Eman adalah anak dari pasangan Dodo dan Rani, dia tinggal di kampung Sukamaju. Eman Memiliki keterbatasan dalam mengingat, sehingga dia sering kali dimanfaatkan oleh orang lain terutama oleh Hadi dan Warsa.
Kedua pemuda yang bernama Hadi dan Warsa, mereka menipu dengan menukarkan kepala kerbau busuk dengan dua ekor kambing milik Eman. sehingga Eman harus dititipkan di rumah pak ustad agar dia menjadi cerdas dan tidak mudah tertipu oleh orang lain.
Namun sayang meski Eman sudah berada di tangan yang tepat, tapi kekurangannya lah yang menjadikan kehidupannya semakin susah. hadi dan Warsa yang sudah menjadi buron karena sudah menipu kambing Eman. Mereka pun kembali lagi ke kampung Sukamaju, mereka berdua mulai membuat keributan diawali dengan mencuri nasi yang hendak diantarkan Eman kepada orang-orang yang bekerja di sawah pak ustad, hingga membuat Geger seluruh warga Kampung Sukamaju.
Eman yang sudah tidak memiliki kepercayaan terhadap dirinya. hingga akhirnya dia sering melamun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deri saepul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28. di introgasi
Setelah sampai di balai desa kedua maling itu didudukkan di bangku panjang dengan penjagaan yang begitu ketat. Di hadapannya terlihat ada pak Kulisi yang Duduk menatap tajam ke arah Hadi dan Warsa. Disaksikan oleh puluhan pasang mata yang ingin mengetahui jalannya pemeriksaan, bahkan Eman, Dodo dan Pak ustad pun ikut hadir menyaksikan.
"Hadi, Warsa...! Coba tolong kalian jawab pertanyaan saya. Sebenarnya kalian ingin bagaimana, Kenapa kalian sampai tega mencuri saudara Sekampung, apa kamu tidak punya pekerjaan selain mencuri?" tanya pak polisi mulai menginterogasi tawanannya.
Namun Orang yang ditanya tidak menjawab, Hadi dan Warsa hanya semakin menundukkan kepala, merasa malu dengan apa yang mereka perbuat. para warga pun terdiam ingin mengetahui alasan Kenapa kedua maling itu tega berbuat keji di kampungnya sendiri. namun lama menunggu, Hadi dan Warsa tidak ada yang berbicara sedikitpun.
"Hadi, Warsa. siapa yang menipu domba Mang Dodo?" tanya pak polisi untuk yang kedua kalinya.
"Si Warsa...!" jawab Hadi sambil melirik ke arah Warsa membuat amarah Warsa mendidih seketika.
"Apa kamu bilang Hadi, kan kita berdua yang melakukannya..!" sanggah Warsa dengan membulatkan mata tidak terima disalahkan sendirian.
"Sudah, sudah, Jangan saling menyalahkan. karena saya sudah mengetahui kalian Selamanya bersama, kenapa sekarang harus saling menyalahkan." pisah Pak polisi yang terlihat mengeratkan gigi, kalau mau menuruti hawa nafsu. Sebenarnya dia ingin menghajar kedua orang yang sudah menghinanya.
"Siapa orang yang merebut nasi yang hendak diantarkan ke orang yang bekerja?" tanya pak polisi sambil menatap ke arah orang yang tertunduk dipenuhi dengan ketakutan.
"Saya dan Warsa," jawab Hadi yang mengakui kesalahannya, sehingga tidak ada amarah atau sanggahan dari Warsa, kalau Hadi berbicara seperti itu. dia hanya terlihat menarik nafas dalam seperti sedang rasakan kecapean.
"Siapa yang melukai dahi Kang jaman?"
"Saya Pak polisi," jawab Warsa yang tidak berani berbohong.
Akhirnya introgasi pun terus dilanjutkan, pak polisi terus menanyakan semua kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan oleh Hadi dan Warsa. bahkan kalung dan anting Hana yang sempat dituduhkan sama Eman, sekarang ketahuan bahwa kedua maling inilah yang melakukan kejahatan itu, Eman hanya sebagai kambing hitam.
"Sekarang malingnya sudah tertangkap. silakan saya menyerahkan sama Pak Kulisi, jebloskan ke penjara jangan sampai keluar lagi. sama seperti yang dulu pernah saya alami, ketika difitnah oleh Ceu Hana." ujar Eman yang merasa bahagia, karena perjuangan mengintai maling yang dilakukan beberapa hari belakangan ini, akhirnya membuahkan hasil.
"Siap Jang...! sekarang kita sudah menangkap penjahat yang sebenarnya. saya rasa pemeriksaan sudah cukup sampai di sini saja. bagi para warga Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah membantu menangkap si Hadi dan si Warsa, dan selanjutnya Mohon untuk pulang kembali ke rumah masing-masing, lanjutkan istirahat kalian. namun buat para ronda, Kalian harus tetap meronda sampai pagi, jaga maling ini jangan sampai kabur, besok kita bawa ke Kapolsek. bubar....! bubar...!" Jawab Pak Kulisi sambil memberikan instruksi.
