Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN DUA PULUH TUJUH
Sekian waktu telah berlalu, bis telah melewati jalan setiabudi hingga melewati Tubagus Ismail dan akhirnya tiba di GOR C-Tra. Bis mulai memasuki tempat parkir yang telah disediakan, perlahan pintu bis mulai terbuka dan siswa terlihat mulai turun dari bis. Langit berjalan dengan didampingi oleh Rindu yang sekaligus membantu Langit agar tidak susah dalam menuruni tangga bis.
Di tempat parkir, terlihat bis yang parkir jauh lebih banyak dibandingkan babak semifinal kemarin, dikarenakan hari ini sekaligus penutupan kompetisi ini sehingga seluruh sekolah yang gugur di babak penyisihan hadir untuk menyaksikan. Tampak para siswa dari dua sekolah peserta kompetisi turun dari bis sekolah masing-masing. Dari gerbang GOR C-Tra terlihat riuhnya para siswa-siswa dari dua sekolah berjalan memasuki GOR secara berkelompok. Mereka berjalan mengikuti arahan panitia untuk menuju tribunnya masing-masing.
Kali ini Langit berjalan tidak bersana dengan tim basketnya melainkan beserta siswa lain yang tidak tergabung dengan tim basket dan tim medis. Langit hana sebagai penonton saat ini , dia duduk disebelah Rindu yang kali ini hanya tinggal menunggu pengumuman tentang juara dari kompetisi cheersleader.
"Nggak nyangka ya, gue yang seharusnya ikut berjuang dilapangan malah duduk santai disini" ucap Langit.
"Maafin gue ya, gara-gara kebodohan gue yang ngelanggar perintah guru, jadi lu yang harus nanggung, seharusnya..." ucap Rindu.
"usttt, lu gak salah kok, kan waktu itu lu lagi tidur karena kecapean, emang ini udah jalannya kali, udah lupain , gue gak apa-apa kok" Langit memotong perkataan Rindu dengan menutup mulut Rindu menggunakan jari telunjuknya.
Rindu hanya terlihat menganggukkan kepalanya dua kali sambil menatap mata Langit dengan tatapan yang berbeda, tatapan yang mengisyaratkan rasa haru atas pengorbanan Langit untuk dia semalam. Rindu tak akan tahu apa yang terjadi jika Langit tidak menyusulnya ke minimarket.
Dari tengah lapangan, terlihat ketua panitia SMA 2 Bandung Basketball Cup berjalan ketengah lapangan membawa mikrofon ditangannya. "Selamat datang kepada seluruh sekolah peserta SMAN 2 Bandung Basketball Cup tahun ini. Tiba saatnya kita memasuki partai final untuk menentukan juara pertama dan kedua, antara SMAN 2 Bandung melawan SMA Merah Putih yang akan digelar beberapa saat lagi…" Ucap ketua panitia, "…sebelumnya kita akan menyaksikan penampilan dari bintang tamu yang mungkin sudah kalian ketahui semua, kita sambut ARMADA".
Terlihat personil band Armada berjalan ke tengah lapangan yang telah dipersiapkan dengan alat-alat musik seperti drum , gitar, bass, dan keyboard. Setiap personil terlihat memegang alat musik masing-masing diiringi dengan gemuruh tepuk tangan dan teriakan dari seisi GOR C-Tra.
Tidak berselang lama, Armada memulai menyanyikan lagu hitsnya yang berjudul 'Asal Kau Bahagia' dihadapan seluruh peserta kompetisi. Sesekali sang vokalis mengajak penonton untuk bernyanyi bersama. Berjalanlah vokalis Armada ke arah tribun SMA Merah Putih, perlahan dia terlihat mulai menaiki tangga menuju arah Rindu dan Langit sedang duduk. Mengulurkan tangan kepada Rindu, vokalis Armada mengajak Rindu untuk ikut turun ke lapangan bersama dirinya. Tanpa berpikir panjang, Rindu menurui keinginan vokalis Armada tersebut, dengan diiringi tepuk tangan dan sorak sorai seisi ruangan , Rindu berjalan bersama vokalis Armada ke tengah lapangan.
Setelah lagu pertama usai dinyanyikan, Armada yang akan menyanyikan lagu keduanya mengajak Rindu untuk bernyanyi bersama mereka. Sang vokalis pun memberikan sebuah mikrofon kepada Rindu, setelah dia sedikit menggoda Rindu dengan beberapa gombalan dan pertanyaan-pertanyaan konyolnya, musikpun mulai terdengar dan seketika itu juga Rindu bernyanyi bersama Armada membawakan lagu 'Katakan Sejujurnya'. Seisi ruangan semakin riuh oleh suara-suara sorakan iri ingin berada diposisi seperti Rindu di sana.
