Namanya Naraya. Memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Sayangnya, jejak kebahagiaan itu tak tertinggal di kepalanya.
Namanya Gendis. Berada di tengah orang- orang yang amat mencintainya. Juga, teman baik berkaki empat. Mereka tak terpisahkan. Untuk sekali lagi, semua terampas darinya. Tak ada kenangan, sedikit pun.
Namanya Gendis. Keluarganya amat sangat mencintainya. Kehidupannya sempurna.
'Kecelakaan kecil' yang melibatkan cowok bernama Narayan mengembalikan kembali keping demi keping ingatan akan dirinya. Seperti puzzle yang berserakan, ia harus mengumpulkan mereka kembali.
Siapa dirinya? Siapa keluarganya?
Bersama Narayan, mereka menyusun kepingan puzzle itu. Mencari kebenaran sesungguhnya akan kehidupan Gendis.
Apa yang terjadi kepada Gendis erat hubungannya dengan Narayan. Semua kemalangan ini tidak akan menimpa Gendis seandainya saja kesalahan itu tidak terjadi pada awalnya.
Narayan harus mengembalikan kehidupan Gendis yang berantakan karena dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KalinggaAnom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26~ Nemenin mama reuni
Kehebohan tercipta begitu kedua ibu dan anak itu muncul, melewati pintu restoran. Selusin pria dan wanita paruh baya, nampak memenuhi kursi- kursi yang tertata rapi. Khusus untuk acara reuni, restoran bergaya Western itu telah mereka pesan seharian.
Gendis menjauhkan diri dari sang mama seperti yang sudah mereka sepakati sebelum berangkat tadi pagi. Layaknya diva, kehadiran mama mendapat sambutan hangat dari teman- temannya.
Mereka saling berpelukan, mencium pipi, bertukar pukulan ringan. Semua dilakukan mama untuk semua temannya, satu demi satu. Tampak sekali mereka saling merindukan satu sama lain. Bahkan ada yang mukanya merah, seperti menangis, saat bertemu dengan mama. Dia adalah wanita cantik bertubuh mungil dengan rambut digelung rapi. Mama memeluk wanita itu lama, dan menghapus cairan bening yang menetes di pipi wanita itu.
Mereka tampak akrab sekali.
" Boleh aku duduk di sini?" Sebuah suara mengalihkan perhatian Gendis dari pemandangan mama dan temannya yang sedang menangis itu. Ia mendongakkan wajahnya, dan mendapati pria tinggi berdiri di hadapannya. Pria itu tersenyum kepadanya.
Gendis memperhatikan kiri dan kanannya, banyak kursi kosong di sekitarnya. Ia kembali mendongak, tersenyum semanis mungkin,
" Banyak kursi kosong. Tidak harus di sini, bukan?"
Pria itu tetap tersenyum, dan tak beranjak sedikit pun.
" Membosankan jika harus duduk sendirian. Kalau mereka sudah berkumpul, pasti akan betah berjam-jam, bahkan bisa lupa diri."
Pada dasarnya Gendis tidak bermaksud kasar, dan dia bukan gadis tak sopan yang mengusir seenaknya. Tapi, dia harus fokus mencari tahu kehidupannya. Ia harus berpikir keras, dan itu hanya bisa ia lakukan jika ia sendirian.
" Terserah." Nada keberatan tersirat dari kata- katanya. Dia berharap pria itu menangkap rasa enggan jika dia bergabung bersamanya dan beringsut pergi mencari kursi kosong di tempat lain.
Kenyataan berlawanan dengan apa yang diharapkannya. Bukannya pergi, pria itu malah menarik kursi tepat di sebelahnya, dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Tentu saja hal itu membuat kerut di hidung Gendis muncul, tanda ia jengkel.
" Terima kasih." Seakan Gendis mempersilahkannya duduk, pria itu berkata sopan.
Apakah pria itu tak dapat membaca ketidaksukaan secara tersirat? Apa gestur tak ingin diganggu, tak bisa dimengerti pria itu? Mulut Gendis sampai terbuka, melonggo, saking takjub melihat pria bermuka tembok itu. Dan dia mengucapkan terima kasih,... apa ia bermaksud menyindirnya?!
Hei, di mana lu?
Betapa leganya ia menerima pesan masuk dari Sasa di ponselnya. Gendis memang berencana menghabiskan waktu menunggu mamanya dengan catting bersama teman-temannya.
Lu ngga datang ke sini? Gue bosan banget berjam- jam di tempat tidur. Kemarilah, Gendis temenin gue."
Gendis mengetikkan balasan, "Mama minta gue untuk menemaninya reuni bersama teman-teman sekolahnya. Jika di sini selesai, gue akan langsung ke rumah sakit."
Gue bosan sendirian di sini, Gendis. Balas Sasa.
Kening mulus Gendis berkerut- kerut, Bukannya ada Ken di sana bersama lu? Dia bilang akan mampir buat nemenin lu hari ini. Apa dia ngga datang? Gendis membalas.
*Iya, dia memang tadi datang dan nemenin gue sebentar. Ngga ada dua jam dia langsung pergi.
cuma dua jam? Kemarin dia bilang bakal nemenin lu lama.
Tiba- tiba bosnya telpon. Katanya dia disuruh masuk karena salah satu karyawan ada yang ngga masuk karena sakit. Ya, akhirnya dia pergi.
Ken kerja? Kerja apa? Di mana?
