Indonesia
NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Malam semakin larut ketika deru mobil keluarga Bang Edward perlahan menghilang di ujung gerbang kompleks perumahan. Setelah mengantarkan om dan tantenya ke depan, Aurel langsung pamit menuju kamar atas dengan alasan matanya sudah mengantuk berat.

Namun, begitu pintu kayu kamar bernuansa pastel itu tertutup rapat dan dikunci dari dalam, Aurel langsung melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia berguling ke tengah kasur, menenggelamkan wajahnya ke bantal satin seraya memeluk gulingnya erat-erat.

Senyum cerianya langsung merekah lebar, tidak bisa ditahan lagi. Dada Aurel masih bergemuruh hebat, berdegup dengan sangat keras bertalu-talu. Ingatan tentang bagaimana Bang Edward merangkulnya dengan begitu gemas dan erat di ruang tamu tadi, aroma kaus rumahan hitamnya yang maskulin, hingga usapan manis di rambutnya, benar-benar sukses membuat urat tenangnya putus. Salah tingkah gila-gilaan merajai dirinya di dalam kamar yang sunyi itu.

Demi mengalihkan debaran jantungnya yang masih tersisa, Aurel menyambar ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar karena sisa deg-degan yang dahsyat, ia langsung membuka kontak sahabat karibnya dan mengirimkan rentetan pesan teks darurat.

Aurel: SHIRIN!!! BANGUN GAK LO?!

Aurel: Rin, sumpah demi apa pun lo harus tahu berita ini secepatnya! Ini konspirasi ganda dinasti keluarga kita gila-gilaan parah!!! P P P P P

Hanya butuh hitungan detik sampai status Shirin berubah menjadi online. Maklum, jam sepuluh malam bagi sesama maba biasanya baru menjadi awal waktu santai mereka setelah seharian bertempur dengan revisi draf kuliah.

Shirin: Astaga, Aurel! Kenapa lagi sih? Malam-malam spam P banyak banget. Lo mules lagi habis makan sambal masakan Tante Zeline? Atau Bang Edward masuk kamar lo bawa selada pasar induk lagi?

     Aurel: Bukan, Rin! Ini masalah hajat hidup orang banyak! Barusan banget keluarga Bang Edward bertamu ke rumah gue karena Papa Crish sama Mama Olivia kangen berat sama gue.

    Aurel: Dan lo tahu apa?! Daddy Wira sama Papa Crish barusan resmi telepon Om Tom, bokap lo! Terus Bang Edward juga langsung telepon Kak Anita depan gue!

Di seberang sana, Shirin yang sedang rebahan di kasurnya langsung melonjak duduk dengan kening berkerut heran, sekaligus penasaran setengah mati membaca ketikan heboh sahabatnya.

Shirin: Hah? Telepon bokap gue sama Kak Anita? Ada urusan apaan, Rel? Jangan bilang draf bab empat Pak Baskoro mau diinspeksi gabungan antarkeluarga?

Aurel: BUKAN, RIN!!! Tadi Daddy Wira denger dari Bang Gavin kalau bokap nyokap lo udah landing dan perusahaan lo di luar negeri udah membaik total seratus persen!

Aurel: Jadi... AKHIR BULAN INI KELUARGA BESAR GUE, KELUARGA BESAR LO, SAMA KELUARGA KAK ANITA FIXS MAU LIBURAN BARENG KE BALI ATAU PUNCAK!!! BUAT SYUKURAN PERUSAHAAN LO SEKALIAN REFRESHING MABA!!! ✈️

Di kamarnya yang tenang, Shirin seketika membelalakkan matanya tidak percaya. Rasa haru dan bahagia langsung membuncah di dadanya membaca kabar gembira yang teramat mendadak itu.

Shirin: DEMI APA PUN, REL?! Bokap gue setuju?!

Aurel: SETUJU BANGET, RIN! Om Tom tadi di telepon langsung ketawa heboh, katanya mau Gavin yang urus transportasinya. Terus Papa Viktor sama Mama Amy juga udah kasih lampu hijau lewat Kak Anita! Rombongan kita bakal ramai parah!

