Jason dan Ares adalah remaja yang memiliki nasib sama, di caci maki keluarga, tidak dianggap bahkan sampai di siksa oleh keluarganya sendiri. Keduanya di pertemukan dalam situasi yang mungkin orang-orang tidak akan percaya.
Hingga melewati berbagai rintangan, Ares yang meninggal di bunuh jiwanya masuk ke tubuh milik Jason. Di sana ia merasakan penderitaan untuk kedua kalinya. Sampai pada puncaknya Ares melawan mereka semua.
Yang pada akhirnya keinginan dari Jason dan juga Ares terpenuhi. Namun dengan semua itu apakah balas dendamnya berhasil?
Penasaran dengan cerita ini? ikuti terus kelanjutannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khayalannl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
"minggir lo!" Evan mendorong tubuh Revan dan mendekati Jason.
"Tangan kamu terluka, siapa yang melakukan ini hah!" Murka Evan. Sebenarnya ia sudah tahu siapa pelakunya hanya saja ingin mendengar langsung dari Jason apakah anak ini akan Jujur.
Namun tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Jason. Evan menyimpulkan bahwa Jason masih belum percaya sepenuhnya terhadap dirinya
"Baiklah, kita ke UKS sekarang. " Evan membuang pisau itu tepat ke arah Revan, dan membawa Jason pergi dari sana.
"Gagal lagi, sial! Awas aja lo!" Revan tidak akan menyerah sebelum menghancurkan kembali hidup Jason. Ia ingin Jason hidup seperti dulu, selalu berada di bawah tekanannya.
Sementara di uks, luka Jason sedang di obati oleh dokter. Raut wajahnya nampak gelisah, dan itu tidak luput dari perhatian Evan.
"Kak, "
Evan membalas dengan deheman, karena ia sedang fokus terhadap ponselnya.
"Jangan kasih tau Papa ya soal ini "
"Yah, telat. Kakak udah mengirim pesan barusan. "
"Emangnya kenapa sih Jas? Lagian tanpa kakak kasih tau pun Om Damian pasti udah tau. "
Brak!
Orang-orang yang berada di uks melihat Rexi dan yang lainnya di ambang pintu terlihat sedang menahan amarah.
"Lo di biarin makin ngelunjak ya anjing!!" Netra begitu tajam menyorot Jason.
"Gue gak salah!! "
"Lo yang salah! Lo tuh punya dendam apa sama Revan hah? Sampai-sampai lo jahat banget!"
"Ngaca deh lo!!" Tekan Jason.
"Atau pekhlu gue beliin kaca hah? Selama ini lo semua yang jahat sama gue anjing!!" Jason turun dari kasur dan pergi meninggalkan uks.
Sebelum benar-benar meninggalkan uks, ia sempat melirik Revan yang bersembunyi di belakang tubuh Fano.
"Lo gak akan bisa kalahin gue. " Bisik Jason. Dan berlalu pergi.
"Kenapa sih lo belain Jason?" Tanya Fano kepada Evan. Ia heran Eros saja tidak pernah membela Jason walau anak itu adalah adik sepupu Eros.
Ya mereka sudah mengetahui fakta yang sebenarnya, namun mereka bersyukur Eros tidak membela Jason ataupun berpihak kepada anak itu.
"Gue punya mata, punya akal yang sehat jadi gue bisa mengetahui mana orang-orang yang baik dan buruk, mana orang yang tolol kayak lo semua mana orang yang pintar kayak Jason. "
Mereka semua tidak terima atas perkataan Evan, berbeda dengan Eros yang biasa saja karena dia tahu kembarannya itu kalau berbicara selalu pedas dan fakta. Eros mengakui teman-temannya tolol namun dirinya tidak begitu bodoh.
"Dimana Jason?"
"Om Damian.. " gumam Revan, ia menatap Damian dan mendekat.
"Om Jason membawa pisau ke sek--"
"Dimana Jason, Evan!!"
"Evan gak tau om, dia pergi gitu aja mungkin ada di kelasnya. " Damian pergi dan kembali mencari Jason, ia kaget saat mendengar laporan dari orang suruhannya bahwa tangan Jason terluka dan lagi-lagi ulah anak haram itu.
