Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. Pertaruhan di Singapura
Keheningan seketika menyergap ruang kerja Kakek Silas. Suasana yang tadinya dipenuhi intimidasi dingin sang Patriark kini membeku total oleh pernyataan Clarissa yang begitu berani. Kata-kata "tiga hari" bergaung di udara, menghantam dinding mahoni megah mansion Pratama bagaikan dentuman meriam.
Dominic berdiri kaku di samping Clarissa. Matanya membelalak lebar, menatap istrinya dengan pandangan tak percaya bercampur kemarahan tersembunyi.
"Clarissa, apa kau sudah gila?!" desis Dominic rendah, cengkeraman tangannya di samping jas mengetat hebat.
"Kau tidak tahu siapa Vane & Co! Julian Vane adalah pria tua berdarah dingin yang membentengi bisnisnya di Singapura. Bahkan utusan resmi Pratama Group sudah ditolak tiga kali! Bagaimana mungkin kau berjanji menyelesaikan akuisisi
itu dalam waktu tiga hari?!"
Clarissa tidak lantas menjawab teguran Dominic. Ia tetap berdiri tegap dengan gaun marunnya yang anggun, melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap Kakek Silas yang kini bersandar kaku di kursinya.
Raut wajah Kakek Silas berubah dari licik menjadi terkejut, sebelum akhirnya meledak dalam tawa kering.
"Tiga hari? Kesombonganmu sungguh menggelikan, Clarissa! Kau pikir dunia bisnis di Singapura bisa kau taklukkan hanya dengan senyuman anggun dan keberuntungan semalam?"
"Saya tidak pernah mengandalkan keberuntungan, Kakek Silas," balas Clarissa dengan suara yang mengalun jernih, tenang, dan tajam. "Jika dalam tiga hari saya membawa dokumen kesepakatan itu ke meja ini, Kakek harus menyerahkan sepuluh persen saham veto Pratama Group secara pribadi kepada saya."
Kakek Silas menyipitkan matanya. "Baik! Jika kau berhasil, sepuluh persen saham veto milikku menjadi milikmu! Tapi jika kau gagal... kau harus angkat kaki dari rumah ini dan menyerahkan seluruh dokumen audit rahasia milik Sarah tanpa syarat!"
"Sepakat," bisik Clarissa amat manis, menyunggingkan senyuman Ratu yang paling memikat.
Singapura, Dua Puluh Empat Jam Kemudian.
Gedung pencakar langit Vane Tower berdiri megah di pusat kawasan finansial Marina Bay. Di lantai teratas, seorang pria tua berjas abu-abu gelap berdiri tegap membelakangi dinding kaca raksasa.
Meskipun rambutnya telah memutih seumuran dengan Kakek Silas, postur tubuhnya tetap tegap dan gagah, memancarkan aura dominasi yang mengerikan. Pria itu adalah Julian Vane—penguasa finansial yang ditakuti seluruh Asia Tenggara.
Pintu ruang kerja pribadi Julian terketuk. Sekretaris utamanya melangkah masuk dengan tangan bergetar, menyerahkan sebuah amplop hitam bersegel lilin dengan ukiran mahkota mawar keemasan—sandi rahasia Kerajaan Elisia yang tersimpan amat rapat.
Deg!
Mata tua Julian melebar seketika. "Di mana orang yang membawa ini?!" bentaknya tegas.
Di ruang tamu VIP yang mewah, Dominic duduk cemas di sofa kulit, sementara Clarissa duduk amat santai sembari menyesap teh Earl Grey.
Pintu didobrak dari luar. Julian Vane melangkah masuk dengan langkah lebar.
Namun, alih-alih menemukan sosok yang dicarinya, mata tuanya justru mendapati seorang wanita muda berwajah asing yang tampak ringkih di samping Dominic Pratama.
Raut wajah Julian seketika mendingin, berganti menjadi tatapan sarat akan kemurkaan dan kekecewaan.
"Siapa kau?!" bentak Julian dingin, suara beratnya menggelegar memenuhi ruangan.
"Dari mana kau mendapatkan lambang rahasia itu?! Jangan coba-coba mempermainkan Vane & Co dengan trik murah, Gadis Muda!"
Dominic langsung berdiri pasang badan, terkejut melihat reaksi amat kasar sang penguasa Singapura. "Tuan Vane, harap tenang—"
"Diam, Dominic," potong Clarissa santai tanpa menoleh. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu menatap Julian dengan pandangan menilai yang teramat dingin.