Shirin: Ya ampun, Aurel... gue lemes banget denger kabar ini. Puji Tuhan, setelah stres awal semester kemarin, akhirnya kita bisa liburan komplit seseru ini! Makasih ya infonya, lo emang mata-mata ter-gercep!

Aurel: Sama-sama, Shirin Sayang! Pokoknya besok di kampus kita harus langsung todong Gino sama Reyhan buat denger kehebohan ini! Gue tidur duluan ya, dadanya masih deg-degan capek akibat rangkulan sepihak tadi. Bye!

Setelah mengirim pesan terakhir, Aurel melempar ponselnya ke meja nakas, lalu menarik selimut tebalnya sampai sebatas dagu. Di bawah pendar lampu kamar yang temaram malam itu, ia memejamkan matanya dengan senyum yang terus menghias bibirnya.

Meskipun ia tahu betul liburan keluarga besar nanti akan menjadi ujian berat karena ia harus menyaksikan kemesraan Bang Edward dan Kak Anita sepanjang waktu, malam ini Aurel memilih untuk egois. Didekap oleh sisa kehangatan rangkulan manis Bang Edward tadi sore, ia membiarkan hatinya terlelap dalam debaran cinta sepihaknya yang paling indah.

Suasana kantin kampus pada jam istirahat siang itu seperti biasa begitu riuh dan padat. Di tengah aroma gurih bakso dan desau obrolan ratusan mahasiswa, Aurel dan Shirin melangkah tergesa-gesa membelah kerumunan. Sepasang mata Aurel berbinar cerah, memancarkan energi kebahagiaan yang sangat kentara sejak pagi tadi.

Begitu sampai di meja pojok favorit mereka, sosok Gino dan Reyhan rupanya sudah duduk manis di sana [Gino]. Gino sedang asyik menyeruput es teh manisnya, sedangkan Reyhan seperti biasa duduk lempeng berjaket denim sembari membaca materi kuliah di tabletnya.

Tanpa ba-bi-bu, Aurel langsung menggebrak meja kayu itu dengan folder tugasnya hingga menimbulkan bunyi plak yang cukup keras, membuat Gino refleks tersentak kaget.

"Gino! Reyhan! Taruh dulu minuman sama gadget lo berdua! Gue punya pengumuman mahapenting berskala nasional untuk dinasti kelompok kita!" todong Aurel dengan volume suara yang cukup heboh, memicu Shirin di sebelahnya ikut menyengir lebar.

Gino menaikkan sebelah alisnya, buru-buru meletakkan gelas es teh manisnya dengan wajah melongo [Gino]. "Astaga, Rel! Datang-datang langsung mode kompor meledak. Ada apaan sih? Pak Baskoro mendadak insyaf terus ngasih kita libur satu semester?"

"Bukan, Gin! Ini jauh lebih luar biasa dari itu!" sahut Shirin tidak kalah bersemangat, langsung duduk di sebelah Gino dan menyenggol lengannya. "Lo berdua tahu nggak? Akhir bulan ini, keluarga besar gue, keluarga besar Aurel, sama keluarga besar Kak Anita resmi mau mengadakan liburan keluarga besar bersama ke Bali!"

Mendengar nama Bali dan liburan disebut, mata Gino seketika membelalak sempurna penuh binar kecemburuan sosial. "Hah?! Serius lo, Rin?! Ke Bali komplit antarkeluarga?!" seru Gino heboh, langsung menepuk jidatnya dramatis [Gino]. "Wah, diskriminasi maba tingkat tinggi ini namanya! Mentang-mentang perusahaan keluarga lo udah pulih total seratus persen ya, Rin, gue yang bagian tim hore malah ditinggal sendirian di Jakarta meratapi nasib!"

