Kesetiaannya pada kekasihnya yang telah meninggal, membuat Rayden enggan membuka hati untuk wanita lain.
Hingga sebuah perjodohan pun ia terima karena tak punya pilihan lain. Namun, bayang-bayang akan almarhumah kekasih, membuat Safira, istrinya merasa hanya menjadi istri bayangan saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Kehamilan
"Apa? Istri saya hamil?" Rayden menunjukkan ekspresi luar biasa senangnya. Senyuman langsung terpancar dari wajahnya.
Sedangkan Hana terlihat sangat kecewa, tetapi ia berusaha untuk tersenyum. Tidak mungkin ia menyalakan calon bayi mereka.
"Benar, Tuan. Selamat ya, Anda akan menjadi seorang ayah." Dokter menjabat tangan Rayden.
"Terima kasih, Dok." Rayden membalas jabat tangan dokter.
"Ini saya berikan resep vitamin untuk istri Anda. Kehamilan yang masih sangat muda akan membuat tubuhnya sedikit lemah. Saya sarankan Istri anda tidak boleh kelelahan atau mempunyai beban pikiran. Stres dan kesedihan dapat memengaruhi janin yang dia kandung."
"Baik, Dok."
"Mas." Safira memanggil Rayden ketika ia sudah sadar. Suaranya terdengar sangat lemah.
"Safira, kau sudah sadar?" tanya Rayden dengan wajah yang sumringah ketika menghampiri Safira.
"Aku kenapa, Mas?" tanyanya sambil memegangi kepalanya yang masih sangat pusing.
"Kau sedang hamil, Safira."
"Apa? Aku hamil? Alhamdulillah." Safira mengucap syukur, lalu mengusap wajahnya perlahan. Namun setelahnya, senyumannya memudar karena ia menyadari kenyataan bahwa ia tidak akan bisa bercerai dari Rayden sebelum anaknya lahir. Ia takkan bisa pergi.
Safira beralih menatap Hana yang kini tersenyum padanya. "Selamat, ya."
"Terima kasih."
Setelah itu, mereka pun segera pulang. Pertama, Rayden akan mengantar Hana dulu ke apartemennya, lalu membawa Safira pulang. Beruntung apartemen yang ditempati Hana satu arah dengan rumah mereka.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam saja. Membuat suasana menjadi canggung saja.
Sesampainya di rumah, Rayden langsung menyuruh Safira istirahat sementara ia mengabarkan berita gembira ini pada keluarganya.
Selesai menelepon, Rayden kembali ke kamar dan melihat ternyata Safira belum tidur.
"Ada apa?" tanya Rayden yang duduk di samping Safira, lalu mengusap kepalanya.
"Bagaimana ini? Kita tidak akan bisa bercerai."
Rayden terkejut dengan ucapan Safira yang seperti menyesali kehamilannya.
"Apa yang kau katakan? Harusnya kita bersyukur karena akan diberikan momongan."
"Ya, aku bersyukur, Mas, tapi bagaimana dengan Hana?"
"Sewaktu mengantarnya ke dalam lobi apartemen, aku mengatakan padanya bahwa aku akan fokus menjagamu dan anak kita. Saat ini, anak yang ada di dalam kandungan mu adalah darah dagingku juga."
"Baiklah, tetapi kita akan bercerai setelah anak ini lahir. Aku yakin Hana dapat menjadi ibu yang baik untuknya nanti."
"Hentikan omong kosong ini! Aku tidak mau bercerai denganmu! Sampai kapanpun, aku tidak akan setuju!!" Rayden berdiri lalu menatap Safira dengan tajam. "Kau adalah milikku, dan selamanya tetap istriku. Aku tidak akan pernah membiarkan kau pergi dariku."
"Kau sudah berjanji pada Hana, Mas. Kau harus kembali padanya atau dia akan melakukan aksi bunuh diri lagi."
"Safira, jangan memikirkan orang lain. Aku tidak ingin kau sampai stres. Dengar, aku ada di sini, hanya untukmu dan calon anak kita."
"Bagaimana aku bisa tenang, Mas. Kau sangat mencintai Hana. Dia adalah hidupmu."
"Ya, tapi itu dulu! Dengan dirinya yang masih hidup, aku tidak perlu merasa bersalah seperti waktu itu. Dan,,,, sejujurnya, kini perasaan ku padanya perlahan mulai pudar. Dan itu semua karena aku mencintaimu, Safira." Rayden memegangi tangan Safira, lalu tangan satunya mengusap air mata Safira yang jatuh berlinang.
"Lalu bagaimana dengan Hana, Mas. Kau sudah berjanji padanya. Nikahi dia setelah anak ini lahir, berjanjilah padaku." Hana menatap Safira penuh harapan.
"Tapi hanya kau yang aku cintai."
"Nikahi dia seperti kau menikahi diriku dulu."
Rayden menatap Safira dengan penuh kebimbangan.
"Mas, berjanjilah padaku."
Rayden pun mengangguk pelan. Rasanya sangat berat, tetapi ini adalah permintaan Safira sendiri.
"Terima kasih, Mas." Safira memeluk Rayden dan keduanya pun menangis.
"Lho kenapa menangis?" Alea yang baru saja datang membuyarkan keharuan mereka.
"Mereka pasti bahagia karena akan mempunyai anak, Ma." Alezha menambahkan.
"Hahaha, benar. Safira sayang, selamat ya." Alea menghampiri Safira, lalu duduk di sisinya.
"Terima kasih, Ma."
"Tidak, Mama yang harusnya berterima kasih karena kau akan melahirkan penerus keluarga Armadja."
Safira tersenyum lalu mengangguk. Biarlah mereka mengira kalau dirinya menangis karena bahagia. Sakit ini, sedih ini, biarlah dia yang merasakan.
syukkaaak ... 🌹😍😍💙💙🌹
biarpun masih ada typo typo ... 🤭
biarpun ending nya 2x ... 😅
biarpun agak belibet sama pertukaran sosok Hana dan Hani .. itu mah krn Neng Gemoy nya yg rada lemot yak ... 🤣🤣🤣
poknya terus cemangadh bikin cerita2 yg bagus2 ya kaaakk .... 💪💪✊️✊️
lope lope sekebon (orang) 🤣🤣💙💙💝💝💙💙💝💝
😍😍😍😍😍😍😍
si tukang tepu akhirnya ketepu ......
*tetiba Neng Gemoy kepikiran gitu yak ... 🤔
krn selama Rayden pacaran dgn Hana, gak pernah agresif begitu. bener tak ?
apa dulu spt itu ... sering beli baju langsung banyak begitu ?
gimana responnya ? gimana mimik wajah ato bahasa tubuh nya ...
dari situ mngkn kan bisa keliatan ... dia Hani ato Hana ....
cowo itu aja langsung bisa ngenalin dan memastikan seorang Hani cuma dari cara belanja nya ...
lhah Rayden udah ketemu berkali-kali tapi masih bisa ketepu...
biarpun udah curiga sih yaaa .. ngerasa ada sesuatu yg berbeda ... tp koq gak cepet cari2 informasi kek buat membuktikan kecurigaannya itu .... 🤦♀️
Rayden lagi bingung juga sama sikap Safira sih ya ... mungkin dia jadi gak peka ...
ato ya dia trll kaget dan terpengaruh sama cerita Hani ...
mudah2an udah ketemu sama pasangan lebay itu, mata Rayden lebih terbuka buat melihat kejanggalan2 yg ada ... jadi bisa cepet2 juga mengambil sikap tegas.