Lahir dari keluarga kaya tidak membuat Aerum merasa sombong dan angkuh. Dia justru menjadi gadis yang lemah lembut dan rendah hati. Menurutnya harta dan uang bukanlah segalanya. Sampai peristiwa itu terjadi dimana mengubah seluruh diri Aerum. Sifat ceria dan cerewetnya telah lenyap berubah menjadi gadis yang tak dapat disentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 미타, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Keesokan harinya, Aerum melakukan segala aktivitasnya seperti sedia kala seakan tak terjadi apapun. Sarapan bersama lalu berangkat ke kampus bersama Hana tak lupa menjemput Lie di rumahnya. Sudah menjadi rutinitas mereka untuk berangkat dan pulang bersama setelah materi kuliah mereka selesai.
Hari ini Aerum,Hana dan Lie berangkat ke kampus dengan Ryung yang menjadi supirnya. Jujur mereka bertiga malas dan tak ingin di antar oleh Ryung namun mereka tak ingin mengatakan secara langsung setelah melihat wajah Ryung yang begitu semangat dan bahagia.
Jam telah menunjukkan pukul 8.00, mobil yang membawah mereka terus melaju menelusuri setiap ruas jalan yang nampak sangat ramai dengan kendaraan yang sibuk hilir mudik.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit mereka akhirnya sampai di tempat mereka tuju. Ryung segera keluar dari mobil yang dikemudikannya setelah mobil tersebut terparkir dengan apik. Kemudian membuka pintu mobil untuk ketiga gadis tersebut.
Ryung begitu serius dan menikmati setiap momen ketika bersama adik-adiknya hingga tak merasakan tatapan heboh dan kagum para mahasiswi yang mengarah kepadanya. Banyak di antara mereka mengira bahwa pria tersebut yang tak pernah mereka lihat di kampus ini sedang mengantar sang pujaan hati.
“Silahkan tuan putri,” canda Ryung.
“Kakak kau sangat cocok untuk jadi seorang supir,” ucap Hana yang di sambut gelagat tawa oleh Aerum dan Lie. Ryung yang ingin membalas candaan Hana dengan senyum manisnya segera mengurungkan niatnya setelah menyadari dirinya menjadi pusat perhatian para gadis yang berada di kampus ini. Dia memasang wajah dingin khas dirinya dan bertindak seolah-olah dia adalah supir dari ketiga gadis yang saat ini berdiri di sampingnya.
“Sayang sekali dia hanya seorang pesuruh,” ucap mereka menghina Ryung.
Para mahasiswa dan mahasiswi sangat menyayangkan wajah tampan yang di miliki oleh Ryung yang hanya berprofesi sebagai supir. Bahkan beberapa dari mereka tak segan-segan untuk mencemoh dan menghina secara langsung pada Ryung. Aerum, Hana dan Lie merasa geram mendengar setiap hina yang di lontarkan untuk kakaknya itu. Sedangkan Ryung dia hanya diam tak memperdulikan ucapan-ucapan yang di lontarkan untuk dirinya.
“Sifat alami manusia, menganggap uang dan kekayaan adalah raja,” ujar Aerum dingin.
“Pria itu seharusnya jadi model saja,” ucap si A yang seolah simpati pada Ryung.
“Iya, dasar manusia sampah! pintu aja masih harus di bukakan segala,” hina di B, yang merasa sangat iri dengan mereka bertiga. Bagaimana tidak iri, wajah mereka yang sangat cantik di tambah lagi indentitas mereka yang sangat di sengangi dan di hargai di negara ini.
“Ingin rasanya gue mencabik-cabik wajah mereka yang sok kecantikan itu,” timpal si C.
Mereka yang tengah asik menghina dan mengumpat Aerum,Hana dan Lie tiba-tiba di kagetkan dengan seseorang yang dengan sengajanya menyenggol salah satu dari mereka hingga terjatuh.
“Bilang aja kalian iri sama mereka, iri tanda tak mampu,” kesal gadis tersebut. Lalu berjalan meninggalkan mereka tanpa mengucapkan kata maaf.
Setelah melampiaskan kekesalannya karena jalan yang akan dilalui terhalang oleh mereka. Gadis itu pun akhirnya meninggal tempat tersebut tanpa memperdulikan ucapan-ucapan mereka yang menghina dirinya. Dia hanya menganggapnya angin berlalu dan kicauan-kicauan burung di pagi hari.
Ryung nampak geram mendengar ucapan beberapa mahasiswi yang tak terlalu jauh darinya. Dia seakan ingin memberikan mereka sedikit pelajaran yang berharga karena telah menghina dan mengolok-olok adik yang sangat dia sayangi dan paling berharga dalam hidupnya. Keinginan itu segera dia urungkan karena kedatangan gadis itu. Gadis yang kelihatan sangat cuek dan dia juga yang sudah memberikan sedikit pelajaran dengan ulahnya yang dengan sengaja menyenggol para mahasiswi itu.
“Gadis yang menarik,” batin Ryung dengan arah pandang tak lepas melihat punggung gadis itu.
Setelah sesi antar selesai. Ryung bergegas meninggalkan perataran parkiran Edbert university. Dia merasa risih dengan pandangan beberapa mahasiswi yang seakan menelanjangi tubuhnya hanya dengan tatapan mata mereka.
“Mereka sama saja , kecuali gadis itu,” Guman Ryung dengan pandangan fokus ke depan karena saat ini dia sedang mengemudi.
__________
Hari mulai beranjak sore Lie dan Hana telah pulang di jemput oleh Calvin.