"Masih saja pemarah dan tidak sabaran, Julian," ucap Clarissa dengan senyuman meremehkan.
"Rambutmu boleh saja sudah memutih dan tubuhmu makin ringkih seperti Silas, tapi tabiatmu yang benci teh beraroma melati dan selalu menyembunyikan cangkir porselen hijau di laci bawah meja kerjamu ternyata tidak pernah berubah."
Julian tersentak hebat. Rahangnya menegang kaku. "Kau... dari mana kau tahu hal pribadi itu?!"
"Tentu saja aku tahu. Siapa lagi yang menggembleng anak cengeng yang menangis di bawah guyuran hujan Elisia hingga menjadi penguasa bursa saham di Singapura kalau bukan aku?" bisik Clarissa tajam.
Julian mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya memburu keras. Pikiran rasionalnya menolak percaya bahwa sosok yang amat diagungkannya kini berada di dalam wujud wanita muda di hadapannya.
"Lelucon macam apa ini?!" murka Julian, matanya memerah. "Pengawal! Usir mereka berdua sekarang juga!"
Empat pengawal bertubuh kekar bersenjata lengkap masuk mendobrak pintu. Dominic yang melihat situasi kian berbahaya langsung menyambar keras lengan Clarissa. "Clarissa, ini sudah keterlaluan! Jangan bertindak gila, kita harus pergi sekarang!"
Dominic sangat kesal dan frustrasi dengan tingkah istrinya yang seolah mencari penyakit di hadapan penguasa Singapura. Namun, Clarissa justru menepis tangan Dominic dengan kasar.
Bukannya takut, Clarissa justru berdiri tegap. Aura mengintimidasi yang begitu pekat dan menindas mendadak memancar dari tubuhnya, membekukan atmosfer di ruangan tersebut.
Clarissa mengangkat tangan kanannya, lalu menunjuk lurus ke wajah Julian Vane dengan mata yang berkilat keemasan.
"Julian Vane! Berani-beraninya kau mengacungkan senjata ke arah penguasamu?!" bentak Clarissa dengan suara bernada perintah mutlak yang menggelegar—nada suara spesifik Kerajaan Elisia yang hanya digunakan Ratu Victoria saat menjatuhkan hukuman militer!
"Kneel and take the Sovereign's Oath!" seru Clarissa tajam. "Atau aku sendiri yang akan mencabut seluruh hak waris dan mematahkan tongkat kekuasaan yang kupinjamkan padamu!"
Para pengawal pribadi Julian yang panik melihat Clarissa membentak tuannya langsung bergerak maju untuk meringkus wanita itu. Namun, sebelum tangan para pengawal menyentuh pakaian Clarissa...
"BERHENTI! JANGAN SENTUH DIA!" jerit Julian histeris.
Suara itu bergema dahsyat. Tubuh tua Julian Vane gemetar hebat. Hukuman verbal dan kata-kata rahasia yang baru saja diucapkan Clarissa adalah doktrin hukuman pribadi yang hanya diucapkan oleh Ratu Victoria ketika Julian melakukan kesalahan fatal di masa mudanya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengetahuinya!
Di depan mata para pengawal yang terperangah, dan di hadapan Dominic Pratama yang berdiri membeku...
Julian Vane—sang penguasa finansial Singapura yang ditakuti seluruh Asia—perlahan berlutut dengan kedua lututnya di atas lantai marmer. Pria tua yang gagah itu menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh lantai di depan kaki Clarissa, air mata menetes dari pelupuk matanya yang keriput.
"N-Nenek..." bisik Julian parau dengan tubuh gemetar penuh ketundukan mutlak. "Ampuni kelancangan hamba... Hamba benar-benar tidak mengenali Anda."
Dominic Pratama hanya berdiri mematung di tempatnya. Rahangnya hampir jatuh, matanya terbelalak lebar menyaksikan pemandangan yang sepenuhnya di luar nalar manusia tersebut. Pria tua terkuat di Singapura... kini bersimpuh pasrah memanggil istrinya dengan sebutan 'Nenek'.
Clarissa menyunggingkan senyuman Ratu yang paling dingin, menatap Julian dari atas dengan penuh dominasi.
sangat menarik sekali