Aurel langsung meledak dalam tawa cemprengnya yang khas melihat ekspresi terzalimi Gino. "Hahaha! Makanya, Gin, doa yang banyak biar lo diadopsi jadi anak angkat di salah satu keluarga kita!"

Di tengah kehebohan godaan Gino dan Shirin yang memenuhi pojok kantin, Aurel secara refleks melirik ke arah samping. Pandangannya bertumbukan dengan sepasang mata teduh milik Reyhan. Cowok berjaket denim itu perlahan menurunkan tabletnya, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat hangat dan tulus di bibirnya.

Jantung Aurel mendadak bergeser ritme menjadi sedikit lebih cepat, membawa rona merah yang samar di pipinya akibat salah tingkah yang tiba-tiba.

Reyhan menatap lekat-lekat pada wajah Aurel yang tampak begitu bahagia hari ini. Sebagai cowok yang memiliki intuisi tajam dan kedewasaan yang luar biasa, Reyhan sebenarnya sudah tahu kabar ini semalam dari Kak Anita [Gino]. Ia juga tahu betul bahwa kebahagiaan Aurel yang membuncah hari ini tidak lepas dari bayang-bayang perhatian manis Bang Edward yang akan ikut serta dalam liburan dinasti tersebut. Namun, alih-alih bersikap dingin atau cemburu, Reyhan memilih untuk tetap bersabar dan berlapang dada demi menjaga kenyamanan hati gadis itu.

"Selamat ya, Rin, Rel. Akhirnya rencana liburan keluarga kalian fiks jalan juga," ucap Reyhan dengan nada suara beratnya yang sangat tenang dan suportif. Cowok denim itu menyunggingkan senyum jahil andalannya, melirik lambat ke arah Aurel. "Tapi inget ya, Partner. Liburan ke pantai boleh, asal draf analisis bab empat kita jangan sampai hanyut terbawa ombak Bali. Nanti kalau nilai kelompok kita turun, intel sayur lo bisa ngamuk lagi dari parkiran."

"Reyhaaan! Mulut lo lemesnya beneran udah ketularan virusnya si Gino, ya!" seru Aurel salah tingkah, refleks memukul pelan lengan tegap Reyhan dengan buku catatannya, memicu tawa riang dari Shirin dan Gino.

Di balik riuhnya tawa para sahabatnya di kantin siang itu, Aurel merasakan kehangatan yang mendalam di hulu hatinya. Meskipun labirin buntu hatinya yang dihuni oleh cinta sepihak kepada Bang Edward belum sepenuhnya runtuh, ketenangan sikap Reyhan yang selalu memilih untuk bersabar dan menolak untuk menjauhinya terbukti menjadi pelindung terbaik di lembaran hidup mabanya yang baru.

Baru saja Aurel selesai meredakan sisa tawa akibat pukulan buku catatannya ke lengan Reyhan, suara derap langkah kaki yang tegap dari arah koridor masuk kantin tiba-tiba terdengar mendekat. Sesaat kemudian, sebuah bayangan besar meruntuh di atas meja pojok mereka, disusul oleh suara dehaman berat yang sangat familier.

"Ehem! Ramai bener nih meja maba berprestasi, kedengaran sampai stan siomay di depan."

Aurel refleks tersentak pelan. Begitu ia mendongak, sosok Bang Edward sudah berdiri tegak di samping meja dengan jaket kulit hitam andalannya dan kedua tangan bersedekap di dada. Di sebelahnya, Kak Anita menyusul sembari menggeleng-gelengkan kepala, memasang wajah pasrah karena kekasihnya lagi-lagi mengaktifkan mode radar siaga satu begitu melihat adiknya duduk bersebelahan dengan Reyhan.

"Lho, Bang Edward? Kak Anita?" celetuk Shirin, langsung menggeser duduknya untuk memberikan ruang.

Tanpa ba-bi-bu, Bang Edward langsung mendaratkan bokongnya di kursi tunggal sisa, sementara Kak Anita duduk di samping Shirin. Tatapan mata elang Bang Edward langsung menyipit tajam, menatap lurus ke arah Reyhan yang posisi duduknya memang cukup dekat dengan Aurel di bangku panjang tersebut.

