya nyaris tidak terdengar.
Baskara mengernyitkan dahinya, semakin bingung dan khawatir. Ia menatap sekeliling ruangan yang gelap itu, tidak melihat ada hal yang mencurigakan.
"Takut? Takut apa? Coba katakan pada Saya, ada apa sebenarnya? Kenapa lampu tiba-tiba mati semua, dan kau berteriak histeris begitu?" tanyanya lagi dengan nada yang lebih lembut, berusaha menenangkan suasana.
Yasmin menundukkan kepalanya, air matanya semakin deras mengalir. Ia menggigit bibir bawahnya, ragu untuk berbicara karena takut dianggap lemah dan menyusahkan.
"Saya... saya minta maaf, Pak. Saya tidak bermaksud mengganggu atau menyusahkan Bapak..." ucapnya terbata-bata. "Saya sebenarnya... sebenarnya takut sekali dengan suara petir dan kilatan cahaya itu. Sejak kecil, saya selalu takut setiap hujan turun, apalagi kalau ada petir. Ada peristiwa buruk yang pernah saya alami dulu, jadi ini membuat saya teringat dan merasa sangat takut..."
Ia mengangkat wajahnya, menatap Baskara dengan tatapan yang penuh rasa bersalah.
"Saya sudah berusaha menahannya, Pak. Saya tidak mau bilang apa-apa ke Bapak, karena saya takut Bapak marah, menganggap saya merepotkan lagi. Saya juga takut Bapak berpikir saya ini istri yang tidak berguna, yang punya terlalu banyak kekurangan dan beban. Tapi tadi... tadi lampu tiba-tiba mati bersamaan dengan suara petir yang sangat keras. Saya kaget sekali, rasanya seolah-olah hal buruk itu terulang lagi. Saya tidak bisa menahan diri, saya tidak sengaja berteriak..."
Baskara terdiam mendengar penjelasan itu. Tatapan matanya yang tadinya cemas kini berubah menjadi lembut dan penuh rasa iba. Ia baru menyadari bahwa istrinya menyimpan rasa takut dan beban yang berat sendirian, tanpa pernah berani menceritakannya padanya. Ia menghela napas pelan, lalu mengulurkan tangannya dan menyentuh bahu Yasmin dengan lembut.
*****>>>{}<<<*****
Baskara berdiri perlahan, tangannya masih menggenggam lembut tangan Yasmin yang kini sudah tidak lagi gemetar hebat. Ia menuntun langkah demi langkah menuju tempat tidur, gerakannya pelan dan penuh perhatian, namun di dalam hatinya, rasa bersalah perlahan menggerogoti pikirannya.
Selama ini aku selalu mengatainya menyusahkan dan tidak berguna... Pantas saja dia tidak berani bicara apa-apa. Dia takut aku akan marah lagi, takut aku akan memarahinya lagi. Aku yang membuat dia tertekan, aku yang membuat dia merasa tidak berharga...
Pikirannya terus berputar, namun ia tetap menahan diri. Ia adalah orang yang selalu menjaga gengsi, mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah hal yang sangat sulit baginya, meskipun hatinya sudah terasa sesak menahan perasaan itu.
"Ayo, duduk di sini. Jangan duduk di lantai yang dingin itu, nanti kau masuk angin," ucapnya, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, ada nada yang berbeda yang tidak bisa dijelaskan.
Yasmin mengikuti langkahnya, lalu duduk dengan patuh di tepi tempat tidur, menatapnya dengan tatapan yang masih lembut namun ada sedikit kekhawatiran yang tersisa di matanya.
"Terima kasih, Pak... Maaf ya, tadi saya mengganggu waktu istirahat Bapak. Saya janji lain kali saya akan berusaha lebih kuat lagi, tidak akan mengganggu Bapak lagi," ucapnya pelan, menundukkan kepala seolah masih merasa bersalah.
Mendengar kata-kata itu, rasa bersalah di dalam hati Baskara semakin terasa berat. Ia menghela napas panjang, berusaha menyembunyikan gejolak perasaannya, namun nadanya kini terlihat lebih lembut dan penuh ketidaknyamanan.
"Kenapa kau terus saja minta maaf? Dan kenapa kau selalu bilang begitu? Siapa yang menyuruh kau menahan diri sampai seperti ini?" tanyanya, nada bicaranya sedikit meninggi, namun bukan karena marah, melainkan karena perasaan bersalah yang membuatnya merasa tidak nyaman.