Tanpa terasa telah sampai diakhir lagu, Rindu terlihat terharu bisa diajak bernyanyi bersama dengan grup band yang lagu-lagunya dia suka. Tanpa dikira, vokalis Armada memua jaket yang dikenakannya, dan dipakaikanlah ke tubuh Rindu, Sontak Rindu terkejut bercampur bahagia mendapatkan sebuah kenang-kenangan yang tidak bisa dibilang biasa ini.
Armada mulai meninggalkan lapangan, begitupun Rindu yang mulai berjalan menuju tribun SMA Merah Putih kembali. Panitia mulai terlihat mengosongkan lapangan dari alat-alat musik dan beberapa benda lainnya. Beberapa saat setelah lapangan kosong, ketua panitia masuk ketengah lapangan dengan membawa mikrofon.
"Sekali lagi kita beri tepuk tangan kepada Armada yang telah memeriahkan acara ini, kini tiba kita di acara puncak, partai final SMAN 2 Bandung Basketball Cup, antara SMAN2 Bandung melawan SMA Merah Putih, kita beri sambutan yang meriah kepada 2 sekolah yang akan bertanding" ucap ketua panitia dengan sedikit berteriak.
Diiringi suara gemuruh tepuk tangan san sorakkan seisi ruangan, kedua tim basket yang akan bertanding mulai memasuki lapangan dengan seragamnya masing-masing. Terlihat tim SMA Merah Putih yang memasuki lapangan tanpa kehadiran Langit ditengah barisan. Langit hanya terlihat menonton dari tribun diatas sana bersama Rindu dan beberapa siswa yang bercampur dengan penonton umum lainnya.
Para pemain dari setiap tim terlihat saling bersalaman satu sama lain secara bergiliran termasuk dengan para pengadil lapangan yang tengah berdiri diantara 2 tim ditengah lapangan. Setelah terlihat kedua tim memberikan penghormatan kepada seluruh penonton, sang wasit meminta kedua tim untuk bersiap-siap. Kali ini Ferry lah yang menempati posisi Langit.Dengan dibatasi oleh wasit, Ferry beserta seorang pemain SMAN 2 Bandung berdiri ditengah lapangan. Terdengar bunyi peluit telah ditiupkan oleh sang wasit, saat itu juga wasit melambungkan bola ke udara.
Ferry yang terlihat melompat lebih dahulu dari pada rivalnya gagal mendapatkan bola tersebut. Pertansingan kini dikuasai oleh SMAN 2 Bandung sepenuhnya, berulang kali SMA Merah Putih berusaha berebut bol Namun selalu gagal.Dari sisi penonon Langit memperhatikan ke arah Ferry, nampak ada yang janggal, Ferry terlihat pucat padahal baru saja dimulai namun Ferry sudah nampak kelelahan. Benar saja, baru 10 menit pertandingan berlangsung dan SMA Merah Putih tertinggal angka cukup jauh, Ferry terlihat melambaikan tangan ke arah Pak Amirdisisi lapangan. Ferry meminta dirinya untuk digantikan karena kondisinya yang kurang fit, mungkin akibat semalam kurang istirahat karena harus kerumah sakit.
Peluit telah terdengar dtiupkan oleh wasit, menandakan quarter pertama telah usai. Teman satu tim berusaha membantu menuntun Ferry yang nampak lemah dalam berjalan. Disisi lapangan Pak Amir berusaha memilih siapa yang layak menggantikan Ferry, akhirnya dengan sangat sulit Pak Amir memilih siswa kelas 10 untuk menggantikan Ferry. Quarter kedua pun segera dimulai, benar saja kekurangan pemain dari kelas 12 yang bisa dibilang sudah cukup bengalaman membuat tim SMA Merah Putih semakin tertinggal angkanya dengan jarak yang lumayan jauh. Walau SMA Merah Putih dapat mencetak angka dan beberapa kali berhasil menggagalkan usaha SMAN 2 Bandung, tetap saja hingga akhir pertandingan SMAN 2 Bandung berhasil mengungguli angka SMA Merah Putih dengan selisih yang cukup besar yaitu 116 berbanding dengan 78.
SMA Merah Putih hanya terlihat tertunduk lesu menerima kekalahan ini. Di sisi lain , di tribun terlihat Rindu tanpa sadar meneteskan air mata dipipinya. "Kalau aja semalem gue nggak nekat keluar penginapan, lu nggak mungkin kayak begini, lu pasti bisa ikut bertanding begitu juga Ferry" menyesal Rindu atas kejadian semalam.