"Wah, baru ditinggal kelas sebentar, formasi duduk lo berdua udah mepet lagi ya," todong Bang Edward dengan volume suara yang sengaja ditinggikan, memicu senyuman lebar dari Gino yang insting kompornya langsung menyala maksimal [Gino]. "Reyhan, inget ya, pengawasan liburan akhir bulan ke Bali dari bokap lo sama Daddy Wira udah fiks diserahin ke gue sebagai kapten keamanan dinasti keluarga. Jarak satu meter tetep berlaku, jangan modusin adek gue terus!"

Wajah Aurel dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam sempurna akibat salah tingkah dituduh di depan umum. "Bang Edward! Astaga, mulut lo bisa dikecilin dikit nggak sih?! Siapa juga yang modus, orang ini lagi bahas pembagian kerja kelompok buat bab empat!"

"Alasan!" potong Bang Edward jahil, melirik gelas es teh manis milik Aurel yang ditaruh di dekat laptop Reyhan. "Itu buktinya gelas lo aja udah menyeberang ke wilayah teritorial meja dia."

Gino langsung meledak dalam tawa puas sembari menyenggol lengan Bang Edward, makin memanaskan situasi. "Hahaha! Bener banget, Kapten! Lagian lo harus tahu, Bang, tadi sebelum lo dateng, si Reyhan ini udah pasang teori sosiologi pendekatan lagi. Katanya biar draf bab empat nggak hanyut di pantai Bali, dia siap jagain Aurel siang malam!"

"Ginooo! Lo kalau nggak kompor sehari bisa meriang ya?!" semprot Aurel gemas, refleks melempar gulungan tisu kecil tepat ke arah wajah Gino yang langsung ditangkap dengan cengiran tanpa dosa oleh cowok buaya premium tersebut [Gino].

Mendengar laporan kompor dari Gino, Bang Edward langsung melotot jenaka ke arah Reyhan, bersiap menggebrak meja untuk interogasi lanjutan. Namun, sebelum senior posesif itu sempat mengeluarkan kalimat sangarnya, Kak Anita dengan gerakan cepat langsung menjewer pelan telinga Bang Edward dari belakang hingga cowok kekar itu mengaduh manja.

"Edward! Astaga, memalukan banget sih kamu ini, hobi banget bikin adeknya salah tingkah di kantin," omel Kak Anita gemas, sukses membuat Bang Edward langsung berubah mode menjadi penurut nan pasrah dalam sekejap. "Orang Reyhan dari semalam udah bilang sama aku kalau dia murni mau bantu Aurel biar tugas kuliahnya cepat kelar sebelum kita berangkat liburan. Kamu jangan merusak suasana, deh."

"Aduh, aduh! Iya, Sayang, ampun, lepasin dulu jewerannya, jatuh nih wibawa aku depan maba," ringis Bang Edward manja sembari mengelus telinganya yang memerah setelah dilepaskan Kak Anita, memicu tawa riang dari Shirin dan Gino yang puas menonton drama kating gratisan tersebut.

Aurel yang berada di tengah keriuhan itu refleks menahan napasnya sejenak, jantungnya berdegup begitu keras di dalam rongga dada. Berada sedekat ini menonton bagaimana Bang Edward begitu posesif menjaganya sebagai adik, berpadu dengan kemesraan manja sang kakak bersama Kak Anita, selalu mendatangkan letupan rasa hangat sekaligus getir yang campur aduk di hulu hatinya.

Aurel perlahan melirik ke arah sampingnya. Di sana, Reyhan tetap duduk dengan ekspresi wajahnya yang luar biasa tenang, lempeng, dan teduh tanpa beban. Cowok berjaket denim itu sama sekali tidak membalas provokasi Bang Edward dengan keagresifan, melainkan hanya menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat tulus dan penuh kesabaran yang besar. Reyhan menatap Aurel dengan binar mata yang seolah berkata bahwa semuanya aman di bawah kendalinya. Kedewasaan Reyhan yang memilih untuk mundur secara teratur demi menjaga kenyamanan hati Aurel terbukti menjadi benteng pelindung sunyi yang menenangkannya dari rasa sakit hati siang ini.