“Aerum mana Nana? kenapa tidak pulang bareng kalian?” tanya Ryung pada Hana yang baru datang.
“Lagi ada urusan kak, jadi tidak pulang bareng kita,” jawab Hana.
“Emang urusan apa?” tanya Ryung penasaran.
“Mana ku tahu,” ucap Hana kemudian memasuki kamarnya.
Aerum memang tak langsung pulang dia ada janji hari ini dengan Alvin, Sean dan Fian untuk jalan bersama. Tak lama, setelah kepergian mobil yang membawah Hana dan Lie pergi. Mobil yang di kemudikan oleh Alvin segera berhenti di hadapan Aerum.
“Udah lama nunggunya kuntil?” tanya Sean ketika Aerum sudah masuk kedalam mobil dan duduk disampingnya.
“Tidak,” jawab Aerum singkat karena merasa kesal dengan panggilan yang disebutkan Sean untuk dirinya. Sean hanya menggerutu setelah mendengar jawaban singkat dari Aerum.
Selama dalam perjalanan Aerum dan Sean tak ada hentinya berdebat. Mereka seolah tak kehabisan kata-kata yang dilontarkan satu sama lain.
“Kalian kalau ketemu kaya tikus sama kucing aja,” sahut Fian yang duduk di kursi depan samping Kemudi.
”Sean, tuh bang yang jadi kucingnya, suka gangguin Aerum,” aduh Aerum pada Fian.
“Loh kali, bukan gue,” bantah Sean.
“Loh,” tunjuk Aerum.
“Loh,” ucap mereka saling tunjuk menujuk.
Alvin yang mendengar pertengkaran kecil mereka hanya tersenyum dengan pandangan fokus ke jalan raya. Justru hal inilah yang sangat mereka rindukan. Inilah salah satu cara unik mereka mengapresasikan rasa sayang satu sama lainnya walaupun melalui pertengkaran-pertengkaran kecil.
______________
“Mau nonton film apa?” tanya Alvin.
“Horor aja,” ucap Aerum dan Fian serempak.
“Action aja yah,” ucap Sean memelas.
“Ooo ... tidak bisa, waktu itu kita udah ngalah yah ikutin kemauan anda, sekarang mau tidak mau loh harus nurut sama kita,” ucap Fian.
“Betul bang,” ujar Aerum dengan senyum smirknya.
“Ok,” jawab Alvin.
“Bang kita pesan pop corn sama minuman dulu yah, ayo Rum,” pamit Fian tak lupa mengajak Aerum.
Setelah kepergian Fian dan Aerum. Alvin dan Sean pun segera ke loket untuk memesan empat tiket agar bisa masuk, menonton film yang mereka inginkan.
“Al, ganti aja film nggak usah film horor,” bujuk Sean pada Alvin.
“Loh takut sama hantu? lihat di layar hanya Film horor yang udah mau tayang kalau yang lainnya kita harus nunggu lagi sampai 3 jam,” jelas Alvin.
“Gue kagak takut yah,” ucap Sean pelan.
Kini mereka mulai duduk di kursi masing-masing yang sudah tertera di tiket yang mereka pegangan. Fian dan Aerum begitu senang menyambut film yang tak lama lagi di putar di layar besar tersebut. Sedangkan Sean yang duduk di dekat Alvin mulai merinding dan ketakutan begitu lampu di padamkan. Selama film berlangsung Sean terus memeluk erat salah satu lengan tangan Alvin hingga Alvin tak begitu menikmati film itu. Berbeda dengan Fian dan Aerum yang menghayati setia adegan-adegan yang terjadi tanpa memperhatikan tingkah konyol yang dilakukan Sean saat ini.
Tiga jam telah berlalu kini mereka berempat telah duduk di salah satu meja restauran yang masih berada di dalam mall tersebut.
“Beneran bang, Sean tadi sangking takutnya langsung meluk abang?” tanya Aerum ketika mendengar cerita Alvin akan tingkah Sean ketika berada di bioskop.
“Ia, gue lebih ngerik sama dia dari pada film yang tadi, gue nggak fokus tuh sama film gara-gara ulah dia,” jelas Alvin dengan gelak tawanya.
“Bang nggak usah di lanjuti,” ujar Sean dengan wajah yang mulai memerah menahan malu.
“Pantas aja dia ngotot nggak mau nonton film horor,” timpal Fian.
Mereka benar-benar tak mampu menahan tawa mereka setelah mendengar cerita Alvin. Akhirnya mereka berhenti menertawakan Sean ketika kedatangan pelayan yang mengantarkan pesan mereka lalu menghidangkan di atas meja.
___________
Aerum tiba di rumah ketika jam telah menunjukkan jam delapan malam.
“Dah ...” ucap Aerum kepada ketiga pria itu dengan tangan yang di lambaikan. Dia pun mulai melangkah memasuki rumah besar itu setelah pamitan kepada Ketiga pria tersebut. Alvin kembali melanjutkan mobilnya setelah memastikan Aerum masuk kedalam rumahnya.
“Dari mana aja princess?” tanya Calvin ketika berpapasan dengan Aerum.
“Habis nonton bang sama bang Al dan lainnya,” jawab Aerum.
“Yang lain mana bang? tumben sepi.”
“Mommy sama Daddy lagi keluar, Ryung sama Hana lagi di kamar Abang main PS. Mau gabung nggak?” tanya Calvin.
“Nggak usah bang Princess mau istirahat aja,” jawab Aerum kemudian melangkah kakinya menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
lanjut part 2😬
tiba" dia selamat dari kematian kan seru Thor
sialan