"Udah sih ngapain pake dipikirin, yang udah mah ya udah ,lu nangis lu nyesel juga ga bakal bisa ke ulang lagi, semua udah terjadi Rin” sanggah Langit. "Sekarang, kita tinggal berharap aja cheers lu bisa dapet juara 1, bagi gue tim basket bisa sampai ke final udah cukup kok" sambung Langit
Ketua panitia dengan beberapa panitia kompetisi ini memasuki lapangan sambil membawa 5 buah piala dan 2 buah papan simbolis hadiah uang tunai. "Akhirnya kita telah sampai di akhir kompetisi ini, dengan hasil yang telah kita ketahui baru ini, bahwa untuk SMAN2 Basketball Cup dimenangkan oleh..... SMAN 2 Bandung sebagai juara dan SMA Merah putih sebagai Runner Up, kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk kedua tim” ujar Ketua panitia perlombaan
Suara tepuk tangan mengiringi kedua tim yang berjalan ketengah lapangan.
“Dan untuk cheerleader, kami persilahkan kepada...... SMA Merah Putih sebagai juara, SMAN 1 Bandung sebagai Runner Up pertama , dan SMA 1 Padjajaran sebagai Runner Up kedua. Untuk perwakilan setiap tim kami persilahkan maju kedepan” sambung kembali Ketua Panitia Perlombaan
Seluruh perwakilan setiap sekolah yang menang cheerleader mulai berjalan meninggalkan tempat duduknya. Termasuk Rindu yang duduk dis ebelah Langit pun segera bangkit dari duduknya.
"Tuh kan seenggaknya tim cheerleaser sekolah kita menang, gue tetep bahagia kok, karena bahagia bagi gue tuh sederhana, cukup melihat senyuman itu terus hadir dihadapan gue ,walau terkadang luka ini bersarang terlalu dalam di diri gue" puji Langit sesaat sebelum Rindu pergi meninggalkannya.
Langkah Rindu terhenti sesaat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Langit. Mungkinkah ini bukan kepura-puraan Langit semata? Mungkinkah Langit yang dulu membenci dirinya telah berubah? Pertanyaan itu muncul dengan tiba-tiba dalam benak Rindu. Sesaat Rindu berusaha melupakan, namun terasa sulit karena dirinya kini merasa nyaman dengan kehadiran Langit yang sangat berbeda dari sebelumnya, berbeda dengan sikap yang ditunjukkan selama ini disekolah.
Rindu kembali melangkahkan kakinya menuju lapangan, karena hanya perwakilan tim cheerleader SMA Merah Putih yang belum hadir dan sudah berulang kali dipanggil oleh ketua panitia. Beberapa saat kemudian terlihat Rindu tiba dilapangan dan langsung menempatkan dirinya diposisi yang seharusnya, posisi juara pertama cheerleader. Beberapa panitia pun mendekati dengan membawa piala dan papan simbolis hadiah uang, beberapa saat kemudian datanglah kepala sekolah SMAN 2 Bandung sebagai penanggung jawab pelaksana kompetisi ini ke tengah lapangan, beliau bertugas memberikan piala dan papan simbolis hadiah uang tunai kepada para pemenang satu per satu. Untuk para Runner up baik tim basket maupun kedua runner up tim cheerleader mendapatkan piala sedangkan untuk juara pertama mendapatkan piala dan uang tunai sebesar 7,5 juta rupiah untuk tim basket dan 5 juta rupiah untuk tim cheerleader.
Seluruh pemenang tampak gembira, sorak sorai terlihat di tengah lapangan bahkan di tribun setiap sekolah yang menjadi pemenang tidak terkecuali Rindu. Dalam kegembiraannya, sesekali Rindu melihat ke arah Langit yang terlihat berusaha untuk tetap tersenyum walau matanya berkata lain.
"Inikah arti sebuah pengorbanan, dia yang rela mengorbankan semua hanya demi aku yang ceroboh, dia yang bukan siapa-siapa tapi memiliki rasa cemas tak terkira ketika tahu aku dalam bahaya, dia yang tetap berusaha tersenyum walau aku tahu itu bukan sebuah senyum kebahagiaan yang sebenarnya. Tapi perngorbanan untuk apa? Untuk aku atau hanya untuk sebuah reputasi? Tanyaku...." spontan kata-kata puitis terlontar dari dalam hati seorang Rindu.
Seluruh pemenang mulai meninggalkan lapangan menuju tribunnya masing-masing dengan wajah penuh kebahagiaan. Tim basket dan cheerleader SMA Merah Putih berlari menuju tribun sekolahnya. Ferry beserta rekan satu tim basket berlari menuju Langit, mereka memberikan piala yang diperoleh kepada Langit, karena dialah sosok yang sangat memegang peranan dalam tim basket SMA Merah Putih. Sementara Rindu, segera menuju ke tim cheerleader yang sudah menunggu dari tadi. Walau Langit dan Rindu berada di tempa yang berbeda yang dipisahkan oleh rekan 1 timnya masing-masing , tetapi mereka masih menyempatkan diri untuk saling memandang membagikan senyuman yang mengisyaratkan saling mendukung akas kemenangan mereka masing-masing.