Sejak awal, Arini tahu posisinya. Dia bukan pilihan pertama.
Dia hanya "rumah singgah" bagi Rayhan yang hatinya masih tertinggal di masa lalu, di pelukan Sahira.
Bertahun-tahun Arini bertahan, berharap Rayhan akan memilihnya.
Sampai suatu hari Sahira kembali, sakit, dan butuh Rayhan lebih dari siapapun.
Di persimpangan itu Arini dihadapkan dua pilihan: bertarung mempertahankan, atau pergi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Selalu Hadir
Airmatanya berjatuhan mengingat bagaimana bodohnya dirinya terus bertahan karena cintanya itu.
Aku pikir aku sudah kebal, Tiga tahun cukup lama untuk belajar menahan sakit.
Tapi ternyata tidak, malam itu jam 2, aku terbangun karena suara Rayhan menggumam di sampingku.
Kami memang tidak tidur sekamar. Tapi malam itu dia lembur di rumahku. Lagi.
"Sahira... jangan pergi...". Suaranya pelan dan parau.
Dadaku sesak.
Aku menatap langit-langit kamar, Kipas berputar, Hati ikut berputar, Ini bukan pertama kali.
Dulu pernah pas dia demam.
Pernah pas dia mabuk di kantor dan aku yang jemput.
Pernah pas dia ketiduran di sofa nungguin aku masak.
Selalu nama yang sama.
"Sahira".
Aku ke dapur, bikin teh hangat. Tangan gemetar.
Dina sahabatku menegurku
"Rin, kalau kamu udah jadi tempat sampah perasaan orang, berhenti, Kamu cewek, bukan tempat penitipan."
Aku jawab apa?
"Gapapa Din. Siapa tau nanti giliranku."
Tapi kapan?
Sudah tiga tahun.
Pagi harinya Rayhan minta maaf, entah karena apa, atau mungkin dia baru sadar jika dia menyakiti aku sekalipun saat dia bermimpi
"Maaf ya Rin, aku mimpi buruk."
Aku senyum. "Gak apa-apa. Mimpi aja."
Padahal di dalam hati aku teriak, Kapan kamu mimpiin aku?
Hari-hari setelah itu rasanya kosong.
Chat Rayhan makin singkat. "Lagi sibuk." "Nanti ya." "Maaf."
Aku tahu. Sahira sudah mulai muncul lagi di sosial medianya.
Satu like.
Satu komentar.
Satu cerita "kenangan 3 tahun lalu".
Dan aku?
Aku masih di sini. Menjadi penonton setia di bangku cadangan.
Malam ini aku shalat lebih lama.
Sujud paling lama.
"Ya Allah... kalau dia bukan milikku, kuatkan aku untuk melepas.
Tapi kalau melepas sakit, tolong jangan biarkan aku berharap lagi Karena capek ya Allah... Capek jadi orang yang selalu kedua.
Setelah merenungi semua hal yang dia alami bersama Rayhan, Arini bangkit dari duduknya, dia akan kembali membuka dirinya dan bekerja tetap seperti dulu, dia akan pastikan keluar dari rumah Rayhan dengan kepala tegak.
Walau kini dia masih bekerja, tapi pekerjaannya masih berstatus lepas dan belum menetap, kini dia akan kembali memperjuangkan kariernya seperti dulu.
"Dulu aku melepaskan semuanya untukmu, tapi kini aku akan kembali untuk diriku sendiri". Ucapnya dalam hati
Dia segera mengambil laptopnya dan mengirim berkas lamaran dan menghubungi beberapa temannya untuk bertanya tentang lowongan pekerjaan.
Sejam telah berlalu, bibirnya tersungging senyum puas karena berhasil mendapatkan pekerjaan yang sangat pantas.
"Aku bisa berdiri tanpamu".
Rayhan pulang kerumah dengan kening mengkerut, Arini tidak ada dirumah karena rumah keadaan terkunci, dia mengambil kunci cadangannya untuk masuk kedalam rumah.
Rumah yang biasanya terasa hidup kini seolah kehilangan nyawa dan sinarnya, entah mengapa ada sudut hatinya yang merasa kosong saat seperti ini.
"Kemana perginya Arini, apa dia masih terus akan bersikap seperti ini?".
Dia menyadari perubahan sikap Arini setelah Arini bertemu dengan Sahira di cafe waktu itu, tapi dia berusaha menyangkalnya.
"Dia yakin Arini sudah tahu bagaimana perasaannya padanya apalagi waktu mereka akan dijodohkan dan dia menentang keras saat itu.
"Biarkan sajalah dia, toh kami juga akan berpisah, aku bisa memulai hidupku dengan wanita yang kucintai".
