Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
"Kurang ajar kamu ya!" seru salah satu preman berbadan tambun seraya merogoh pisau lipat dari saku celananya dan melompat maju untuk memukul Alya dari samping. "Serang dia!"
Alya bahkan tidak membalikkan seluruh tubuhnya. Dengan refleks terlatih yang sangat tepat sasaran, tangan kirinya menangkap pisau yang terayun, lalu dalam satu gerakan cepat memuntir tangan lawan hingga pisaunya terlepas.
BUK!
Alya menyikut dada preman tambun itu hingga sang preman tersungkur ke belakang, menabrak tumpukan kayu bekas dan pingsan seketika.
Preman ketiga yang melihat temannya tumbang dalam hitungan detik mendadak mematung.
Kakinya gemetar hebat, pisau di tangannya terlepas jatuh ke tanah.
Alya kembali menatap pemimpin preman yang masih berlutut di bawah cengkeramannya, terengah-engah dan mandi keringat dingin.
"A-ampun... ampun, Mbak..." ratap pemimpin preman itu terbata-bata, ketakutan setengah mati melihat betapa mudahnya dua anak buahnya dilumpuhkan oleh satu wanita biasa. "K-kami cuma... cuma nyari makan..."
Alya memiringkan kepalanya sedikit, menatap preman itu dari atas ke bawah.
"Mencari makan dengan mengancam ibu dan anak?" bisik Alya dingin. "Dunia hitam sekalipun punya aturan untuk tidak menyentuh wanita dan anak-anak. Kalian bahkan lebih rendah dari sampah."
Alya menghempaskan tangan pria itu hingga ia tersungkur menghantam tanah.
"Ta-tapi... "
Buk!
Pukula ln hebat menghantam wajah bos tersebut hingga keluar darah dari mulutnya, darah segar itu berceceran di aspal.
"Ughhh!"
Bos itu terbaring, belum sempat pria itu bangkit, Alya telah menghajarnya lagi dan lagi membuat pria itu tersungkur.
"Pergi dari sini," kata Alya datar. "Dan jika aku melihat kalian bertiga berada di sekitar area pasar ini lagi... aku pastikan tangan kalian tidak akan pernah bisa digunakan untuk memegang pisau atau uang lagi. Paham?"
"P-paham! Paham, Mbak!" jawab anak buah preman itu histeris karena melihat bosnya babak belur.
Ia bergegas bangun, membangunkan rekannya yang setengah sadar, dan berlari terbirit-birit meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
Ibu penjual kue dan anak perempuannya terduduk di tanah dengan mata terbelalak, menatap Alya seolah-olah melihat malaikat pelindung yang turun dari langit.
Alya merapikan kembali lengan bajunya, lalu berlutut di hadapan sang ibu.
"Ibu tidak apa-apa? Ada yang terluka?" tanya Alya lembut seraya membantu memunguti dagangan yang jatuh.
Ibu itu bergetar hebat, air matanya menetes makin deras, namun kali ini adalah air mata rasa syukur. Ia menggenggam erat tangan Alya.
"N-nggak apa-apa, Mbak... Terima kasih banyak... Terima kasih..." tangis ibu itu menangkupkan kedua tangannya. "Kalau tidak ada Mbak... saya tidak tahu apa yang bakal terjadi sama anak saya..."
"Terima kasih banyak, Tante..." panggil anak gadis itu ikut membungkuk dalam-dalam.
"Sama-sama," Alya tersenyum tipis, merapikan beberapa kue yang masih bersih ke dalam tempatnya.
Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkannya beberapa lembar uang kertas ratusan ribu yang ia miliki, lalu menyelipkannya ke dalam genggaman tangan sang ibu.
"Ini... buat mengganti dagangan Ibu yang rusak, dan buat modal hari ini," kata Alya pelan.
"E-eh! Jangan, Mbak! Mbak sudah menolong kami, kami tidak bisa menerima ini!" tolak ibu itu cepat, merasa tidak enak.
"Terima saja, Bu," potong Alya penuh penegasan namun lembut. "Gunakan ini untuk anak Ibu. Jaga dia baik-baik."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Alya berdiri dan melanjutkan langkah kakinya menuju restoran.
Ibu dan anak gadis itu menatap punggung Alya yang melangkah makin jauh dengan tatapan penuh rasa hormat dan haru.
Bagi mereka, wanita anggun dan misterius itu adalah pahlawan. Namun bagi Alya, ia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan, apa lagi melihat seorang ibu yang menjaga putrinya.