Sesampainya di kelas Jason, ia melihat putranya sedang berbicara dengan seseorang tapi terlihat seperti sedang ribut.
"Minta maaf?"
Jason terkekeh, saat dirinya masuk ke kelas tiba-tiba di hadang oleh Zio yang meminta maaf kepadanya.
"Oke gue maafin, tapi pekhbuatan lo gak bisa gue maafin!" Jason melihat di belakang Zio ada Damian yang sedang berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celananya.
"Sombong banget ya lo! Mentang-mentang lo anak dari tuan Damian. " Zio belum menyadari akan kehadiran Damian.
"Ngomong apa lo gak nyambung banget!"
"Jason, kita pulang nak. " Zio berbalik dan netranya membola, ia tidak bisa berkata-kata lagi.
_________
Dan disinilah sekarang, di taman dengan keadaan yang cukup ramai. Damian membawa Jason dan tentunya ada Fani juga, ia ingin menenangkan pikiran istri dan anaknya.
Para bodyguard sudah mempersiapkan segala kebutuhan yang di perlukan saat berpiknik dan kini mereka tinggal menikmatinya saja.
Duduk di rerumputan beralaskan tikar yang berukuran sedang, cukup untuk tiga orang di tengah-tengah banyak makanan tersedia.
"Papa boleh tanya sesuatu gak?" Tanya Damian dengan tangan kanannya yang mengelus lembut luka Jason yang sudah di perban.
Posisinya, Jason tiduran di kedua kaki Damian yang duduk bersila. Dan Fani duduk di samping suaminya.
"Apakah kamu tidak punya niatan untuk membunuh Revan? Tidak benci kah terhadapnya?"
Jason menengadah menatap Damian, "Jason benci sama dia selalu ganggu Jason dari dulu bahkan Jason asli meninggal gakha gakha dia. Dan untuk membunuh, Jason tidak mampu. "
Damian melihat sorot mata Jason yang begitu teduh dan menenangkan jiwa.
"Setiap orang tua pasti tidak menginginkan anaknya di sakiti oleh orang lain. Mereka akan melakukan apa saja agar anaknya terlindungi, bukan begitu nak?"
"Iya Ma, nokhmalnya setiap okhang tua begitu. Akan bekhtindak jika anaknya disakiti. "
Fani tersenyum, dan mengecup tangan Jason yang terluka begitu juga dengan Damian yang sedari tadi senyumannya tidak pernah luntur.
Entah Jason sadar atau tidak bahwa jawaban yang ia berikan atas pertanyaan Fani sebagai isyarat bahwa Damian tidak akan tinggal diam.
"Mau makan?"
"Nanti aja Pa. "
Jason sedang menikmati teriknya sinar matahari yang menyorot wajahnya.
"Papa.. "
"Hm?"
"Sekakhang kita punya kesamaan!!" Ujarnya dengan riang.
Damian sampai bingung, "Apa? "
Jason menarik ujung bajunya memperlihatkan perutnya, "Sama-sama punya luka di pekhut!!"
Untuk kali ini Damian memaksakan senyumannya, ia bingung harus bereaksi bagaimana.
"Jason hakhap Papa bisa menghukum mekheka yang udah melakukan kejahatan tekhhadap Jason. "
"Itu pasti sayang. " Tanpa di suruh pun Damian akan melakukannya.
____________
Pukul sembilan malam, setelah menyelesaikan makan malam Jason langsung pergi ke kamar karena ia ingin rebahan.
Tak lama terdengar ketukan di pintu, dan terlihat Eros di ambang pintu.
Tumben sekali, ada apa?
Tanpa berucap apapun Eros masuk dan menutup kembali pintu itu lantas menghampiri Jason yang sudah duduk di bibir ranjang.
Tatapannya seperti biasa, tanpa ekspresi.
"Ada apa kak?"
"Lo pergi dari sini. "
Jason menautkan kedua alisnya hingga menukik tajam, "Maksudnya?"
"Lo pergi dari sini, lo gak berhak ada di sini!" Kini nada bicaranya menjadi tegas namun tetap dengan ekspresi wajah yang datar.