Mendapat instruksi dari ketua keamanan desa, akhirnya para warga Kampung Sukamaju pun berhamburan kembali ke rumah masing-masing, dengan membawa hati yang sangat bahagia karena orang yang mengganggu ketenangannya sudah bisa tertangkap. sedangkan Eman dan sesepuh Kampung Sukamaju, mereka belum bubar. Mereka ingin memastikan bahwa kedua maling itu masuk ke dalam tahanan.
Setelah para warga bubar, akhirnya pak Kulisi pun menyeru ronda untuk memasukkan maling ketahanan desa. tanpa membuang waktu, akhirnya Hadi dan Warsa pun dijebloskan ke penjara, membuat Eman tersenyum merasa bahagia karena secara tidak langsung nama baiknya yang sudah hancur karena dituduh mencuri perhiasan Hana, sudah bersih kembali.
"Rasakan kamu Hadi, Warsa...! dulu aku yang mengisi tahanan itu, gara-gara kejahatan kalian. dan sekarang Nikmatilah membusuk di dalam penjara, jangan sampai ingin keluar cepat ya....!" ujar Eman dengan menaikkan intonasi suara, agar orang yang di dalam tahanan bisa mendengar ucapannya. membuat hati Hadi dan Warsa terasa dibakar oleh amarah, wajahnya terlihat seketika memerah, jantungnya terasa berdegup, bahkan giginya sampai mengancing. namun mereka tidak berbicara karena keadaan yang tidak memungkinkan.
"Iya benar Jang, Ya sudah ayo kita pulang...! Terima kasih atas bantuannya, sampai bisa menemukan si Hadi dan si Warsa," ujar pak polisi yang merasa kehutangan Budi oleh Eman, berkatnya lah maling yang selalu merasakan bisa di tangkap.
Setelah tidak ada pembicaraan lagi, akhirnya para sesepuh dan Eman pun pulang kembali ke rumah masing-masing, melanjutkan istirahat yang tertunda karena diganggu oleh penangkapan sang maling. menyisakan dua ronda yang ditugaskan untuk menjaga tahanan, sedangkan ronda-ronda yang lain kembali ke pos masing-masing.
~
Sedangkan Hadi dan Warsa yang berada di kamar tahanan Balai Desa, mereka terduduk sambil merasakan badan yang terasa sakit. letih, lemas, lesu, tidak ada yang bisa dirasakan. tulang sendi terasa copot dari tempatnya, Kepala terasa berat dan pusing, gigi Warsa yang copot menimbulkan rasa sakit yang tak tertandingi.
Baru kali ini Hadi dan Warsa mendapat perlakuan yang menyakitkan hati, yang menyengsarakan raga. ditangkap oleh warga Kampung Sukamaju, ditahan di kamar penjara, ditambah badan yang terasa sakit akibat siksaan yang diterima. kalau kurang beruntung mungkin mereka hanya meninggalkan sebuah nama buruk di mata orang orang. Bagaimana tubuh mereka tidak rusak, warga Kampung Sukamaju sudah menyimpan dendam yang sangat lama terhadap orang yang meresahkan kampungnya. sehingga ketika ada kesempatan seperti tadi, mereka tidak menyia-nyiakannya, mereka menghajar habis-habisan Hadi dan Warsa.
Keduanya terdiam mengantar Lamunan masing-masing, tidak ada pembicaraan yang keluar dari kedua mulut maling yang sudah mendekam di penjara. pikirannya terbang melayang mencari cara agar bisa membebaskan diri, meski tubuh sudah terkurung, namun hatinya masih tetap berontak, tidak bisa menerima dengan keputusan yang sudah ditentukan.
Keduanya terus terlarut dalam lamunan, menerka-nerka kejadian yang akan menimpanya, mengingat-ingat pekerjaan yang dulu Sudah mereka lakukan. keduanya sedang ditiban dengan kesialan, ketika mendengar suara jangkrik dan belalang seperti sedang menertawakan kesusahan yang sedang Hadi dan Warsa alami.
Plak!
Suara tamparan Hadi karena di pipinya ada nyamuk, kemudian dia pun menggilas dengan begitu gemas.
"Nyamuk haram jadah...! jadi Daki kamu....!" Gerutu Hadi, kemudian dia menyandarkan punggung ke dinding, kepalanya mendongak ke atas menatap langit-langit kamar, Sedangkan pikirannya terbang melayang menuju ke seluruh arah.
"Hadi...!" Panggil Warsa dengan pelan.
"Apa?" jawab Hadi sambil melirik ke arah sahabatnya dengan sudut mata.
"Kita harus bagaimana kalau sudah begini?" tanya Warsa dengan suara parau, dia sudah sangat kebingungan, sangat malas menghadapi hari pagi. di benaknya sudah terlukis dengan sempurna, akan ada banyak warga yang menonton, yang ingin menyaksikan wajahnya sebagai maling yang sudah tertangkap.