Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Bayang-Bayang di Balik Tanda Tangan
Pagi menjelang siang membawa kilau cahaya matahari yang memantul indah pada jajaran gedung-gedung perkantoran bertingkat di kawasan pusat bisnis ibu kota. Di sebuah ruang pertemuan privat yang terletak di lantai sepuluh gedung penerbitan nasional ternama, suasana terasa begitu tenang dan profesional. Dinding kaca kedap suara memperlihatkan hamparan lalu lintas kota dari ketinggian, sementara pendingin ruangan menjaga udara tetap sejuk.
Lin Meiying duduk rapi mengenakan blazer berwarna abu-abu lembut yang dipadukan dengan kemeja putih sederhana. Di hadapannya terbentang dua rangkap dokumen kontrak kerja sama penerbitan buku fisik untuk novelnya yang berjudul Bayang-Bayang Mahoni, lengkap dengan stempel resmi dari perusahaan penerbit.
Jemarinya yang memegang pena penanda tangan sempat bergetar pelan. Selama bertahun-tahun hidup di bawah tekanan kemiskinan, ketakutan, dan bayang-bayang kehilangan, ia tidak pernah membayangkan hari di mana namanya—atau lebih tepatnya, nama pena Aksara Handini—akan tercetak resmi di atas sampul buku fisik yang dipajang di toko-toko buku seluruh negeri.
"Silakan dibaca sekali lagi klausul pembagian royalti dan hak cipta penulis di halaman ketiga, Nyonya Meiying," ujar sang direktur penerbitan wanita paruh baya berambut pendek yang duduk di seberang meja, tersenyum ramah. "Kami sangat yakin karya Anda akan menjadi salah satu bestseller tahun ini karena kedalaman emosi dan gaya penceritaannya yang sangat hidup."
Meiying mengangguk sopan. Ia membuka halaman yang dimaksud, membaca setiap butir pasal dengan teliti. Namun, ada satu hal ganjil yang langsung menarik perhatiannya pada lampiran klausul pembiayaan distribusi dan garansi pemasaran awal buku tersebut. Di bagian bawah lembar penjamin investasi cetak, tertera nama sebuah yayasan swasta misterius sebagai pihak sponsor utama: Yayasan Cipta Asa Nusantara—yayasan perwalian independen yang sama yang selama ini secara diam-diam menanggung biaya perwalian pendidikan Anqi dan sertifikat rumah kontrakannya.
Jantung Meiying berdegup kencang. Ia mendongak menatap direktur penerbit tersebut dengan kening berkerut.
"Maaf, Bu... Saya ingin bertanya," ujar Meiying hati-hati. "Pihak Yayasan Cipta Asa Nusantara... apakah mereka yang mengajukan penawaran khusus agar naskah saya bisa langsung masuk ke jalur penerbitan prioritas nasional ini?"
Direktur penerbit itu tersenyum tipis, merapikan kacamatanya sejenak sebelum menjawab, "Ah, Anda jeli sekali, Nyonya Meiying. Benar. Pihak perwakilan yayasan tersebut mendatangi kami beberapa minggu lalu, membawa portofolio digital naskah Aksara Handini, dan menjamin seluruh biaya produksi cetak serta kampanye pemasaran nasional di muka. Mereka tidak meminta keuntungan finansial apa pun, selain memastikan karya Anda dibaca oleh khalayak luas."
Penjelasan itu membuat dada Meiying bergemuruh hebat. Sekali lagi, tangan tak kasat mata dari yayasan tersebut—atau lebih tepatnya, bayangan dari pria berjas hitam beraroma mahoni itu—bekerja di balik layar untuk membuka jalan baginya. Meskipun Lu Jingyan tidak pernah muncul langsung di hadapannya selama beberapa bulan terakhir, keberadaannya seolah meresap di setiap inci pencapaian hidup yang sedang ia jalani.
Dengan helaan napas panjang yang menenangkan, Meiying menepis keraguannya. Ia tahu, alih-alih terus mempertanyakan motif di balik semua perlindungan itu, hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah membuktikan bahwa dirinya layak berdiri di atas kaki sendiri.
Meiying menorehkan tanda tangannya di atas kertas kontrak tersebut dengan goresan tinta yang mantap.
Lin Meiying. Atau di mata dunia sastra: Aksara Handini.
Di belahan kota yang berbeda, di dalam sebuah ruang kerja mewah beraroma kayu cendana di lantai paling atas menara Lu Group, suasana terasa jauh lebih senyap. Sekretaris Han berdiri tegak di samping meja kerja, menyerahkan laporan perkembangan harian kepada sang atasan.
"Proses penandatanganan kontrak penerbitan buku fisik Nyonya Meiying di penerbit nasional baru saja diselesaikan, Tuan Muda," lapor Sekretaris Han dengan suara tertahan. "Semua klausul pendanaan dan perlindungan hak cipta sudah diatur melalui yayasan tanpa menimbulkan kecurigaan apa pun dari pihak penerbit."
Lu Jingyan duduk di balik meja kerja kayu mahoninya. Ia menatap sebuah bingkai foto digital di atas meja yang menampilkan siluet pemandangan kota, namun pikirannya melayang pada senyum tulus yang tersungging di wajah Meiying saat wanita itu menorehkan pena di atas kertas kontrak tadi.
Sudut bibir Jingyan terangkat membentuk senyum tipis yang hangat. Ia tidak butuh pujian, ia tidak butuh pengakuan. Melihat wanita yang dicintainya terbang tinggi mengejar impian kepenulisannya di bawah cahaya matahari yang cerah sudah lebih dari cukup untuk membayar setiap detik sisa waktu yang terus berdetak di dalam dadanya.
"Bagus, Han," ucap Jingyan tenang. "Terus pantau perkembangannya dari jauh. Pastikan jalannya menuju masa depan tetap bersih dari segala duri."