Tidak ada ucapan lagi yang keluar dari bilah Jason, ia bingung harus bagaimana bukankah--
"Lo tuh asing di rumah ini! Orang asing! Camkan itu!"
Hati Ares sakit sekali!
Masih dengan posisi yang sama dimana Jason duduk di bibir ranjang sedangkan Eros berdiri di depan Jason.
"Okhang asing ya? " Jason kini berdiri.
"Iya gue Akhes okhang asing. "
"Maka dari itu lo pergi dari rumah ini! Gue pikir lo bakal sadar diri sama posisi lo tapi gue biarin malah ngelunjak!" Bicaranya memang tanpa mimik wajah, namun begitu menusuk ulung hati.
"Gue pikikh keluakhga ini udah menekhima semua kenyataannya. Nyatanya lo masih belum menekhima kenyataan. "
"Tekhnyata gue salah, gue kikha lo diam itu tidak peduli, bisa menekhima semuanya. Namun pada kenyataannya lo menginginkan Jason asli yang bekhada disini. "
"Kalau yang ada di hadapan gue Jason adik gue. Gak bakalan gue usir lo!"
Kedua tangan Jason terkepal, "Lantas kenapa saat Jason dulu di bully lo selalu diam! Coba kalau lo melindungi Jason pasti masih hidup sampai sekakhang! Maka keadaan tidak akan sepekhti ini. "
"Gue gak bisa karena gue terikat perjanjian!"
"Pekhjanjian apa? Kalau kakak yang menyayangi adiknya tulus pasti akan melakukan apapun untuk melindungi adiknya!"
"Lo banyak omong! Pergi dari rumah ini!"
"Oke, gue pekhgi--"
"Tanpa membawa apapun dari rumah ini! Karena semua ini milik Jason. "
Dia keluar dari kamar dan menuruni anak tangga, di ruang tamu anggota keluarga lainnya sedang berbicara serius harus terhenti saat melihat Jason.
"Sayang, kenapa belum tidur?" Tanya Damian, namun Jason tidak menjawabnya ia terus berjalan menuju pintu utama.
Tentu Damain mengejarnya dan mencekal tangan Jason, "Tunggu, kamu mau kemana?"
"Saya mau pekhgi dakhi khumah ini!"
"Apa maksud mu?" Nada bicara Damian berubah seketika. Semua orang yang mendengar ucapan Jason lantas menghampiri anak itu.
"Saya okhang asing disini, jadi okhang asing hakhus pulang ke khumah asalnya!" Jason berusaha melepaskan pegangan tangan Damian, namun Damian mencekalnya kuat.
"Papa tidak akan membiarkan mu pergi dari rumah ini!"
"Saya bukan Jason asli Om, saya Akhes okhang asing!"
"Kamu memang Ares, namun bukan orang asing!"
"Saya okhang asing om, lepaskan!"
"TIDAK!!" bentak Damian.
"Siapa yang bilang kamu orang asing?"
Jason menggeleng.
"Eros? Iya? " Jason diam.
Damian berjalan ke arah Eros yang berdiri di pijakan tangga terakhir, ia mengarahkan pisau lipat kesayangannya ke arah mata Eros yang dimana netranya menatap tajam Damian.
Ingat! Damian selalu membawa pisau lipat kesayangannya kemana-mana.
"Papa jangan!" Jason berlari dan berusaha mengambil pisau lipat itu namun hasilnya nihil.
"Kamu tau kan Papa pernah bilang, jika diantara mereka tidak ada yang menerima mu, papa akan membunuh orang itu di depan matamu Langsung!!"
Jasong menggeleng, "Jangan Pa Jason mohon.. " ia berlutut.
"Kamu mau pergi kan dari rumah ini? Maka Papa sama Mama akan ikut bersamamu. Pergi kemana? Keluar negeri? Kita akan terbang sekarang juga menggunakan jet pribadi. " Damian kembali memasukan pisau lipat itu kedalam saku celananya dan membawa Jason pergi ke kamarnya.
Sudah Damian duga bahwa Eros tidak akan menerima kenyataan ini.
__________
ok semangat!