Aurel mengembuskan napas panjang yang lega, ikut tersenyum tipis di balik folder tugasnya. Di bawah riuhnya suasana kantin kampus yang penuh tawa dan kehebohan dinasti keluarga mereka, labirin buntu masa lalunya perlahan terasa jauh lebih ringan untuk dihadapi, siap menyambut lembaran hidup yang baru bersama para sahabat setianya.

Suasana di dalam ruang kelas berangsur-angsur kembali tenang setelah gelombang mahasiswa yang habis menghabiskan waktu istirahat mulai masuk satu per satu. Bunyi geseran kursi kayu dan riuh rendah obrolan santai yang tersisa perlahan meredup seiring hawa sejuk pendingin ruangan yang kembali menusuk kulit. Di barisan paling belakang, Aurel duduk dengan bertumpu dagu, menatap kosong ke arah papan tulis putih yang masih bersih di depan kelas.

Pikirannya masih sedikit tertinggal di kantin tadi—berputar di antara rasa deg-degan akibat sifat posesif Bang Edward yang selalu memanjakannya sebagai adik, dan bayangan kemesraan manja abangnya itu bersama Kak Anita yang sempat menyentil hatinya.

"Nih, folder lo ketinggalan di meja kantin tadi. Untung nggak hanyut dibawa pasukan Gino," sebuah suara berat nan tenang tiba-tiba memecah lamunan Aurel.

Aurel tersentak pelan, lalu mendongak. Reyhan sudah berdiri di samping mejanya sembari menyodorkan folder biru bab empat yang sempat tertinggal. Cowok berjaket denim itu kemudian menarik kursinya sendiri dan duduk dengan gerakan yang teramat santai dan lempeng tanpa beban.

"Eh... iya, makasih ya, Rey," gumam Aurel kaku, menerima folder itu dengan rona merah samar yang mendadak kembali mampir di pipinya akibat salah tingkah yang tiba-masing datang.

Reyhan tidak langsung membuka laptopnya. Ia melirik lambat ke arah Aurel, menangkap sisa-sisa gurat melamun dan riak emosi yang masih tersisa di manik mata gadis itu setelah drama kantin tadi. Sebagai cowok yang memiliki samudera kesabaran dan keikhlasan yang besar, Reyhan tahu betul apa yang sedang berkecamuk di dalam hati partnernya. Ia paham, kehadiran Bang Edward selalu sukses mengombang-ambingkan perasaan Aurel. Namun, alih-alih ikut mendiamkan atau bersikap dingin, Reyhan memilih untuk tetap memegang teguh janjinya: tetap menjadi partner jahil yang suportif demi menjaga kenyamanan hati Aurel.

Reyhan menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat teduh, lalu mengetuk pelan tepi meja Aurel dengan pulpennya. "Nggak usah dipikirin terus mukanya kating intel sayur lo itu, Rel. Mending sekarang lo siap-siap, tuh dosen matkul selanjutnya udah kelihatan berjalan di koridor luar. Awas ya kalau lo ketahuan melamun lagi, entar lo disuruh maju ngerjain rumus matriks di depan."

Mendengar ledekan santai nan jahil yang meluncur dari mulut Reyhan, ketegangan di pundak Aurel seketika mencair sepenuhnya. Tawa kecil akhirnya lolos dari bibir Aurel, menggantikan rasa sesak yang sempat mampir di hatinya tadi. Sifat jahil Reyhan yang kembali normal terbukti selalu sukses menjadi oase penenang yang instan di hidupnya.