Dia memasuki kamarnya untuk mengganti pakaiannya, sejak menikah dengan Arini semua kebutuhannya disiapkan oleh wanita itu walau dia tidak menggunakannya, dirinya diam sejenak begitu keluar dari kamar mandi, ada yang kurang rasanya.
Saat dirinya keluar dari kamarnya, dia bisa melihat Arini baru datang dengan membawa beberapa barang dan dia yakin itu belanjaan.
"Darimana dia dapat uang?, bukankah aku tidak pernah memberinya uang?". Cicitnya pelan.
Dia teringat dengan percakapan Arini dan ayahnya, mungkin mereka sedang mengerjakan sebuah proyek karena Arini memang seorang desainer interior.
Arini mendongkak kemudian menatap Rayhan yang kini berjalan menuju dapur.
Dia tidak peduli dengan hak itu, dia melangkahkan kakinya menuju dapur dan memasukkan semua belanjaannya kedalam kulkas.
"Kamu tidak masak?". Tanya Rayhan pelan.
Arini hanya menatapnya sekilas kemudian berjalan tanpa memperdulikan kehadiran dan pertanyaan Rayhan padanya.
"Tidak, aku sedang bersiap untuk membereskan barangku". Jawabnya pelan sambil terus memasukkan barang belanjaannya ke kulkas.
Tangan Rayhan yang semula ingin mengambil mie instan yang ada di rak penyimpanan langsung terhenti.
"Bereskan barang?". Cicitnya pelan.
"Mau kemana?". Tanyanya dengan cepat.
Arini menghentikan gerakannya untuk memasukkan barang, dia menoleh kearah Rayhan yang kini menatapnya.
"Tentu saja untuk pergi dari sini, aku tidak akan terus tinggal dan bertahan dengan orang yang hatinya bukan untukku, lagian setelah kamu berbicara dengan ayahmu, hubungan kita akan secepatnya berakhir". Jawabnya enteng.
Perkataan Arini yang tenang tanpa emosi itu seperti palu menghantam kesadarannya, dia tidak menyangka Arini sudah mempersiapkan diri untuk pergi darinya padahal selama ini gadis itu selalu kembali padanya apapun kesalahannya.
"Baguslah kalau kamu sadar". Ucapnya berusaha mengembalikan harga dirinya.
"Kamu benar, aku hanya orang bodoh yang bertahan selama 6 tahun yang sia-sia".
Deg..
Ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya yang kembali muncul, perkataan Arini seperti menggores harga dirinya, seakan dirinya salah hal yang begitu sia-sia.
"Lalu kamu pikir aku akan memberikan kompensasi atas semua penantianmu itu?". Jawabnya dingin.
Dia memakai topeng dinginnya kembali agar Arini tidak tahu jika perasaannya mulai tidak nyaman.
"Tenang saja, aku manusia yang cukup tahu diri".
"Maksudmu?".
Arini terkekeh pelan, ini percakapan mereka sejak pernikahan mereka tiga tahun ini, apalagi sejak kemunculan Sahira, percakapan seperti ini tidak akan pernah dia dapati lagi, mungkin karena hubungan mereka akan berakhir.
"Kamu lebih tahu maksudku Ray, pernikahan selama 3 tahun, apa kamu pernah menjalankan peranmu sebagai suami?".
"Kau". Cicit Rayhan pelan.
Dia tidak menyangka jika Arini akan mengungkit hal seperti ini.
"Kamu tidak pernah melakukannya Ray, tidak ada nafkah, tidak ada hubungan suami istri, tidak ada kasih sayang yang ada hanya kehidupan dingin yang dimana didalamnya aku hanya berjuang seorang diri untuk meluluhkan sebuah patung dingin".
Arini menghirup nafas dalam-dalam berusaha mengeluarkan sesak dalam dadanya dan dia tidak ingin terlihat lemah.
"Aku sudah berbicara dengan ayahmu, kamu bisa menemuinya untuk keputusan akhirnya".
Degh..
Mata Rayhan melebar sempurna, dia tidak menyangka jika perkataannya kemarin langsung dilakukan oleh Arini, dia yakin jika setelah ini dia akan dalam masalah besar.
Ayahnya akan marah besar apalagi jika dia tahu jika dirinya selama ini tidak melakukan kewajibannya dengan benar dan tetap bersama Sahira padahal masih menikah dengan Arini
"Jangan bilang kamu menjelek-jelekkan aku, dan mengatakan aku kembali kepada Sahira?".
semoga bos nya gk pilih kasih walau rayhan Salah ttp hrs di Pecat.
Cerita ini bagus tidak bertele-tele ,tapi sayang upnya lama , hingga lupa alurnya.