Hei! Memangnya lu ngga tahu kalo Ken bekerja partime sepulang sekolah*? Sasa mengetik
Raut wajah Gendis terlihat kaget. Matanya membulat terpana, Sungguh gue ngga tahu. Dia bilang, di mana dia bekerja? Bukankah seharusnya dia belajar, ujian Nasional tinggal sebentar lagi.
Sasa mengetik balasan, " Dia ngga ngasih tahu gue apa- apa. Bagaimana kalau kapan- kapan kita ke tempat kerjanya, Gen? Gue Sungguh penasaran dengan Ken. Lu ingat pria yang mengaku sebagai abangnya Ken?
Gendis sejenak diam. Abang yang waktu itu mengendong gue di punggungnya? Dia, maksud lu?
Ya. Memangnya lu ngga mencurigai sesuatu? Teman- teman di kelas bilang kalau Ken anak sulun. Dia ngga punya abang. Sasa terdengar bersemangat sekali membicarakan Kaneka.
Senyum Gendis melebar, Sepertinya lu perhatian banget sama Ken. Bukankah lu bilang kalau Ken anaknya aneh, kaku seperti robot, ngga asyik sama sekali. Sepertinya, kalian mulai dekat. Gue seneng banget!
APA MAKSUD LU?!
Senyum Gendis tetap terukir di wajahnya. Apa ia sudah berhasil memancing kejengkelan Sasa? Sungguh, ia rindu sahabatnya itu naik darah.
Gue ngga bermaksud apa-apa. Tulis Gendis, cepat. Gue hanya senang kalian bisa akur, Sasa. Memangnya lu pikir gue ngga pusing melihat kalian bersitegang terus?,
Kenapa sepertinya gue merasa lu sedang mengejek gue , Gendis ?! Awas lu ya kalau kita ketemu, habis lu!
Gendis tertawa pelan, Ya, ampun. Bisakah sehari aja lu tidak marah- marah, Sasa? Ingat, lu itu sedang di rumah sakit. Suster- suster di sana akan lari ketakutan ngeliat lu nanti.
Bagaimana gue tidak marah, lu selalu memancing amarah gue!
Mengingat bagaimana raut wajah Sasa yang merah padam menahan amarah, membuat tawa Gendis pecah.
" Ya, ampun! Kau manis sekali!"
Perhatian Gendis teralihkan dari ponselnya. Ia melirik ke samping, dan mendapati pria itu tengah menatapnya sembari menyangga dagunya dengan tangan. Matanya menatap Gendis seperti anj*Ng menjulurkan lidah kala menatap tulang.
" Kau bilang apa?" Reflek, kata- kata itu keluar dari bibir Gendis. Cara pria asing itu menatapnya sungguh aneh. Bulu tangan Gendis sampai meremang, waspada.
" Aku bilang, kau manis sekali." Pria itu mengulang kalimat yang terlontar beberapa detik yang lalu." Senyummu membuat duniaku jungkir balik. Suara tawamu, seperti obat bagi penyakutku. Bukan, lebih tepatnya seperti vitamin."
Meskipun terbiasa menghadapi orang-orang yang terpesona dengan dirinya, dan tidak merasa terganggu untuk itu, tetap saja, pria di depannya itu membuat kupingnya panas. Bukan karena ke-GR an, tapi ia tidak suka. Sikap frontal dan keterusterangan itu.
Gendis bangkit berdiri, membuat pria itu kaget. Ia segera beranjak dari kursinya,
" Hei,..."
" Aku yang pergi, atau kau?" Singkat, jelas, dan mematikan.
" Aku minta maaf,..." Pria itu terdengar menyesal, " Aku keceplosan. Seharusnya aku tidak berkata apa-apa. Tapi, aku tidak tahan. Kau sungguh- sungguh menyita perhatianku. Aku ingin berkenalan denganmu. Namaku Sebastian. Panggil aku Bastian atau Tian juga boleh. Boleh aku tahu, namamu?"
" Tidak."
" Oh, ayolah." Pria bernama Bastian itu sepertinya tak terbiasa menerima penolakan. " Aku ingin berkenalan denganmu." Aku bukan orang jahat."
Pria itu benar-benar membuat mood Gendis memburuk. Ia tetap bungkam, bergerak menjauhi meja dan melangkah menuju pintu keluar.
" Hei,...!"
" Gendis!" Suara mama terdengar memanggilnya keras, saat Gendis sudah mencapai pintu. Ia berbalik, dan melihat mama berlari kecil mendatanginya. " Kau mau ke mana, sayang?"
" Aku menunggu di luar saja, ma." Kata Gendis, " Di sini AC nya terlalu dingin. Aku ngga kuat."
" Ya, sudah. Nanti akan mama minta waiter mengantarkan makanan keluar, ya. Kau mau makan apa, sayang?"
" Terserah mama saja, yang penting enak. Jus stowberry, jangan lupa, ya ma. Aku tunggu di luar."
" Baiklah, sayang. Nanti segera makanannya diantar, ya."
Lalu, Gendis beranjak keluar dari restoran, meninggalkan mama, yang segera kembali ke teman- temannya. Dan pria itu, ia terlihat berdiri di tempatnya, membeku seperti patung.
🍢🍢🍢
saling support sukses bersama kk
feedback nya ya 🙏
Jangan lupa baca novel aku judulnya "Thanks"
Aku harap kita bisa saling support
Makasih kak
like blk novel q ya thor
cinta rasa covid-19
gak sabar nunggu Up-nya