Di depan kelas, pintu terbuka menampilkan dosen baru yang mulai menaruh buku materinya di meja. Di barisan tengah, Gino dan Shirin kompak menoleh ke belakang sekilas, tersenyum lega melihat Aurel dan Reyhan sudah kembali kompak dan tidak canggung [Gino]. Sembari membuka buku catatannya, Aurel mencuri pandang ke arah profil samping wajah Reyhan yang kini sudah fokus menatap ke depan. Di dalam ruang kelas yang hening sore itu, Aurel sadar; labirin buntu hatinya yang dihuni oleh cinta sepihak kepada Bang Edward memang belum runtuh. Namun, bersama ketenangan sikap Reyhan yang selalu memilih untuk bersabar dan pasang badan menjaganya, ia tahu dirinya tidak akan pernah berjalan sendirian melewati beratnya dunia perkuliahan ini.

Suasana di dalam ruang kelas mendadak berubah menjadi sangat hening. Dosen pengampu matkul statistik sosial yang terkenal dengan pembawaannya yang kaku dan membosankan, kini sedang sibuk menuliskan deretan rumus probabilitas yang rumit di papan tulis. Suara gesekan kapur dan pendar AC menjadi satu-satunya latar belakang suara yang menemani para mahasiswa baru yang mulai terkantuk-kantuk menatap ke depan.

Di barisan belakang, Aurel sedang serius menyalin rumus tersebut ke dalam buku catatannya. Di sebelahnya, Reyhan duduk dengan posisi tegap andalannya, menyimak penjelasan dosen dengan ekspresi wajah lempeng tanpa beban.

Psttt! Psttt!

Sebuah suara desisan pelan dari arah depan mendadak memecah fokus Aurel. Ia mendongak sedikit dan mendapati Gino yang duduk satu baris di depannya sedang memutar setengah badannya dengan gerakan yang sangat mencurigakan. Sepasang mata Gino melirik ke kanan dan ke kiri, memantau posisi dosen yang masih membelakangi kelas, sebelum akhirnya dengan gerakan secepat kilat melempar sebuah gulungan kertas memo kecil tepat ke atas meja Aurel.

Setelah sukses meluncurkan misinya, Gino langsung kembali memutar tubuhnya menghadap ke depan dan berpura-pura mencatat dengan sangat tekun.

Aurel mengernyitkan dahi penuh selidik. Dengan gerakan pelan agar tidak menimbulkan kecurigaan, ia membuka lipatan memo persegi tersebut. Di dalam kertas kecil itu, terdapat coretan tulisan tangan Gino yang acak-acakan beserta sebuah gambar karikatur dua orang berkatun kasual yang digambar dengan sangat kocak.

Di atas gambar itu, tertulis sebuah memo ledekan:

"INFO DARURAT DINASTI MABA: Hasil analisis sosiologi meja belakang mendeteksi adanya zona gravitasi ilegal. Jarak aman 1 meter Bang Edward resmi jebol karena magnet denim di sebelah lo terlalu kuat. Kategori: Modus Berprestasi Bab 4. Harap Pipinya Dikondisikan, Jangan Sampai Matang Sebelum Jam Pulang!"

Membaca rentetan kalimat ledekan yang super ajaib dari Gino, wajah Aurel dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam sempurna akibat salah tingkah gila-gilaan. Rasa gemas, malu, dan campur aduk seketika meroket di dadanya. Ia refleks meremas kertas memo itu dengan gemas, lalu melotot tajam ke arah punggung Gino yang masih berpura-pura menjadi mahasiswa teladan di depannya.

"Kenapa, Rel? Ada revisi data dari Gino?" sebuah suara berat nan tenang tiba-tiba berbisik pelan di samping telinganya.

Aurel tersentak kecil, lalu menoleh kaku ke samping. Reyhan rupanya menyadari perubahan drastis pada raut wajah partnernya. Tanpa suara, cowok denim itu melirik ke arah kertas remasan di genggaman Aurel, lalu dengan santai menaikkan sebelah alisnya.

Aurel yang terlanjur panik ketahuan, dengan nekat membuka kembali remasan kertas itu dan menyodorkannya ke hadapan Reyhan. "Nih! Lihat kelakuan temen buaya lo itu! Urat malunya beneran udah putus semenjak matkul Pak Baskoro!" gerutu Aurel dengan suara yang teramat lirih agar tidak memicu teguran dosen.

Reyhan membaca isi memo ledekan Gino dengan saksama. Bukannya panik, tersinggung, atau salah tingkah seperti Aurel, ekspresi wajah cowok denim itu justru tetap luar biasa tenang dan lempeng tanpa dosa. Sudut bibirnya perlahan terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman teduh yang sarat akan kesabaran dan keikhlasan yang besar.

Dengan gerakan yang sangat santai, Reyhan mengambil pulpen hitam miliknya, lalu menuliskan satu baris kalimat balasan tepat di bawah memo Gino dengan tulisan tangannya yang sangat rapi dan tegas.

Setelah selesai mengetikkan coretan, Reyhan menggeser kembali kertas itu ke meja Aurel. Begitu Aurel membacanya, jantungnya seketika melompat dari ritme normalnya, berdegup dengan sangat keras bertalu-talu di dalam rongga dadanya.

Coretan balasan dari Reyhan tertulis:"Aman, Partner. Selama foldernya masih tegak berdiri jadi benteng, radar intel sayur lo nggak akan bisa mendeteksi zona gravitasi meja belakang. Fokus catat rumusnya dulu, biar pipi lo matangnya pas jam istirahat aja."

Aurel refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan demi menahan ledakan tawa sekaligus rasa salah tingkah gila-gilaan yang sudah berada di level maksimal. Pipinya sudah merona merah sempurna hingga ke hulu telinganya. Sifat jahil nan dewasa dari Reyhan yang selalu memilih untuk bersabar dan menjaganya dengan cara sekreatif ini terbukti selalu sukses mengikis sisa rasa sesak di hatinya akibat cinta sepihak masa lalu bersama Bang Edward.

Di barisan tengah, Shirin yang sejak tadi memantau pergerakan rahasia mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum tertahan penuh arti. Sembari kembali fokus menyalin rumus dari papan tulis, Aurel meremas pelan tisu di saku roknya dengan debaran dada yang menghangat. Di dalam ruang kelas yang hening sore itu, ia sadar; bersama riuhnya keisengan Gino dan kokohnya samudera kesabaran dari Reyhan, lembaran hidup mabanya akan tetap berjalan dengan penuh kehangatan yang mendalam.

Setelah sukses menjadi dalang di balik berputarnya kertas memo ke barisan belakang, Gino merasa di atas angin. Cowok buaya premium itu menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menggoyang-goyangkan pulpennya, bersiap menoleh lagi untuk melihat ekspresi salah tingkah Aurel.

Namun, belum sempat Gino memutar lehernya, sebuah gerakan senyap namun mematikan terjadi di sebelah kirinya.

Shirin, yang sejak tadi sudah gatal ingin menertibkan tingkah ajaib partner kelompoknya, bergerak dengan taktis. Dengan wajah yang tetap menatap lurus ke papan tulis seolah-olah sedang menyimak penjelasan dosen dengan khidmat, tangan kanan Shirin terulur ke bawah meja. Jemari lentiknya langsung mengincar lengan kiri Gino, lalu memberikan satu cubitan maut berputar seratus delapan puluh derajat tepat di bagian kulit dalam yang sensitif.

Cekit!

"AAAWWWWRRRGGHH—!"

Sebuah pekikan tertahan yang mirip suara lumba-lumba terjepit seketika lolos dari tenggorokan Gino. Cowok itu langsung melonjak dari kursinya, membuat kaki kursi besinya bergeser dan menimbulkan bunyi derit ngiiik yang sangat nyaring membelah keheningan kelas. Pulpen di tangannya bahkan sampai terbang ke udara dan mendarat tragis di dalam kotak pensil mahasiswa di barisan depan.

...Seketika itu juga, desau kapur dosen di papan tulis terhenti. Sang dosen statistik sosial langsung berbalik badan dengan perlahan. Tatapan matanya yang kaku di balik kacamata tebal langsung menembus tajam ke arah bangku tengah, tepat ke arah Gino yang kini sedang berdiri kaku dengan satu tangan memegangi lengan kirinya yang berdenyut perih.

"Saudara Gino," suara dosen itu terdengar dingin, mengintimidasi seluruh ruangan. "Ada masalah dengan kursi Anda? Atau rumus probabilitas di depan membuat Anda mendapatkan pencerahan spiritual sampai harus berdiri?"

Seisi kelas langsung hening, menahan napas bercampur tawa yang sudah di ujung tanduk. Di barisan belakang, Aurel langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan demi menahan ledakan tawa puas karena melihat tersangka utama pembuat memo langsung kena karma instan. Di sebelahnya, Reyhan bahkan sampai menyembunyikan senyum gelinya di balik folder tugas tebalnya.

Gino yang mentalnya mendadak diuji di depan umum, langsung memasang wajah lempeng paling memelas yang ia punya. "E-eh... enggak, Pak. Mohon maaf sekali. Ini... ini tadi paha saya mendadak kram karena terlalu semangat menyerap rumus matriks Bapak. Ototnya refleks menegang, Pak."

"Kalau begitu, silakan Anda menegang di luar kelas jika suara kursi Anda mengganggu perkuliahan saya lagi," sindir sang dosen tajam, sebelum akhirnya berbalik kembali melanjutkan tulisan kapurnya di papan tulis.

Gino langsung mengembuskan napas panjang penuh kelegaan dan buru-buru mendaratkan bokongnya kembali ke kursi dengan gerakan super pelan agar tidak menimbulkan bunyi [Gino]. Begitu posisinya aman, ia langsung menoleh ketus ke arah Shirin yang saat ini sedang sibuk mencatat dengan wajah yang luar biasa polos tanpa dosa, seolah-olah ia tidak baru saja melepaskan cubitan maut.

"Sumpah ya, Rin! Lo kejam bener!" bisik Gino dengan suara yang teramat lirih sembari mengelus lengan kirinya yang dipastikan bakal membiru [Gino]. "Urat kasih sayang lo beneran udah putus. Tangan lo kecil tapi tenaganya kayak kepiting raksasa!"

Shirin tidak menoleh sama sekali, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kemenangan yang sangat puas. Tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis, ia membalas bisikan Gino dengan nada ketus nan sarkas yang pelan. "Itu namanya pajak kompor, Gino. Sekali lagi lo gangguin Aurel sama Reyhan pakai memo sampah lo itu, gue pastiin cubitan berikutnya pindah ke telinga lo biar simetris sama jewerannya Kak Anita ke Bang Edward.

"Gino refleks menciut, langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan pura-pura fokus menatap papan tulis dengan wajah terzalimi yang sangat kocak.

Di barisan belakang, Aurel yang menyaksikan seluruh drama karma instan itu dari awal sampai akhir, terus terkekeh geli sembari menggeleng-gelengkan kepala. Di sampingnya, Reyhan melirik lambat ke arah Aurel, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat teduh. Kehangatan nyata dari riuhnya keisengan Gino dan ketegasan Shirin siang ini benar-benar sukses mengikis habis sisa-sisa rasa sesak di hati Aurel akibat cinta sepihak masa lalu bersama Bang Edward. Di dalam kelas yang kembali hening itu, Aurel tahu, lembaran hidup mabanya akan tetap dipenuhi oleh warna komedi yang teramat indah.

1
falea sezi
😒 heran liat Edward ini serakah
falea sezi
kenapa aurel di buat murahan sih😒 buat. move on donk🤣
falea sezi
aurel. move on pergi jauh lagh kuliah pindahan ja bodoh bgt km ini🤣
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
my queen 👸: makasih sarannya kk ❤️🙏
total 1 replies
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!